MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 6


__ADS_3

Supermarket Kazehaya, distrik Teito..


Pukul dua siang, Mia sedang belanja di salah satu supermarket terbesar di kota Tokyo, supermaket milik keluarga Kazehaya di bawah naungan Emperor Group.


Mia membeli banyak kebutuhan harian. Ia juga membeli susu hamil titipan Melody. Setelah usai belanja nanti, ia memang berniat menemui Melody di rumah sakit sekalian menjenguk kakek Wijaya.


Ketika ia sedang berusaha mengambil kotak susu hamil, seseorang membantunya. Seseorang itu adalah Alvin.


"Alvin-senpai?" Kaget Mia.


"Kau hamil?" Tanya Alvin polos. Ia menyodorkan kotak susu yang baru ia ambil dan memberikannya pada Mia.


Mia menerima kotak susu yang Alvin berikan kepadanya. "Kau bertanya sungguhan atau sedang meledekku?" Kesal Mia. Ia lalu menunjukkan tulisan keterangan yang ada di dalam kotak kardus susu hamil itu.


Untuk usia kehamilan lima bulan. Itu yang Alvin baca.


"Untuk Melody?" Tanya Alvin.


"Iya, siapa lagi? Apa aku terlihat sedang mengandung janin usia lima bulan?" Tanya Mia balik.


Alvin mengamatinya dari atas sampai bawah. Mia sedikit agak tak nyaman dengan perlakuan Alvin.


"Kau tak memiliki ciri orang hamil." Jawab Alvin.


"Jelaslah, Senpai! Aku ini memang sedang tidak hamil! Bagaimana bisa aku hamil jika aku sendiri belum menikah?"


"Tapi dalam ilmu kedokteran, wanita bisa hamil ketika ada sel ****** yang membuahi ovum yang sudah matang. Selama kau melakukan hubungan badan dengan seorang laki-laki, kau memiliki kesempatan untuk hamil." Jelas Alvin.


Yudha versi 2.0.


Itu yang bisa Mia simpulkan dari Alvin yang sedang menjelaskan ilmu biologi ala kedokteran di hadapannya saat ini.


Mia tahu bagaimana sifat dan karakter Yudha dari Melody. Yudha memiliki keunikannya sendiri. Begitupula dengan Alvin. Alvin juga memiki sisi yang lumayan mirip dengan Yudha. Apa karena mereka berdua adalah saudara? Mungkin saja. Nyatanya, darah Kazehaya memang berbeda.


"Aku tak pernah memiliki pemikiran untuk hamil di luar nikah! Apa lagi harus melakukan **** bebas. Aku tidak akan pernah melakukan itu! Selain karena menyangkut soal harga diri, tapi aku memegang teguh janjiku pada Melody." Jelas Mia.


"Pertahankan!" Kata Alvin.


"Eh?"


"Cewek yang menjunjung tinggi harga diri dan menjaga harkat martabatnya memiliki nilai lebih di hadapan cowok." Terang Alvin.


Alvin menyukai cewek dengan prinsip kuat seperti ini juga.


"Benarkah? Setahuku banyak laki-laki yang menyukai cewek secara fisik. Jika laki-laki memiliki penilaian lebih terhadap cewek berprinsip seperti diriku, harusnya aku tidak akan menjomblo sampai hari ini!" Kata Mia.


Kesal juga jika menyangkut masalah jomblo atau berpasangan. Topik yang cukup sensitif mengingat sampai detik ini, ia masih sendiri.


"Pasti akan ada laki-laki yang mencintaimu suatu saat nanti." Kata Alvin.


Mia tersenyum. "Semoga saja."


Alvin membalas senyuman Mia.


"Senpai, orang yang aku cintai ada di hadapanku saat ini. Namun, orang yang aku cintai itu justru mengatakan jika akan ada laki-laki yang akan mencintaiku suatu saat nanti. Tidakkah kau menyadari jika laki-laki yang aku inginkan itu adalah dirimu? Kau tahu, saat kau mengatakannya, hatiku sangat terluka. Hanya saja aku tak bisa menyalahkan dirimu. Aku tak bisa melakukannya. Kau tidak tahu mengenai perasaanku terhadapmu, itu memang bukan salahmu. Ini semua adalah salahku. Aku yang sakit hati karena pilihanku sendiri." Batin Mia.


"Temukan laki-laki yang bisa membalas cintamu, Mia! Akan sangat menyakitkan jika kau berada di posisi cinta sepihak." Kata Alvin.


"Aku harap aku menemukan sosok laki-laki yang seperti itu, Senpai." Kata Mia. Ia tersenyum miris.


Sebelum Alvin menyarankan hal itu pada dirinya, ia sudah terlanjur di posisi itu. Posisi dimana ia mengalami cinta sepihak, tak terbalaskan, dan bertepuk sebelah tangan. Malangnya lagi, yang dicintai tak memahami karena ia memilih untuk diam.


"Mia.." Panggil Alvin.


"Ya?"


"Aku belum makan siang, kau mau menemaniku makan?" Tanya Alvin.


Apakah Alvin serius mengajaknya makan bersama? Apakah Alvin sedang basa-basi dengannya?


"Hm, baiklah. Ayo kita makan bersama! Senpai yang bayar, kan?" Tanya Mia. Lebih tepatnya ia sedang bercanda.


"Iya aku yang bayar, kau makan saja sepuasnya." Kata Alvin.


Mia tak menyangka jika Alvin menanggapi candaannya. Numun, ia senang. Meski sederhana, tapi bahagia bagi dirinya itu mudah. Ia tidak muluk-muluk soal ide bahagia. Melihat Alvin baik-baik saja ia sudah lega. Senyuman tipis dari Alvin membuat suasana hatinya membaik.

__ADS_1


Apa mencintai orang bisa seperti ini? Mencintai dengan tulus tapi dipendam? Apakah ini hanyalah rasa kekaguman semata layaknya yang dialami oleh fans kpopers? Mencintai dengan tulus para biasnya, tapi cukup di balik layar kaca? Cinta yang begitu besar untuk biasnya disalurkan dari jarak yang amat sangat jauh? Apakah seperti itu perasaannya?


"Senpai, aku mencintaimu dengan sangat tulus. Rasaku padamu sangatlah besar. Kau bahagia, aku ikut bahagia. Kau berduka, aku juga bisa merasakannya bagaimana hatiku terasa begitu sesak. Dalam diam aku bahkan bisa menangisimu... Senpai, ini sangat berat dan menyakitkan, tapi aku memilih bertahan. Aku memilih tersiksa dalam kesetiaan ini. Aku tahu aku ini bodoh, tapi gadis bodoh inilah yang selalu menyebut namamu dalam setiap doaku pada Tuhan." Batin Mia.


Mia dan Alvin menuju Food Court yang ada di lantai tiga supermarket milik keluarga Kazehaya itu. Mereka berdua memasan makanan yang mereka inginkan. Setelah itu mereka duduk di kursi makan dekat dengan tembok kaca lantai tiga. Di sana, ada pemandangan indah gedung-gedung distrik Teito. Sudah bulan Februari, salju sudah mencair siap menyambut musim semi. Tak butuh waktu yang lama pula, sakura akan segera mekar dan saling bersaing mengindahkan Jepang.


"Senpai.." Panggil Mia.


"Ya? Ada apa?" Tanya Alvin.


"Terima kasih sudah membayar semua belanjaanku tadi. Itu banyak sekali padahal." Kata Mia.


"Ah itu, santai saja. Sekalian tadi aku membeli tisu." Kata Alvin.


Sebelum ke food court, Alvin membayarkan semua belanjaan milik Mia. Mia akan berpikir jika Alvin mungkin saja ingin membelikan susu kehamilan untuk Melody, tapi jika hanya membayar susu kehamilan saja, pasti akan menimbulkan ketidak nyamanan. Maka dari itu, Alvin memilih untuk membayar semuanya.


Mia sudah paham itu. Tidak apa-apa. Perasaannya akan baik-baik saja. Ini bukan yang pertama. Ini sudah berlangsung sejak lama dan berulang kali. Hatinya sudah terlatih untuk sabar menerima arti dari sebuah kenyataan yang menyakitkan.


Ah, bukankah ia hanya dianggap teman oleh Alvin, kan?


Mau sebesar apapun ia memperjuangkan cinta dan perasaannya untuk Alvin, tapi Alvin tidak pernah merasakannya. Memang salah dirinya sendiri membuka hati untuk Alvin yang jelas-jelas tidak bisa menerima harapannya. Resiko luka dan lara akan selalu menjadi tanggungannya.


Satu hal yang ia harapkan, jika satu saat Alvin mengetahui perasaannya, semoga Alvin tidak menyia-nyiakan dirinya. Semoga Alvin tidak menyepelekan perasaannya.


"Nah Senpai, kita jadi jarang bertemu ya semenjak kau bekerja di rumah sakit. Ada satu yang menggangguku." Ucap Mia.


"Apakah itu?" Tanya Alvin.


"Kau kurusan sepertinya. Aku ingat waktu kau kuliah setengah tahun yang lalu, rasanya kau cukup berisi. Namun kini, kau sangat kurus seperti tulang hidup." Jawab Mia.


"Kejam. Mengatai diriku tulang hidup. Aku tidak sekurus itu, baka!" Sanggah Alvin.


"Ih, seriusan loh, Senpai! Apa kau mengalami tekanan yang berat di dalam dunia kerja? Apa kau tidak makan dengan baik?" Tanya Mia khawatir.


Tentu saja ia merasa sangat khawatir karena rasa cintanya pada Alvin yang sangat besar. Melihat Alvin yang kurus kering seperti ini membuat dadanya teriris. Selain masalah cinta pada Melody yang tak terbalas, Alvin juga stress berat soal pekerjaan. Ia tak buta berita. Ia membaca banyak koran milik ayahnya. Emperor Group yang sedang mencari penguasa baru.


Alvin atau Yudha.


Dua bersaudara ini saling unjuk gigi untuk menentukan siapakah orang yang paling pantas menduduki tahta Emperor Group.


Beradu untuk berebut tahta dalam keadaan yang panas seperti ini rawan menimbulkan perselisihan. Jika bersaing secara positif, maka ia bisa menerimanya. Ia malah akan menatapnya dengan bangga. Hanya saja, mereka bersaing dengan cara yang tak begitu mengenakkan. Sebagai teman yang mencintai Alvin, ia merasa ikutan tak menentu dibuatnya.


Siapakah yang harus ia dukung?


Alvin yang amat sangat ia cintai atau Yudha, suami dari sahabatnya?


Dua orang itu tidak memiliki salah pada dirinya, tak sopan jika ia hanya memilih salah satunya. Tak sopan juga jika ia mendukung keduanya karena ada yang salah ada yang benar.


"Makanku memang tidak teratur akhir-akhir ini. Aku juga banyak lembur. Ya seperti yang kau lihat, aku memang menjadi lebih kurus dari sebelumnya." Jelas Alvin.


"Berat sepertinya mengurus Emperor Group yang sangat besar itu. Andai saja kakek Wijaya tidak koma, mungkin dia bisa membantumu." Kata Mia.


"Kau benar, setelah kakek koma, semua menjadi sangat sulit dikendalikan. Aku harus mati-matian membuat harg saham Emperor Group tetap stabil di pasar saham."


"Tapi hebat loh, sampai tadi pagi, Emperor Group masih memimpin untuk harga saham tertinggi di Jepang."


"Benarkah?"


"Jiah, merendah diri. Kau hebat, Senpai. Sangat hebat!"


"Ya sudah, aku terima pujian darimu."


"Terima, tapi mukanya tidak ikhlas seperti itu."


"Mukaku selalu seperti ini, Mia."


"Tidak, mukamu malah jauh lebih pucat. Ada kantung hitam di matamu. Astaga, kau anemia juga?" Mia jadi khawatir soal kesehatan Alvin. Sesuatu yang berat pasti tengah Alvin alami.


"Mau aku bocori sebuah rahasia?"


Mia menaikkan sebelah alisnya. "Rahasia?"


"Hn."


"Mau, apakah itu?"

__ADS_1


"Aku menyimpan banyak obat di tasku!" Kata Alvin yang menunjuk ke arah tas yang ia bawa.


"Obat?" Gumam Mia.


"Suplemen kesehatan tepatnya." Alvin mengambil obat yang ia bawa. Sebelum menyantap makanannya, ia menyempatkan diri untuk meminumnya.


"Suplemen kesehatanmu banyak sekali, Senpai." Mia heran karena ada bermacam-macam botol obat di hadapnya saat ini.


"Aku ingin tubuhku tidak tumbang karena mengurus Emperor Group. Aku harus tetap sehat. Lagian ini hanya zinc, iron, vit c, penambah darah, dan lain sebagainya." Terang Alvin.


Mia akhirnya memilih untuk memaklumi. Semua itu memang sangat Alvin perlukan mengingat gaya hidup Alvin yang mulai tidak makan dengan teratur akhir-akhir ini.


"Apa kau mau makan siang bersamaku setiap hari, Senpai? I-itu ka-kalau kau mau sih, tentu saja kau boleh menolaknya." Tanya Mia terbata. Ia tidan pernah mengambil langkah sampai sejauh ini.


"Hm, baiklah. Ayo kita makan siang bersama meski aku tak janji bisa tiap hari." Jawab Alvin. Ide Mia tidaklah terlalu buruk. Sudah lama ia makan sendirian. Mungkin dengan Mia, suasana meja makannya akan lebih ramai.


Mata Mia melebar. Ia tak menyangka jika Alvin akan menerima ajakkannya. "Iya. Ayo kita makan bersama. Aku akan mengirimu pesan untuk bertanya."


Tak terasa, Mia meneteskan air mata bahagianya. Membuat Alvin terheran dibuatnya.


"Kenapa menangis? Hei? Aku mengatakan sesuatu yang salah?" Tanya Alvin.


Mia menggeleng. "Dari tadi aku mencoba tidak berkedip dalam waktu yang lama, ternyata bisa membuat menangis ya? Hahaha." Mia tertawa kikuk. Alasan yang ia buat sama sekali tidak lucu. Sayang, makanan belum datang, ia jadi tak bisa ngeles soal makanan yang pedas yang bisa membuat menangis.


"Kau ini ada-ada saja. Angin akan membuat matamu perih, kau akan menangis setelahnya. Jangan sering-sering melakukannya! Itu bisa membuat matamu iritasi." Pinta Alvin.


"Hehe, iya-iya." Cengir Mia.


"Hei Mia, arigato na.."


"Untuk?"


"Mengajakku makan bersama."


"Nande?"


Nande: Kenapa.


"Semenjak Melody menikah, kau sibuk PKL dengan dirinya, aku menjadi tidak pernah kalian ajak makan bersama lagi seperti dulu. Aku jadi kesepian." Jelas Alvin.


Mia tertegun. Alvin kesepian? Ia tahu ini karena Melody, bukan karena dirinya. Ia memberanikan diri untuk menepuk lengan Alvin pelan.


"Seperti yang aku katakan tadi, aku akan mengajakmu makan mulai hari ini. Jika kau butuh teman makan, aku akan menyempatkannya." Kata Mia mencoba menyemangati Alvin.


"..."


"Kita ini teman sejak SMA, Senpai. Jika kau butuh sesuatu, tolong katakan! Jangan hanya diam saja!"


"Baiklah, aku akan mencoba mengatakannya."


Mia kembali tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Hari ini memang adalah hari yang baik. Ia tak ingin merusak suasana.


"Ah, makanannya sudah datang! Ayo kita segera makan!" Ajak Mia.


Pelayan itu meletakkan berbagai jenis makanan yang mereka pesan. Hidangan yang menggugah selera. Ada nasi, lauk pauk, soup, dan pencuci mulut. Menu berat untuk makan siang. Sebenarnya Mia sengaja memilih makanan itu. Lebih tepatnya ia hanya ingin lebih lama bisa memiliki waktu berdua dengan Alvin. Ini adalah kesempatan langka. Tak mudah ia dapatkan kembali.


Selama Tuhan memberinya kesempatan, maka ia akan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.


Mia menakupkan kedua tangannya yang diikuti oleh Alvin. "Itadakimasu!"


"Itadakimasu!"


Itadakimasu: Selamat makan. Kata ini bisa dipakai ke dalam berapa ungkapan. Akan memiliki arti lain tergantung konteks kalimatnya.


.


.


.


"Mungkin hanya dalam mimpi, dirimu bisa aku miliki sepenuh hati, Alvin-Senpai." Batin Mia.


Mia memeperhatikan setiap gerak yang Alvin ambil. Gaya Alvin memegang supitnya, gaya Alvin menggunakan sendok dan ganti menggunakan garpunya, gaya Alvin yang mengunyah makanannya. Semua tak terlewatkan. Bahkan Mia tahu jika dalam suapan ke empat, Alvin akan meminum air mineral.


"Tuhan, biarkan sejenak aku menikmati waktu indah ini bersamanya. Laki-laki ini amat aku cintai, tolong selalu lindungi dia dengan kasih dan sayang-Mu!"

__ADS_1


__ADS_2