
Yudha baru saja selesai berolah raga. Ia menyempatkan jogging pagi ini. Rasanya setelah menikah, baru hari ini ia bisa memanjakan diri.
Yudha masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya sedang tertidur. Hari ini sudah cukup siang, tapi Melody tak kunjung bangun juga. Apa karena kelelahan soal semalam? Ia ingat, ia mengajari Melody mengerjakan tugas akuntasi milik Melody karena Melody absen tidak masuk kuliah untuk menikah.
Cukup kesal juga, meski sudah menjelaskannya dengan baik, tapi Melody tak kunjung paham juga. Iapun harus mengajarinya dengan sangat pelan, alhasil sepuluh soal akuntansi milik Melody selesai pada pukul dua pagi lebih.
Melody tidur sudah seperti orang mati saja, sangat pulas. Wajar karena lelah dan sangat mengantuk. Berbeda dengan dirinya yang bisa bangun tidur tepat waktu meski jam tidurnya berkurang banyak.
"Pose tidurnya kali ini tidak semengerikan biasanya. Cukup rapi. Mulutnya tidak mengaga lebar dan tidak ngiler. Untung aku kaya, coba kalau miskin, kita akan sarapan apa jika kau tak bangun pagi dan membuatkanku makanan? Apa aku akan makan mie instant tiap hari? Ah, lebih baik aku memberinya pelajaran saja." Batin Yudha menyeringai.
Yudha lalu mengambil lipstik merah milik Melody dari meja rias. Ia memutar stick lipstick itu, dan keluarlah batang isi stick dengan warna merah merekah.
Ia lslu mendekati Melody secara perlahan. Iapun duduk di sisi ranjang Melody dengan sangat hati-hati.
"Enaknya aku gambar apa di mukanya?" Batin Yudha.
Iapun memiliki ide gambar lucu, ia akan menggambar hidung ****! Sudah sangat mudah untuk digambar, tapi juga sangat cocok dengan Melody yang suka bangun telat.
Ketika Yudha ingin mendaratkan ujung stick lipstick itu, mata tertutup Melody tiba-tiba saja terbuka. Yudha langsung kaget karena tang menyangka Melody akan bangun sebelum ia menyelesaikan aksinya.
"Apa apa kau?" Tanya Melody curiga karena tiba-tiba wajah Yudha sudah sangat dekat dengan wajahnya. Ia melirik lipstick yang Yudha pegang. Iapun mendelik. "Kau mau mencoret-coret mukaku ya?"
"Ti-tidak.."
"Bohong! Tidak mungkin kau tak punya niat itu! Kau itu tidak membutuhkan lipstick untuk bibirmu! Itu pasti akan kau gunakan untuk menjahatiku! Berikan lipstiknya!" Pinta Melody.
"Jiah, aku tak ingin menjahatimu! Aku hanya ingin bermain-main saja sama tukang tidur seperti dirimu!" Kata Yudha.
"Aku minta maaf karena bangun telat, tapi cepat berikan lipstick itu padaku! Itu pemberian ibu!"
"Rebut kalau bisa!"
Melody coba mengambilnya tapi gagal, Yudha bisa menghindari sambaran tangan Melody.
"Yudha seriusan deh! Jangan main-main sama kosmetik wanita! Kau itu laki-laki, tak pantas bermain dengan itu!"
Mereka masih saling rebutan, Meldoy tetaplah gagal mengambil lipstick itu dari tangan Yudha. Jurus terakhir ia akhirnya mendorong tubuh Yudha ke ranjang, tanpa pikir panjang ia mendindih tubuh Yudha dengan cara duduk di perut Yudha.
Piyama tidurnya yang cukup mini itu menjadi sangat sexy. Paha mulusnyapun terekspos. Bahkan, bahu sebelah Melody juga terbuka karena piyama tidur midel kimono itu kainnya melorot sebagian.
Yudha melihatnya.
Melody tak sadar. Ia malah terlalu asyik berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Yudha yang menguncinya.
Tangan kanannya dicengkram Yudha. Tangan kirinya berusaha berebut lipstick itu.
"Mel.." Panggil Yudha.
"Apa?" Tanya Melody.
"Kau paham dengan apa yang sedang kau lakukan?"
Melody menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Kau sedang menggodaku? Lihatlah betapa sexynya dirimu saat ini. Jadi kau lebih suka di atas ya?" Kata Yudha.
Melody mendelik. Menggoda apanya? Ia hanya ingin mengambil lipsticknya. Tapi ia penasaran dengan perkataan Yudha iapun memeriksa kedaan dirinya.
Duduk di atas Yudha.
__ADS_1
Paha mulusnya terekspos sempurna.
Piyama mininya tak mampu mengcover celana dalam hitamnya.
Yudha bisa melihatnya, kan?
Belum lagi, sebelah bahunya tak tertutup kain karena piyamanya melorot sebelah. Sudah bisa dipastikan jika Yudha juga bisa menikmati indahnya daerad dada sebelahnya itu. Termasuk tali bra yang berwarna hitam?
Tidak tahu bagaimana, Melody malah langsung mengigit tangan Yudha dan segera bangkit menjauh dari Yudha. Ia buru-buru merapikan piyama tidurnya.
Yudha kesakitan. Ia memeriksa tangan kirinya yang digigit Melody. Memerah bekas gigi.
"Kau vampir ya?" Tanya Yudha kesal.
"Cih salah sendiri kau tak memberikan lipstick itu!"
Yudha lalu mengembalijan lipstick itu pada Melody.
"Aku hanya bercanda. Tak kusangka kau berani juga. Hitam ya.." Seringai Yudha yang langsung kabur ke kamar mandi untuk mandi.
Melody kesal bukan main. Ia melempar lipsticknya, tapi hanya berhasil mengenai tembok, Yudha sudah kabur.
"Yudha, tolong lupakan warna hitam itu!!" Teriaknya sambil menahan malu yang tak terkira.
.
.
.
"Yudha, aku bosan." Kata Melody.
Entah sudah berapa kali kata yang sama Melody ucapkan. Ia sangat bosan, benar-benar sangat bosan. Dari hati yang paling dalam ia mengeluhkan hal itu. Memang lebay, tapi ia memang merasakannya.
Membosankan, merepotkan, dan tidak menarik lagi. Ya, seperti itulah jika manusia dihadapkan suatu hal yang sama secara beulang-ulang. Hilang sudah rasa ingin melihat ataupun mengalaminya lagi.
Yang lain mungkin akan merasa sangat lelah. Efek setelah merasa bosan yang berkepanjangan.
"Yudha, aku sangat lelah."
"Sebentar lagi, Melody." Jawab Yudha.
"Tubuhku sakit karena sedari tadi kau tak berhenti melakukannya, Yudha. Sakit yang ada di kakiku juga belum benar-benar sembuh."
"Sabarlah, permainan belum selesai. Toh ini juga bagus untuk tubuhmu. Ayo kita lanjutkan!"
Melody mencoba menuruti permintaan Yudha.
Yudha mengeratkan pelukan tangan kananannya di pinggang ramping Melody. Mencoba merapatkan tubuh istrinya itu agar lebih dekat dengan tubuhnya. Sementara itu, tangan kirinya sibuk menggenggam erat jemari lentik istrinya.
Mata saling menatap.
"Akhh, sakit, perhatikan langkahmu!" Kata Yudha saat mendapati Melody tak sengaja menginjak kakinya.
"Iya, maaf. Ayo ulangi!"
Satu, dua, tiga, empat.
Maju selangkah, mudur selangkah,
__ADS_1
berjalan ke samping kiri , ke kanan, Melody melakukan gerakan memutar, kembali ke posisi semula.
Diulang kembali.
Satu, dua, tiga, empat.
Maju selangkah, mudur selangkah,
berjalan ke samping kiri , ke kanan, Melody melakukan gerakan memutar, berakhir dengan pelukan dari belakang Yudha seiring musik yang berhenti.
Gerakan yang indah. Tepuk tangan bangga keluar dari sang intruktur dansa. Ya, Melody dan Yudha sedang belajar dansa.
.
.
.
Sebenarnya Yudha cukup mahir untuk berdansa, hanya saja ia harus mempelajarinya kembali karena ia sudah memiliki istri yang itu artinya ia juga sudah memiliki partner paten berdansa.
"Yuup, latihan hari ini selesai. Nona Melody, gerakkan Anda semakin baik." Puji Shizune, guru dansa untuk Melody dan Yudha.
"Arigato, Shizune-san."
Hah, hah, hah.
Helaan nafas lelah Melody tak beraturan. Ia memang sangat lelah.
Jika Melody sedang lelah, maka akan terlihat jelas dari cara ia bernafas. Jauh berbeda dengan Yudha yang terlihat jauh lebih baik dari Melody. Yudha memang juga lelah, tapi ia bisa menghandlenya dengan baik.
"Baiklah, Shizune-san, kau boleh pergi." Kata Yudha.
"Hai, Yudha-sama. Otukaresama deshita." Kata Shizune undur diri.
"Otsukare."
"Syukurlah. Aku lelah sekali." Syukur Melody yang langsung menjatuhkan pantatnya di sofa yang ada di ruangan itu.
Otsukaresama deshita(formal)/ Otsukare(informal): Kerja bagus.
.
.
.
Yudha melihat ke arah istrinya. Ia melihat bagaimana Melody yang sedang kelelahan, keringat terlihat jelas di pelipis Melody. Kasihan juga karena baru kemarin tiga hari yang lalu mereka menikah, tapi hari ini sudah mulai dengan 'les' yang wajib Melody lakukan sebagai menantu keluarga Kazehaya.
Bukankah sebagai pengantin baru harusnya hari-hari setelah nikah diisi dengan honeymoon?
Sayang sekali, hal itu tidak ada di agenda Yudha maupun Melody. Tidak pernah terpikirkan juga.
"Jangan menekuk kakimu, Melody! Luruskan!" Kata Yudha yang langsung duduk sofa lain berhadapan dengan sofa milik Melody.
Tanpa sanggahan, Melody langsung membenarkan posisi kakinya. Sebelum itu tak lupa juga Melody melepas high heels 10 cm miliknya.
Yudha juga melakukan hal yang sama dengan Melody. Mereka merebahkan tubuh mereka di sofa yang ada di ruangan itu.
Berdansa memang menguras tenaga.
__ADS_1