MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Akhiri


__ADS_3

Sepeninggal Yudha, Yura meringkuk di atas ranjang pasien. Pikirannya terasa kacau. Ia kesulitan memaknai apa yang baru saja terjadi padanya. Bukan hanya sulit, sesungguhnya ia tidak bisa menerima begitu saja.


Yudha sudah tak peduli meski dirinya mati sekalipun?


Ia menangis sejadinya. Bagaimana bisa Yudha melakukan hal kejam itu padanya? Bahkan janji pengikat yang sudah lama terukir di masa lalupun seolah tidak ada artinya. Yudha memutus ikatan janji pengikat itu secara sepihak tanpa persetujuannya.


Ia sudah memohon, ia sudah menangis, bahkan mengancam ingin bunuh diri saja, Yudha tetap tidak mengindahkan ketidak inginannya. Yudha tetap melangkah pergi meninggalkannya.


Kini yang tersisa hanyalah dirinya yang dirundung rasa amarah yang tak terkira. Ia harus melakukan sesuatu agar rasa amarahnya terobati. Ia harus membuat perhitungan!


"Aku tak akan membiarkanmu bahgia dengan wanita itu! Aku akan membuatmu membayar berkali lipat!"


.


.


.


Sampai akhirnya, Sai datang mengunjungi Yura. Ia tak bisa langsung datang ke Jepang ketika mendengar kabar tentang Yura. Ia tahu sejak awal masalah yang menimpa. Ia tahu Yura yang kecelakaan, Yura yang berbohong, Yura yang depresi, dan Yura yang mencoba bunuh diri.


Jika ditanya khawatir, ya tentu saja ia khawatir pada Yura. Nyatanya Yura itu sahabat kecilnya juga.


Lalu kenapa baru sekarang ia muncul? Kenapa setelah sekian lama ia baru menampakkan diri? Bukankah ia merasa khawatir?


Pertanyaan bagus, sama seperti Nao, Neil, ataupun Ayumi, meski bersahabat, tapi waktu yang pas belum bisa didapatkan. Bagi Sai yang merupakan pelukis terkenal, ia juga harus profesional dengan pekerjaannya. Ia tak bisa menyepelekan segala kontrak kerja yang sudah ia tanda tangani.


Satu kesalahan besarnya, Sai cukup menyesal karena sempat berpikir jika Yura sudah memiliki Yudha yang akan menjaganya.


Sai lupa jika posisi Yudha saat ini tidaklah seperti dulu. Yudha sudah memiliki istri yang harus lebih diutamakan.


Mengetahui jika Yudha kesulitan membagi waktu, Sai sungguh merasa bersalah. Iapun juga menyadari bagaimana perasaan Yudha itu. Ia tahu Yudha mencintai istrinya. Ia tahu Yudha menderita karena harus menjaga Yura. Mata lelah Yudha sudah mewakilinya.


Saat ini, Sai merasa harus bertanggung jawab atas kedua sahabatnya ini. Ia ingin Yura membaik. Ia juga ingin Yudha bahagia.


Yudha sudah tegas mengambil keputusan. Sebagai sahabat, tentu saja ia akan mendukungnya. Apa lagi Yudha memiliki niat tulus akan keputusan yang dibuat. Ia akan senang melihat Yudha bahagia dengan Melody.


.


.


.


Sai mencoba menenangkan Yura yang menangis. Mereka berdua berdebat soal Yudha. Sai menasehati Yura untuk melepaskan Yudha, tapi Yura masih enggan.


Bagi Yura, Yudha itu akan selalu mengikutinya, akan selalu menjaganya, akan selalu ada untuknya. Yudha akan selalu menjadi miliknya.


Sai mencengkram keras bahu Yura. “YURA, SADARLAH!”


Ini sudah ke sekian kalinya Sai mencoba menyadarkan Yura. Mulai dari nada suara yang halus, sampai meninggikannya. Sai perlu mengeluarkan otot lehernya agar bisa didengar oleh Yura.


Namun sayang, Yura mengabaikan setiap kata-katanya. Yura menuli enggan menanggapinyam Yura berkata kemana-mana di luat konteks perkataan darinya.


“Yudha akan selalu mengikutiku! Aku akan mencoba bunuh diri sekali lagi. Aku yakin dia akan datang!” Kata Yura yang mulai nylamur.

__ADS_1


Yura merancau semakin tidak jelas. Rasa sakit hatinya menjadi-jadi. Emosinya yang memang dari awal sedang labil, semakin menjadi sulit dikenalikan. Emosinya mulai meledak-ledak. Ketika ia tenang, pemikiran-pemikiran jahat mulai keluar dari bibirnya.


“JANGAN GILA!" Bentak Sai. Yura kembali tidak bisa dikendalikan.


"Kalau aku bunuh diri, Yudha akan datang ke sini dengan sangat cepat. Seperti waktu itu." Yura bahkan bisa tersenyum kosong tapi menyeramkan.


Sai mendengarnya miris. "Yura dengar, Yudha sudah menikah. Dia sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini. Jangan ganggu dia lagi dengan alasan konyolmu ini! Ok?” Kata Sai yang tak lelah mencoba menasihati.


Ia tak ingin sahabat kecilnya itu terjebak dalam rantai yang memenangkan keinginan setan. Ia harus menyelamatkannya.


“Ah, Melody... Iya, gara-gara wanita itu Yudha menjadi berubah. Aku harus menyingkirkannya! Yudha akan kembali padaku kalau wanita itu mati. Haha, iya, wanita itu harus mati!” Yura menjadi-jadi.


Yura tertawa setan.


PLAKKK.


Sebuah tamparan keras menyadarkan diri dari kegilaan yang menjadi-jadi.


“BERHENTILAH MERENDAHKAN DIRIMU MENJADI LEBIH HINA LAGI!" Kata Sai


Yura memegangi pipinya yang baru ditampar Sai dengan sangat kerasnya. Begitu panas, begitu perih. Ia yakin bekasnya akan memerah meningat begitu putih kulit wajahnya.


Itu tak penting. Yang paling penting yang harus ia sadari, Sai menampar dirinya!


"Yudha tahu semuanya! Dia tahu kau pura-pura sakit. Dia tahu kalau kau mencoba bunuh diri hanya untuk mengendalikannya. Dia... dia tahu semuanya tentang segala kepalsuanmu!"


"..." Yudha tahu semua itu?


"Sudah cukup baginya untuk menjagamu! Yudha bahkan tahu kau yang mengambil ponsel milik Melody saat Melody hilang di Okinawa! Tapi Yudha tak marah padamu karena Melody kembali dengan selamat."


Sesungguhnya Yudha curiga dengan ponsel yang Yura miliki. Ia yakin jika ponsel itu adalah milik Melody. Ada sedikit retakkan di pinggir cashing ponselnya. Namun, ketika Yudha menanyakan hal itu pada Yura, Yura bilang hanya ponsel lama.


"Aku dan Yudha mengikuti permainanmu karena kami hanya kasihan padamu! Tapi semakin ke sini, kau malah menjadi-jadi."


"..." Sai yang seolah tak peduli padanya juga tahu segala kebohongan dan drama yang ia buat? Jadi selama ini, ia hanya menjadi sosok bodoh yang seolah semua berjalan sesuai keinginannya?


"KAU MENYEDIHKAN, YURA! MENYEDIHKAN!” Kata Sai mengakhiri segala unek-unek yang memenuhi otaknya.


Sai memang sudah habis kesabaran. Ia harus menyadarkan sahabat masa kecilnya.


Mendengar Sai mengatai dirinya menyedihkan membuat luka begitu lebar di dadanya. Begitu mengaga, begitu menyakitkan karena pada dasarnya, semua itu benar adanya. Ia memang sangat menyedihkan.


"Kau sungguh menyedihkan." Ulang Sai.


Yura menangis sekerasnya. Ia sadar, tak ada yang paling mengerti perasaannya selain mereka berdua. Yudha dan Sai adalah sahabat terdekatnya sejak kecil. Mereka yang selalu mewarnai hidupnya.


“Jika kau membalas perasaanku, aku tidak akan mengganggu kehidupan Yudha!" Kata Yura.


Ya semua ini adalah dasar dari segala tindakkan gilanya. Ia tahu Sai mengetahui perasaannya, tapi Sai sama sekali tidak membalas perasaannya. Sai hanya menganggap dirinya sebagai seorang sahabat. Tak lebih dari itu.


Sai bahkan bisa dengan mudahnya meninggalkan dirinya dan memilih tinggal di Italia. Memasrahkan dirinya pada Yudha untuk menjaganya.


Karena itu ia harus memaksa Yudha terus menjaganya.

__ADS_1


"Tapi Yudha itu sudah menikah! Harusnya kau mikir, kau tak bisa seenaknya saja terus-terusan!" Kata Sai.


"KENAPA ORANG-ORANG YANG KUSAYANGI TERUS SAJA MENINGGALKANKU? IBU, KAU, DAN KINI YUDHAPUN! KENAPA?”


Sai sadar perasaan Yura kepadanya. Ia tak bodoh dan menutup mata soal hal itu. Tapi ia tidak bisa egois karena ia juga tahu jika Yudha menaruh perhatian lebih pada Yura. Sai merasa jika ia tak bisa mengkhianati Yudha dengan menerima Yura di sisinya.


Namun kini berbeda, Yudha menemukan cinta sejatinya. Perasaan Yudha ke Yura bukan dalam takaran romantisme.


“Kehidupan akan selalu berputar. Semua orang akan berubah. Jika kau stuck di masa lalumu terus, kau tidak akan bisa bangkit. Kau itu kuat, Yura. Kau wanita terhormat. Kau cantik, kau bisa melakukan banyak hal. Tuhan sudah sangat adil padamu. Harusnya kau lebih bisa bersyukur lagi!”


Terang Sai.


“...” Apa selama ini ia memang tidak bersyukur?


Tuhan memberinya harta berkecukupan. Kecantikan, karir yang menjanjikan, otak yang cerdas. Tuhan sudah sangat sayang padanya.


Sai menghela nafas. “Maaf karena aku menamparmu sangat keras..”


Yura menggeleng. Apa yang dilakukan oleh Sai itu sudah benar. Jika tidak, ia pasti akan semakin bertindak gila.


Sai lalu memeluknya. “Hmm, bagaimana kalo kita jalan-jalan ke Paris berdua? Hm?”


Yura melebarkan matanya. “Berdua?”


“Iya, hanya kita berdua.” Sai tersenyum.


“Sai-kun, arigatou dan... aku akan selalu mencintaimu meski terus kau tolak sekalipun.”


“Iya, iya.”


“...”


“Berjanjilah untuk tidak mengganggu Yudha lagi!’


“Iya.”


“Berhenti pura-pura jika kau menyukainya secara romntis.”


Pinta Sai.


Ya, Sai tahu drama yang dibuat Yura untuk membuat Yudha tetap mengikuti Yura adalah kepura-puraan saja. Yura pura-pura menyesal dan mencintai Yudha hanya untuk menarik perhatian Yudha.


“Iya, tidak akan. Aku hanya akan mengikutimu seumur hidupku.”


Kata Yura.


Sai mengelus pucuk kepala Yura dan mereka berdua tertawa bersama.


.


.


.

__ADS_1


“Yudha, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Kau jatuh cinta pada Melody, dan kalian terlihat sangat serasi. Melihat tatapanmu pada Melody, dan Melody kepadamu, aku sangat yakin jika kalian saling cinta. Tidak ada yang lebih baik dari terbalasnya sebuah cinta... Kuharap kau bahagia, Yudha. Lupakan perasaanmu pada Yura yang dulu pernah ada! Kau berhak dicintai dan bahagia.” Batin Sai.


__ADS_2