
Time Skip, seminggu kemudian..
Dapur Kediaman Kazehaya...
"Menjauhlah, Yudh! Ini sangat menjijikkan." Pinta Melody.
"Kenapa sih? Aku hanya ingin membantumu." Yudha memijat tengkuk Melody. Melody kembali muntah-muntah karena efek six morning kehamilannya.
Melihat Melody yang begitu 'menderita' karena hampir tiap pagi muntah-muntah seperti ini membuat Yudha merasa iba. Ia pernah baca mengenai masa kehamilan, tapi ia tidak menyangka jika dilihat secara langsung akan seperti ini.
Apapun yang Melody makan sebelumnya, akan dimuntahkan. Yudha menjadi sangat khawatir mengenai gizi dan kesehatan Melody. Apa lagi, ibu hamil sangat rentan kekurangan darah.
"Merasa lebih baik?" Tanya Yudha ketika Melody sudah tak lagi 'mengeluarkan' muntahannya.
Melody terbatuk-batuk. "Hm, sudah medingan." Melody lalu berkumur dan membasuh wajahnya.
Melody nampak pucat dan terlihat buruk.
"Kau ingin sesuatu? Kau ingin jeruk? Aku akan mengupaskannya untukmu. Bukankah rasa asam akan membantumu menghilangkan rasa mual?" Tanya Yudha.
"Boleh.." Kata Melody lemah.
Yudha memegang tangan Melody, ia lalu membantu menuntun Melody duduk di kursi yang ada di ruang makan keluarga Kazehaya.
Yudha lalu bersimpuh di hadapan Melody. "Kita nanti priksa ya? Meski kau bilang baik-baik saja, tapi kau nampak buruk."
Melody menggeleng. "Efek kehamilan kan memang seperti ini. Dokter sudah memberitahu kita sebelumnya. Kau tidak ingat?"
"Ingat sih. Tapi aku hanya tidak tega melihatmu seperti ini." Yudha menundukkan kepalanya.
Melody lalu meraih kedua tangan Yudha, membuat Yudha menoleh kepadanya. Melody meminta Yudha menyandarkan kepalanya di pangkuannya. Yudhapun menuruti permintaan Melody itu.
Melody tersenyum. Ia lalu mengelus rambut Yudha.
"Tiga bulan awal memang seperti ini. Sudah kodrat wanita hamil, Yudh. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir berlebihan kepadaku! Biasanya nanti kalau sudah siangan, aku akan membaik. Kau tahu itu.."
Iya, Yudha mengetahuinya. Namun tetap saja, Melody mengalami banyak kesulitan karena kehamilannya.
Yudha bangun dari sandarannya, ia menatap Melody. "Maaf, gara-gara aku kau menjadi seperti ini. Andai saja jika aku tak menghamilimu.."
Melody menutup bibir Yudha dengan jari telunjuknya. "Bicara apa sih? Jujur saja aku memang tak pernah berpikir akan menikah muda dan memiliki anak di usia muda juga. Tapi kan janinnya sudah ada, mau bagaimana lagi? Aku akan menjaganya dengan baik."
Yudha menyingkirkan lembut tangan Melody di bibirnya. Ia mencium punggung tangan Melody. "Kenapa hanya kau saja yang menjaganya? Kenapa tidak melibatkanku? Aku tahu seberapa buruknya aku terhadapmu, tapi aku ini ayahnya. Ayah dari janin yang ada di perutmu."
"Ayo kita jaga bersama!"
Dan mereka saling tersenyum bersama. Belajar berbagi rasa yang sempat terlewat. Sudah ada janin di antara mereka sebagai pengikat. Tidak paham seberapa kuat dan seberapa erat. Namun kerja sama dalam kasih akan mereka ingat. Ke depan akan sulit dan semakin bertambah berat. Mereka akan menghadapinya dengan keikhlasan yang menghangat.
.
__ADS_1
.
.
Siang harinya, Melody menginginkan ice cream rasa tomat. Berhubung Ayane tahu cara dasar membuat ice cream, maka dengan senang hati ia akan membuatkan ice cream rasa tomat permintaan Melody.
Ini cukup aneh mengingat tomat adalah buah kesukaan Yudha, tapi semenjak hamil, Melody bisa menghabiskan lebih dari sekilo tomat dalam sehari. Melodypun tak tahu kenapa, yang jelas tomat menjadi sangat disukainya.
"Nona tunggulah di sini bersama Tuan Muda, biar saya dan Shuhei-san yang membuat ice creamnya." Kata Ayane.
"Serahkan pada kami, Nona Melody!" Kata Shuhei.
Melodypun hanya bisa mengiyakan. Dua orang yang sering menjaganya itu bersi keras ingin menunjukkan 'kasih sayangnya' kepada calon penerus Kazehaya.
Melody menatap jauh Ayane dan Shuhei yang berjalan menuju ke dapur untuk membuat ice cream. Ia lalu menatap Yudha.
"Apa mereka akan baik-baik saja? Bukankah mereka tidak ahli dalam memasak? Maksudku, aku tidak pernah melihat mereka memasak sesuatu. Apa lagi Ayane-nee, dia itu pemegang sabuk hitam olah raga juudo!" Kata Melody khawatir.
"Jangan menilai seseorang dari luarnya! Kau tahu, mereka itu masuk top 5 jenius Universitas Kazehaya! Dan untuk Shuhei, dia bisa membuat makanan apapun dan anti gagal meski hanya sekedar menyontek resep di Google!"
"Seriusan?"
"Tentu saja! Jadi ingat, dulu sewaktu aku sangat lapar, Shuhei pernah membuatkanku lasagna khas Italy. Hebatnya, itu percobaan masak pertamanya hasil nyontek resep di internet!"
Melody melebarkan kedua matanya. Ia semakin kagum dengan sosok seorang Shuhei.
"Baiklah, aku tidak akan menghawatirkan mereka berdua lagi."
"Lagian, kalau mereka bersama seperti ini, kali saja mereka bisa jadian..."
Yudha terbatuk. "Ha-Hah?"
Melody memberikan tisu kepada Yudha. Ada kopi di dagu Yudha. "Kenapa terkaget begitu?"
"Kau sedang berusaha menjodohkan mereka berdua? Ayane-san 3 tahun lebih tua dari Shuhei, Melody!"
"Memang kenapa kalau lebih tua? Cinta itu tidak mengenal syarat apapun! Cinta ya karena cinta."
"Iya juga sih." Yudha penasaran pada satu hal. Ia ingin menanyakan ini sejak lama, tapi sulit terucap karena rasa takut yang mendera.
"Yudh.."
"Mel.." Panggil Yudha.
"Hm?"
"Apa kau menc.."
KLONTHAANGGG
__ADS_1
Bunyi benda jatuh seperti panci mengagetkan Melody dan Yudha yang duduk tak jauh dari dapur kediaman keluarga Kazehaya. Karena kaget, Melody refleks bangkit dan berjalan menuju dapur. Yudha yang belum selesai mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan hanya bisa menghela nafas.
"Apaan coba yang baru saja? Untung tidak jadi bertanya... Namun, penasaran juga sih. Hah."
Yudha ikutan beranjak menuju dapur untuk mengecek apa yang terjadi di sana. Rupanya benar, sebuah baskom berbahan stainless steel baru saja terjatuh.
"Kau membuat Nona khawatir, Ayane-san!" Kata Shuhei.
"Maafkan saya, Nona Melody, Tuan Muda.." Ayane menunduk untuk menunjukkan betapa ia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Oh ya, tidak terjadi sesuatu pada kalian, kan?" Tanya Melody khawatir. Percayalah, tadi itu sangat keras suaranya membuat jantungnya hampir 'meloncat'.
"Tidak Nona, itu hanya baskom kosong yang terjatuh." Jawab Ayane.
"Kami akan lebih berhati-hati lagi." Sambung Shuhei.
"Astaga, ini kan hanya masalah baskom jatuh, kenapa jadi kaku seperti ini? Hah, santai saja! Ne, Yudha?" Kata Melody.
"Hn. Tidak masalah. Oh iya, bagaimana dengan ice creamnya?" Tanya Yudha.
Ayane berbalik badan dan mengambil semangkok ice cream di belakangnya. "Setengah jadi, tekstur masih mirip yougurt, Tuan Muda.."
Melody mengambil mangkok berisi ice cream itu. "Aku ingin mencobanya!" Melody menatap ice cream tomat itu dengan lidah penuh saliva.
Yudha menatap Melody yang langsung mencicipi ice cream tomat setengah jadi itu. Sangat lucu.
"Makan sambil duduk, Mel!" Perintah Yudha. Melody mengangguk dan duduk di kursi yang biasa digunakan untuk makan keluarga Kazehaya.
Yudha melakukan hal yang sama. Ia mengikuti Melody duduk di sana setelah menyuruh Shuhei dan Ayane melanjutkan acara membuat ice cream tomatnya.
"Yudha, aku baru tahu jika Shuhei-san bisa meninggikan suaranya seperti tadi. Itu menyeramkan!" Bisik Melody yang baru pertama kali mendengar Shuhei menunjukkan amarahnya.
"Dia tidak marah, hanya tegas." Kata Yudha.
"Benarkah?"
"Hn."
"Hm begitu rupanya... Oh iya, cobalah ini! Ini enak sekali!" Melody mencoba menyuapi Yudha dengan ice cream tomat setengah jadi itu.
Ada sensasi tak jelas di lidah Yudha. Ia merasa asing dengan rasa ice cream tomat setengah jadi itu. Tiba-tiba ada yang bergejolak dari dalam perutnya. Iapun dengan cepat beranjak dari duduknya dan berjalan menuju washtafle dapur. Ia muntah-muntah.
Melody tak menyangka jika Yudha akan seperti itu.
"Yudha muntah karena tomat? Bukankah tomat itu buah favoritnya? Haah?"
________________________________________
Aku minta maaf kalau kalian tidak nyaman karena alu banyak menggunakan kata 'muntah' di chapter ini. huhuhu..
__ADS_1
Komen ya.. like.. Ada kejutan besar nanti 😎