
Salju pertama bulan Desember sudah turun beberapa hari yang lalu. Melody masih memandangnya di balik jendela kamarnya. Jika sesuai dengan rencana, harusnya ia sudah PKL di Miyagi bersama Mia. Tapi sepertinya Yudha membuat surat izin untuknya dalam 2 minggu ini dengan alasan kesehatannya.
Sebenarnya, Melody sempat berdebat karena Yudha meminta untuk menunda PKLnya sampai melahirkan nanti. Tapi ia enggan melakukannya. Bukan takut telat lulus kuliah, ia hanya ingin pergi mejauh saja dari masalahnya.
Semakin lama semakin sesak. Sudah minggu sudah Yudha mengurungnya di kamar, ia sama sekali tak diijinkan keluar kamar tanpa Yudha menemaninya. Ia bahkan sampai tidak memegang Hp sama sekali.
Tak hanya dikurung, tapi ini mirip penjara dimana dirinya sama sekali tak bisa berinteraksi dengan dunia luar.
“Burung dalam sangkar.." Melody bergumam sedih.
Padahal ia sudah menuruti segala kemauan Yudha, meski harus adu mulut dahulu, pada akhirnya ia tetap akan kalah dan memilih mengalah.
Yudha menyuruh meminum obatnya, ia lakukan. Yudha menyuruhnya makan, ia lakukan. Yudha membawa suplemen kehamilan aneh, ia juga tak menolaknya. Namun kenapa ia masih saja terkurung di kamar ini?
Melody menatap sendu pemandangan luar rumah dari balik jendela kamarnya. Yudha bahkan mengunci pintu yang menuju arah balkok kamar.
Ada salju di sana.
Hujan salju yang selalu ia rindukan setiap tahunnya. Salju yang memiliki banyak kenangan dengan mendiang ayahnya.
"Hah, aku ingin membuat jejak salju di luar sana. Aku ingin menapaki tempat-tempat sebelum orang lain.” Gumam Melody sambil menatap indahnya salju bergumpal bak selimut kapas nan putih bersih.
Di balik kamar ia mendengar suara bertengkar antara ibu mertunya dengan Yudha.
"Marahi terus, Bu! Anakmu itu sudah sangat jahat kepadaku! Kalau ibu bisa mendengar jeritan bantinku, tolong pukul wajah tampannya itu! Tolong tendang pantatnya untukku!"
Sepertinya Mikan baru tahu jika Melody dikurung di kamar oleh Yudha. Setahu Mikan, Melody sudah pergi PKL di Miyagi.
Melody ingin tertawa ketika mendengar bagaimana cara ibu mertuanya memarahi Yudha. Yudha sepatah kata, ibu mertuanya langsung menyerangnya dengan puluhan kata. Poor Yudha.
"Aku marah, kesal, sakit hati, tapi masih bisa merasakan senang seperti ini... Hei sayang, kalian senang ya papa kalian dimarahi nenek?"
Melody mengelus perutnya sambil menikmati indahnya hujan salju lewat kaca yang memisahkan pandangannya.
.
.
.
“Maafkan Yudha, Melody..” Kata Mikan.
Mikan mengelus kepala Melody dengan sangat lembut. Khas seorang ibu yang begitu khawatir dengan anaknya.
“Ibu akan membuat Yudha mengizinkanmu berangkat PKL. Meski jujur saja, ibu lebih setuju kau menunda PKLmu sampai musim semi nanti. Udara di luar masih sangat dingin.bIbu khawatir denganmu dan janinmu.”
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Bu. Tapi, aku ingin segera lulus, kalau menunggu musim semi nanti, kandunganku sudah sangat besar, itu justru lebih riskan lagi. Jika aku menundanya sampai beberapa bulan ke depan, sampai musim panas, aku akan melahirkan, dan itu tidak mungkin untuk PKL. Ini adalah waktu yang tepat, Bu.”
__ADS_1
Terang Melody.
Mikan sejenak berfikir, benar juga, jika hari ini gagal PKL, ke depannya akan sulit untuk Melody. Kemungkinan besarnya, Melody bakal skip setengah tahun atau bahkan setahun demi anaknya nanti.
“Haah, baiklah, ibu kalah. Jadi, jangan terlalu stress memikirkannya! Kau harus bahagia karena saat, ada kehidupan lain dalam dirimu yang perlu kau perhatikan juga!”
“Iya Bu...” Melody memeluk Mikan.
“Terima kasih juga tidak memberitahu Ibuku perihal diriku yang dikurung oleh Yudha.”
“Sama-sama, Sayang. Ibu akan memihakmu asal itu demi kebaikanmu.”
.
.
.
Kazehaya International Hospital..
“Bagaimana, Dok?” Tanya Melody.
“Bayinya sehat, ibunya juga sehat. Semua akan baik-baik saja. Kau diizinkan untuk PKL asal tetap menjaga kondisimu..” Kata Dokter Kandungan, dr Aizawa.
Melody tersenyum. “Terima kasih banyak, Dokter.”
“Sama-sama.”
Melody menatap suaminya sekilas. "Terserah mau bagaimana, akhirnya aku bisa ke luar dari kamar itu. Ini melegakan."
Yudha menggandeng tangan Melody. Melody merasakan sentuhan hangat dari tangan Yudha. Ia ingin menangis karenanya. Ia tak mengerti apapun tentang sikap Yudha. Ia tak bisa mengartikan segala tingkah Yudha terhadapnya.
Mungkinkah karena ia mencintai Yudha maka ia dibutakan olehnya? Mungkinkah cintanya ini memaksanya untuk memaafkan Yudha?
Melody hanya tertunduk saat Yudha menggadeng tangannya dan berjalan di lorong rumah sakit berdua.
“Yudha-kun?” Kata Yura.
Yura melihat tangan Yudha dan Melody saling bertautan. Ditambah, perut Melody yang membesar. Berati kehamilan Melody itu benar adanya.
“Yyra? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau harusnya di kamarmu? Kembalilah, di luar sangat dingin!” Kata Yudha.
Melody hanya berpikir jika Yudha itu bisa sangat perhatian dengan Yura. Yudha memang baik hati, terhadapnya pun baik meski kadang dengan cara yang sangat menyebalkan. Hanya saja, ia tahu bagaimana perasaan Yudha terhadap Yura, uh, tiba-tiba dadanya sangat sesak.
“Aku sedang menunggumu, Yudha-kun.” Kata Yura sambil tersenyum manis.
“Nanti aku akan menemui setelah mengantarkan Melody pulang.”
__ADS_1
Melody melepaskan tautan tangan Yudha. “Aku bisa pulang sendiri, kau selesaikan saja urusanmu!”
Yudha kembali meraih tangan Melody. “Aku bilang mau mengantarmu pulang!”
Melody memaksa melepaskannya. “Dokter bilang aku dan bayiku sehat, aku bisa melakukan aktivitas seperti biasanya! Wanita itu terlihat sangat lemah dibandingkan diriku!” Melody menunjuk ke arah Yura.
"..."
“Bukankah kau menyukai wanita yang lemah, heh?” Kata Melody meremehkan.
Melody menampik tangan Yudha dan berbalik meninggalkan Yudha dan Yura.
Yudha kesal. “MELODY!” Yudha berusaha mengejar Melody tapi Ino menahannya.
“YUDHA-KUN! AKU LEBIH MEMBUTUHKANMU! KAU SUDAH BERJANJI PADAKU!”
Yudha menatap Yura iba. Yura mengalami depresi akut dan sulit mengendalikan emosi. Ia mudah gelisah. Ia bahkan harus tinggal lama di rumah sakit untuk menjalani terapi emosinya.
Dengan kata lain, jiwa Yura sedang tergoncang. Gila? Tidak sampai ke tahap itu.
.
.
.
Melody menata pakaiannya. Ia memberitahu ibunya dan ibu mertuanya jika siang ini ia akan ke Miyagi untuk melaksanakan PKLnya.
"Anak-anak, selama sebulan kita tidak akan bertemu papa. Mohon kerja samanya ya! Mama janji, di Miyagi nanti kita akan bersenang-senang!"
Yudha sudah kembali ke rumah setelah ia menenangkan Yura. Ia menemui Melody yang sedang makan siang bersama ibu dan neneknya. Suasana terlihat normal, Melody mengendalikan baik emosinya. Suasana makan siang berlangsung biasa meski Yudha ikut bergabung.
"Empat bulan, tapi kehamilanmu besar sekali ya, Mel? Dulu waktu ibu hamil Yudha, tidak sebesar itu." Kata Mikan di sela acara makan mereka.
Ini kehamilan kembar. Melody ingin mengatakannya. Tapi ia urungkan, ia hanya merasa tidak siap.
"Masak sih, Bu? Kalau besar artinya bayinya sehat. Tadi dokter Aizawa juga mengatakannya." Kata Melody.
Mikan menyudahi makannya. Ia meminum air putih untuk melegakan kerongkongannya. Ia kemudian menyentuh bahu Melody yang duduk di sampingnya.
"Apakah ibu boleh memegang perutmu?" Tanya Mikan.
Melody tersenyum. "Tentu saja boleh, Ibu."
Mikan ikutan tersenyum senang. Ia lalu menyentuh lembut perut Melody yang membesar. Mengelusnya perlahan. Mencoba meresapi kehidupan baru di sana.
"Hai cucu, ini nenek. Nenek tidak sabar ingin berjumpa. Tetap sehat dan jangan menyusahkan ibumu ya.."
__ADS_1
Melody dan nebek Chiyo terkekeh karena Mikan tiba-tiba saja mengubah suaranya seperti anak kecil. Ini adalah sisi manis dari seorang Kazehaya Mikan. Sisi berbeda yang tak pernah Mikan tunjukkan di depan umum. Bahkan Yudha sampai melebarkan matanya tak menyangka.
Yudha menatap tangannya sendiri. "Apa menyentuh perut ibu hamil bisa menimbulkan efek seperti itu?" Tanya Batin Yudha.