
Melody tersenyum dengan sangat cantiknya. Setelah itu senyuman manis nan cantik itu menghilang, berubah dan berganti menjadi datar dengan tatapan yang sangat dingin. Tatapan frustasi yang haus akan darah. Tatapan yang menenggelamkan dan ingin menghanyutkan siapa saja yang melihatnya.
"Ya, seperti dugaan Anda, Paman Han. Dean Hwang adalah ayah saya!" Kata Melody dingin.
Bagai tersambar petir di malam yang cerah ini. Tuan Han yang memang sudah menduga jawaban Melody, hanya bisa mematung duduk di tempatnya. Posisi tangan masih menodongkan pistol ke arah Melody.
Dean Hwang yang merupakan sahabat dekat Tuan Han adalah ayahnya Melody.
"U-Uso..." Kata Tuan Han terbata.
"Uso janai! Ini benar, ini adalah kebenaran. Saya sama sekali tidak membohongi Anda." Kata Melody.
"Tidak mungkin!"
"Sebelum menikah dengan Yudha, marga keluarga saya adalah Hwang. Marga yang sama dengan ayah saya, bukan? Saya tidak akan memaksa Anda untuk mempercayai kata-kata dari saya. Anda percaya atau tidak, itu bukanlah urusan saya dan saya pun juga tidak peduli. Kedua orang itu, kakek dan ayah saya sudah meninggal. Saya hidup di jaman ini, jaman dimana penyesalan dan dendam masa lalu seharus tak hadir dalam perjuangan hidup yang saya perjuangan. Menyisakan karma yang panjang dengan 'orang gila' yang masih saja haus akan balas dendam. Menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hala lebih banyak merugikannya daripada menguntungkannya." Kata Melody panjang lebar.
Tuan Han tahu kemana arah pembicaraan Melody itu. Itu adalah sindiran untuknya.
"Ha ha ha ha ha ha..." Entah apa, Tuan Han malah tertawa lebar menanggapi ocehan Melody yang panjang dan lebar itu.
Membuat Melody mengernyitkan jidatnya. Dalam hati ia pikir jika Tuan Han itu perlu memeriksakan kejiwaannya. Tuan Han sedang tidak waras! Ah, rasanya memang Tuan Han sudah gila! Hanya orang gila yang menodongkan senjata api pada seorang ibu hamil.
"Anda sangat jelek saat tertawa. Bisakah Anda menutup mulut Anda? Telinga saya sangat sakit!" Kata Melody.
Jujur saja, ia saat ini cukup kesulitan menangani emosinya. Pasalnya, ia menjadi teringat bagaimana baiknya sang ayah, yang sangat suka menolong dan sulit bilang tidak itu bisa-bisanya dikhianati oleh sahabatnya sendiri, Tuan Han, yang mana pula, Tuan Han adalah sanak keluarganya, keponakan dari mendiang kakeknya. Tidakkah itu sangat kejam? Sangat keterlaluan?
"Kata-katamu pedas juga. Kau berani mengatai orang tua ini dengan tidak sopan, ya?" Geram Tuan Han karena dihina dengan kata-kata yang sebelumnya tidak pernah ia dengar dari mulit orang lain.
Di saat semua orang menunduk ketika berbicara dengannya, tapi Melody menatap tajam dan dingin saat berbicara dengannya.
Ketika semua orang berlomba-lomba menunjukkan sikap menghormati karena takut akan dirinya, tapi Melody tak gentar, tak takit, dan bahkan menatap rendah dirinya. Ia bisa melihat dari sorot mata Melody saat ini. Mats yang menyiratkan kebencian yang amat sangat mendalam. Mata yang menatapnya bagaikan seonggok daging busuk yang menjijikkan.
__ADS_1
"Bebaskan Yudha tanpa syarat dan Anda akan selamat!" Melody memberi pilihan pada Tuan Han.
Ketika usai mengatakan ini, semua orang atau bodyguard yang menodongkan senjata api ke arah Tuan Han memompa senapannya sebagai tanda jika mereka akan siap kapan saja ketika perkataan Melody tak ditanggapi oleh Tuan Han. Sudah siap menembak, jika Melody memerintahkannya.
"Apakah Anda pikir saya akan mempercayai kata-kata Anda, wahai keponakan saya? Saya ini licik, tentulah Anda pun pasti juga tak jauh berbeda dengan saya. Saya sudah bisa menilai kemana arah pembicaraan Anda dari setiap tutur kata Anda. Anda bukanlah orang uang simple yang akan melakukan apapun demi cinta. Anda mengerti dengan isi hati Anda. Tapi Anda cukup rasional dengan kemampuan pola pikir otak Anda. Anda tidak mungkin datang ke sarang Kuoto Guardian sendirian. Anda pasti..." Tuan Han menyadari sesuatu. Ia kaget akan hal ini. Ia menatap Melody.
Melody tersenyum sangat manis kepada Tuan Han.
"Ya. Saya membawa pasukan yang sangat besar dan sangat banyak. Wanita lemah fisik karena sedang hamil seperti saya ini, tentu saja sangat ketakutan harus berhadapan dengan seorang yakuza seperti Anda, kan? Kowaii, kowaii, yada yo, aku tak mau. Sangat seram." Melody sok ketakutan. Padahal ia sangat menikmati perannya saat ini.
"KAZEHAYA MELODY!" Tuan Han geram.
Bagaimana bisa Melody tidak menurutinya? Tak hanya membawa bodyguard di restoran Hyotei, tapi juga membawa pasukan lain dengan jumlah yang besar.
Pertanyaannya, dimana para pasukkan yang dimaksud oleh Melody itu? Apa mereka ada di luar sana? Apa mereka bersembunyi di balik bayang-bayang? Apakah ada snipper yang bersembunyi di gedung-gedung lain tentangga restoran?
Tunggu...
Jika iya, lalu dimanakah mereka? Dimanakan mereka bersembunyi? Apakah mereka memiliki tujuan lain?
Tuan Han kembali menyadari sesuatu, ia ingin memukul meja kayu itu dengan sekeras-kerasnya. Ia juga ingin sekali menarik pelatuk dari senjata api yang saat ini ia todongkan ke arah Melody, keponakannya. Ia ingin mengincar jantung dan kepala Melody agar wanita hamil ini tidak jumawa dan sombong akan omongannya. Namun sayang, ketika ia menarik pelatuk senjata api miliknya, maka sudah pasti ia akan tamat juga mengingat ia kalah jumlah dengan para bodyguard yang berada di sekitar dirinya dan Melody. Melingkari, memenjarakan mereka berdua dengan banyak senjata api dengan berbagai tipe dan merk.
"APA YANG SEDANG ANDA INCAR DI KYOTO, HAH?" Tanya Tuan Han yang sudah tak mampu mengendalikan emosinya lagi.
"Kenapa Anda bertanya saya? Tanyakan saja pada bawahan Anda!" Senyum seringai Melody.
Tuan Han kurang paham dengan jawaban Melody yang menurutnya tidak tak begitu sinkron dengan apa yang ia tanyakan.
Bertanya pada bawahan?
Jawaban macam apa itu? Lalu, entah kebetulan atau bagaimana, tiba-tiba, ponsel genggam miliknya berbunyi. Dengan sangat cepat, Tuan Han pun mengangkat panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Apa yang kalian sejak tadi lakukan, hah? Bagaimana? Apa kalian sudah menyuntik mati Kazehaya Yudha?" Tanya Tuan Han dengan emosi meluap.
Tuan Han menjatuhkahkan ponsel dan senjata api yang dipegangnya seketika usai mendengar jawaban dari bawahannya. Tubuhnya terasa sangat lemas dengan informasi dari bawahannya itu.
Hal ini dimanfaatkan oleh seorang bodyguard Melody untuk mengambil senjata api milik Tuan Han.
Menatap rendah Tuan Han yang ada di hadapannya itu, Melody bangkit dari duduknya dibantu oleh Ayane. Tak lupa ia juga memasang senyuman semanis mungkin kepada sang paman.
"Jaa ne, watashi no ji-san! Semoga kita tidak berjumpa lagi. Sebenarnya tugas Saya itu membunuh Anda di restoran ini, tapi paman saya yang tampan itu (baca: Orion) tidak ingin sosok yang mengandung penerus keluarga Kazehaya ternodai oleh kotornya dendam masa lalu yang konyol." Kata Melody. Ia melangkah pergi meninggalkan Tuan Han yang tidak bisa berbuat banyak.
"Melody-sama, bagaimana dengan dokumen akta pemindahan saham itu?" Tanya Ayane.
"Terserah dia mau jadikan tisu untuk menghapus air matanya atau tidak, toh itu dokumen palsu." Jawab Melody penuh kebanggaan.
Rasanya malam ini ia tidak ingin tidur, ia ingin menikmati setiap prosesnya.
Ayane ikutan tersenyum. Ia memang tak pernah salah menilai sosok seorang Kazehaya Melody. Sejak pertama kali bertemu, Melody itu memiliki aura yang kuat. Melody yang lugu itu sangat berani pada Yudha yang dikenal sulit didekati bahkan berhasil membuat sang Tuan Muda bucin akut. Harapannya, semoga saja setelah ini akan membaik. Tidak akan ada lagi yang terluka.
"Harusnya memang Tuan Han tak akan bisa bergerak banyak dalam beberapa waktu ke depan."
.
.
.
"Maafkan saya Tuan, kami belum bisa menyuntik mati Kazehaya Yudha. Ada hal tak terduga terjadi. Gedung Kyoto Contruction terbakar! Tak hanya itu, pachinko-pachinko, rumah bordir, dan diskotik milik Anda juga diserang oleh orang tak dikenal. Jumlahnya sangat banyak. Kami dangat kuwalahan saat ini."
Dan klik.
Panggilan diakhiri.
__ADS_1
Tuan Han mendengar suara tembakkan. Apa mungkin bawahannya itu mati ditembak?