MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chiba 6


__ADS_3

Other side...


Kurenai sedang menikmati malam yang panjang. Ia menatap lanfit yang gelap tak berujung itu dari balkon rumahnya. Ia memakai scraff yang ia lilitkan di lehernya untuk melindunginya dari dingin yang menyapa.


"Satu per satu dari mereka akan musnah. Semua penghalang itu akan musnah secara perlahan. Aku meminta maaf padamu, Yoga-san. Namun Yudha adalah salah satu penghalang Alvin untuk menguasai Emperir Group seutuhnya. Aku akan menyingkirkan Yudha juga. Meski aku tak berniat membunuhnya karena menghargai dia sebagai keturunanmu, tapi dia saat ini ajan berada di tangan yang tepat. Kau tahu? Ini adalah akibat dari dosa Tuan Besar Wijaya di masa lalu. Jika saat ini berimbas pada Yudha, maka andai kata kau marah dan ingin menyalahkan seseorang, maka salahkan saja ayahmu itu! Dosa Tuan Besar Wijaya di masa lalu pastilah akan mendapatkan balasannya.... Hahaha, sebenarnya yang jahat siapa? Sebenarnya siapa yang menjadi korban saat ini? Semua ingin menjadi pemain. Semua ingin menang. Semua ingin mengenalikan. Tak butuh menjadi orang yang kuat untuk berdiri sebagai pemenang di akhir nanti. Hanya cukup menjadi orang licik dan cerdas untuk mengendalikan semuanya. Aku lebih suka menjadi penikmat dan penonton sementara mereka semya saling adu kekuatan. Ini lebuh mudah dari pada aku harus buang-bung energi sia-sia. Nah, aku akan mengucap syukur jika Yudha 'tak sengaja' menjadi korban di medan perang."


Kurenai menyeringai. Ia tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Meski ia sangat takut akan dominasinya Tuan Han akan dirinya, bukan berarti ia tak mampu melawan. Meski kaki dan tangannya sudah dilumpuhkan, tapi ia masih bisa menggunakan taringnya untuk menggigit.


"Aku sudah memiliki kekuatan untuk melawan. Aku sudah bisa bertahan dalam semya jeadaan. Pengalaman hidupku selama ini mengajarkanku untuk memahami satu hal yang pasti, jika ingin sesuatu, maka aku harus berjuang. Berjuang dengan semua kemampuan yang ada. Berjuang dengan banyak melakukan pengorbanan. Itulah yang paling cocok untukku. Kurumizawa Kurenai, ah Uchiyama Kurenai ini bukanlah wanita lemah yang mudah ditindas seperti dulu lagi. Aku akan menyingkirkan semua kerikil dan batu yang menghalangi langkahku! Akulah sosok yang akan tertawa di akhir nanti! Akulah sosok yang akan melihat mereka dengan tatapan rendahku!"


.


.


.


Motel daerah Chiba..


Pukul 02.00 pagi.


Saat ini, Yudha sedang membeli mie instant cup, camilan, dan roti dari konbini atau minimarket yang berada dalam satu naungan manajemen motel. Lokasinya ada di seberang motel kamar Yudha dan Melody mengibap, tidak jauh, tapi butuh waktu juga jika ingin ke sana.


Melody kelaparan, ngrajuk ingin makan mie instant yang diseduh. Mintanya rasa yang pedas. Ia sudah melarang untuk tidak majan makanan seperti itu, tapi Melody bersi keras ingin makan. Karena kasihan, ia pun menjadi luluh dan tak tega melihat istrinya itu mau menangis.


"Aku ke minimarket sendirian, Melody aku tinggal di kamar. Aku mencari mie instant cup merk X yang dia minta. Rasa ayam bawang extra pedas... Ini bocah apa tidak takut mulas? Pedas memang tidak secara langsung menyebabkan kontraksi, tapi membuat tak nyaman karena perut sebah akibat pedasnya cabai. Jika dia sampai sakit perut atau diare, dia akan kesulitan. Haaah ... Tapi, melihatnya mau menangis membuatku tidak tega. Sudahlah, sekali-kali." Gumam Yudha.


Yudha mengambil satu cup mie instant rasa bawang dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjanya. Ia mengambil makanan-makan sesuai pesanan yang Melody inginkan.


Tak lupa, Yudha juga mengambil minuman, air mineral, jus jambu biji dua. Setelah itu, ia ke kasir untuk membayar. Ia juga minta air panas unyuk menyeduh mie instant yang dibeli olehnya.


Yudha merasakan ada yang tak nyaman ketika ia sedang memasukkan bumbu mie instant ke dalam cup mie yang sudah berisi air panas itu. Ada yang mengganggu hati dan pikirannya. Ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Namun rasa tak ntaman itu masih ada.


"Semua akan baik-baik saja, kan? Apapun yang terjadi, keselamatan Melody adalah prioritasku. Melody adalah tanggung jawabku. Aku sudah berjanji pada mertuaku jika aku akan melindungi Melody dengan nyawaku. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja!" Pikir Yudha.


Ia berjalan ke kasir untuk membayar barang-barang yang dibeli olehnya.


"Ada yang lain, Tuan?" Tanya Pelayan minimarket.


Yudha mengelilingkan pandangannya ke areal sekitar kasir. Produk kecantikan dan rokok mendominasi rak. Ia tertarik dengan kotak bungkus rokok yang ada di dalam rak.


"Rokok merk Z, satu bungkus." Jawab Yudha.


"Baik, Tuan." Pelayan minimarket mengambil bungkus rokok merk Z sesuai permintaan dari Yudha. Ia lalu menscan barcode yang tertera di bungkus itu. Keluarlah nominal harga dari semua belanjaan Yudha.


Yudha pun membayar sesuai dengan nominal yang disebutkan oleh pelayan minimarket.


Yudha hanya diam saja ketika pelayan minimarket menyiapkan mie instant cup yang dibelinya. Ia mengamati bagaimana tangan cekatan itu mengerjakan tugasnya. Membuka tutup cup mie instant, mengambil garpu dan bumbunya, menggunting wadah bumbu dan memasukannya ke dalam cup mie, lalu menuangkan air panas dari sebuah pemanas air ke dalam cup mie itu. Setelah selesai, pelayan itu merapikan kembali tutup cup mie itu dan menyerahkannya pada Yudha.


"Ini mie instant cup milik Anda, Tuan." Kata Pelayan itu.


Yudha menerimanya dengan hati-hati. "Terima kasih banyak." Katanya.


Setelah membayar belanjaan dan mendapatkan mie sesuai pesanannya, Yudha keluar minimarket untuk kembali ke kamar inap dan segera menemui Melody.


Tangan kiri Yudha gunakan untuk membawa dua kantong belanjaan dan tangan kanannya ia gunakan untuk membawa cup mie instant yang sudah diseduh. Ia berjalan keluar dari minimarket untuk kembali ke kamarnya yang ada di dalam motel.


"Melody pasti sedang menungguku. Dia tidak akan kesal, kan? Aku belanja cukup lama karena harus mencari terlebih dahulu merk mie yang ua inginkan di sederetan rak khusus mue yang jumlahnya sangat banyak itu. Bukan apa, aku memang tak mengenali makanan-makanan instant seperti itu. Aku hanya tak terbuasa." Gumam Yudha.


Langkah demi langkah Yudha ambil. Gerakannya terlihat cepat dan suara hentakkan kakinya bisa terdengar dengan baik lewat telinganya. Maklum saja karena ini sudah dini hari. Tak banyak orang dan pengunjung. Sepi.

__ADS_1


"Ternyata benar dugaanku, aku diikuti! Melody, pertemuan kita memang tak mudah. Perpisahan juga menghantui. Maafkan aku, aku tak bisa menjamin keselamatanmu!" Gumam Yudha.


Ia berusaha mempercepat langkah kakinya.


Sosok yang ia curigai sedang mengikutinya, juga melakukan hal yang sama. Melangkah lebih cepat agar tidak kehilangan Yudha.


"Aku harus cari jalur lain untuk mengecohnya!".


Yudha berusaha mencari jalan lain untuk mencapai kamar inapnya. Sangat berhati-hati agar tidak ketahuan. Pasalnya, ia sama sekali tidak tahu siapa yang mengikutinya saat ini. Setidaknya di pihak siapakah mereka. Bisa Alvin bisa juga yang lainnya.


Dengan berbagai upaya, ia pun berhasil sampai ke dalam motel tempat ia menginap dengan Melody.


Ia mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Melody.


Melody dengan cepat langsung membuka pintu kamar inapnya dan mendapati suaminya sedang berdiri di hadapannya. Menenteng dua kantong belanjaannya dan mie instant cup pesanannya.


Pangeran tamvan habis pulang belanja! Oke itu konyol, walau fakta, tapi ia yakin jika Yudha tidak akan menyukai julukkannya itu. Jika tidak sedang hamil, mungkin saja Yudha akan melemparnya ke ranjang dan melampiaskan kekesalannya karena dijuluki seperti itu.


Ah, kenapa ia malah berpikir yang tidak-tidak sih?


Ini pasti hanya karena ia merindukan Yudha karena lama tak jumpa. Ia dekat dengan Yudha karena sering adu argumen, apa saja pasti akan menjadi bahasannya meski kadang bahasan itu sama sekali tidak penting seperti yang ia pikirkan saat ini.


"Yudha, kok lama sih? Aku sampai mengantuk karena menunggunya sejak tadi." Kesal Melody. Ia harus mengungkapkannya karena Yudha sudah membuatnya lelah menunggu.


Lelah meunggu saat diculik dan lelah menunggu karena ingin makan mie instant cup keinginannya.


"Iya maaf, tadi bingung mencari makanan-makanan yang kau inginkan di rak minimarket." Jelas Yudha yang memilih tidak menceritakan jika saat ini mereka berdua sedang diikuti.


Yudha menyodorkan mie instant cup kepada Melody. Melody menerimanya dengan senyuman yang mengembang.


"Maaf, harusnya aku tidak kesal. Terima kasih sudah membelikanku ini." Kata Melody.


"Makan dengan pelan, jangan terburu-buru! Masih sangat panas." Kata Yudha.


"Iya. Aku makan dulu. Ittadakimasu!" Melody menikmati mie instant cup seduhnya.


"Suka sekali ya sama makanan seperti itu?" Tanya Yudha yang heran karena Melody memakan makanannya dengan sangat lahap.


"Orang kaya seperti dirimu mana mengerti rasanya menikmati makanan sejuta umat, makanan para rakyat jelata seperti diriku!" Kata Melody.


"Hei, aku juga rakyat jelata. Memang kau pikir aku ini putra raja apa? Ada-ada saja."


"Tapi kau kan keturunan Old Money dimana kau terbiasa menikmati makanan mahal kelas restoran terkenal."


"Lalu apa itu salahku jika aku terlahir dari keluarga seperti itu?"


Benar juga. Itu bukan salah Yudha. Ini bukan soal salah menyalahkan. Ia hanya merasa kasihan pada Yudha. Aturan ketat dalam keluarga Yudha pasti mengekang Yudha untuk tidak menikmati makanan yang kata mereka tidak baik untuk kesehatan ini.


"Aa..." Kata Melody. Ia ingin menyuapi Yudha dengan mie miliknya.


Yudha terlihat agak ragu, tapi Melody sepertinya tulus ingin ia memakan mie instant itu. Ia pun membuka mulutnya dan Melody memasukkan mie instant ke dalam mulutnya.


Rasa gurih dan agak panas menguasai lidah dan mulutnya. Rasa yang unik dan asing di mulutnya. Ia tak terbiasa, tapi ia menyukai rasa ini.


"Bagaimana? Enak, kan?" Tanya Melody.


Yudha mengangguk. "Ini enak, tapi menurutku sedikit asin." Jawabnya.


"Imbangi minum kalau begitu. Aku tahu lidahmu itu sangat sensitif. Orang yang tak menyukai manis, biasanya akan tidak menyukai asin juga."

__ADS_1


"Hmm, sodesu ka?"


"Hai, sodesu..."


Yudha pun membuka botol air mineral dan meminumnya. Ia menghabiskan hampir setengah dari isi botol itu. Haus, tenggorokannya terasa sangat kering.


Ia lalu beralih menatap Melody yang tengah menikmati makanannya. Ia kembali tersenyum. Sangat lucu melihat Melody mengerucutkan bibirnya untuk meniup mie yang masih sangat panas itu. Memakan dengan mengimbangi gigi yang bertemu panasnya mie, belum lagi suara dari cairan di hidunga yang keluar karena makan kuah pedas dan panas.


Bibir Melody sampai memerah, ia kepedasan.


Yudha lantas mengambil jus jambu dalam kotak yang ia beli. Ia munusukkan sedotan ke dalam kotak itu, lalu memberikannya kepada Melody.


"Yudha, terima kasih... Huh haah, pedassss..." Melody lalu menyedot jus jambu biji miliknya.


Rasa buah kesukaannya. Sudah lama ia tidak merasakan rasa buah ini. Rasanya sangat membuat perasaan menjadi lebih baik.


"Manis. Ini sangat enak. Pedasku langsung cukup cepat menghilang dari bibirku." Tambah Melody.


Ia kembali melanjutkan makan mie-nya. Yudha juga kembali menatapi Melody dari kepala sampai kaki.


Hari ini sudah memasuki bulan April, kehamilan Melody masuk usia 7 bulan. Hal itu sangat nyata terlihat dari sosok seorang Melody. Perut yang sangat besar dan membatasi kemampuan geraknya.


"Banyak hal yang harus aku lindungi. Apa yang harus aku lakukan? Seseorang yang mengikutiku pastilah membawa pasukkanaya. Dia tidaklah sendirian. Jika aku memanage untuk melanjutkan perjalanan ke Tokyo, maka kasihan Melody. Tubuhku sendiri pun juga sudah mencapai batasnya. Ini akan sulit, belum tentu juga aku dan Melody bisa lancar sampai masuk ke dalam mobil. Bisa saja mereka sedang bersiap menunggu kami di pintu keluar motel . Mereka tidak akan gegabah untuk menangkap kami masuk ke dalam motel, kan?" Batin Yudha berkecamuk.


Tidak mungkin baginya mengajak Melody melanjutkan perjalanan. Akhirnya ia membiarkan saja orang yang mengikutinya itu. Ia memilih untuk tetap tinggal sambil menyusun rencana agar bisa melanjutkan perjalan ke Tokyo kembali dengan aman.


"Yudh..." Panggil Melody.


"Hn?"


"Kenapa melamun?" Tanya Melody.


"Ah, tidak. Hanya sedang bengong saja."


"Bengong dan melamun sama saja, Yudh. Dan lagi, masak orang bengong bisa sadar jikan dirinya saat ini sedang bengong? Kan tidak mungkin, kau pasti sedang memikirkan sesuatu hal, kan?" Tebak Melody.


Membohongi Melody kini sudah menjadi sesuatu hal yang cukup sulit dilakukan. Melody memiliki otak untuk berbipikir. Melody merasakan banyak hal. Melody juga mempertaruhkan banyak hal untuk mereka. Ia juga tahu jika saat ini keadaan mereka sedang dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Aku takut tidak bisa melindungimu dan anak -anak kita. Kata Yudha.


Melody meletakkan cup mie yang ia pegang, kemudia memeluk Yudha.


"Kenapa kau suka sekali membahas hal ini sih? Masalah selamat atau tidaknya diriku, anak kitan ataupun kita semua itu adalah urusan Tuhan. Kita hanga perlu berusaha. Jika kau seperti ini, takut duluan, maka aku menjadi jauh lebih takut dari dirimu, Yudh! ... Ayolah, kita sudah sering dalam bahaya. Kalau kemarin kita bisa lolos, kali ini pun kita memiliki kesempatan yang sama." Kata Melody.


Yudha membalas pelukkan Melody. Ia juga mengecup bahu Melody. Membuat Melody meringis karena geli.


Melody mendorong pelan dada Yudha agar menjauh darinya. Ia memegangi bahunya yang baru daja dicium oleh Yudha.


"Jangan bercanda, Yudh!" Kata Melody.


Yudha menyeringai. "Masalah seperti ini itu tidak akan bisa dilakukan jika saat ini sedang bercanda." Kata Yudha.


"Aku tak mau melayanimu! Aku lelah, Yudh! Besok saja, hm?"


Yudha tertawa. "Kau sungguh berusaha keras untuk menjadi istri yang baik ya?"


"Ya kan masak aku harus menjadi istri yang buruk sih? Tentulah yang baik, kan? Aku ingin bisa menjadi istri yang bisa membahagiakanmu, yang bisa mewujudkan banyak keinginanmu."


Yudha tersenyum. "Arigato na. Kau sudah sangat baik di mataku... Nah Mel, karena sebentar lagi pagi menejelang, sebaiknya kita beristirahat! Kita akan menghadapi kisah yang panjang setelah ini."

__ADS_1


Melody mengangguk dan mereka pun istirahat bersama. Di luar motel, sudah banyak para anggota yang ditugasnya untuk mengikuti Yudha dan Melody. Mereka berkumpul dan siap untuk melaksanakan tugasn


__ADS_2