MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Telepon


__ADS_3

Siang ini, Melody menerima panggilan telepon dari kakek mertuanya yang saat ini sedang berada di luar negeri. Melody merasa kasihan dengan sang kakek mertua, sudah renta tapi masih harus bolak-balik ke luar negeri karena urusan bisnis. Dalam seminggu, kakek Wijaya bisa 2 kali ke luar negeri. Nenek Chiyo yang tidak tegaan bahkan juga sering menemani kakek Wijaya.


“Kakek?”


Tanya Melody.


“Suaramu parau, kau habis menangis? Karena Yudha?”


Kakek Wijaya justru balik tanya kepadanya.


“Hanya sedikit tidak enak badan saja, Kek.”


“Kakek akan segera kembali ke Jepang dan membereskan semua masalah yang terjadi. Urusan bisnis Kakek di Korea sudah beres. Kakek tahu, ini sangat berat untukmu, Melody. Tapi, kakek mohon, apapun itu, percayalah pada kakek!”


Melody terlihat bingung, tapi memang kakek mertuanya itu dapat dipercaya, kan? Soalnya, kakeknya memberinya banyak uang untuk pelunasan hutang, belum lagi yang lain-lain juga. Ia bahkan menerima sertifikat kepemilikkan salah satu villa mewah di Akita.


Memang kepercayaan untuk apa sih? Dalam hati, Melody tidak mengerti arah pembicaraan sang kakek. Diiyain saja deh.


“Hati-hati saat pulang nanti, Kek.”


“Iya. Jangan bertengkar dengan Yudha!”


Yudha lagi. Lagi-lagi Yudha.


“I-iya, Kek.”


Baru saja ia bertengkar dengan Yudha, tidak, hampir tiap hari malah ia bertengkar dengan suaminya yang tamvan gak ketulungan itu.


Ia tidak harus menceritakan semua masalahnya kepada kakek Wijaya, kan? Ia tidak ingin menambah kekhawatiran lagi.


“Jika kau tak ingin kalah dengan Amamiya, kau juga bisa melawannya. Gunakan cara yang sama dengannya, kau bukan wanita yang tak berilmu, Melody. Kakek tahu, karena kamu adalah pilihan kakek.”


Lagi, apa sih yang kakek bicarakan? Apa itu artinya sang kakek tahu dengan masalah yang ia hadapi dan kakeknya berusaha menyemangati? Ataukah itu sebuah solusi? Menjadi pintar? Melawan dengan hal yang sama? Licik? Bermuka dua? Ataukah jahat?


“Aku, aku hanya sedang berusaha tetap mendukung Yudha, Kek.”


Iya, kan? Dirinya masih mendukung Yudha, kan? Masih samakan pendiriannya seperti tempo hari sebelum kejadian terakhir-akhir ini?


“Mendukung tanpa percaya itu tidak ada gunanya, Melody. Kepercayaanmu adalah kekuatan untuk Yudha. Anak itu walau terlihat dingin, tapi dia sesungguhnya sangat rapuh.”


Rapuh?


Seorang Yudha?


Cowok raven yang punya muka seperti itu adalah sosok yang rapuh? Muka singa, hati hellokitty? Itu yang Kakek Wijaya maksudkan?


Sesungguhnya Melody ingin tertawa, hanya saja ia urungkan karena akan tidak sopan di hadapan kakek Wijaya. Tapi semenjak ia sering bertengkar dengan Yudha, ia mulai sering banyak berpikir.


Rapuh ya?


Seorang Yudha yang bisa rapuh juga.


Mungkin saja sang kakek yang tidak bisa menilai lebih jauh bagaimana cucunya itu.

__ADS_1


Namun, jika ia menilik ke dalam kisah hidup Yudha, ia hanya bisa menyimpulkan jika Yudha itu adalah sosok yang amat sangat kuat dan tegar.


Ditinggal ayah sejak kecil, dibesarkan di keluarga yang ketat, punya saudara yang ia sayangi tapi tak diakui, berusaha mendapatkan pengakuan untuk saudaranya dengan menukar kebahagiaannya. Yudha memang layak mendapatkan predikat sebagai sosok pejuang sejati. Hanya saja Melody baru mengetahui jika Yudha memilih dirinya hanya demi pengakuan Alvin sebagai darah Kazehaya.


Ia bisa apa? Fakta itu cukup menyakitkan, meski dirinya menikah dengan Yudhapun juga karena uang.


Benar sih. Menikah tanpa cinta adalah pilihannya dan pilihan Yudha.


.


.


.


Melody mengobrol banyak lewat telepon dengan kakeknya. Kakek Wijaya memberi wejangan banyak soal masalah hidup kepadanya. Rasanya, meski hanya kakek mertua, tapi Melody merasa bisa menemukan sosok kakek kandung di dalam diri kakek Wijaya.


.


.


.


Saat ini, Melody baru saja selesai berendam di Onsen yang tak jauh dari taman kota. Ayane yang merekomendasikannya.


Sungguh, kehangatan air yang mampu mengusir rasa dingin yang memenjara. Otakknyapun terasa lebih fresh, beban luka sedikit menghilang.


Ayane memberitahu jika Yudha terus saja menyuruh untuk datang ke pesta ulang tahun Yura. Benar saja, saat ia melihat ke ponselnya sendiri, ada begitu banyak panggilan dan pesan masuk dari Yudha yang isinya sama.


Bukan masalah mau tidaknya datang ke pesta ulang tahun Yura, ia hanya merasa marah karena Yudha tidak mengucapkan maaf tentang apa yang sudah terjadi semalam.


“Ya?”


“Aku enggan baca berita, tapi mengataiku mandul itu sangat menyakitkan ya?”


Melody menunjukkan judul berita yang ia baca di ponselnya.


"..." Ayane membaca judul berita itu.


“Aku bukan artis, tapi kenapa publik begitu ingin tahu kisahku? Aku memang dari kalangan bawah, beda kasta jauh dengan Yudha, tapi apa mereka berhak menghakimiku seperti ini?"


"Tentu saja itu tidak berhak, Nona."


"Mereka selalu seenaknya saja. ’Ternyata Istri Yudha si Pewaris Tahta Kazehaya adalah Seorang dari Kasta Rendah’... ‘Ini yang Membedakan Yura dengan Melody-Istri Yudha’... ‘Rupanya sebelum Kecelakaan, Yura bersama Yudha’.... Bisa kan karena pekerjaan makanya mereka bersama? Kenapa di kolom bawah diselipi opini jika aku ini seolah-olah membuat Yudha tidak betah di rumah dan memilih bersama Amamiya-san? Hahh... Publik itu kejam ya?”


Ngenes Melody.


Ngenes (bahasa Jawa): Malang.


“Nona Melody tidak perlu terlalu menanggapi opini publik. Mereka menulis berita untuk dibayar. Nona memang sedang berada di posisi yang tak diuntungan, tapi mereka hanya tidak tahu bagaimana kehidupan asli nona. Kami yang ada di sekitar nona yang paling mengetahuinya." Ayane mencoba menguatkan Melody.


"Iya juga sih.."


"Abaikan saja, Nona! Mulai saat ini, Nona pikirkan diri nona saja. Jangan sampai sakit lagi!”

__ADS_1


Sesungguhnya Melody berpikir, kenapa justru dirinya lebih sering dibahas padahal kasus suaminya jauh lebih heboh. Sungguh, ia sangat kesal karena ia dibanding-bandingkan dengan Yura.


Yang benar saja, jelas ia kalah telaklah!


Dari kasta ekonomi saja sudah jelas kalah, kenapa juga ia harus dihadapkan dengan bentuk fisik, cara berpakaian, dandanan?


Tidak ada wanita yang suka dibanding-bandingkan!


Melody merapikan kimono mandinya. Ia lalu melirik ponselnya yang sedari tadi berbunyi beberapa kali. Masih sama. Masih sama orang yang menelpon dirinya sejak tadi pagi.


Mati, telpon lagi. Sampai lebih sari 30 panggilan yang Melody abaikan. Merasa kesal karena Yudha tak bosan menelponnya, akhirnya iapun mengangkat panggilan itu.


“Apa?”


Tanpa salam pembuka yang ramah, Melody langsung menunjukkan kekesalannya.


“Akhirnya kau membalas panggilanku.”


Kata Yudha.


"..."


"Kau bisa datang, kan?" Suara Yudha melembut. Melody tak menyangka jika Yudha akan menurunkan nada suaranya agar ia bersedia datang ke acara pesta ulang tahun Yura.


“Baiklah, aku akan datang ke pesta ulang tahun Amamiya-san.”


“Aku akan menjemputmu tepat jam 19.00 nanti.”


Sejujurnya Yudha penasaran dengan Melody yang berubah pikiran setelah seharian menolak mentah-mentah ajakannya menghadiri undangan Yura.


“Tidak perlu, kita ketemuan saja di rumah Amamiya-san. Ayane-nee yang akan mengantarku. Jangan coba-coba menyanggah keinginanku, kalau kau lakukan, meski kau bersujud atau menamparku, AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU DATANG!”


Kata Melody lantang.


Yudha menahan amarahnya di seberang sana. Melody semakin berani melawannya. “Berhentilah mengancam suamimu, Melody!”


“Aku tidak mengancammu, Yudha. Aku hanya sedang memperingatkanmu!”


“Kau masih marah soal semalam? Dengar, aku tidak akan pernah minta maaf dengan apa yang sudah aku lakukan! Kita sudah menikah dan aku berhak akan hal itu!”


Yudha terpancing emosinya.


“Kau orang yang jahat!”


“Terserah apa katamu!”


Klik.. tuut.. tuttt.. tuuuutt.


Melody meremas ponselnya dan ingin membanting dengan kerasnya-meski tak jadi. Ia sangat menghargai pemberian orang, ponsel inipun salah satunya. Yudha yang memberinya, meski ia sedang marah dengan Yudha, tapi ia tidak akan merusak barang berharganya.


"Kalau kau mengharapkan kehadiranku, harusnya semalam kau tidak memperkosaku! Kau pikir tubuhku baik-baik saja? Dasar suami bejat, egois, tukang marah-marah, pemaksa gila, minta dipukul!" Sungut Melody.


Ayanee menarik senyumannya. Istri Tuan Mudanya satu ini memiliki aura unik yang membuat mudah bahagia orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


"Nona jadi datang?" Tanya Ayane.


"Tentu saja! Aku harus membuat perhitungan!" Jawab Melody mantap.


__ADS_2