
Normal time..
"Huwaaa.. ayah mertua bisa romantis seperti itu ya? Tiba-tiba berciuman. First kiss. Hihi, padahal dari cerita ibu sepertinya beliau sok kalem seperti itu." Kata Melody. Ia memegangi pipinya sendiri. Kisah masa SMA itu memang indah. Seperti memiliki tempat tersendiri.
"Ibu saja butuh beberapa saat untuk memahami salah satu peristiwa paling bersejarah di dalam hidup ibu, Mel... Oh iya, ngomong-ngomong soal berciuman, ciumapan pertamamu kapan dengan siapa, Mel?" Tanya Mikan.
Rasanya kepalanya baru saja kuar asap dan terdengar sebuah kereta uap lewat. Melody malu sendiri. Ia ingat soal bagaimana ia mendapatkan ciuman pertamanya dengan Yudha waktu itu.
"Ada apa, Mel? Mukanya sampai memerah seperti itu loh? Seperti kepiting rebus. Ayolah cerita, ibu saja juga menahan malau ketika menceritakan hal ini denganmu." Kata Mikan.
Benar juga. Lagian orang yang sedang diajak beecerita dengannya saat ini adalah ibunya Yudha, mertuanya, ibunya juga. Jadi tak masalah, kan? Hitung-hitung nostalgia masa indah dengan suami. Sekalian memperbaiki hati dari rasa kalut karena sampai siang menjelang azhar ini belum juga mendapatkan kabar tentang Yudha. Melody akan menghibur diri agar tidak stress. Demi janin yang ia kandung.
"Ano, ci-ciuman pertamaku de-dengan Yudha se-sewaktu berebut kado dan tak se-sengaja berciuman." Kata Melody malu-malu.
"Ya ampun. Kini ibu benar-benar kasihan dengan kalian berdua. Menikah karena dijodohkan saja sudah kejam. Kalian juga mengalami hal-hal yang kurang berkenan. Setiap wanita pasti menginginkan ciuman pertamanya dengan cara yang indah. Kau malah mendapatkannya dengan cara kecelakaan seperti itu. Maafkan anak Ibu, Mel! Yudha pasti banyak membuatmu kesulitan." Terang Mikan.
Melody menggelengkan kepalanya. Ia memegangi dadanya. "Tidak masalah meski itu kecelakaan dan tak sesuai dengan impianku, Ibu. Asal itu Yudha, asal itu dengan Yudha, maka aku tak mempermasalahkannya. Aku bersyukur karena ciuman pertamaku diambil olehnya. Aku justru akan merasa buruk jika bukan Yudha, orang pertama yang memberikanku pengalaman menarik dari sebuah ciuman pertama." Jelas Melody.
Meski ciuman waktu itu adalah sebuah kecelakaan saat berebut kado laknat dari Mia, sebuah lingeria hitam, transparan, dan sangat sexy, namun, kisah itu sangat manis dan terngiang di dalam ingatan. Sulit dilupakan, tidak, maksudnya tidak pernah sedikitpun berniat untuk melupakannya.
Yudha adalah hal yang indah dalam hidupnya.
"Pola pikirmu yang seperti ini pantas saja membuat anak itu klepek-klepek sama dirimu. Anak itu kalau mendengarkan pejelasannya langsung darimu pasti akan sangat bahagia. Hah, Yudha harus bersyukur memiliki istri seperti dirimu!" Kata Mikan.
Mereka saling lempar senyuman. Selalu ada kisah menarik meski banyak hal yang terjadi di dunia ini. Terselip manis di antara tumpukkan lembaran kisah yang tak sesuai dengan keinginan. Tuhan memang tahu mana yang terbaik untuk hambanya.
Pembicaraan soal masa lalupun kembali dilanjutkan. Kini setelah membahas kisah manis saar SMA, kisah pun berlanjut menuju ke tingkat yang lebih dewasa.
.
.
.
FLASHBACK ON
Setelah ciuman itu, Mikan dan Yoga menjadi semakin dekat. Yoga mengutarakan perasaanya pada Mikan bahwa dirinya juga menintai Mikan. Hal ini membuat Mikan menjadi sangat bahagia. Perasaannya terbalas. Dirinya mendapatkan balasan cinta dari Yoga, orang yang sudah sejak kecil ia cintai.
Rasanya tidak menyangka, tidak percaya juga bisa mengalami pengalaman manis seperti ini. Apa lagi Yoga itu dikenal dengan orang yang cukup kaku dan tak banyak bicara, tapi waktu kecil Yoga itu hangat. Berubah sifat dimulai sewaktu mendengar jika akan dijodohkan dengannya. Ya, waktu itu, Yoga kecil yang penuh canda tawa menjadi menghilang.
"Benar kan kau juga mencintaiku?" Tanya Mikan.
"Tentu saja benar. Aku ini sangat mencintaimu. Kenapa kau mengonfirmasinya lagi dan lagi, Mikan? Aku tidak percaya padaku? Kau menginginkan bukti lagi agar aku bisa membuatmu percaya jika aku, Kazehaya Yoga, sangat mencintaimu, Yamaguchi Mikan!" Kata Yoga yang kembali harus menegaskan pernyataannya berulang kali.
Yoga menyatakan cintanya pada Mikan dan mencium Mikan itu sudah terjadi lebih dari setengah tahun yang lalu, tapi Mikan setiap hari masih bertanya soal kebenaran dan ketulusan perasaanya kepada Mikan.
"Ya bukan artinya aku tak mempercayaimu, Kak Yoga. Aku kan hanya ingin tahu apa kau tidak akan merubah pikiran setelah waktu berlalu begitu lamanya. Aku kan ketar-ketir ketika ternyata kak Yoga ternyata hanya mempermainkanku atau cintanya hanya pas waktu itu saja, yang lain tidak. Bagaimana pun aku sudah kehilangan ciuman pertamaku denganmu. Jika sudah begini, siapa yang akan menikahi nanti saat aku tak jadi nikah denganmu? Itu akan menjadi kisah yang tragis untukku, Kak Yoga." Kata Mikan.
"Apa-apaan kau ini? Kau itu tidak diizinkan menikah dengan laki-laki lain! Kau hanya boleh menikah denganku saja! Enak saja kau ini! Jangan pernah berpikiran seperti itu!" Kesal Yoga.
__ADS_1
Mikan itu bukan anak yang bodoh. Ia adalah juara kelas di kelasnya. Juara asli bukan karena orang tuanya menyogok sekolah atau karena anak dari salah satu pemilik saham sekolah. Maka dari itu, mudah baginya untuk memahami apa yang saat ini sedang Yoga bicarakan kepadanya. Gampangnya, apapun yang terjadi, Yoga dan dirinya akan tetap menikah di masa depan.
Sekelibat bayangan dirinya dan Yoga mengenakan gaun dan pakaian pengantin muncul di dalam imajinasinya. Berjalan bergandengan dan penuh bahagia. Berciuman dan berirkar atas nama Tuhan.
"Dengarkan aku, Mikan! Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Nikamat apa lagi harus didustakan? Kita bahkan sudah diikat dam tali perjodohan. Kita juga sudah mendapat restu dari kedua orang tua kita. Kita hanya perlu menunggu umur agar usia kita legal untuk menikah." Tambah Yoga.
Mikan mendengar ketulusan di sana. Yoga sungguh ingin membina rumah tangga dengannya. Ia ingin memastikannya sekali lagi dengan menatap dalam-dalam dua mata Yoga. Cukup lama tak berkedip, Mikan tidak menemukan kebohongan di sana. Sebagai wanita yang lemah akan kasih sayang, maka air matanya yang terjatuh saat ini bukan salahnya, kan?
Yoga membantu menghapus air mata milik Mikan. Meski ini adalah kebahgiaan di dalam tangisan, tapi kasihan juga melihat Mikan sampai terbatuk-batuk seperti menahan sakit karena menangis.
Semua hal itu perlu diperlakukan dengan baik jika mengharapkan kisah yang lebih baik dari sekedar impian semu.
"Sungguh, kan? Kau sungguh akan menikahiku, kan?" Tanya Mikan. Meksi rasanya seperti wanita murahan yang mengharapkan belah kasihan laki-laki agar mau menikahinya.
Percayalah, jika bukan karena dirinya mencintai Yoga, ia pasti tak akan pernah melakukan hal seperti ini!
Kenapa wanita harus mengemis cinta seorang laki-laki?
Jika suatu saat Yoga tak akan menikahinya pun, ia masih memiliki segudang cara untuk bertahan dan mencari laki-laki lain yang kekayaanya melebihi Yoga. Meski ia tahu itu akan sangat sulit mengingat betapa ia sangat mencintai Yoga.
"Ya aku yang akan menikahimu! Aku janji padamu." Kata Yoga.
Mereka betsumpah kelinking. Yoga akan menikahi Mikan di masa depan itu adalah janjinya pada Mikan.
"Terima kasih banyak, kak Yoga. Aku merasa jauh lebih baik saat ini." Ucap Mikan.
Mikan mengangguk dan menyetujui perkataan Yoga. Ia juga butuh memperdalam hubungannya dengan Yoga juga.
Mereka pun berpelukkan.
.
.
.
Hubungan mereka berdua semakin hari, semakin dekat. Dalam kurun waktu itu juga, bisnis keluarga juga semakin maju dan berkembang. Tak hanya Yamaguchi Group, tapi juga Emperor Group.
Emperor Group menjadi raksasa bisnis di Jepang. Mengalahkan semua pesaing-pesaingnya. Akibat adanya hal ini pula, mulai muncul teror untuk menghantui keluarga kaya raya ini.
Mikan tidak tahu pasti penyebanb awalnya itu bagaimana. Ia hanya mendengarkannya dari Yoga jika keluarga Kazehaya menjadi target incaran banyak orang iri dengan keluarga Kazehaya dan juga mereka yang memiliki dendam pribadi dengan kakek Wijaya dan Emperor Groupnya.
Salah satu dendam pribadi itu muncul yang menurut Mikan itu tidak masuk akal dimana sudah sampai ke tahap ingin menghilangkan nyawa.
Setahu Mikan, calon ayah mertuanya itu adalah orang yang sangat baik. Namun, kenapa harus menerima percobaan pembunuhan? Kenapa seorang Kazehaya Wijaya yang sangat berwibawa itu ingin dibunuh? Ingin dilenyapkan.
Untuk seorang Mikan yang belum resmi menjadi menantu keluarga Kazehaya, ia tak bisa tinggal diam dan hanya menutup mata akan berita tidak menyenangkan ini. Ia bekerja keras agar bisa tahu apa yang terjadi dengan keluarga Kazehaya dan Emperor Group-nya.
Sembari mendekatkan diri dengan Yoga, Mikan kini sudah kuliah di Universitas Kazehaya. Ia mengambil jurusan Manajemen, sementara Yoga, belum lama ini lulus dan mendapatkan gelar sarjana ekonominya sebagai lulusan terbaik sekampus.
__ADS_1
Yoga tidak bisa menjadi polisis seperti impiannya. Mikan tahu jika menjadi polisi itu tak mungkin bisa Yoga raih karena Yoga adalah anak tertua dari keluarga Kazehaya yang memiliki tanggung jawab besar untuk mengembangkan keluarga Kazehaya dan Emperor Group menjadi baik dan lebih baik lagi.
Semakin maju dan kaya raya?
Itu adalah bonusnya.
END OF FLASHBACK
.
.
.
Normal time..
"Loh? Lalu bagaimana dengan Paman Orion, Bu? Apa beliau kuliah juga?" Tanya Melody karena sedari tadi tidak mendengar nama Orion disebut oleh ibunya.
"Dia sekolah di luar negeri semenjak masuk SMP. Ibu Chiyo yang menginginkan hal itu padanya. Kurang paham apa tujuannya. Yang jelas, saat itu memang nenekmu masih tinggal lebih banyak di luar negeri. Mungkin beliau hanya ingin agar Orion bis berbahasa Ingriss dengan lancar. Kau tahu sendiri kan bagaimana cara orang dari negara ini berbicara dalam bahasa Inggris. Japangriss itu benar-benar sulit dipahami oleh para foreigner. Dimana dalam bahasa Jepang itu hampir tidak ada huruf mati. Misal kata Black maka dalam bahasa Inggris Jepang akan dibaca menjadi Buraku. Contoh lain seperti mcdonald maka dibaca menjadi makodonarudo." Jelas Mikan.
Melody terkekeh. "Memang benar sih. Memang seperti itu lidah kita. Menjadi sangat sulit untuk dipahami orang asing atau pendatang. Yudha hebat bisa menguasai enam bahasa. Bahasa Jepang, Inggris, Mandarin, Spain, Rusia, dan Melayu meski belum terlalu lancar."
"Dia terlahir istimewa. Ibu bahkan tidak tahu harus bagaimana menghadapi rasa penasaran anak jenius seperti dirinya." Kata Mikan.
Melodu tahu, memang benar, kadang rasa penasaran Yudha memang membuatnya tak mengerti. Bahasa yang Yudha gunakan dalam menjelaskan atau pengandaian yang Yudha buat, membuatnya bingung dan harus belajar memahaminya berkali-kali agara bisa mengerti maksud Yudha itu bagaimana.
Jika dirinya baru mengenal sosok Yudha, maka ia akan sering salah paham pada Yudha. Yudha juga kalau bicara itu suka tidak disaring, terlalu jujur. Bayangkan, orang yang terlalu jujur itu kadang malah membuat sakit hati. Sebagai istri, ia memang suka sakit hati, tapi tak benar-benar ia masukan ke dalam hati karena ia tahu, Yudha hanya kurang pandai membangun suasana percakapan yang nyaman. Untuk itu, ia lebih suka mengajak Yudha berdebat dan akan berakhir dengan candaan setelahnya.
"Ibu..." Panggil Melody.
"Hm? Kenapa, Mel? Kau ingin bertanya sesuatu?" Tanya Mikan.
"Menurut ibu, ayah mertua itu bagaimana orangnya? Ya seperti yang ibu jelaskan tadi, aku tahu dia tidak terlalu beda jauh sifatnya dengan Yudha maupun Alvin soal kekakuan ala Yudha, ramah ala Alvin. Maksudku, ayah mertua yang lebih dalam lagi." Kata Melody yang kebingungan untuk memilih bagaimana harus mengungkapkan pertanyaan yang mengganjal di dalam otaknya.
Ia membahas masa lalu dengan Yudha, dengan cerita yang disimpulkan secara umum dan garis besarnya oleh Yudha. Ia tak tahu bagaimana kisah masa lalu secara detail seperti yang sang ibu Mertua katakan kepadanya.
Terutama soal masalah ibunya Alvin, Kurenai. Bagaimana orang itu bisa hadir ke dalam kehidupan ibu dan ayah mertuanya. Bukankah ibu dan ayah mertuanya itu saling mencintai? Ini diungkapkan langsung oleh ibu mertuanya sendiri. Tidak mungkin kan cerita itu bohongan? Sebagai manusia biasa, ia bahkan bisa merasakan ketulusan dan kejujuran dari nada bicara Mikan, sang ibu mertua yang amat sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
Mendengar pertanyaan Melody yang menurut Mikan jika Melody saat ini sedang menahan diri agar tidak menyakiti perasaannya itu membuatnya merasa senang. Kenapa bisa seperti itu? Hal itu tentulah karena ia merasa jika Melody itu sangat baik dan pengertian terhadapnya. Melody sangat memikirkan perasaanya yang mana itu lebih dari cukup membuatnya tahu jika Melody adalah istri idaman yang paling cocok untuk Yudha.
Mertuanya saja dijaga hatinya, apa lagi suaminya?
Seperti itulah kira-kira rasa yang muncul di benak Mikan saat ini. Ia merasa jika Melody sangat peka soal perasaan. Melody adalah pasangan yang cocok untuk Yudha yang kaku dan kurang begitu bisa mengekspresikan perasaannya.
"Kau ingin bertanya soal Kurenai, kan?" Tebak Mikan.
Melody kaget karena ibu mertuanya bisa menebak isi kepalanya, ibu mertuanya bisa menebak apa yang ingin ia pertanyakan, ibu mertuanya bisa menebak apa yang paling membuatnya penasaran.
Mengenai kemunculan Kurenai di tengah kisah cinta ibu dan ayah mertuanya yang menurutnya itu sangat romantis seolah terasa tidak mungkij untuk 'disusupi' oleh orang lain.
__ADS_1