
Mengembalikan mood nulis itu susah. Apa lagi ceritaku tidak begitu dinikmati. Hanya saja, aku merasa harus menamatkan apa yang aku mulai.
Ini kurang sedikit lagi.
Tapi takaran sedikit untuk seorang Sata Erizawa pasti tetaplah sangat panjang. Dasarnya penulis bertele-tele dan lama. Hahahaha.
Gomenasai ne minna-san. Hontou ni Gomenasai. Gambarimasu! Semoga bisa segera tamat. Soalnya aku udah namatin novel lain yg sudah aku kontrakin di NT. Hanya novel ini saja yang belum.
Meski sudah tak ada yang baca, tapi aku berusaha menyelesaikannya.
Bismillah... semoga lancar.
Thor udah sembuh sakitnya? Dibilang sembuh sih bagaimana ya, ya intinya tidak seperti sebulanan kemarin dimana fisik bener-bener sangat lemah.
Oke kilas balik dulu...
Kyoto Guardian perang dengan Yakuza Macan Selatan. Orion dan Yakuza Fajar Keemasan berhasil menyelamatkan Yudha dan Neil. Yudha dan Melody akhirnya bertemu.
Kyoto Contruction, perusahaan milik Tuan Han berhasil dibakar. Tuan Han nampak menggila usai mendengarkan berita ini.
Singkat cerita, karena kerja sama dengan Emperor Group gagal, Kyoto Contruction harus membayar denda sebesar 1 triliun. Tentulah mereka tak bisa membayarnya mengingat kebakaran gedung itu meluluh lantakkan semuanya. Aset, dokumen berharga, semuanya lenyap. Akhirnya, Kyoto Contruction pun mengalami 'kematian' nyata dari sebuah bisnis. Lebih memburuk lagi, Tuan Han dan Saga Masamune Menghilang. Dua petinggi Kyoto Contruction ini 'kabur' entah kemana. Hal ini mengakibatkan, masalah Kyoto Contruction semakin rumit. Hutang usaha pun tak mampu dibayar hingga akhirnya dinyatakan pailit.
Tuan Han menjadi buronan polisi. Kasus narkoba dan transaksi senjata ilegal itu sudah cukup untuk menjebloskannya ke penjara. Belum juga soal kasus pembunuhan yang lain.
Kemanapun Tuan Han pergi, hidupnya tidak akan tenang. Mungkin ia memilih tinggal di hutan dan menjadi Tarzan? Entahlah, siapa yang tahu.
.
.
.
Alvin tersenyum melihat Melody sumringah hari ini. Ia tak buta, ia tahu apa yang terjadi. Ada kelegaan di dalam hatinya. Yudha pun juga sudah mendapatkan penanganan medis yang jauh lebih baik dari kediaman Tuan Han.
"Tuan Han menghilang, ibuku juga sulit dihubungi. Kemanakah mereka? Apa ibu bersama dengan Tuan Han? Apa ibu mau cari mati? Jika ibu cukup pintar, tentulah dia akan memilih paman Azumane. Lega itu ada, tapi perasaan tidak tenang apa ini?" Gumam Alvin saat di salah satu lorong rumah sakit Kazehaya Internasional. "Sebelum orang itu ditangkap, aku memang tak bisa benar-benar bernafas lega."
"Tuan Alvin, silahkan masuk!" Suster memanggil namanya.
.
.
.
Tempat lain...
"Ini yang terakhir, mohon jangan hubungi saya lagi!" Kata Kurenai.
Ia menutup ponselnya dengan kesal. Setelah itu ia memukul stir mobilnya.
"Sial! Sial! Kurang sedikit lagi... Tapi tak mengapa, Tuan Han sedang tak bisa menunjukkan diri di depan umum, itu artinya, dia sedang dalam kondisi yang tidak mampu untuk berbuat banyak. Andai orang itu ketangkap polisi, maka, aku bisa terseret. Kenapa orang itu tidak mati saja sih? ... Tunggu, mati? Jika Tuan Han mati, maka aku akan bebas dari jeratan bonekanya. Alvin sudah jadi CEO dan memiliki saham besar di Emperor Group juga, bukankah itu menjanjikan? ... Ada hal yang masih aku inginkan, surat wasiat Yoga-san. Aku harus tahu apa isinya, akta kepemilikan Emperor Group haruslah menjadi milik Alvin! .... Stemple yang ada pada Shuhei ternyata bukan Stemple asli. Seseorang pasti sudah meng dari bank Swiss. Pertanyaannya, siapa itu? Yudha dan Melody jelas tidak mungkin. Aron apa lagi. Orion-san? Apa mungkin Orion-san yang mengambilnya? Aku harus mencari tahu! Ya, aku harus mencari tahu!"
.
.
.
__ADS_1
Kamar inap Yudha...
"Ada apa Yudh? Sedari tadi menatapku terus? Dan apa ini? Kau bahkan enggan melepaskan tanganku. Ya bukannya aku tak senang kau menggenggam tanganku sih. Hanya saja, ini sudah sangat lama. Sejak kita kembali ke Tokyo, kau selalu seperti ini." Kata Melody ketika menemani Yudha.
Yudha masih selalu setia dengan senyuman di bibir tipisnya. Ia merasa bahagia bisa berjumpa dengan Melody lagi.
"Aku hanya tak ingin ketika aku bangun nanti, kau tak ada di sisiku. Aku takut jika ini mimpi. Akan sangat mengerikan jika aku masih jauh darimu." Kata Yudha.
"Ini sudah semingguan lebih dari hari dimana kita dipertemukan. Ini waktu yang lebih dari cukup untuk menyakinkanmu bahwa semua ini bukanlah mimpi. Keberadaanku di sisimu dan kebersamaan kita itu fakta adanya, nyata dan sungguhan."
"Berikan aku kecupan manis, Mel!"
"Kau memanfaatkan keadaan!"
"Tidak mau?" Wajah Yudha nampak kecewa. Membuat Melody tak tega.
Melody menghela nafas. Ia pun mencium kening Yudha. Kening yang masih ada perbannya.
Ketika Melody selesai mencium kening Yudha, Yudha malah sedikit menekan tengkuk Melody dan membuat dan istri mendekat ke wajahnya. Yudha pun akhirnya mencium bibir Melody.
"Nakal!" Kata Melody.
"Jika aku sedang tidak sakit dan kau hamil besar, sudah aku lempar kau ke keranjang."
"Bahasamu loh, Yudh!"
"Aku kangen sayang-sayangan dengan dirimu. Boleh minta peluk?"
Melody lagi-lagi menghela nafas. "Kau dengar tidak sih?"
"Peluk aku, Mel!"
"Rasanya hangat dan.... empuk." Kata Yudha.
Melody lantas menjauh dan bersiap untuk memukul Yudha. Ini suaminya apa-apaan sih? Hangat? Empuk?
"Aku sedang sakit, Mel! Masak kau tega mau memukulku sih? Kalau aku semakin parah sakitnya, bagaimana? Masih banyak yang harus aku urus!"
"Yudha suamiku, kita Rontgen sekali lagi yuk kepalamu? Kali saja ada yang eror? Sumpah deh, dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya bercanda. Mesum lagi!"
"Kenapa memangnya kalau mesum? Aku kan hanya mesum denganmu!"
Arggghhh... Paringono sabar, duh Gusti!
"Haaah, oke, aku angkat tangan! Yudha memang hebat! Yudha memang selalu menang!" Kata Melody.
"Karena aku yang menang, cium sekali lagi, Mel!"
"😤" Meski kesal, tapi Melody tetap melakukannya. Menuruti permintaan Yudha.
"Aku memang banyak. Arigato ne, Melody!"
"Iya."
"Kok ketus? Marah ya?"
"Tidak..."
__ADS_1
"Masak?"
"Yudha, otakmu baik-baik saja, kan?" Melody sampai menyentuh jidat Yudha. "Agak panas. Mau aku panggilkan dokter untuk memeriksamu?"
"Aku tidak gila, Mel!"
Melody tersenyum. "Suamiku kalau sedang kangen menjadi menggemaskan."
"Aku kan selalu menggemaskan, baka!"
"Narsis!"
"Biar. Tapi kau suka, kan?"
"Ya. Aku suka."
"Dasar."
"Hehehe..."
"Nah Mel, kau tahu? Kau itu sangat hebat dan berani. Hanya bermodal ponselku, kau bisa mengerti apa yang aku rencanakan."
"Kita sudah bahas ini kemarin, Yudh. Aku merasa kau tak mungkin meninggalkanku di motel begitu saja hanya demi menjaga keselamatan diriku dan calon anak-anak kita. Ponselmu seperti tongkat sihir, rencana yang kau susun, sangat manis dan indah."
"Manis dan indah apanya? Ternyata kau pun suka memakai pemilihan kata yang berlebihan ya?"
"Kan itu darimu juga... Hehe.. Intinya, aku hanya mengerjakan apa yang sudah kau rencanakan. Aku meminta bantuan sana sini. Mengumpulkan teman-teman di atap gedung. Membagi tugas. Aku membuat surat penyerahan saham palsu dan memberikannya kepada Tuan Han. Pura-pura terpuruk karena ancaman dia. Dan tara.. berhasil menyelamatkan mas bojoku yang paling tamvan!" Jelas Melody.
"Kau memang istriku yang cerdas. Aku bangga padamu. Tapi lain kali, jangan pernah ulangi lagi bertemu Tuan Han dengan sedikit pasukan! Walau seisi restoran semua membelamu, tapi dia bisa membunuhmu kalau dia mau." Yudha khawatir setengah mati membayangkan hal ini.
"Aku memakai rompi anti peluru." Kata Melody dengan cengiran khasnya. "Oh iya, aku kaget saat membaca dokumen yang ada di dalam komputer milikmu di Next In Co. Sejak kapan kau menyelidiki ku? Bagaimana bisa kau mengetahui semua masa laluku, terutama ayahku?" Tanya Melody penasaran. Ia masih kaget dengan fakta bahwa dirinya adalah keponakan kandung Tuan Han.
"Aku kan tidak mungkin menikahi sembarangan wanita. Aku juga ingin tahu rencana kakek menikahkanku denganmu. Makanya aku mencari tahu tentang dirimu. Fakta yang mencengangkan, bukan? Ikatan takdir benang merah di antara kita memang sudah ada sejak dulu. Kakekmu dan kakekku bersahabat. Kakekmu dan Kakekku tergabung dalam Yakuza Red Dragon di bawah kepimpinan Takeo. Takeo adalah kakaknya kakekmu. Takeo adalah ayahnya Tuan Han. Tuan Han adalah keponakan kakekmu bersama Paman Azumane juga. Tuan Han ternyata bersahabat dengan ayahmu, Dean Hwang, meski akhirnya berkhianat. Keluargaku memiliki masalah tersendiri dengan Tuan Han karena dendam masa lalu. Aku tak sepenuhnya membenarkan perbuatan kakekku. Dulu dia terlibat dalam runtuhnya Yakuza Red Dragon yang menewaskan Takeo, ayahnya Tuan Han.... Dan ya.. Masalah melebar ketika ibunya Alvin menikah dengan paman Azumane, itu artinya, kau dan Alvin bisa menjadi sepupu di lihat dari sisi paman Azumane. Kalau dari sisiku, jelas ipar sih. Hubungan yang rumit." Jelas Yudha panjang lebar.
"Yudha, aku pusing. Sudah ya jangan dibahas! Sekarang kita perlu menunggu tim utama kita kan?" Kata Melody.
"Sai ya..."
"Iya. Harusnya mereka berhasil, kan?"
"Mereka?" Yudha mengernyitkan jidatnya.
"Amamiya-san!"
"Yura? Kau tidak masalah dengannya?" Tanya Yudha hati-hati.
"Kita sudah baikan, sudah maafkan. Lagian, dia juga tidak cinta padamu. Dia cintanya pada Sai-san!"
"Ah.."
"Duh kasihan deh, ternyata yang tulus mencintaimu itu hanya aku!"
"Aku tidak kasihan tuh. Aku hanya butuh kau mencintaiku, bukan orang lain."
"Yudha.. Kau tahu?"
"Apa?"
__ADS_1
"Kau laki-laki termanis yang membuat jantungku berdebar kencang setiap kali bersamamu."
"Aku suka kata-katamu."