MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 11: Gila 2


__ADS_3

Gila.


Ini sungguh gila dan di luar nalar. Melihat Melody dari jarak sedekat ini benar-benar membuat otaknya memikirkan hal-hal yang tidak wajar.


Hatinya menjadi tak karuan.


Di sisa-sia pertahanan lemahnya, Yudha bahkan menyentuh lembut paha milik Melody dengan tangan kanannya.


Membelainya lembut. Sangat lembut.


Merabanya lembut, sangat lembut agar Melody tak terganggu dengan ulahnya.


"Tidak, ini tidak benar, aku tak bisa berhenti.." BatinYudha.


Berulang kali ia mencoba meyakinkan dirinya agar segera kembali ke pemikiran yang normal.


Tapi sulit.


Malah memburuk.


Yudha menggerakkan belaian dan rabaannya tangannya ke atas. Menyusuri paha putih Melody. Pelan tapi pasti tanpa mengganggu tidur Melody.


Hampir mencapai pangkal paha milik Melody, Yudha berhenti berhenti sejenak menyusuri ke atas. Ia mengelus-elus daerah perbatasan itu. Di situ ada kain piyama handuk yang menutupi kehormatan Melody.


Yudha menelan ludahnya, semakin panas saja.


Semakin kehilangan kendali.


Semakin sulit mengendalikan diri.


Semakin menginginkan lebih.


Bahaya, hard to stop this.


Menuruti saja?


Toh ia suaminya kan?


Kan?


Iya kan?


Ia adalah suami sah Melody. Melakukan hal seperti ini merupakan hal yang wajar dilakukan oleh sepasang suami istri. Ia memiliki hak akan hidup Melody, termasuk tubuh Melody.


Namun, apa dengan cara yang seperti ini?


Yudha menghentikan belaian dan rabaannya di paha piyama handuk itu yang membuat penasaran dirinya. Seperti apa yang ada di balik kain itu rupanya sangat membuat dirinya semakin penasaran.


Lagi..


Yudha, apa kau yakin dengan cara seperti ini?


Tapi, sisi lain, sisi hitamnya ingin mengetahuinya. Sisi hiyamnya itu selalu menghadirkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran tidak wajar yang membuatnya penasaran dan meminta untuk dicari jawabannya.


Boleh masa bodoh?


Karena ingin tahu, sebaiknya melihatnya sendiri, kan?


Berulang kali Yudha mencoba meyakinkan diri. Ah, masa bodoh. Tangannya yang gemetar menyentuh ujung kain piyama itu. Ia mencoba menyibakkannya perlahan.


Jantungnya yang tak beraturan semakin berdegup kencang.


Deg.


Deg.


Deg.


Deg.


Setelah Yudha menyibakkan sedikit handuk piyama di sekitar paha Melody, ia meraba pelan kulit paha Melody yang tertutup handuk piyama itu.


Ia kembali menelan ludahnya. Sangat sulit. Jantungnya berdetak semakin tak karuan.


Kulit paha Melody bagian atas jauh lebih lembut. Lagi sangat putih. Kenyal dan hangat?


Oke, Yudha bahkan tidak bisa menjelaskannya dengan jelas. Ia kesulitan memilih kata-kata yang tepat untuk mendiskripsikan apa yang tengah ia rasakan saat ini.


Yang jelas, rasanya itu gila.


Semakin panas, semakin menggila.

__ADS_1


"Aaah, Yudh-Yudhahh. Jangan.. jangan.. Aaah.." Gumam Melody yang langsung membuat Yudha kaget.


Suara desahan Melody begitu sexy di telinganya.


Yudha melepaskan kain piyama handuk yang ia pegang. Ia melihat ke arah mata Melody. Masih terpejam!


"Yudhaahh, ja-jangan di situ! Aaah."


Melody mendesah saat tertidur?


Mengigau?


Memimpikan hal intim dengan dirinya?


Yudha langsung menampakkan wajah memucatnya. Merah padam setelah itu. Ia merasa aneh tapi lama-lama kenapa semakin menggoda juga suara aneh Melody?


"Ahh, Yud-Yudhahh.." Melody mendesah beberapa kali dalam tidurnya. Bahkan sempat bergerak seolah tubuhnya menanggapi apa yang Melody desahkan dalam tidurnya.


Yudha yang sudah tak karuan malah disuguhi hidangan yang sangat menggoda di hadapannya.


Tidak!


Back to normal, Yudha!


Yudha tidak mau dikuasai sosok hitam miliknya lagi. Sudah sampai di sini saja!


Dengan gerakan cepat ia menepuk pipi Melody untuk membangunkannya.


"WOI, Melody! Bangun!"


Melody membuka matanya dan kaget bukan main karena melihat Yudha begitu dekat di depan wajahnya. Sudah begitu, Yudha half ***** lagi.


"HUUUWAAAA, YUDHAA?"


Melody yang kaget membuat gerakkan tubuh yang justru membuat Yudha limbung dan jatuh menimpa dirinya.


Maklum saja, Yudha juga dalam posisi yang tak begitu sempurna mengingat ranjang yang terlalu empuk. Belum lagi, Yudha juga masih hanya memakai handuk di pinggangnya.


Keseimbangan yang sulit ya.


Mereka berdua saling menutup mata ketika Yudha terjatuh dan menimpa Melody. Beruntung Yudha menjatuhkan wajahnya di samping kanan wajah Melody. Adegan ciuman kecelakaanpun bisa dihindari.


Melody bergidik merinding saat merasakan hembusan hangat nafas Yudha di telinga kanannya. Rasanya aneh dan geli.


"Yudh-Yudha? Ka-kau baik-baik saja?" Tanya Melody.


Mendengar suara Melody, Yudha mengangkat wajahnya. Saat itu mata mereka saling bertemu untuk jarak yang sangat dekat ini.


Onyx dan Topaz.


Onyx mata Yudha, Topaz/ Coklat emas mata Melody.


Saling terpaku, terpesona dalam kediaman yang membuncah. Saling menelusuri, mencari, dan menuntut tanpa perlu isyarat.


Lama dan lama.


Ingin terus. Lagi dan lagi.


Ada sesuatu yang membuatnya enggan berpaling. menarik diri untuk setia dalam kerlingan bening mata lawannya. Tenggelam dalam bayangan wajah sendiri yang terlukis di lensa mata lawan.


Membuat lupa arah dan keinginan lebih menyeruak. Menampakkan diri lebih jelas.


Yudha bahkan tanpa sadar membelai pipi Melody dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menopang tubuhnya agar tak begitu membebani tubuh Melody seperti saat limbung tadi.


Membelainya pelan tanpa penolakkan dari Melody.


Dari pipi dan beralih ke sudut bibir lembut penuh irama. Bibir tipis dan pink alami itu melambai-lambai untuk dijamah. Yudhapun mendekatkan wajahnya.


.


.


.


Berusaha untuk mencicipi bibir menggoda itu.


.


Dekat.. dan semakin dekat.


.

__ADS_1


Semakin dekat untuk menyatukan bibir mereka.


.


.


.


Dan...


.


.


.


Habataitaramodoranaitaite.


.


.


.


Nada dering lagu Bluebird smarphone milik Melody berbunyi.


.


.


.


Reflex Yudha langsung menjauhkan wajahnya dari Melody. Ia juga bangkit dari tindihannnya pada Melody.


Belum sampai menyentuhnya, kurang dari setengah centi dan gagal.


"Cih.." Batin Yudha kesal karena merasa terganggu.


Tapi ada untungnya juga.


Jika ciuman tadi terjadi, ia yakin akan semakin kehilangan akal. Ia akan menggila dan tak terkendali. Tentu saja, ia hanyalah manusia yang memiliki hasrat. Bagaimanapun ia adalah laki-laki normal dan Melody adalah perempuan.


Andai ia tak bisa mengendalikan hasratnya, bagaimana ia akan menjelaskan pada Melody setelah itu? Yudha yakin jika hal tadi terjadi maka sudah pasti akan menimbulkan kecanggungan. Parahnya lagi jika terjadi hal yang tidak-tidak.


"Angkat teleponmu dan sebiknya sehabis mandi kau langsung berganti baju!" Yudha menjauh dan berjalan menuju almari untuk berganti pakaian.


Melody hanya mengangguk dan mengangkat smrtphonenya. Pikirannya yang belum tertata seolah tidak mampu mencerna dengan baik apa yang sebaiknya ia lakukan.


"Moshi-moshi? Kakek?" Kata Melody menjawab teleponnya.


Yudha memincingkan matanya saat mendengar Melody menyebut kakeknya.


"Haaah? Be-belum. Ano.. Etto. Se-sebaiknya kakek berbicara saja dengan Yudha. Gomenasai, Kek."


Tuutt, panggilan diakhiri.


Melody merah padam.


"Ada apa?" Tanya Yudha.


Melody menoleh ke arah Yudha. "Ha? Ah.. Tiβ€”tidak ada apa-apa kok. Ha.. Ha.. Haha.. " Melody tertawa aneh.


Tapi Yudha tidak bertanya lebih lanjut akan nada aneh suara Melody. Baginya, Melody itu sudah aneh sejak awalnya.


Aigoo.. Yudha sudah terbiasa rupanya.


.


.


.


😍😍 Melodi Cinta 😍😍


.


.


.


"Astaga. Apa-apaan mimpi tadi itu? Bercinta dengan Yudha? GILA! Dan lagi, kenapa dengan kakek juga ikut-ikutan tidak jelas? Tidak mungkin, tidak mungkin! Bagaimanaa aku harus menatap wajah Yudha jika begini. TIIIDAAKK. " Inner Melody sedang berkecamuk tidak jelas menambah rona merah di wajah ayunya.

__ADS_1


__ADS_2