
Chapter sebelumnya udah aku tambahi. Silahkan kalau mau baca. Tinggal dilanjutkan saja.
Malam ini perasaanku embuh. Keponakanku udah keluar dari ruang operasi jam setengah sepuluhan tadi. Aku pernah menunggu ayahku operasi sebelum ini. Aku rasa, aku ini sangat kuat.
So, buat kalian yang mengalami masa sulit, gambare!
.
.
.
Normal Time..
Suasana kamar Melody semakin menghangat karena ocehan yang ibu mertua ketika bercerita mengenai kisah masa lalu. Suara Mikan itu sangat lembut. Melody pikir jika sang ibu mertua itu adalah mantan penyanyi seriosa.
"Ibu sungguh bermain seperti itu dengan ayah mertua dan paman Orion?" Tanya Melody yang tak menyangka jika mertuanya yang anggun itu akan bermain petak umpet dan memburu capung dan kupu-kupu.
"Hn. Ibu dan mereka benar-benar melakukannya. Apa kau pikir Old Money seperti kami ini tidak memiliki masa kecil seperti kebanyakan anak-anak? Hei, kami juga melakukan hal yang sama, Mel. Bahkan pamanmu Orion suka menangkap katak kecil ketika kami berlibur di Villa keluarga yang ada di Narita. Di belakang rumah ada sungai, kataknya banyak, anak kecil seperti kami pun tertarik untuk bercengkraman dengan alam juga termasuk menangkap katak." Jelas Mikan.
"Jika ibu dan mereka bisa seperti itu, lalu kenapa Yudha penuh dengan les, les, les, dan les. Yudha bilang, dia banyak menerima bimbingan belajar bisnis sejak kecil. Tak hanya itu, piano, biola, dansa, panahan, berkuda, renang, Yudha juga mengusainya. Kenapa Yudha tidak menangkap katak, Bu?" Melody merasa kasihan dengan Yudha yang memiliki masa kecil kurang bahagia karena beban menyandang nama Kazehaya sebagai marga keluarga.
"Yudha memang berbeda. Dia tidak mengalami apa yang orang tuanya alami. Dia lahir di masa dimana dia dilarang untuk bersantai. Dia sangat mempercayaimu ya sampai bercerita soal masa kecilnya padamu." Kata Mikan.
"Habis itu dia minta jatah." Kata Melody. Jika ingat, kesal juga. Masalahnya Yudha ceritanya setengah-setengah. Jadi dia harus merayu Yudha berkali-kali.
"Apakah anak ibu yang kaku itu memang bisa semesum itu? Rasanya masih saja sulit percaya meski dia menunjukkannya di hadapan ibu. Hah, mencumbumu di depan umum saja dia tidak malu." Kata Mikan.
Ia ingat jika Yudha pernah mencium bibir Melody di depan banyak orang ketika mau rapat penentuan CEO Emperor Group. Belum lagi soal Yudha yang menyesap leher Melody dengan nafsunya.
Itu Yudha anaknya, kan?
"Yudha lebih dari sekedar mesum, Bu. Tapi bejat!" Kata Melody.
Tingkat kemesuman Yudha berada di tingkatan yang sangat tinggi dan tak biasa. Melody sampai kwalahan menghadapi suaminya yang super tampan itu.
"Tapi kau mencintainya kan meski bejat sekalipun?" Tanya Mikan.
"Sangat..." Jawab Melody mantap. "Kalau tidak cinta, perutku tidak akan membesar, Bu." Lanjutnya.
Mikan tertawa. "Kau tahu, Mel? Walau tak cinta sekalipun, wanita juga tetap akan bisa hamil asal telur dibuahi oleh spermma laki-laki." Jelas Mikan.
Apa Melody tidak tahu dasar pengetahuan ini?
"Iya sih. Tapi aku pernah bilang pada Yudha, apa dia akan menghamiliku sebelum menikah? Yudha bilang, meski aku telanjangpun, dia akan memilih mengambil selimut untuk menutupi tubuhku dan tak akan menyentuhku sebelum menikah." Kata Melody.
"Dan kau mempercayainya?"
"Ya, aku mempercayainya."
"Tapi laki-laki itu punya nafsu, Mel. Bisa saja dia tergoda setan dan tak kuasa menajan nafsunya, kan?" Mikan hanya realistis saja meski tahu jika Yudha itu anaknya. Yudha tetaplah seorang laki-laki normal.
"Jika itu Yudha yang bilang, maka aku tanpa ragu akan mempercayainya, Ibu." Senyum Melody.
Mikan ikutan tersenyum. Ia kembali harus bersyukur karena Melody yang menjadi menantunya.
"Oh iya, lanjut Bu, aku penasaran soal keinginan ibu untuk membatalkan pertungan ibu dengan ayah mertua." Kata Melody.
"Baiklah, Ibu akan melanjutkannya."
.
.
.
FLASHBACK'S ON
MIKAN'S POV
Aku adalah Yamaguchi Mikan, anak kedua dari keluarga Yamaguchi. Usiaku 16 tahun, kelas X SMA. Aku bersekolah di SMA International Kazehaya yang terkenal itu. Tentu saja aku juga satu sekolah dengan kak Yoga.
Sebagai putri tunggal, aku jelas tidak akan memiliki kesempatan untuk memangku jabatan sebagai penerus keluarga. Keluarga Yamaguchi akan diteruskan oleh kakaku, Yamaguchi Tadashi.
Apa ini artinya aku dibuang dari keluarga?
Kasarnya bisa jadi. Namun, bukan seperti itu. Rumit untuk dijelaskan. Ya bisa juga dibilang nasib sebagai anak perempuan yang sulit untuk menjadi penerus keluarga. Toh, sepertinya aku juga tak memiliki kemampuan hebat seperti kak Tadashi. Dia dianugrahi kemampuan bisnis sama seperti ayahku. Sementara aku, aku ini gadis lemah yang lebih suka dengan bunga dan dunia masak memasak.
Aku bahkan mengikuti ekstra tataboga di sekolah.
Dan ini adalah hasilnya!
Siang menjelang sore ini aku membuat onigiri isi tuna di dapur sekolah.
__ADS_1
Onigiri atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan nasi kepal adalah salah satu makanan khas Jepang yang tidak kalah terkenal dari sushi. Kuliner ini berupa nasi yang dipadatkan saat masih hangat hingga berbentuk segitiga kemudian di isi dengan berbagai macam isian, dari mulai ikan, tuna, telur dan sebagainya.
Yang aku buat saat ini adalah onigiri isi ikan tuna.
Dikenal juga dengan nama lainĀ omusubi, istilah yang kabarnya dulu digunakan kalangan wanita di istana kaisar untuk menyebut onigiri. Onigiri dimakan dengan tangan, tidak memakai sumpit.
Tara, onirgiri buatanku sudah selesai aku masukkan kedalam kotak makan cantik berhias seranting bunga sakura.
Aku bersiap ke gym sekolah untuk mengantarkan onigiri buatanku untuk kak Yoga. Saat ini, dia sedang ikut latihan basket untuk persiapan mengikuti turnamen interhigh antar sekolah SMA sekota Tokyo.
.
.
.
Aku membawa kotak makanan ini dengan riang.
Kotak makan ini aku rangkapi dengan kain berwarna merah muda. Warna kesukaanku. Hei, jangan mengumpat jika warna merah muda itu norak ya! aku ini hanya gadis normal yang menyukai warna lembut seperti merah muda. Apa lagi warna ini adalah warna yang sama dengan warna bunga nasional negeraku tercinta, bunga sakura.
Setelah keluar dari kawasan dapur sekolah, aku akan melewati taman samping sekolah, lab IPA, taman lagi, lalu sampailah di gym.
Oh iya, gym sekolah ini sangatlah besar. Luas dan nyaman. Tak hanya untuk kegiatan olahraga seperti basket, voli, lempar bola, tapi juga untuk upacara penerimaan siswa baru dan pelepasan ketika kakak kelas lulusan.
Sekolah yang hebat bukan?
.
.
.
Hah, akhirnya sampai juga di depan gym. Lelah juga berjalan dari dapur sekolah sampai ke gym. Apa aku ini kurang olahraga? Lain kali aku akan menyempatkan jogging atau senam dah.
Aku masuk ke dalam gym dan melihat para anggota klub basket sedang istirahat. Kau menilik ke jam tanganku, sudah pukul empat sore, pas sesuai dugaanku. Waktunya beristirahat.
Ketika aku menampakkan diri di gym, semua orang yang ada di dalam gym itu menoleh ke arahku. Mereka swit-swit dan meledeki aku. Aku merah padam. Akhirnya kak Yoga menghampiriku dan godaan dari mereka semakin menggila.
Aduh, aku sungguh sangat malu.
BtW, semya orang yang ada di sana sudah tahu jika aku dan kak Yoga memiliki ikatan hubungan yang tidak sederhana. Meski tak diumumkan secara masiv, tapi mereka sebagian ada yang tahu jika aku ini adalah tunangan kak Yoga. Rekan bisnis keluarga pasti adalah alasannya.
Tidak mungkin kan kak Yoga yang mengatakan hal ini kepada mereka?
Tak apa.. Tak mengapa.
"Kita ke taman saja yang sepi!" Ajak Kak Yoga.
Tanpa menunggu persetujuanku, dia seolah 'menyeretku' untuk segera menjauh dari Gym. Lagi-lagi suara godaan teman-teman kak Yoga mendominasi langkah kepergian kaki kami.
Sesampainya di taman dekat bangunan gym, kak Yoga duduk di bangku taman. Ia juga memintaku untuk duduk di dekatnya.
"Ada apa menemuiku?" Tanya kak Yoga kepadaku.
Aku memangku kotak makanan berisi onigiri yang aku bawa. Aku membukan kain lapisannya dan juga membuka kotak makanannya. Kemudian aku menunjukkan isinya kepada kak Yoga.
"A-aku membuat ini untuk kakak." Jawabku.
Aku melihat kak Yoga hanya memandang datar onigiri buatanku. Aku pun langsung berubah ekspresi. Aku menundukkan wajahku. Tak hanya dia yang mengabaikanku, tapi makanan buatanku pun dia tidak sudi melihatnya ya?
Namun, tak aku duga ketika tangan itu mengambil satu kepal onigiri yang ada di dalam kotak makanan yang aku bawa.
Aku mengikuti gerak tangannya. Aku melebarkan mataku sewaktu mulut tipis itu terbuka dan memakan onigiri buatanku.
Dikunyah beberapa kali dan ditelan. Aku bisa melihat gerak periodiknya dan jakunnya yang bergerak.
Kak Yoga kembali memakannya lagi. Aku tak berkomentara apa-apa. Hanya diam sambil melihatnya menghabiskan onigirinya.
"Apa dia menyukainya? Apa rasanya enak? Dia bahkan sampai menghabiskan satu kepal onigiri buatanku." Batinku.
Aku harap-harap cemas untuk menunggu komentar darinya.
"Jika kau mengurangi sedikit garamnya, maka rasanya akan berbeda." Kata Kak Yoga.
"Eh?" Aku langsung mengambil onigiri lain dan dengan cepat memakannya dan UAAASIIIINNNNN.
Aku langsung melepehkan onigiri buatanku. Gila, ini berapa kilo garam yang aku masukkan ke dalam onigiri buatanku sih?
Asin bangeeeeet...
Herannya, kak Yoga sama sekali tidak nampak terganggu dengan rasa super asin ini. Dia biasa saja.
Aku membuka minumen mineral yang tadi aku bawa bersama kotak makanan ini.
__ADS_1
"Kak Yoga minumlah dulu, tadi pasti sangat asin!" Pintaku, aku menyodorkan botol minuman ini pada kak Yoga.
Kak Yoga meminumnya beberapa teguk kemudian memberikannya kepadaku. Aku juga melakukan hal yang sama. Aku merasa jauh lebih baik usai minum.
"Ini makanan yang tidak layak komsumsi!" Gumamku dan memilih untuk mengemas kembali onigiri buatanku.
Lain kali, aku harus mencicipinya sebelum memberikannya kepada orang lain terutama kepada orang yang disayangi.
"Ada apa kau mencariku? Tidak mungkin kan hanya sekedar untuk mencicipi onigiri asin buatanmu?" Tanya kak Yoga.
Aku sedikit gemetar. Gara-gara itu, aku sampai kesulitan mengikat kain pelapis kotak makananku.
"Ano..." Aku harus memulainya darimana?
"Apa?" Tanya kak Yoga ketus.
Dia bahkan bersikap dingin kepadaku. Begitu ya? Aku takut dan gemetar seperti ini pun, sepertinya kau tak akan peduli kepadaku.
Hmm..
Ya sudah aku memang tak memiliki harapan apa-apa lagi. Sebelum semuanya memburuk, aku harus menyudahinya.
"Kak Yoga, aku ingin membatalkan perjodohan di antara kita." Kataku.
Kak Yoga belum bereaksi. Dia hanya menatapku saja. Haruskah aku mengulanginya?
"Kak Yoga, ayo kita sudahi saja perjodohan ini!" Kataku.
"Kenapa?" Tanya kak Yoga.
Kenapa?
Ini orang dari sekian banyak kemungkinan pertanyaan yang bisa disampaikan, kenapa malah hanya bertanya kenapa?
Bukankah dia paling tahu alasannya?
Aku memiliki pemikiran ini itu gara-gara siapa? Gara-gara dirimu, kak Yoga! Meski aku tak ingin memutuskan hubungan kita, tapi karena melihatmu terbebani, maka aku siap melepaskannya demi dirimu!
"Aku sudah lelah saja." jawabku sambil tersenyum dipaksakan.
Bukan lelah, tapi aku tak bisa melihatmu menderita.
"..." Kak Yoga diam saja. Dia lagi-lagi hanya menatapku.
Maksudnya aku disuruh membuat alasan lagi ya?
"Kisah perjodohan di masa muda itu sudah tidak jaman. Masa remaja seperti kita paling seru itu untuk mengejar impian. Kak Yoga menyukai basket, kak Yoga juga bercita-cita untuk menjadi seorang polisi. Jika masih terikat dalam perjodohan, maka hal ini hanya akan menghambatmu saja." Kataku.
"Siapa bilang perjodohan kita menghambatku?" Tanya kak Yoga.
Sumpah ini orang maunya apa sih?
Luapkan sajalah! Aku juga sudah tak tahan terus-terusan seperti ini. Mumpung bisa berbicara berduaan, maka aku akan mengatakan segala unek-unek yang ada di kepalaku.
"Kak Yoga, aku tahu kok jika hanya aku yang menyambut bahagia perjodohan di antara kita. Kak Yoga pasti juga sudah tahu jika aku memiliki perasaan lebih kepada kak Yoga dari kecil. Kak Yoga bukan orang bodoh yang membuta akan lingkungannya... Namun, meksi aku sangat mencintai kak Yoga, tapi aku tak kuasa terus seperti ini. Mencoba tetap beridiri saat selalu kakak abaikan itu menyakitkan." Aku mulai menjelaskan.
"..." Kak Yoga hanya menyimak saja.
"Lagipula, setelah aku pikir-pikir, kakak juga menderita akan perjodohan ini. Aku tak mau melihat orang yang aku cintai menderita karena diriku. Jadi, ayo kita sudahi saja perjodohan kita! Aku akan bilang kepada orang tuaku jika aku yang tak mengiginkan perjodohan ini agar kakak tidak kena marah paman Wijaya." Kataku.
"Jangan asal bicara, Mikan!" Kata Kak Yoga menyesu.
Suaranya terdengar kesal di telingaku. Ada apa? Kenapa dia marah? Apa karena aku susah cerewet?
Dulu dia bilang suaraku ini sangat cempreng dan mengganggu telinganya saat berbicara keras.
"Kak Yoga, ini demi kebaikanmu!" Kataku. Lha memang benar, kan? Semua yang aku lakukan adalah demi kebaikan kak Yoga!
"Kau harus bagaimana lagi, Kak?" Sial aku mulai menangis. Air mataku keluar juga. Aku tak bisa mengendalikan emosiku. "Aku ini sangat mencintai kakak dan begitu bahagia ketika akhirnya aku bisa memiliki ikatan yang lebih dekat lagi dengan kakak. Namun, kakak tidak. Aku tak bisa terus bertahan jika kakak tak sejalan denganku. Jadi, sekali lagi, ayo kita akhiri perjodohan kita!" Tambahku mantap.
"Tidak! TIDAK! Kau jangan terlalu menduga-duga yang tidak-tidak! Kau akan tetap menjadi tunanganku dan kita akan menikah di masa depan!" Kata kak Yoga.
Aku tak mengerti. Sungguh. Aku sungguh tidak mengerti.
"Maaf membuatmu berpikir seperti ini. Aku seperti ini hanya sedang berpikir bagaimana aku harus memperlakukanmu setelah tahu jika teman masa kecilku adalah calon istriku di masa depan. Aku akan memperhatikan tindakanku. Tolong jangan bahas lagi soal pembatalan perjodohan atau sejenisnya!" Kata Yoga.
"..." Kini gantian aku yang tak tahu bagaimana harus menanggapinya.
"Aku mencintaimu, Mikan!" Dan aku baru saja sadar jika aku kehilangan ciuman pertamaku olehnya.
END OF MIKAN'S POV
FLASHBACK OFF
__ADS_1