
Ruang kantor Yudha. pukul 13.27..
Yudha meregangkan dasinya. Melepaskan jas hitamnya. Ia duduk bersandar pada kursi kerjanya. Melonjorkan kakinya yang terasa sangat pegal. Baru setengah hari rasanya tenaganya hampir habis. Tidak seperti biasanya, lelahnya kali ini sangat luar biasa.
Jika ia jarang berolahraga, ia yakin saat ini ia pasti sudah tepar. Jetlag tempo hari juga masih terasa. Selama di Kanada, ia tidak memiliki waktu menganggur sedikitpun. Hari-harinya penuh dengan meeting dan tinjauan proyek di lapangan.
Ketika pulang ia memiliki libur, ia malah menghabiskannya untuk stalking kegiatan Melody dan dikejar-kejar wartawan.
Kini, harinya kembali seperti biasa. Kerja, kerja, dan kerja. Demi istrinya? Itu memang salah satu hal yang menjadi alasan. Bagaimanaun ia adalah seorang suami, maka ia berkewajiban menafkai istrinya itu. Label orang kaya yang disandangnya mungkin bukan masalah besar untuk menghidupi istrinya, namun ada hal yang lebih berharga. Kewajiban sebagai seorang suami?
Lebih jauh dari itu. Fokusnya kali ini adalah memenangkan game dengan sang kakek. 1-1 perhitungannya saat ini. Kakeknya menyuruh menikahi Melody dan imbalannya Alvin diakui sebagai cucu keluarga Kazehaya.
“Aku berkorban akan perasaanku demi mendapatan status pengakuan Alvin. Aku sudah menikahi Melody seperti permintaan kakek, untuk permintaan keduaku, apa lagi yang harus aku korbankan? Kakek tak memberitahuku keinginannya, apa artinya aku harus membaca klu darinya?"
Yudha memejamkan mata lelahnya.
"Apa artinya kakek memintaku untuk berkerja lebih keras lagi agar aky mendapatkan persetujuan darinya?"
Yudha mengernyitkan jidatnya.
"Apakah saat ini Melody memang sudah terlibat sangat jauh?”
Yudha lalu membuka matanya dan memenarkan posisi duduknya. Ia kemudian meminum air mineral yang disediakan di meja kerjanya. Satu gelas full. Ia meminumnya satu gelas full.
“Siaall. Apa yang sebenar aku pikirkan tadi pagi, hah? Kenapa aku bisa. Arggghhhh.."
Yudha menjambak-jambak rambut ravennya.
__ADS_1
"Aku langsung bergegas ke rumah ibu mertua saat Ayane memberitahu keadaan ibu mertua. Kupikir tak masalah membiarkan Melody menginap di rumah ibunya, mungkin bisa membuatnya sedikit mendapat suasana baru."
Yudha kembali mengulang kejadian yang sudah terjadi.
"Namun, saat tadi pagi Ayane mengatakan alasan Melody menginap itu karena ibu mertua sakit, aku sudah tak tahu harus bagaimana. Aku bergitu saja sudah berdiri di depan pintu rumah ibu mertua tanpa diantar Shuhei. Apa aku sedang tidak fokus?"
Yudha merangjai kata demi kata untuk menjelaskan kronologis kisah hari ini yang terlewati dengan perasaan kurang tepat itu.
"Yang membuat aku tak habis pikir, kenapa ada Alvin di rumah ibu mertua? Kenapa dia harus meminta pertolongan Alvin terlebih dahulu? Apa karena alasan jika Alvin adalah calon dokter dan aku calon sarjana ekonomi jadi Alvin lebih bisa diandalkan untuk menolong orang sakit? Ya aku cukup realistis, mungkin benar adanya. Hanya saja, entah kenapa aku merasa kecewa karena dia tak mengabari secara langsung padaku.“
Yudha lalu mengambil ponselnya. Ia membuka gallery fotonya. Beberapa hari ini, Nao sering mengiriminya foto kenang-kenangan selama di Okinawa Juli lalu. Isinya Melody semua sih. Tapi ada yang lain, biasanya Yudha itu tidak menyimpan foto di ponselnya, jarang. Tapi kali ini, dia bahkan tidak menghapusnya.
“Jika ingat Okinawa, yang ada hanya kekalapanku karena obat sialan itu."
Yudha menggeser layar LED ponselnya. Ia melihat foto-foto Melody dengan banyak gaya.
Yudha berhenti di sebuah foto dimana Melody di situ seperti seorang model natur. Melody tidak menatap kamera, ia duduk bersiku sambil menatap pantai.
"Aku juga tak menyangka jika Melody tidak memberontak. Apa ini? Seperti dua kutub magnet berlainan yang saling tarik menarik. Aku dan dia melakukannya begitu saja. Panas juga jika mengingatnya lebih jauh, cih.”
To tok tok.. Suara ketukkan terdengar. Membangunkan Yudha dari kilas balik kejadian tadi pagi.
Dengan suara penuh wibawa, Yudhapun menyuruh masuk tamunya. Yuichiro dkk.
Yuichiro adalah bawahan terpercayanya bersama Zakki, Kouki, dan Shuhei. Bedanya jika Shuhei itu bodyguard nyata, sedangkan Yuichiro, Kouki, dan Zakki adalah bodyguard pekerjaannya di kantor.
Mereka bertiga layaknya tangan kanan Yudha yang menjadi penggerak Yudha untuk membantunya dalam dunia bisnis. Tak banyak yang tahu tentang empat anggota ini. Kebanyakan karyawan hanya tahu jika Yuichiro, Kouki, dan Zakki hanyalah karyawan biasa yang bekerja di bawah departemen milik Yudha.
__ADS_1
Sedangkan Shuhei adalah sekretaris Yudha di kantor.
“Yudha-sama. Kami akan berusaha jauh lebih keras lagi. Maafkan kami karena kami tidak bekerja dengan maksimal.” Kata Zakki.
“Seharusnya kami melakukan tinjauan lapangan lebih sering..” Lanjut Yuichiro.
"Harusnya kami bisa memberikan proposal yang lauh lebih baik dari ini." Sambung Kouki.
“Bukan salah kalian, proposal kali ini memang bertepatan dengan kepulanganku setelah kunjunganku ke Kanada. Waktu kita cukup mepet. Berbeda dengan tim Tuan Kang yang lebih banyak memiliki waktu untuk survei lapangan. Kita kekurangan banyak data lapagan. Maaf karena terlalu membebani kalian.”
“Tidak, itu memang sudah mejadi tugas kami. Yudha-sama, proyek mega Miyagi adalah proyek yang sagat besar. Jauh lebih besar dari proyek Anda dengan Tuan Nao di Okinawa.” Kata Zakki.
"Proyek permintaan pemerintah langsung untuj mengembangkan perfecture Miyagi. Mega proyek yang pali besar yang pernah Emperor Group terima." Kata Kouki.
“Sangat disayangkan mega proyek itu tidak jatuh di departemen kita. Departemen milik Tuan Kang adalah departemen pengembang yang jarang mendapatkan proyek besar seperti ini. Tapi kali ini, mereka berani meyodorkan proposal yang mengagumkan seperti itu. Miyagi itu daerah pinggiran kota. Cukup jauh dari Tokyo. Perusahaan akan mengeluarkan banyak dana. Mungkin juga akan mengajak investor lain untuk berpartisipasi.” Kata Yuichiro.
"Belum lagi jika ada kendala ke depannya. Ya walau dalam proposal Tuan Kang dia sudah mencoba dengan baik bagaimana cara menyelesaikannya. Hanya saja sata merasa ada yang ganjil.." Kata Zakki.
"Ada data yang mirip dengan proposal kita. Gampangnya itu yang ingin kami sampaikan." Kata Kouki yang akhirnya bisa to the point maksud inti perkataan teman-temannya yang berputar-putar.
Yudha menangguk-angguk mengerti.
“Aku mengijinkan kalian untuk memantaunya! Aku paham kekhawatiran kalian. Untuk saat ini tetaplah sesuai rencana kita!”
“Kami akan berusaha untuk tidak membuat kesalahan lagi..”
“Perusahaan besar adalah dunia bisnis yang kejam. Berbagai cara bisa ditempuh. Bahkan cuci tanganpun bisa menjadi pilihan.”
__ADS_1
“Aku percaya pada kalian semua.”