
"Yudha?" Panggil Melody.
Yudha menoleh dan melihat Melody sudah berdiri di hadapannya. Sejak kapan Melody di sini? Seorang Yudha tidak fokus? Lain kali ia pasti tidak akan mengulanginya. Pasti!
"Oh, kau Melody?"
"Mau mencobanya?" Melody menyodorkan jus tomat yang ia buat.
Yudha tersenyum tipis saat melihat jus tomat di mejanya. "Apa kau berencana menjadi istri yang baik untukku? Aku senang jika itu benar." Goda Yudha.
"Terserah apa anggapanmu, Yudha."
"Arigato."
"Hoho, kau bisa berterima kasih dengan baik dan benar juga rupanya." Sindir Melody.
"Tentu saja, kau pikir aku ini siapa?"
"Kau itu Yudha Kazehaya, cucu kakek Wijaya Kazehaya, keturunan generasi ke dua, putra mendiang ayah mertua dan ibu Mertua, Yoga Kazehaya dan Ibu Mikan Kazehaya. Cucu kesayangan nenek Chiyo Kazehaya. Cicit dari Indra Kazehaya! Memiliki paman bernama Orion Kazehaya. Selalu menjadi yang terbaik adalah motto yang berlaku untukmu." Jawab Melody mantap.
"Hm, jadi kau sudah mulai mempelajari silsilah keluarga ini."
Melody mendapatkan menu belajar tak biasa dari Ayane tentang silsilah keluarga dan manner. Yang paling lucu, Ayane mengajarinya jalan anggun dengan memakai high heels super tinggi dan sambil memakai gaun. Ayane bahkan menaruh buku di atas kepalanya agar kepalanya bisa terus tegak.
Bukankah dirinya itu bukanlah seorang putri raja? Kenapa sampai harus berlebihan seperti itu? Meski seperti itu, tapi nyatanya dirinya tetap melakukannya. Tetap mengikuti tiap 'pelajaran' yang Ayane berikan. Seperti menambah pengalaman baru. Tak biasa tapi sangat seru.
"Sebenarnya aku malas mempelajarinya, tapi mau bagaimana lagi, aku mendapatkan les private dari Ayane-nee. Aku bahkan akan mendapatkan bimbingan belajar untuk semua mata kuliah yang aku ambil. Padahal tanpa bimbinganpun aku masih bisa mendapatkan nilai B, A bisalah kalau berusaha lebih giat, paling Cuma akuntasi yang tidak bisa. Selain itu, kata Ayane-nee, aku juga akan mempelajari table manner, fashion, bla bla bla, untuk sekedar menemanimu atau kakek menghadiri pertemuan bisnis yang akan kau dan kakek lakukan nanti."
Oceh Melody.
"Ah, selamat kalau begitu." Kata Yudha.
Ini nih, suaminya yang kemarin menikahinya itu selalu saja membuatnya emosi. Tak bisakah Yudha memperbaiki kata-katanya?
Lain kali ia akan meminta Yudha untuk mengikuti kelas manner Ayane!
"Selamat? Hei Yudha, aku akan masuk neraka kau bilang selamat? Aku ini sedang bersedih karena semua itu pasti akan merepotkan!" Kesal Melody.
"Aku turut berduka." Kata Yudha enteng.
Apaan lagi ini? Tentu saja bukan ini yang Melody harapkan. Yudha bodoh ya?
"Haishh, kenapa kau tega berduka akan kesedihan dan penderitaanku, Yudha no Baka!"
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana? Mengucapkan selamat saat kau mendapatkan sesuatu, salah! Turut berduka atas kesedihanmu juga salah! Apa maumu Melody?" Yudha benar-benar tidak tahu bagaimana menyikapi Melody.
Tidak tahu atau gagal paham, Yudha? Yudha hanya tak mengerti maksud Melody. Bukankah ia sudah mencoba bersikap yang baik? Kenapa Melody juatru kesal?
"Gagal paham!" Gumam Melody.
Yudha mendelik. "Apa katamu?"
Melody menggeleng cepat. "Tidak."
"Aku mendengarnya."
"Baguslah kalau kau mendengarnya."
"…"
"..."
Mereka saling terdiam. Melody mengamati Yudha. Yudha tidak membalas kata-katanya. Akan lebih baik jika ia dan Yudha saling bertengar karena mereka bisa saling mengekspresikan diri untuk berkomunikasi. Jika saling berdiam seperti ini hanya akan membuat suasana menjadi canggung saja.
"Apa dia marah padaku?" Batin Melody.
Lalu dengan tangan kanannya, Melody menyeret kursi di samping Yudha dan mendudukinya. "Yudha.." Panggil Melody.
"Kau marah? Aku minta maaf. Aku hanya ingin menghiburmu, kau terlihat terbebani dengan pernikahan kita. Tapi karena aku terbawa suasana, aku malah jadi kesal sendiri. Gomen ne, Yudha."
"Terbebani? Kau tidak perlu terlalu keras memikirkannya, Melody!"
"Apa itu artinya Yudha mengkhawatirkanku?" Batin Melody. "Ba-baiklah, sepertinya kau tidak apa-apa. Kalau begitu, kenapa kau tidak mencoba jus tomat buatanku?" Tanya Melody.
"Aku baru saja minum kopi."
"Ah benar juga, aku salah waktu sepertinya."
Melody terlihat kecewa.
Entah apa yang membuat Yudha moody pagi ini. Dengan segera ia mengambil segelas jus tomat buatan Melody dan meminumnya. Tidak hanya mencicipi, tapi Yudha meminumnya sampai habis.
Melody melebarkan kedua matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yudha meminum habis jus tomat buatannya dalam sekali teguk!
Melody tersenyum senang. Apa yang Yudha lakukan barusan membuat suasana hatinya membaik. Ada angin sejuk yang menerpa, ada rasa nyaman di dalam dada.
Ia benar-benar merasa sangat senang saat itu.
__ADS_1
Hanya hal sepele seperti itu bisa membuatnya sangat bahagia?
Ada apa denganmu, Melody?
Pasti karena hasil karyamu dihargai orang lain, kan?
Iya kan karena itu? Hei, setiap orang ingin karyanya dihargai. Syukur-syukur sekalian mendapatkan pujian. Pasti juga menambah kesenangan.
YA, pasti karena itu!
"Ini enak, manisnya pas." Komen Yudha setelah menikmati jus tomat buatan Melody.
Melody tersenyum. "Tentu saja, aku sudah berusaha keras membuatnya! Aku membuatnya dengan cucuran keringat perjuangan pantang menyerah setara dengan keringat perjuangan perang dunia ninja ke tiga!" Kata Melody super mantap dengan semangat api yang membara!
"Haruskah aku memuntahkannya kembali, Melody?" Kesal Yudha.
Syair Melody itu mengerikan! Itu yang bisa Yudha simpulkan. Sudah seperti itu, sangat berlebihan lagi. Tapi itulah Melody, mau seperti apapu Melody, cewek pemilik rambut panjang sepinggang itu tetaplah istrinya.
"Haha, aku hanya bercanda, Yudha! Jangan terlalu serius menanggapinya! Aku hanya menambahkan bumbu semangat masa muda ala pak Dion dosen killer kampus kita dan senyuman manis ala Ibu Mikan ke dalam jus tomatnya!" Melody tahu jika Yudha kesal, meski untuk lucu-lucuan, tapi ia ingin mengakhiri bercandanya dengan baik.
"Kau ini.." Yudha mulai mengacak-acak rambut Melody dengan tangan kanannya.
Melody menyingkirkan tangan Yudha dari kepalanya. "Kau merusak tatanan rambut Ayane-nee, Yudha!"
"Kau bisa menatanya ulang."
"Ish, buang-buang waktu saja!"
"Nah, Melody."
"Ya?" Melody menatap serius Yudha.
Yudha mengulurkan tangan kanannya. Bersiap untuk menjabat tangan Melody.
"Karena kita sudah menikah, mohon kerja samanya, Melody! Lakukan peranmu dengan baik sebagai istri Kazehaya Yudha!" Kata Yudha.
Melody menyambut tangan Yudha, ia menjabat tangan Yudha, lalu tersesenyum manis. Jadi ingat, di Jepang, berjabat tangan itu tidaklah terlalu sering dilakukan.
Ini cukup seru. Sepertinya ia bisa menyerahkan hidupnya pada sang suami dengan cukup tenang.
"Haha, Apaan ini sih? Berjabat tangan? Lucu sekali. Baiklah, aku akan memerankan peranku dengan sangat baik sebagai istrimu. Lebih dari itu, karena aku menyandang marga Kazehaya, maka aku akan berusaha keras untuk menjaga dan menjujung tinggi marga itu. Yoroshiku ne, Yudha."
"Hn, yoroshiku, Melody."
__ADS_1
Yoroshiku: mohon kerjasamanya.