
Aku minta maaf karena banyak typo dalam tulisanku. Aku bikinya malam-malam dimana sudah sangat mengantuk dan menguao berkali-kali. Harusnya nulis itu siang, tapi siang itu bermain game lebih menggoda. Lagipula, siang butuh bercengkrama dengan alam juga. Hehe.. Gomen ne, Minna... Sore jaa, ittadakimasu! Selamat membaca!
.
.
.
FLASHBACK ON
MIKAN'S POV
Uuh, aku membuka kedua mataku. Perlahan, semua masih samar dan buram.
Apa yang terjadi?
Ini dimana?
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tiba-tiba saja aku terbangun di kamar yang asing untukku. Jelas sekali jika kamar ini adalah kamar seorang laki-laki, aku bisa menilai lewat design interiornya.
Awh, kepala berat dan sangat pusing. Badanku juga rasanya sangat remuk.
Aku meraba-raba sekitarku untuk mencari sesuatu petunjuk apapun itu.
Hm?
Sesuatu yang hangat menyapa permukaan tanganku. Aku langsung menoleh ke arah sesuatu yang hangat itu.
Aku melebarkan kedua mataku selebar yang aku bisa untuk mengekspresikan betapa kagetnya aku saat ini ketika mendapati jika sesuatu yang hangat itu adalah dada bidang dari seorang laki-laki yang tengah tertidur di sampingku.
Kak Yoga.
Dia adalah kak Yoga.
Aku mencoba berhati-hati dulu dengan apa yang terjadi saat ini. Aku tak boleh gegabah dan berteriak histeris.
Oke, pertama aku harus memeriksa keadaaku dulu. Kenapa aku bisa satu ranjang dengan kak Yoga.
Aku membuka sedikit selimut yang menyelimutiku. Aku kembali harus dikagetkan karena aku sama sekali tidak memakai pakaian. Hanya tertutupi oleh selimut dan tangan kak Yoga yang memeluk diriku.
Kak Yoga bertelanjang dada, apa itu artinya jika dia sama sekali tak berpakaian sama seperti diriku?
Terlalu sibuk menduga-duga, aku baru merasakan nyeri yang luar biasa ketika aku mencoba menggerakkan kakiku.
Sakit, ngilu, dan sangat perih.
Ke-kenapa dengan diriku? Apa yang terjadi? Kenapa sakit sekali bagian tubuhku di bagian sana?
Aku melenguh dan kemudian menangis karena tak kuasa menahan rasa perihnya.
Mikan sadarlah, kau itu bukan wanita yang bodoh! Kau pasti tahu apa yang saat ini sedang terjadi padamu. Seranjang dengan seorang laki-laki, bertelanjang badan, dan saling berpelukkan. Belum lagi bercak-bercak kiss mark memerah di sekujur tubuhmu. Kau tahu itu! Kau baru saja melepas kesucianmu sebagai seorang gadis!
Tidak, aku menggeleng cepat.
Aku menjambak rambutku sendiri. Bukan ini yang aku inginkan. Bukan dengan cara seperti ini aku harus kehilangan kesucianku. Meski aku sangat mencintai kak Yoga, tapi bikan dengan cara ini aku menunjukkan rasa cintaku.
Hubungan intim itu harus dilakukan sesudah menikah ketika dua mempelai sama-sama saling mencintai. Dengan begitu kehilangan hal berharga seperti ini tidak akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Sial...
Aku sangat marah saat ini. Aku sangat kesal. Aku.. aku.. aku ingin memukul siapa saja yang lewat di hadapanku saat ini.
Kenapa?
Kenapa hal ini harus aku alami? Aku bahkan tidak mengingat apa-apa kenapa sampai bisa seperti ini. Kenapa aku bisa berakhir di ranjang milik kak Yoga?
Aku menangis sejadinya. Menangis sekeras yang aku bisa.
Aku harus keluar dari kamar ini! Aku arus pulang ke rumah!
.
__ADS_1
.
.
Aku mencoba menyingkirkan tangan kak Yoga yang sedang memelukku. Dia tak terganggu dengan segala gerak yang aku lakukan. Ia betah dengan mimpinya.
Aku tak bisa menghadapinya. Aku tak tahu harus memasang wajah yang seperti apa di hadapannya.
Aku memungut pakaian-pakaianku yang tergeletak sembarangan di lantai kamar milik kak Yoga. Kemudian aku memakainya kembali.
Ahh, buat jalan juga sakit sekali. Apa yang pertama memang selalu sesakit ini?
Aku menghapus air mataku.
Aku tak bisa terus seperti ini! Aku tak terima diperlakukan seperti ini. Aku ini masih memiliki hati yang merasa dan otak yang masih berfungsi dengan baik. Aku masih bisa berpikir.
Harga diriku adalah hal yang sangat penting di dalam hidupku.
Ketika aku hendak membuka pintu kamar untuk keluar, tiba-tiba kak Yoga menahanku dari arah belakang.
"Lepas!" Kataku dingin. Aku masih sangat marah kepadanya.
Aku tak tahu dia berinisiatif memperkosaku atau dijebak seperti kisah-kisah novel, aku sama sekali tidak peduli! Yang jelas aku memiliki hak untuk mengekspresikan rasa kecewaku terhadapnya. Bagaimanapun, aku ini hanya calon istri yang belum resmi dalam ikatan legal negara dan agama dengannya. Melakukan sex di laur nikah seperti ini itu melukai harga diriku.
"Lapas!" Kataku lagi.
"Maaf.." Kata kak Yoga lirih.
"Lepaskan aku! Aku mau pulang!" Kataku sedikit meninggikan suara.
"Mikan, semalam tidak sengaja.. Aku bisa menjelaskannya. Ayo kita bicara!"
Apa sih yang perlu dijelaskan lagi? Semua sudah jelas jika aku sudah kehilangan hal yang paling suci dari diriku.
Aku menepis tangannya dari pundakku. Aku tak mau berbicara dengannya saat ini.
Aku membuka kasar pintu kamar miliknya. Kemudian aku melangkahkan kakiku untuk keluar dari sana.
Namun, tak aku sangka jika bibi Chiyo sudah berdiri di depan kamar dengan tampang yang kaget bukan main tak jauh berbeda dengan apa yang aku tunjukkan sebelum ini.
Aku sama sekali tidak ingat kejadian semalam. Kepalaku terasa kosong tanpa ada sedikit bayangan apapun. Aku benar-benar sama sekali tidak tahu.
Bisanya aku hanya menangis.
Dan bibi Chiyo langsung memelukku dengan sangat erat. Aku menangis di pundaknya. Pelukan yang hangat pikirku.
"Kak Mikan?" Suara Orion terdengar nyata di dekatku.
Ah dia juga sama kagetnya dengan ibunya, bibi Chiyo.
Aku tak menyangka jika Orion akan langsung mendekati kak Yoga dan langsung memukul pipi kak Yoga dengan sangat kerasnya.
"Kau gila ya, Kak? Apa yang sudah kau lakukan pada kak Mikan, hah? Kenapa kau membuatnya menangis sampai seperti itu? Kenapa kau melakukan hal keji terhadapnya, hah? Kau sudah tidak waras!" Teriak Orion yang lagi-lagi kembali memukuli Yoga.
Aku hanya menangis, sementara bibi Chiyo melerai dua kakak beradik ini. Sangat gaduh hingga akhirnya membuat sang kepala keluarga Kazehaya datang untuk membantu melerai.
Akhirnya, kami berakhir di ruang keluarga untuk 'disidang'.
END OF FLASHBACK
.
.
.
Normal time...
"Sungguh ada kisah seperti ini? Maksudnya, ini benar ibu alami?" Tanya Melody yang tak berhenti kaget sekaligus penasaran dengan kisah kedua mertuanya.
"Iya. Ibu mengalami kisah tak mengenakan dengan ayah mertuamu. Ibu kehilangan keperawanan dengan cara yang menyedihkan." Jawab Mikan. Jika ingat saat itu, jujur saja rasanya masih sangat sakit.
__ADS_1
Kecewanya belum sepenuhnya tersembuhkan meski sudah tergerus usia yang cukup lama.
"Ibu jangan bersedih! Aku tahu, sebagai wanita yang sangat menjaga harga dirinya, hal seperti ini itu sulit diterima. Aku saja yang sudah menikah resmi dengan Yudha lalu kehilangan keperawanan dengan cara yang tidak wajar juga rasanya sangat menyakitkan. Kecewa dan melukai harga diri. Aku dan Yudha malah diberi obat perangsang agar kami berdua melakukan hubungan intim. Walau saat melakukannya dalam keadaan sadar, tapi kami terpancing akan hasrat nafsu, bukan cinta. Menyedihkan jika ingat kejadian itu." Kata Melody yang kini berani bercerita soal malam pertamanya dengan Yudha saat di Okinawa dulu.
Sebenarnya Mikan sudah tahu akan hal ini. Ia tahu rencana soal sabotase minuman Melody dan Yudha dengan obat perangsang. Ini adalah rencana Tuan Besar Wijaya sebagai master mind dan teman-teman Yudha sebagai eksekutor lapangannya. Awalnya Nao dan kawan-kawan menolak melakukan hal ini karena menghormati privasi Yudha -meksi ya kadang suka menggoda Yudha juga, tapi mereka diancam oleh Kazehaya Wijaya soal keberlangsungan bisnis mereka ke depannya, akhirnya mau tidak mau, mereka harus mematuhi perintah kakeknya Yudha itu.
"Rasanya sakit sekali, kan?" Tanya Mikan.
Ia ingin menghibur Melody agar Melody merasa lebih baik. Dari semya pembicaraan yang terjadi, Melody pasti akan menyelipkan kisah dengan Yudha. Dengan ini ia tahu jika Melody kepikiran soal Yudha.
Wajar saja karena saat ini mereka berdua sedang berpisah dengan cara yang menyedihkan. Belum ada kabar.
"Iya Bu, rasanya memang sangat sakit sekali. Sampai luka juga. Yudha melakukannya tidak hanya sekali, tapi beberapa kali sampai aku tak sadarkan diri." Jawab Melody.
"Yudha sungguh menghabisimu rupanya. Jika berkali-kali berhubungan intim dalam semalam, melakukan ke tiga dan setelahnya biasanya dipenuhi dengan kesadaran penuh tanpa pengaruh obat perangsang." Kata Mikan.
"He? Eeeeehhh..." Kini muka Melody memerah. Ia baru sadar jika malam itu sungguh sangat panas. Dengan efek obat perangsang atau tidak, keduanya tak ada bedanya. Sama-sama panas dan membuat bergairah.
Kan, jadi ingat dengan Yudha lagi.
"Tidak usah malu, Mel! Itu normal secara lahiriahnya sebagai manusia. Sebenarnya, ibu juga tak jauh beda nasibnya denganmu. Sepertinya ibu juga diberi obat perangsang. Dari sidang keluarga itu, kak Yoga, ah maksud ibu ayahnya Yudha, menceritakan dari versi dirinya. Intinya ibu mendengar jika ayah mertuamu diberi minuman oleh kakekmu dan merasa pusing setelahnya. Masuk akal juga, ibu juga diberi minuman yang sama oleh kakekmu. Kebetulan sore itu ibu datang bertamu ke kediaman Kazehaya untuk memenuhi undangan makan malam nenekmu. Tak ibu sangka jika ibu akan berakhir menyedihkan seperti itu." Jelas Miman panjang lebar.
"Semua sudah terlewat, mau marah seperti apa juga tak ada gunanya lagi. Kini aku bahkan sudah tak masalah dengan hubungan intim saat Yudha minta. Dasarnya memang aku dan dia saling cinta, maka ya sudah jalani saja. Usah hamil juga." Kata Melody. Ia mengusap perutnya.
Mikan menyukai kepribadian Melody sejak ia bertemu dengan Melody. Anak ini sangat menyenangkan.
Sebagai calon nenek, Mikan pun juga ikutan mengusap perut hamil Melody. Itu adalah benih yang Yudha tanam. Ada manfaatnya juga membuat dua anaknya ini dipaksa berhubungan intim dengan obat perangsang. Lihatlah, sebentar lagi akan lahir generasi baru keluarga Kazehaya! Dua lagi! Kembar!
"Lalu apa saja yang terjadi di sidang keluarga itu, Ibu?" Tanya Melody.
"Tak banyak. Yang jelas, drama nenekmu yang kecewa dengan kelakuan anak sulungnya yang sudah berbuat keji terhadapku. Ayh mertuamu tentulah protes, ia mengakui kesalahannya, tapi ya seperti tadi, ia mengutarakan ketidak adilan yang ia alami karena itu bukan murni kesalahannya. Minumannya juga disabitase." Jawab Mikan.
Melody terdiam. Apa sungguh jika keluarga Kazehaya dihuni oleh orang-orang yang suka menjebak orang biasa untuk mencapai tujuannya? Itu mengerikan, nyatanya ia masih belum terlalu mengenali keluarga dari suaminya itu.
"Selain itu, kakekmu menyuruh Yoga untuk bertanggung jawab dan segera menikahi ibu dalam waktu dekat. Beliau takut jika ibu sampai hamil di luar nikah. Ibu dan ayah mertuamu diberi waktu sebulan untuk memikirkannya. Intinya, meski memikirkan dan menemukan jawaban tak ingin menikah, rasanya itu juga tak memiliki pengaruh dari keputusan kakekmu, Mel. Seolah-olah, apapun itu, ibu dan ayah mertuamu tetap harus menikah. Ini hanya seperti dipercepat." Jelas Mikan.
"Ibu dan ayah sudah dijodohkan sejak kecil sih, jadi memang akan kesulitan untuk dibatalkan mengingat yang kita bicaraakan saat ini itu Kazehaya Wijaya, seorang petarung sejati dalam percaturan dunia. Sulit menang darinya." Kata Melody.
"Hahaha.. Simbahmu itu memang kadang menakutkan, ya?" Tanya Mikan.
"Hehe. Kakek memang kadang menakutkan... Oh iya, karena dipaksa untuk segera menikah dengan ayah mertua, lalu apa yang terjadi setelahnya?"
"Tak banyak, Mel. Keluarga besar ibu tahu akan kejadian ini. Yang sampai di telinga mereka itu, ibu diperkosa ayah mertuamu. Karena sudah seperti itu, mau tak mau kami memang harus segera menikah. Kami mendapatkan banyak tekanan dari berbagai pihak." Kata Mikan.
Memang benar, sesudah sex di luar nikah seperti itu, orang tua jaman dulu pasti memilih untuk dinikahkan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Melody cukup memahaminya sejauh ini.
"Namun, semua tak berjalan mulus, Mel. Semua justru semakin rumit." Kata Mikan.
"Rumit? Memang apa yang terjadi, Ibu?" Tanya Melody.
"Di tengah tekanan untuk segera menikah, ayah mertuamu malah pulang membawa wanita lain yang sedang mengandung anaknya. Kau tahulah siapa wanita itu tanpa harus ibu ceritakan, kan?" Jawab Mikan.
Nampak jelas nada kecewa dan kesedihan di sana. Melody tahu itu. Ketika melihat Yudha sama Yura saja hatinya sangat sakit, apa lagi sampai harus mendapati laki-laki yang amat sangat dicintai pulang membawa 'selingkuhan'? Sakit bukan main, menusuk jantung pastinya itu.
"Lalu apa yang ayah mertua lakukan soal mereka berdua?" Tanya Melody.
"Tentulah ingin bertanggung jawab karena sudah menghamili Kurenai. Memang apa lagi?" Senyum getir Mikan.
Sakit.
Pantas saja Yudha melarangnya untuk tak membahas masa lalu dengan ibu mertuanya. Ini memang sangat sakit. Dirinya yang mendengarkan saja bisa sejengkel ini, apa lagi jika harus mengalaminya sendiri? Melodi pasti akan mengebiri Yudha jika sampai berani menghamili wanita lain dan berselingkuh darinya!
"Bukankah mereka tidak menikah ya, Bu?" Tanya Melody.
"Iya. Kakekmu dan nenekmu menentang hal itu. Status sosial dipertimbangkan. Lagi pula, Kurenai itu orang asing yang tentunya tak memiliki kualifikasi untuk masuk ke ranah keluarga Kazehaya."
"Ayah mertua ternyata bejat juga ya?" Simpul Melody. Ia lalu menutup mulutnya sendiri. "Opps, maaf Bu, maaf, anu..." Melody keceplosan asal simpul soal ayah mertuanya.
Hal ini membuat Mikan terseyum. Pasalnya, Melody ini kadang bisa menjadi sangat polos dan sangat jujur. Benar kok, ia juga berpikir hal yang sama dengan menantunya itu. Yoga memang bejat. Apa lagi dengan alasan tak sengaja memperkosa. Yaelah, seperti buaya saja.
"Yoga memang bejat. Bagaiman dengan Yudha? Sama juga, kan? Kau bilang dia pernah memperkosamu juga, kan?" Goda Mikan.
__ADS_1
Melody memerah. "Ahh.. ano, itu iya.. tapi Yudha sebenarnya hanya menuntut hak suami saja, tapi aku yang tak mau melayaninya. Hehe.."
Dan kisah masa lalu kembali akan dilanjutkan..