
Love is Pain.
Alvin mengerutkan dahinya. Ia mendekatkan sampul buku itu ke wajahnya. Mencoba membaca tulisan kecil yang tertulis di sana.
"Kelemahan terbesarmu adalah saat dimana kau jatuh cinta."
Alvin menghela napasnya. Buku ini menarik. Dari sampul depannya sangat menarik untuk dibaca. Ia membalikkan buku bersampul kuning tersebut dan mulai membaca tulisan yang terdapat di sampul belakangnya.
"Kau tidak akan pernah menyadari kapan dan dimana kamu jatuh cinta. Ia hadir secara tiba-tiba, seperti angin yang berhembus dari belakang dan terkadang dari depan. Membawa dampak dan kesejukan yang berbeda dari masing-masing keduanya."
"Ketika kau jatuh cinta, kau akan melupakan segalanya. Segala yang kau rencanakan sejak jauh sebelumnya. Mereka akan hilang. Terhempas jauh dengan rasa asing yang mulai muncul ke permukaan. Menampilkan sejuta rasa yang sulit di definisikan oleh kata-kata."
Cinta…
"Hanya dengan jatuh cinta kau bisa mendekatkan seseorang yang jauh untuk lebih dekat. Menjauhkan dari orang terdekat menjadi sosok asing tak dikenal hanya karena cinta.
Bahkan cinta bisa membuat musuhmu menjadi bertekuk lutut menyerah. Atas nama cinta. Mengatasnamakan pengorbanan dan perjuangan di dalamnya."
"Karena cinta bisa merubah segalanya. Menjadi sesuatu yang berkilau. Kilau samar yang tak terlihat masa depannya."
Alvin menggenggam erat buku dengan 850 halaman tersebut erat-erat di dadanya. Ia menarik napas dalam. Melirik sekali lagi pada buku bersampul kuning itu sebelum ia kembalikan menuju tempat semula.
Kata-kata di dalam buku itu menamparnya.
Love can make everything changes.
Kalimat itu terus terngiang dan berputar kencang dalam otaknya. Ia membuang napasnya kasar dan meninggalkan rak tersebut perlahan. Menjauh. Tidak. Ia tidak akan pernah jatuh cinta. Sampai kapanpun.
There is no true love.
Tidak ada cinta sejati di dunia ini selain orangtua pada anaknya. Selain itu? Tidak ada. Semua hanya omong kosong dan dongeng semata.
Lalu bagaimana cintanya pada Melody? Bukankah ia sangat mencintai wanita ayu ini?
Untuk detik ini, rasanya sudah lelah karena memang terlalu melelahkan.
"Aku merasa ini bukan cinta sejati, tapi kenapa aku tak bisa melupakanmu?"
Ia tersenyum saat menghampiri Daisuke yang sedang menunggunya. Ia mengangguk. Ia butuh istirahat. Tubuhnya terasa lelah.
.
.
.
Time Skip...
Melody memandang datar pada seseorang yang terpaut umur setahun dengannya. Ia membuang wajahnya ke arah lain saat suara menusuk nan tajam itu membentaknya.
"Apa lagi yang kau lakukan kali ini?!"
__ADS_1
Tanya Alvin.
"..." Melody terdiam membisu.
"Bodoh! Kau tahu ini akan menyulitkanku, menyulitkanmu! Menyulitkan kita semua!" Bentak Alvin.
Ini pertama kali Alvin mengatai Melody bodoh. Melody tak mengapa, hanya kaget dan belum terbiasa saja.
Melody masih duduk terdiam. Tak berniat menjawab perkataan seseorang yang sedang berdiri marah padanya.
"Jawab aku! Apa yang kau lakukan hingga bertindak sejauh ini?"
Tanya Alvin.
Melody mendongak. Menatap mata kelam sosok di depannya. Tajam dan penuh emosi di sana.
"Jika aku berkata aku akan menghancurkanmu. Apakah kau percaya?" Melody mendengus sinis di akhir kalimat.
Ia memandang wajah tegas itu dingin. Keadaannya sedang tak baik hari ini. Dan dengan angkuhnya Alvin datang. Meminta untuk menemuinya. Jadilah seperti ini, menampilkan Alvin dengan wajah penuh amarah dan siap melampiaskannya pada dirinya.
Alvin tertawa pelan. Menanggapi jawaban konyol mantan kekasihnya. Matanya masih memandang Melody tajam. Rahangnya mengeras seiring respon tak berarti yang diberikan Melody untuknya.
"Tebakanku benar."
Melody berdiri. Bersiap meninggalkan mantan yang berdiri mematung di sana.
"Kau buru-buru menemuiku hanya untuk berbicara masalah tak penting seperti ini? Ingatlah satu hal, kau kini adalah musuhku!"
Alvin menatap dalam Melody yang berdiri menjulang di depannya.
"..."
"Tekadku bulat sejak kau menghianati Yudha. Menghancurkan siapapun yang menghalangi langkahku dengan Yudha. Menghalangi siapapun yang berani menganggu kehidupanku dengan Yudha. Sampai sekarang masih berlaku."
Melody tertawa sinis. "Bahkan jika kau sendiri berani menghalangiku, aku tak segan-segan akan menyingkirkanmu dari hidupku!"
Tambahnya.
Alvin memandang amarah pada Melody yang menantang di depannya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Bersiap melampiaskan semuanya.
Sayang ia tak bisa. Ia tak setega itu.
"Meskipun kau yang selalu melindungiku dimana pun aku berada dan dalam keadaan apa pun. Saat aku dalam bahaya. Kau selalu ada untukku." Melody melanjutkan ucapannya.
Mata kelam itu saling bertemu. Menyalurkan rasa yang tak bisa mereka ucapkan dengan kata-kata secara jelas.
"..."
"Kau boleh meminta Tuan Han dan semua mata-mata terbaikmu untuk mengancamku. Pastikan, kau tak akan salah kali ini. Pastikan jika ini semua memang keinginanmu sendiri, akan sangat menyakitkan jika terjadi penyelasan di akhir nanti... Aku tak mau menyesalkarena sudah membencimu." Melody menyeringai di akhir kalimat sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Alvin yang berdiri memaku di sana.
Alvin terdiam. Ucapan Melody masih terekam jelas di benaknya. Kata-kata yang menancap langsung ke dalam ulu hatinya.
__ADS_1
Melody sudah dewasa sekarang.
Melody bisa melakukan apa saja.
Alvin menghela napas. Ia masih harus melindungi Melody dari apapun. Dari bahaya yang mengintai dari orang-orang sekitarnya. Ia tahu. Melody tidak akan pernah bisa menyakiti dirinya. Melody sudah bertekad akan menyingkirkannya tapi ia tidak mampu. Alvin terlalu berpengaruh baginya.
Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Menatap tajam objek depannya. Sampai mati ia akan terus melindungi Melody.
Karena bagaimanapun, semua berawal dari dirinya. Ia sudah melakukan banyak dosa demi memenuhi ambisinya.
Melody menjadi dingin karena kesalahannya.
Dan Alvin tak bisa membohongi hal itu. Ia selamanya akan menjadi tersangka. Tersangka karena berani mengorbankan Yudha, sosok yang paling Melody cintai sejak dulu.
"Sial, Melody tahu soal Tuan Han. Sudah sejauh mana langkah yang ia ambil? Tak hanya tahu soal Tuan Han, dia bahkan terlihat akrab dengan Saga... Kenapa dia malah mendekati neraka sih? Aarggghhh!" Gumam Alvin.
Ia memukul keras meja kayu di depannya.
Kepalanya sakit sakit. Sangat pusing.
"Tak bisakah dia diam saja dan biarkan aku yang mengurusnya? Aku tak sabar menanggapinya yang berani bertindak jauh! Apa dia sekarang menjadi tidak waras?"
Ok, Alvin kini bisa menjadi sangat berbeda dari sosok Alvin yang biasanya. Menjadi sulit mengendalikan emosinya dan tak sabaran. Semua memang memaksanya untuk menjadi seperti ini.
"Kenapa kau malah mencoba melawan Tuan Han? Yudha bisa mati!"
Jika Yudha mati, maka kesempatan untuk membuka hati Melody akan sulit. Lupakan soal itu, bisa saja Melody malah akan semakij gila dan memilih untuk menyusul Yudha. Ini di luar ekspektasi Alvin.
Alvin memijat kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan? Tua Bangka itu terus saja mendesakku untuk menguasai Emperor Group. Dia tak akan puas sebelum memiliki semuanya... Lalu ibu, kenapa ibuku lama-lama menjadi sangat asing? Aku mulai tak mengenalinya."
.
.
.
_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x
_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x
Kita semua sangat sedih bahwa sebuah pesawat penumpang yang terbang dari Jakarta ke kota Pontianak di Indonesia jatuh tak lama setelah lepas landas kemarin, yang mengakibatkan hilangnya nyawa lebih dari 60 orang.
Sebuah masalah merupakan tamu yang tak diundang didalam kehidupan kita, dan kita harus perlakukan dia sebaik mungkin, maka kita juga akan diperlakukan dengan baik olehnya.
Bersabarlah ketika suatu hal yang sangat kamu sayangi hilang, dan percayalah Allah-Tuhan Semesta Alam sedang menyiapkan sesuatu hal lebih indah dai sebelumnya.
Kalau setiap cerita hidup kita selalu indah,hati tak pernah kenal dekat dengan sabar dan ikhlas.
Semoga Allah menempatkan mereka yang pergi di tempat yang sebaik-baiknya
__ADS_1