MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bersama Alvin


__ADS_3

Mansion Kazehaya sangatlah luas, saking luasnya, hanya menuju dapur saja sudah melelahkan. Tidak hamil saja Melody sudah lelah, apa lagi saat ini? Ibu hamil mudah sekali kena anemia.


Melodypun mencoba makan-makanan yang disediakan pelayan kediaman Kazehaya. Meskipun pada akhirnya ia memuntahkannya, tapi setidaknya aga sedikit gizi yang berhasil dicerna tubuhnya.


“Hoek...”


Seperti ini lagi. Ini sudah berapa lama? Kenapa tak kunjung usai juga? Rasanya sudah sangat tidak nyaman.


Padahal tadi pagi sebelum mandi, ia sudah muntah-muntah.


“Melody, kau baik-baik saja?” Tanya Alvin.


Alvin yang baru pulang dari rumah sakit langsung menghampiri Melody di ruang makan.


“Senpai, jangan kesini! Ini menjijikan.Hoeekkk...”


Alvin tetap menghampiri Melody yang sedang muntah-muntah di wastafel dapur. Ia memegang leher Melody. Memijatnya perlahan. Melody terus memuntahkan semua makanan yang ia makan pagi ini.


Melody bahkan sampai terbatuk-batuk karenanya.


Setelah merasa lebih baik, Alvin memberikan minuman hangat pada Melody yang ia beri sejenis obat pengurang mual untuk ibu hamil.


Melody duduk sambil meletakkan kepalanya di meja makan. Lemas sekali rasanya.


“Hah, sampai kapan aku seperti ini?” Gumamnya.


“Sabar, nikmati saja prosesnya!” Jawab Alvin.


“Senpai, arigato dan maaf, kau pasti jadi enggan makan karena diriku. Padahal kau baru saja pulang lembur.”


“Aku ini dokter, Melody. Hal-hal yang jauh lebih dari six morning itu banyak. Aku harus bisa makan setelahnya. Dokter tidak boleh sakit! Dan makan adalah dasar dari semuanya. Jadi apapun kondisinya, meski menjijikkan sekalipun harus tetap makan.”


"Kau terlalu baik."


"Astaga kau ini. Apaan coba? Itu hanya filosofi."


Melody terkekeh pelan. Ia lalu bangkit dan menepuk kedua pipinya. Ia ingin semangat.


“Kau ingin menu lain dari yang ada di atas meja? Aku akan membuatkannya untukmu.”


Kata Melody.


“Benarkah?”


“Tentu saja!”


“Hmmm, aku ingin telur mata sapi buatanmu dan juga sambal bawang khas dirimu.”


“Hee? Kau selalu saja meminta itu. Dari dulu tidak berubah.”


“Kau paling ahli dalam membuat itu, Melody. Bahkan membawamu menjuarai juara 1 lomba masak di pramuka SMA dulu.”


“Haha, sumpah, aku tidak menyangka jika dulu timku akan menang karena telor mata sapi sambel bawang.”


“Tema masak pada waktu itu makanan sederhana, dan masakanmu itu pas dengan temanya. Hampir semua juri memberi nilai 9.”


“Dan kau memberikan nilai 10. Mana ada masak bisa sesempurna itu? Senpai, kau terlalu baik dan membias padaku.”


“Hahaha. Terima kasih atas pujiannya.”

__ADS_1


“Hoe, aku tidak memujimu!”


Dan mereka tertawa bersama.


Mereka juga membahas kisah-kisah menarik yang terjadi pada saat pramuka dulu. Mulai dari tenda tim Melody yang roboh karena angin, wajah yang cemong, merayap di lumpur, jeritan malam yang seru, Melody yang sempat tersesat di game malam.


Namun ada satu yang tidak dibahas, Melody dan Alvin sama-sama menghindarinya. Mereka tidak ingin membahasnya meski kisah itu sangat indah sekalipun.


Ya, hubungan asmara yang sempat terjalin di antara mereka berdua.


.


.


.


Usai Alvin menemukan Melody yang tersesat, saat itulah Alvin menyatakan perasaanya pada Melody dan mereka berdua memulai hubungan pacaran setelahnya.


.


.


.


Melody memasak sambil terus mengoceh kisah-kisah yang lain. Kisah yang terus terkenang dan menjadi kenangan indah.


Mereka berdua terlihat lebih los, lebih bebas, lebih enteng, lebih santai dari biasanya. Seperti yang sudah-sudah. Seperti yang dahulu.


Mereka berdua bisa bercanda tanpa sekat seperti dulu lagi, ada kemistri aneh antara Melody dan Alvin yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Jika yang satu mulai open minded, maka satunya akan mengikutinya begitu saja. Mudah saja bagi mereka hanyut dalam nuansa bening kisah yang mengalir.


“Bagaimana?”


Tanya Melody. Iapun kesulitan menelan ludahnya sendiri.


“Hmm. Enak..”


Jawab Alvin.


Melody tersenyum. “Benarkah?”


“Kau ingin coba?” Tanya Alvin.


Melody mengangguk, Alvin menyodorkan sesendok nasi telor dadar sambel bawang pada Melody.


Melody menikmatinya. “Asiiiiiiin. Uhuk.. uhuk.” Ia lalu memuntahkan makanannya. Setelah itu ia menyrobot buah apel yang ada di meja makan dan memakannya dengan cepat.


"😁" Alvin hanya tersenyum melihat tingkah polah Melody.


“Senpai, hentikan itu! Jangan makan itu! Itu makan tidak layak!”


“Haha, tapi makanan buatanmu itu sangat berharga. Rasanya seisi lautan bumi tercurahkan di sini.”


“Ya ampun.. Itu lebay! Aku minta maaf karena membuatkan makanan seperti itu. Aku berjanji, lain kali aku akan membuatkan makanan yang jauh lebih baik lagi. Yang tidak asin seperti ini. Jadi, kumohon, jangan makan ya! Kau bisa sakit.”


“Lain kali? Benarkah?”


“Iya, aku pasti akan membuatkannya untukmu.”

__ADS_1


“Baiklah. Aku menunggunya!” Alvin tersenyum, lalu berhenti memakan makanan buatan Melody.


"Ne Senpai, kenapa makananku bisa seasin ini ya?" Tanya Melody.


"Tadi kau memasak sambil mengobrol jadi kau tidak sadar sudah memasukkan banyak garam ke masakanmu. Hm, kau ingin membunuhku ya?"


"Asinnya garam dapur tidak akan membunuhmu, Senpai!"


"Haha, iya. Bercanda."


Melody jika sedang cemberut itu sangat menggemaskan. Mengusili Melody memang yang terbaik. Moodnya berubah dan rasa lelahnya berkurang.


“Melody?”


Panggil Alvin.


“Ya?”


“Ada nasi di pipimu.”


Melody merapa pipinya. “Dimana? Di sisni?”


Melody memegang pipi kirinya.


Alvin menggeleng.


Melody memegang pipi kanannya. “Di sini? Masih ada?”


“Iya masih ada. Ke atas sedikit..”


“Di sini?”


“Bukan. Tunggu sebentar..”


Alvin menggerakan tangannya untuk membantu Melody menyingkirkan sisa nasi di pipi kanan sedikit ke atas.


Mode slow motion on..


Menatap orang dengan begitu dekatnya seperti ini membuat aura indah tersendiri. Ada dorongan manis untuk mengilas kilas balik kisah masa lalu yang menawan hati.


Ada daya hipnnotis yang memenjara meski hanya beberapa detik.


10 detik sudah lebih dari cukup untuk membuktikan seseorang punya ketertarikan nyata.


Alvin mengalihkan pandangannya. “Gomen..”


“Ti-tidak apa-apa. A-arigato sudah mengambil sisa nasinya.” Melody memegangi dadanya. Ada rasa perih di sana. Ia tak menyukai rasa itu.


“Ya..”


Alvin mencoba menarik senyumannya agar Melody tidak berfikir macam-macam tentang apa yang baru saja terjadi. Alvin tidak ingin melihat Melody kesulitan memposisikan dirinya saat ini.


Melodypun ikut tersenyum karenanya. “Ahhh.. aku mau cuci piring dulu.”


“Iya..”


Alvin mengamati mantan kekasihnya itu. Melody sudah kelihatan hamil. Ada perubahan fisik nyata. Semakin terlihat membuncit perutnya, semakin perih hatinya. Setiap kali ia mencoba melupakan perasaannya pada Melody, selalu bertambah besar rasa itu.


Melody menikah dengan adiknya, Yudha. Yudha adalah adik yang sangat baik baginya. Namun, perasaannya pada Melody itu nyata, tulus, dan dalam. Tanpa syarat apapun.

__ADS_1


Salahkah ia mencintai Melody?


__ADS_2