MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kisah di Bawah Salju 9


__ADS_3

"Hei Yudh, aku sudah memikirkannya. Setelah mengalami banyak sekali cobaan pembunuhan, tidakkah kau merasa takut?" Tanya Melody.


"Aku tidak takut mati, Mel. Yang aku takutkan jika sampai membuat ibu menangis." Jawab Yudha.


Yudha menatap jauh matahari pagi nan jauh di sana. Cahayanya jatuh lurus lewat sela-sela pepohanan. Beradu dengan warna putih salju membuatnya nampak semakin indah.


Ada syukur usai badai.


"Ibu memang akan selalu seperti itu. Akan menangis jika kehilangan anaknya. Apa lagi kau putra kandungnya. Mungkin, jika aku di posisi yang sama dengan ibu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tidak akan bisa kehilangan anak-anakku." Melody menatap Yudha yang sedang menatap jauh pemandangan di depan.


Suaminya itu memiliki banyak beban, mulai yang sederhana sampai sangat berat.


Puas menatap pemandangan di depannya, Yudha lalu menoleh ke Melody. Istri yang menatapnya penuh rasa khawatir. Istri yang membuatnya memiliki alasan yang kuat untuk bertahan.


"Lalu bagaimana dengan diriku? Jika kau pergi, apa lagi membawa anak-anak, aku sudah tak ada lagi artinya untuk hidup." Kata Yudha.


"Jika kau pergi meninggalkan diriku dan anak-anak, aku juga tak bisa. Aku akan memburumu sampai akhirat jika kau berani melakukannya!" Ancam Melody.


"Seram! Kau menyeramkan, Melody!"


Memburu sampai akhirat? Bagaimana manusia biasa seperti Melody memiliki otoritas untuk melakukannya? Mau protes pada takdir Tuhan?


"Jika kau anggap ini menyeramkan, maka jangan seperti ini! Kazehaya Yudha yang aku kenal itu hebat, tak pernah kalah. Kazehaya Yudha, ayah dari anak-anakku adalah sosok yang kuat. Jika pada akhirnya kau tepentok di ujung jurang dan hampir jatuh, tolong jadikan aku dan anak-anak kita penyemangatmu! Aku mencintaimu dan kau mencintaiku, kita saling membutuhkan. Tolong pikiran perasaanku juga!" Kata Melody tanpa jeda. Ia bahkan harus mengur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Gomenasai.."


"Setelah akhirnya kita tahu perasaan kita masing-masing, jangan bermimpi untuk mengakhirinya begitu saja! Bahkan jika kau tak bisa melindungi dirimu, biarkan aku yang melindungimu!"


Yudha tak menyangka jika Melody bisa berkata seperti itu. Sebegitu lemah dirinya kah sampai-sampai istrinya yang sedang mengandung harus turun tangan untuk melindunginya.


"Melody... Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Yudha. Hatinya tersentuh cukup dalam, jika bukan didikan luar biasa sang kakek, air matanya pasti akan jatuh. Ya, meski tak bisa ia sembunyikan, ada air mengumpul cukup banyak di kedua bola matanya.


"Kenapa harus minta izin? Dari tadi kau terus melakukannya, kan?"


Mereka kembai berpelukkan untuk yang kesekian kalinya. Tak adakah rasa bosan di sana? Sayangnya tidak, pelukkan adalah simbol kasih sayang. Pelukkan adalah simbol penenang jiwa. Pelukkan adalah penguat dan koneksi banyak rasa.


Melody mengelus punggung Yudha yang memeluknya. Serapuh inikah punggung Yudha? Orang yang ia ketahui paling egois sedunia ternyata tidak sekuat itu.


"Kenapa jadi mellow begini sih? Hei Yudh, ini bukan gaya kita! Jangan bilang kisah di bawah salju kita akan segera diakhiri?" Kata Melody.


"Tadi yang mendramatisasi kisah itu siapa? Itu kau, Melody!" Kata Yudha.


"Bagaimana aku bisa diam saja? Kau berkata seolah-olah kematianmu akan segera mendekat! Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku! Hamil muda dan mau ditinggal suami? Aku tidak maulah!"


"Ya sudah kita bahas lain saja.."


Yudha senang, dengan ini ia jadi tahu ketulusan cinta Mellody terhadapnya. Meski perlu cerita dengan penanggapan yang berlebihan dahulu.


"Ceritakan tentang perasaanmu pada Amamiya-san! Kenapa kau bisa bersamanya pagi itu? Kenapa kau tak pulang ke rumah malam sebelumnya? Intinya ceritakan semuanya tentang dia! Katakan secara jujur, Yudh. Aku tak suka dengan pemilihan kata yang terlalu tinggi, aku ini terlalu bodoh untuk mengartikannya! Jadi, pakailah bahasa sederhana yang mudah dimengerti!"


"Kau bahkan berbicara panjang lebar seperti itu, bagaimana bisa aku menangkap isinya?"


"Yudha! Berhenti bercanda! Aku ini sedang serius!"


Yudha 'menarik halus' hidung Melody. "Ibu hamil tidak boleh mudah kesal!"


"Aduh, cepat katakan deh, Yudh!"

__ADS_1


"Jika aku menceritakan semuanya, kau harus memberiku hadiah." Kata Yudha.


Melody kesal. Yudha masih saja suka bermain-main padahal sedang serius seperti ini.


"Apa? Uang?" Tanya Melody.


"..." Uang? Yudha memutar matanya bosan. Hei, dirinya itu tidak kekurangan uang.


Sudah Melody duga, uang atau materi lainnya Yudha pasti tidak akan tertarik. Nyatanya Yudha sudah memiliki semua itu.


Melody tahu harus memberi kado apa pada Yudha.


"Bagaimana dengan pelukkan?" Tanya Melody.


"..." Pelukkan dengan Melody itu membuat tenang.


Yudha cukup tertarik, mari coba dengan hadiah yang sedikit nakal. "Ciuman?"


"..." Ciuman dengan Melody membuat ketagihan.


Melody memincingkan matanya. Ia memang harus memberikan hadiah yang tak mungkin bisa Yudha tolak. Sesuatu yang tak hanya nakal, tapi juga panas.


"Atau servis di ranjang?" Pungkas Melody.


"Deal!" Kata Yudha cepat. Ia bahkan menyeringai mesum.


"Jiah, kau mesum sekali sih!"


"Aku hanya mesum denganmu saja!"


"Hn. Aku suka saat kau menyebut namaku waktu kita bermain mesum. Apalagi desahan itu. Sangat sexy." Jujur Yudha.


Jawaban Yudha kembali membuatnya memerah. Berbicara intim dengan Yudha membuat perasaan tak menentu. Tiba-tiba bisa panas padahal salju masih menumpuk.


Melody akhirnya mencubit pinggang Yudha. "Aku malu, baka!"


"Akhirnya diakui juga."


"Sudah cepat katakan! Setelah itu, aku tak akan kabur dari hadiah itu."


Yudha tertawa setan di dalam hati. Melody itu kadang bisa sangat bodoh. Ketahuilah, ia bisa melakukan banyak hal di atas ranjang. Tak hanya hubungan intim, tapi juga pelukkan dan ciuman. Rasanya akan menyenangkan jika durasinyapun semakin lama. Sepaket sevis dari Melody akan segera ia dapatkan.


Sebaiknya cepat disudahi dan segera ambil hadiahnya!


"Aku tidak mencintai Yura, tapi aku memberi perhatian lebih padanya itu benar adanya." Yudha buka suara.


"Tapi kau melamarnya! Jangan bohongi aku lagi, Yudh! Jangan hibur aku dengan kebohongan, hiburlah aku dengan kejujuran meski rasanya menyakitkan!"


"Aku berkata jujur, Mel! Aku bersumpah akan hal ini. Rasa romantis itu sungguh tak ada. Segala bentuk perhatianku padanya karena aku menganggap dia sebagai sahabatku yang penting. Aku salah arti perasaan, perasaanku pada Yura ternyata bukan cinta romantis. Jauh berbeda ketika aku bersamamu, aku lebih bisa menjadi diriku sendiri."


Oke, bisa dipahami. Melody juga menyadari perasaan seperti ini pada Alvin. Ia tak ingin memikirkan lebih panjang lagi.


"Menjadi diri yang mesum, begitu?"


"Iya."


😖😖

__ADS_1


Sial, Yudha menjawabnya terlalu jujur.


Yudha itu bisa tidak sih menyembunyikan kemesumannya? Kejujuran Yudha mengenai hal mesum itu keterlaluan. Melody bahkan harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak ikutan mesum.


"Sudahlah, lanjutkan!" Pinta Melody. Sialnya lagi, jantungnya jadi tidak nyaman. Tidak mungkin setelah ini Yudha akan segera menagih kado yang dijanjikannya, kan?


Yang semalam sama tadi pagi saja ngilunya masih terasa.


"Waktu itu aku lembur memang untuk bekerja, Yura datang dini hari karena kerjaannya tak jauh dari kantor. Dia hanya ingin bersua karena lama tak jumpa. Dia menawariku makanan, dan ya, kita makan bersama malam dini hari itu. Percayalah aku tak berduaan di sana, ada tim dari departemen yang aku pimpin. Jika kau masih tak percaya, aku miliki rekaman CCTV segala kegiatanku di kantor!"


"Aku mempercayaimu!"


Sorot mata Yudha menyiratkan sebuah kejujuran. Hatinya tidak mau meragukannya.


"Seperti yang kau ketahui setelahnya, aku menjadi tertuduh. Aku memilih menemani Yura karena aku merasa bersalah. Selain dia sahabatku dan kecelakaan dengan mobilku, aku ini masih memiliki jiwa kemanusiaan." Kata Yudha.


"Dan melupakanku.." Melody tersenyum miris.


"Aku berusaha membagi waktu denganmu, sebenarnya aku cukup stress juga dengan semua ini. Belum lagi urusan kantor."


"..." Kerjaan Yudha itu memang sangat banyak. Apalagi sibuknya urusan kantor.


"Foto yang di Italy itu benar, tapi bukan seperti itu. Aku tak sengaja bertemu Yura di sana, dia terlalu banyak minum dan tak sengaja ambruk di depanku. Aku tidak memeluknya atas keinginanku! Di situ ada orang banyak, jika kau butuh pengklarifikasian, aku akan melakukannya untukmu!"


"Aku tidak masalah dengan foto itu, yang membuatku sakit itu kau membohongiku dengan janjimu! Kau bilang akan pulang setelah menjenguk Yura, tapi aku menunggumu sampai jam tiga pagi kau tidak ada!" Rasa kesal akibat kekecewaan itu masih ada. Terlalu besar memang.


"Aku pulang waktu itu meski telat! Aku yang menyelimuti tubuhmu, aku membereskan buku-bukumu. Ya aku memang langsung kembali ke rumah sakit setelah memastikan keadaanmu. Aku tahu aku salah, tapi saat aku pulang lagi, kau malah terlalu asyik dengan kakak iparmu!" Kini Yudha yang kesal jika mengingat apa yang terjadi waktu itu.


Jadi Yudha sungguh melakukannya? Tapi memang benar sih, saat pagi hari ia terbangun, suasana kamarnya tidak berantakkan. Buku mengenai kehamilan itu juga sudah kembali pada tempatnya.


"Untuk masalah Alvin kan sudah terselesaikan. Haruskah kita mengungkitnya lagi?" Tanya Melody.


Yudha menggeleng. Lebih baik memang menyudahinya. Lagian sudah baikan, tidak mau labil lagi.


"Aku minta maaf atas semua ketidak sempurnaanku. Namun, izinkan aku memperbaikinya!" Pinta Yudha.


"Kau selesaikan urusanmu dengan Yura! Jangan pernah pegang-pegan dia lagi, jika kau ingin menyentuh wanita, cukup sentuh aku saja!"


😅


"Cemburumu itu keuntungan buatku." Kata Yudha.


"Memilih untung apa rugi? Jika rugi, jangan harap aku akan melayanimu meski kau bersujud di kakiku!"


"Tentu saja memilih untung. Menyentuhmu itu yang terbaik."


"Dasar mesum."


"Biar saja, tapi kau suka, kan?"


"Suka.."


😂😂


"Nah begitu dong, jujur.." Yudha lagi-lagi memeluk Melody. "Mau membuat pijakkan pertama di atas salju?"


Melody tersenyum senang. "Mau.."

__ADS_1


__ADS_2