
Menjelang empat hari menuju pernikahan Melody dan Yudha, semua orang di rumah kakek Wijaya terlihat sangat sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan. Mulai dari menentukan dekorasi, menentukan hiasan untuk ruangan, memastikan katring makanan, menyebar undangan, dan lain sebagainya.
Melody dan Yudha sibuk fitting baju pernikahan mereka. Konsep pernikahan mereka adalah pernikahan modern dan tradisional, jadi sudah dipastikan akan membuat sibuk setiap orang karena harus menggunakan dua konsep pernikahan.
Mungkin karena pernikahan mereka adalah pernikah orang kaya, ditambah lagi dilakukan dalam waktu dekat, terkesan mendadak dan tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkannya. Sudah pasti akan menguras banyak tenanga. Bukan masalah besar bagi kakek Wijaya. Ia bisa menggunakan kekuasaannya untuk melakukan semua hal yang ia inginkan, meski dalam waktu mendadak sekalipun.
Sekali lagi uang kembali berbicara.
"Ba-bagaimana menurutmu?" Tanya Melody gugup. Ia bahkan menundukkan kepalanya saat meminta pendapat Yudha tentang gaun pernikahan yang ia coba.
Yudha tak berkedip untuk beberapa detik saat melihat Melody melangkah pelan keluar dari ruang ganti dengan gaun pernikahan yang nampak indah itu.
"Yu-Yudha?" Panggil Melody karena merasa Yudha tak menanggapi pertanyaannya tadi.
"He? Ah, akan lebih baik jika perutmu lebih ramping lagi."
Perempatan muncul seketika di jidat Melody. "&*%$# , jangan khawatir, aku akan menghilangkannya dengan segera!"
Yudha tersenyum tipis melihat tingkah lucu Melody saat kesal. Satu hal yang perlu Yudha sadari. Sejak kapan ia mulai senang hanya dengan mengganggu Melody?
.
.
.
Rencana pernikahan Melody dan Yudha akan dilakukan di dua tempat, yaitu untuk pernikahan akan dilakukan di rumah kakek Wijaya dengan menggunakan pakaian adat Jepang, dan untuk resepsi akan di lakukan di Amamiya Hotel milik ayah Yura yang tak lain adalah rekan bisnis kakek Wijaya.
Untuk resepsi sendiri menggunakan konsep internasional yaitu dengan gaun pengantin warna putih susu.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin Melody dan Yudha masih fitting baju pernikahan, tapi tidak disangka malam ini adalah malam terakhir ia menjadi seorang lajang.
Suasana rumah keluarga Kazehaya sangat ramai dengan banyak kesibukan untuk menyambut hari pernikahan Melody dan Yudha.
Usai memeriksa kelengkapan baju adat Jepang, gaun pengantin, dan segala keperluan pernikahan, Melody kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Malam ini Mia menemaninya.
"Jenong, ini rumah apa istana? Besar sekali.." Kagum Mia saat pertama kalinya berkujung ke rumah Yudha.
"Aku saja juga tidak tahu. Sama seperti kamu saat pertama masuk ke rumah ini. Kurasa ini hanya pemborosan." Kata Melody.
__ADS_1
"Ish, pemborosan saja yang ada di fikiranmu. Hak Yudha mau memiliki rumah seperti apa. Yang penting dia kan mampu membayarnya. Kau ini ada-ada saja. Hei Jenong, calon suamimu itu kan kaya raya! Syukuri saja!"
"Hai, hai, wakatta."
Hai: iya, Wakatta: wakarimasu: mengerti
"Hei, bagaimana perasaanmu?"
"Perasaan bagaimana?"
"Ya perasaan karena besok kau akan menikah."
"Biasa saja."
"Ya ampun Melody. Aku saja merasa deg-degan, jantungku berdetak lebih kecang, serasa ingin copot."
"Yang menikah itu aku, bukan kau! Kenapa kau yang merasa seperti itu? Apa kau sedang terkena demam pernikahan?" Tanggap Melody santai.
"Walau yang menikah bukan aku, tapi aku merasakannya karena yang menikah itu kau, sahabat terbaikku!"
"Jujur saja, ada sesuatu yang mengganjal di dada ini. Terasa menyesakkan. Aku tidak tahu apa itu. Benar-benar terasa berat, Mia. Jika aku mencoba mencari tahu jawabannya, kepalaku akan terasa sangat pusing." Melody memegang dadanya.
"Mungkin karena kau akan menikah dengan orang asing buatmu. Tapi kau bisa berpacaran dengannya setelah menikah. Sepertinya akan mengasyikan, pernikahanmu akan lebih bewarna."
Melody mengambil nafas dan menghembuskannya dengan berat. "Yudha benar-benar asing buatku. Aku tidak tahu orang seperti apa dia? Bagaimana karakternya? Apa dia orang baik? Apa dia bisa mengertiku? Masih banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya."
Melody memeluk Mia. "Terima kasih sudah selalu mendukungku, Bebek jelek."
Mia tersenyum. "Sama-sama, Jenong lebar."
"..." Melody juga tersenyum.
"Malam ini akan menjadi malam terakhir untukku bisa tidur denganmu. Sampaikan terima kasihku pada Yudha karena sudah mengizinkanku menemanimu di saat terakhir melepas masa lajangmu." Lanjut Mia.
"Hahaha, kata-katamu menggelikan sekali, seperti kita mau berpisah lama."
"Haiiisshh, aku hanya mencoba berkata bijak seperti di drama-drama Korea yang pernah kutonton. Melody tidak seru sama sekali! Tidak peka!" Kesal Mia.
Melody tertawa ngakak. Bercanda seperti ini memang sangat seru. Apalagi dengan sahabat dekatnya, Mia. Hidupnya menjadi sangat berwarna.
Melody tiduran biasa, sementara Mia tengkurap. Ia mengganjal dadanya dengan bantal.
"Hei, Mel.." Panngil Mia.
"Hm? Apa?"
"Menurutmu pernikahan itu apa yang paling seru?" Tanya Mia.
__ADS_1
Paling seru? Paling seru sebuah pernikahan tentu saja bersatunya dua sejoli yang saling mencintai, kan?
Ah, tapi pernikahan yang akan ia jalani dengan Yudha bukankah tanpa ada rasa cinta. Akankah itu seru nantinya?
"Hm, entahlah.." Gumam Melody tidak paham. Masa depan pernikahannya dengan Yudha itu masih abu-abu. Masih buram.
Mia paham itu. Posisi Melody dan Yudha bukanlah sepasang calon pengantin yang dilanda cinta. Mereka berdua asing satu sama lain.
"Status di KTP nanti jadi 'kawin'!" Celetuk Mia.
"Hah?"
"Tidur ada yang nemenin.." Tambahnya.
"Hei, apa pentingnya coba status di KTP jadi 'kawin'?" Tanya Melody.
"Itu impian setiap jomblo, Mel. Kamu tahu betapa menderitanya ditanya 'kapan menikah', 'mana calonnya?', 'truk saja gandengan, masak kamu tidak?'. Itu menyakitkan, Mel! Sampai hati!" Jawab Mia.
"Kalau tidak dimasukkan ke dalam hati tidak akan sakit hati, Mia! Pola pikir saja itu."
"Tapi kalau status di KTP ganti jadi 'kawin', keren Mel!"
"Astaga, aku tak paham deh dengan cara pandangmu. Dan lagi, apaan dengan tidur ada yang nemenin? Belum tentu juga aku akan tidur dengannya! Kami masih kuliah, Mel! Masih kecil!"
Mia malah tertawa terbahak-bahak. "Masih kuliah? Masih kecil? Hello Mel, kau sudah punya KTP! Kau sudah dewasa, bodoh!"
"Iya, tapi kan baru dua puluh tahunan. Belum terlalu dewasa juga." Melody cemberut.
"Meski begitu kau sudah sah sekamar dengan Yudha. Siapkan dirimu saat Yudha menyerangmu di malam pertama ya! Kali saja dia akan menggunakan jurus gempuran tujuh hari tujuh malam." Goda Mia.
"Mia berhenti deh! Jangan bercanda!"
Mia semakin tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya begitu menggelegar. Ia pyas bisa menggoda Melody. Membuat wajah Melody merah padam.
Karena kesal, akhirnya Melody memukul Mia dengan bantal dan terjadilah perang bantal setelahnya.
.
.
.
"Yang seru itu ketika kau bisa menemukan cinta setelahnya!" Kata Mia di sela-sela rasa lelah setelah perang bantal. Nafasnya ngos-ngosan.
"..."
"Mel?"
__ADS_1
"Ayo ronde ke dua perang bantal!"