MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bingung


__ADS_3

Kazehaya International Hospital...


"Bintang kecil, di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa, aku ingin, terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada."


Lagu Bintang Kecil berkumandang dengan rianya. Penuh keceriaan dan semangat. Tawa yang riang menambah energi positif. Membangkitkan jiwa-jiwa yang lelah dan letih.


"YEEEEYYYYY."


Semua tepuk tangan.


Sebuah lagu anak-anak yang begitu berarti. Membawa nilai magis untuk mengubah suasana hati.


"Nee-chan, kenapa lagunya bintang kecil telus?" Tanya Naru Barakamon, usia 7 tahun.


"Ano ne, Naru-chan, onee-chan sukaaaa sekali dengan lagu itu. Lagu itu mengingatkan nee-chan pada ayah nee-chan." Jawab Melody.


Ano ne: Begini ya..


Nee-chan, Nee-san, Onee: Kak perempuan.


"Memangnya ayahnya nee-chan dimana?" Tanya Ebisu Noragami. Si beby manis usia 8 tahun.


Melody sedikit kesulitan menjawab. Nyatanya itu sangat menyakitkan. Tapi ia tidak boleh menunjukkan rasa sedihnya di hadapat anak-anak yang sedang berjuang untuk sembuh. Ia menarik kembali senyum di bibirnya


"Ayah nee-chan sudah ada di surga."


"Di surga? Apa tempat itu bisa untuk bermain?" Tanya Ciel Kuroshitsuji. Ini anak paling dewasa pikirannya padahal seumuran dengan Ebisu.


Melody mengangguk. "Iya, tentu saja. Kalian bisa bermain di sana kalau kalian jadi anak yang baik. Naah, maka kalian harus makan dan minum obat lalu istirahat. Ok?"


"Yaaahh." Anak-anak protes karena di suruh istirahat.


Mereka masih ingin bermain dengan Melody lagi.


"Katanya ingin bermain di surga? Di sana ada banyak mainan yang asyik loh. Kalian minta apa saja bisa dikasih. Makanya harus jadi anak yang baik dan penurut."


Membohongi anak dengan cerita-cerita kebaikkan adalah trik lawas orang dewasa. Tapi soal keindahan surga, Melody tidak membohonginya. Ia selalu percaya jika surga itu adalah tempat terindah dan apapun yang ia inginkan akan Tuhan kasih.


"Waah, aku mau minum obat."


"Aku juga."


"Iya, aku juga."


Setelah membuat anak-anak dalam satu ruangan itu makan dan meminum obatnya, Melody menyuruh anak-anak itu kembali ke tempat tidurnya. Ia menyelimuti anak-anak itu dan mengecup kening mereka satu per satu sebelum akhirnya ia mengucapkan 'oyasumi,'


Oyasumi: Selamat tidur.


.


.


.


Melody berjalan di lorong rumah sakit. Ia ke kantin dan membeli makanan. Sudah jam setengah delapan malam. Sudah waktunya ia makan.

__ADS_1


Saat di kantin rupanya Alvin sudah menunggunya. Alvin melambaikan tangannya agar ia mendekat. Di meja dimana Alvin duduk, di sana sudah ada makanan untuknya yang Alvin pesankan. Ia hanya bisa tersenyum senang, Alvin tahu saja jika ia sedang lapar dan mencari kantin.


"Senpai, arigato."


Melodi mencicipi kuah ramen pesanan Alvin untuknya. Musim gugur yang mulai mendingin ini memang paling cocok makan yang hangat-hangat. Ramen adalah pilihan terbaik saat ini.


"Bagaimana, kau suka?"


"Hm, sudah lama aku tak memakan ramen. Haha. Memang sangat enak, apa lagi saat lapar begini."


"Kau berhasil juga membuat pasien anak kamar 102 tertidur cepat, pasien anak kamar itu 'terkenal' bandel-bandel. Apalagi si Naru-chan. Sebelum kau datang, butuh 5 suster untuk membuat Naru-chan tertidur."


"Aku masuk pertama kali saja sudah dikasih cicak sma dia. Hahaha. Dapat darimana coba cicaknya itu? Tapi aku senang, mereka terlihat sangat polos. Meski mereka bandel, tapi rupanya mereka sangat lengket denganmu ya?"


"The miracle of senpai, Melody!"


"Halah, memang benar juga sih, senpai itu orang yang baik dan selalu disukai banyak orang."


"Kau sedang memuji?"


"Tentu saja, baka-senpai!"


"Nyatanya aku tak sebaik itu, Melody."


"Uso!"


"Uso janai!"


"Sudah ah, makan-makan."


"Sebentar." Alvin mengelap sudut bibir Melody. Ada sisa makanan di sana. "Sudah."


"Hn."


Uso: Bohong.


Uso janai: Tidak bohong.


.


.


.


Melodi Cinta


.


.


.


"Kenapa aku berakhir di tempat ini?" Gumam Yudha.


Ia yang merasa tak mengerti dengan apa yang ia lukan hanya bisa meratapi betapa bodohnya sekarang.

__ADS_1


Bagaimana tidak, saat ia ke rumah sakit untuk menjemput Melody, ia terpaku dengan senyuman tulus saat Melody bermain dengan anak-anak yang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia bahkan juga terpaku saat melihat Melody begitu menikmati aktivitasnya di rumah sakit. Sampai-sampai ia lupa waktu. Ia belum sempat menemui Melody, semakin bodohnya, ia justru pergi tidak jelas tujuannya saat melihat Melody sedang bersama dengan Alvin di kantin.


Malam ini, Yudha justru terdampar di Senja Cafe. Entah kebetulan atau bagaimana, di sana ia bertemu dengan Yura yang sedang sendirian.


Tidak mau terlihat canggung toh nyatanya hubungan mereka sedang membaik, Yudha dan Yura memutuskan untuk makan malam bersama di Cafe itu. Menikmati lezatnya hidangan mewah di tengah kota Tokyo.


Tidak ada pembahasan penting dalam pertemuan mereka. Mereka hanya makan bersama dan berbicara soal bisnis. Yudha tak berniat membahas topik soal isu yang beredar di masyarakat. Sedangkan Yura memilih untuk diam.


Isu itu masih terlalu sensitif. Yudha tidak tahu bagaimana isu itu bisa muncul. Ia merasa sudah melakukan hal yang wajar. Hal yang benar.


.


.


.


Malam semakin larut, Yudha memutuskan untuk pulang. Banyak pikiran dalam otaknya. Ia banyak pekerjaan di kantor, laporan kunjungan kerja di Kanada belum usai, isu skandal yang menimpa rumah tangganya, dan satu lagi yang ingin sekali ia selesaikan, kenapa, kenapa rasanya ia menjadi memiliki jarak panjang yang menyekat antara dirinya dengan Melody?


Kenapa jarak pemisah itu semakin terasa?


Kenapa seolah Melody juga berusaha menghindarinya?


Seperti malam ini, saat ia kembali ke rumah, saat ia masuk ke dalam kamar, ia melihat Melody sudah tertidur. Ia hanya bisa menghela nafas panjangnya, Melody terlihat sangat damai saat tertidur. Ia merasa tidak tega membangunkan Melody.


Dengan gusar, Yudha akhirnya hanya bisa tidur di samping Melody yang tertidur membelakanginya.


Ia ingin memeluknya. Ia ingin tidur sambil merengkuh tubuh Melody untuk melepaskan segala rasa lelah dan letihnya.


Namun tidak bisa.


Pukul 00.03.


Pukul 01.13.


Pukul 02.24.


Yudha tidak bisa tidur, ia menengok ke arah Melody. Melody tertidur dengan damainya. Jauh berbeda dengan dirinya yang kesulitan tidur.


Otaknya berputar-putar memikirkan banyak hal. Tubuhnya terasa lelah, tapi matanya enggan terpejam. Sungguh, sudah beberapa kali ia menengok ke arah istrinya itu. Ia ingin menyentuh istrinya, tapi ia urungkan sebelum menyentuhnya.


Ia ingin berbicara pada istrinya itu, tapi mulutnya mengunci. Tidak memiliki ijin akses bebicara.


Bukankah jika berdebat dengan Melody itu sangat menyebalkan? Meski menyebalkan, setidaknya ia tidak merasa sepi. Beda jauh dengan kediaman yang membingungkan dan membuat canggung.


Canggung?


Pada akhirnya ia menarik selimutnya dan mencoba memejamkan mata sebisa mungkin.


Ia ingin kalah dengan rasa lelahnya.


Ia ingin mimpi menyapanya.


.


.

__ADS_1


.


Yudha tertidur juga.


__ADS_2