MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Sah


__ADS_3

Hari pernikahan Melody dan Yudha pun tiba..


Di kamar Melody..


Melody tengah sendirian usai dimake-up oleh ibunya Mia. Melody memakai pakaian adat Jepang, kimono putih yang lebih dikenal dengan shiramuku. Rambutnya disanggul dengan hiasan khas budaya Jepang. Tak lupa juga Melody harus mengenakan tutup kepala atau tsuni kakushi yang menjadi ciri khas pengantin Jepang.


Pernikahan adat Jepang dilakukan di kediaman Kazehaya. Di bangunan sebelah barat terdapat sebuah tempat khusus yang bisa digunakan untuk melakukan ritual pernikahan adat Jepang, yaitu adat Shinto. Pernikahan adat Shinto ini bersifat pribadi dan biasanya hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja.


Melody terlihat gelisah. Tangannya dingin seperti es. Hatinya gundah. Jantungnya berdetak tidak menentu. Gelisah, khawatir, tidak nyaman, senang, sedih, kesal, geram, semua rasa bercampur. Membuat perasaan Melody tidak menentu.


"Kenapa aku jadi seperti ini? Semalam aku baik-baik saja. Apa yang terjadi padaku? Ya Tuhan." Batin Melody yang gelisah sambil berulang kali menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


"Kami-sama, semoga keputusanku menikah dengan Yudha itu benar. Aku memang tidak mencintainya, tapi aku berharap semua ini akan menjadi sebuah keputusan yang tepat. Semuua ini memang terkesan terburu-buru. Hanya saja, banyak orang yang berharap banyak akan pernikahan ini. Kakek, Ibu, Ibu Mikan, Nenek. Ah, tanganku benar-benar gemetaran, bahkan keringat dingin yang sama seperti aku ingin membuka amplop pengumuman hasil ujian juga keluar. Perasaan takut, gelisah sama dengan saat itu, mungkin ini justru lebih menakutkan."


Kami-sama: Tuhan


"Mel, kau baik-baik saja? Tangan gemetar dan sangat dingin. Kau tidak melupakan sarapanmu, kan?" Tanya Ibu Melody, Tsuchiya.


Ia menjadi sangat khawatir karena yang ia tahu, Melody itu sangat ceroboh. Tadi saja ia mendengar kabar dari Mia jika Melody hampir bangun kesiangan. Beruntung Mia berhasil membangunkannya tepat waktu.


Mia menceritakan bagaimana Melody yang mandi terburu-buru, Mia bahkan membantu memakaikan hand and body pada Melody yang sibuk didandani. Pagi petang tadi pasti sangat heboh. Tsuchiya yakin jika Melody tidur terlalu malam sehingga kesiangan.


"Aku ha-hanya gugup, Ibu." Jawab Melody gagu.


Tsuchiya mengeratkan genggaman tangannya. Mencoba menyalurkan kehangatan kasih sayangnya agar Melody membaik.


"Semua orang yang akan menikah pasti merasa sangat gugup seperti dirimu. Ibu dulu juga seperti itu saat menikah dengan ayahmu. Ibu bahkan sampai kesleo dan terjatuh. Ibu sangat malu, tapi lucu kalau diingat. Ayahmu dulu malah yang menghampiri ibu dan membopong ibu. Semua orang bersorak ria. Kenangan itu sangat indah." Kata Tsuchiya membayangkan masa lalunya saat menikah dengan Dean Hwang, ayah Melody.


Melody terkikik lucu. "Benarkah, Bu?" Tanya Melody.

__ADS_1


Tsuchiya mengangguk. "Nah, tidak perlu kau melawan rasa gugupmu itu. Terima saja. Biarkan rasa gugup itu berteman denganmu. Jangan kau memusuhinya, karena saat kau melakukannya, kau justru akan kehilangan fokusmu."


Melody tersenyum. Ia lalu memeluk erat ibunya. Ibunya adalah yang terbaik. Jika saat ini ada sang ayah, maka rasanya akan semakin lengkap. Ah, tuh kan, jika mengingat tentang ayahnya, tiba-tiba saja mendung menjadi menghampiri. Ia harus menahannya agar tak menjadi hujan.


Cekrek.


Mia mengambil foto dengan kamera DSLR miliknya. Ia lalu tersenyum.


"Yey, moment indah ibu dan anak!" Kata Mia


Melody tersenyum. "Bebek, fotoin sekali lagi!" Pinta Melody.


Mia mengangguk. "Tentu saja! Kalian berposelah!"


Melody memeluk ibunya, ibunya memeluk melody, mereka menghadap ke kamera sambil tersenyum.


Banyak pose yang mereka ambil. Mia senang hasil jepretan kameranya bagus. Pose-pose indah yang ia dapatkan mewakili kemampuan fotografi yang sudah lama tidak ia lakukan.


"Kau anggun sekali, Mel. Meski wajahmu hampir tertutup tudung putih, tapi kau mendapatkan aura itu. Selamat menempuh hidup baru, wahai sahabatku. Biarkan aku memanggil margamu untuk yang terakhir. Kau pantas bahagia, Hwang-san!"


Melody tersenyum di balik tudung putihnya. Sudah berapa kali ia tersenyum? Apakah ini tandanya kehidupan baru yang akan ia jalani akan berakhir indah? Entahlah, biar Tuhan yang menentukan.


"Terima kasih, Hanazawa-san."


Tak butuh waktu lama, acara pernikahanpun dilaksanakan. Melody yang digandeng ibunya dan ibunya Mia serta Mia berjalan menuju tempat pelaminan. Ayane juga mengikutinya dari belakang.


Di sana, di altar suci Yudha sudah menunggu.


Yudha memakai monsuki haori hakama, kimono yang warnanya gelap, biasanya berwarna hitam.

__ADS_1


Melody berjalan menunduk karena merasa kurang percaya diri. Tidak hanya itu, tamu undangan yang terdiri dari keluarga dan kerabat dekat Kazehaya membuat nyali Melody menciut. Padahal tadi suasan hatinya sudah membaik berkat wejangan sang ibu, tapi nyatanya saat masuk ke altar suci, rasa itu kembali menghampiri.


Tapi ia tak segugup itu. Ia akan mengikuti saran dari sang ibu untuk tidak melawannya. Ia akan berteman denga rasa gugupnya.


Akhirnya, dengan takut, Melody duduk di samping Yudha.


"Jangan gugup!" Bisik Yudha yang tengah duduk di sampingnya. Melody hanya mengangguk.


Dengan mantap tanpa kesalahan, Pendeta Shinto melakukan pemurnian terhadap kedua mempelai yang akan menikah.


Setelah itu acara dilanjutkan dengan ritual san-sankudo, yaitu kedua mempelai secara bergantian meminum sake sebanyak sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan. Saat itu pula, Yudha dan Melody mengucapkan ikrar pernikahan.


Setelah ikarar pernikahan, kedua keluarga termasuk mempelai saling berhadapan satu sama lain dan anggota keluarga kedua mempelai juga melakukan ritual minum sake bersama sebagai tanda penyatuan kedua keluarga dan ikatan dalam pernikahan.


Acara ditutup dengan mengeluarkan sesaji berupa ranting sasaki, ranting pohon keramat, yang ditujukan kepada dewa Shinto. Intinya untuk mengusir roh-roh jahat. Ritual pernikahan adat ala Jepang, khususnya adat Shinto ini sebenarnya bertujuan untuk pemurnian, penjauhan dari gangguan makhluk halus atau roh jahat.


Semua orang berbahagia, terutama kakek Wijaya yang memang sejak awal sangat menginginkan pernikahan Melody dan Yudha. Melody dan Yudha menhembuskan nafas leganya. Akhirnya rasa gelisah mereka selama seminggu berkurang banyak hari itu. Terasa ringan.


Acara dilanjutkan dengan jamuan makan-makanan tradisional khas budaya Jepang.


Kakek Wijaya tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman di bibirnya. Ia sangat bahagia bisa melihat cucunya yang 'nakal' itu menikah.


"Akhirnya semua terlaksana sesuai rencanaku.. Kerja bagus, Yudh. Kau kalah dengan ide yang kakek tawarkan padamu. Namun, kakek juga kecolongan. Waktu main kita tidak ditentukan. Tidak ada batasan aturan. Bahkan bisa terganggu emosi dan perasaan... Saat itu tiba, mampukah kau bertahan?"


________________________________________


Author tidak rasis soal agama ras suku ya.. Author emang ambil negara Jepang sebagai latar, ini fiksi juga sih.. jadi mohon jangan ngebash soal Author yang jadiin kepercayaan Shinto sbg acuhan..


Thanks semua. 😇😇

__ADS_1


__ADS_2