
Like. Komen. Share itu GRATISSS!
Sesampainya di kota Tokyo, mobil yang dibawa Shuhei itu tidak langsung pulang ke kediaman Kazehaya. Mobil itu melesat menuju rumah sakit Kazehaya International. Ridak memiliki hasrat untuk pulang ke rumah. Kakek Wijaya jauh lebih penting.
Rasa khawatir dan tidak tenang semakin besar terasa seiring denting waktu yang berganti. Ingin segera bertemu, ingin segera melihat, ingin segera tahu dengan mata kepala sendiri tentang apa yang sedang terjadi.
Kakek Wijaya kecelakaan?
Mendengar berita seperti itu saja sudah membuat kalut di dada. Ditambah koma?
Koma?
Tidak sadar dalam waktu panjang disebabkan oleh penyakit atau cedera. Koma adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Penderita yang mengalami koma tidak dapat merespons terhadap lingkungannya sama sekali. Itulah penjabaran dari kata koma menurut otak jenius Yudha.
Saat ini sang kakek sedang mengalami koma. Itulah sekilas info yang didapatkan dari ibunya, Mikan. Sekilas info yang membuat otak dan hatinya tak menentu.
Sebagai seorang cucu, tentu saja Yudha sangat khawatir. Meski ia suka bermain permainan percaturan hidup dengan sang kakek, meski sang kakek sering bermain licik, meski sang kakek suka seenaknya saja dan egois, tapi beliau tetaplah kakeknya. Kakeknya yang sangat ia sayangi. Kakeknya tak hanya seorang kakek baginya, tapi orang tua asuh yang membesarkan dan mendidiknya hingga menjadi sosok seorang Yudha saat ini.
Yudha yang saat ini adalah hasil dari 'kasih sayang' sang kakek yang tak pernah lelah mengajarinya dalam bab kehidupan. Kakeknya tidak memanjakannya, kakeknya mengajari bagaimana caranya bertahan hidup dan mempertahankan apa yang dimiliki.
Jika ingat bab mempertahankan apa yang dimiliki, Yudha kini kembali menyadari hal yang paling penting dari semua hal yang sudah ia pelajari. Ia memang harus mempertahankan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak ingin kehilangan apa yang menurutnya penting dalam hidupnya.
Apakah itu artinya ia akan kehilangan sosok figur seorang kakek dalam hidupnya karena ia terlambat menyadari bab ini?
Tidak!
Itu kesimpulan yang terlalu cepat. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia akan berusaha keras untuk menjaga kakeknya. Kakeknya belumlah meninggal, masih koma, ada harapan untuk hidup. Namun tak hanya itu, ia akan berlanjut untuk menjaga semuanya. Melody, ibunya, neneknya, dan keluarganya.
"Mereka sudah berani bermain lebih gila dari sebelumnya. Sedari awal hanya aku dan kakek yang mereka incar nyawanya. Adakah sesuatu hal yang besar akan terjadi jika salah satu di antara kami mati? Apakah posisi CEO itu saja yang mereka incar? Ataukah ada agenda yang lebih besar dari itu? Sial, otakku buntu, aku terlalu kepikiran kondisi kakek." Batin Yudha.
Mobil yang dibawa Shuhei terparkir rapi di parkiran rumah sakit. Yudha, Melody, Mia dan Shuhei berjalan cepat menuju ruang inap kakek Wijaya.
Yudha sedikit menurunkan tempo langkahnya mengingat Melody yang sedang hamil. Terlalu banyak pikiran mengenai kakeknya membuatnya hampir melupakan Melody. Ia meminta maaf akan hal itu pada Melody. Melody memakluminya, Melody sangat tahu bagaimana Yudha yang begitu sangat menyayangi sang kakek. Rasa khawatir Yudha pastilah sangat besar.
Melody bukanlah istri yang manja. Ia tahu dengan baik kapan harus menempatkan diri.
.
.
.
Dalam lorong rumah sakit, di depan kamar inap kakek Wijaya, Mikan, ibunya Yudha duduk di kursi tunggu. Ia menunduk dan menangis sesegukkan. Yudha menghampiri sang ibu dan berjongkok di hadapannya.
"Ibu.." Panggil Yudha.
Mikan menengadah menatap orang yang memanggilnya. Suara anaknya yang dengan mudah bisa ia kenali. Sang anak menatapnya sendu. Merasa ingin mendapatkan sandaran, iapun memeluk anak semata wayangnya itu.
"Yudha, syukurlah kau datang dengan selamat." Suara Mikan ikutan gemetar.
"Aku datang, Bu." Yudha melepaskan pelukkannya pada sang ibu, lalu menghapus air mata ibunya. "Sudah jangan menangis lagi, Bu! Aku yakin kakek akan baik-baik saja." Kata Yudha.
Mikan menangguk. Ia lalu menoleh ke arah Melody yang berdiri di samping Yudha. Ia meraih tangan Melody. Meminta Melody agar duduk di sampingnya. Melody menurutinya. Mereka lalu berpelukkan sambil duduk.
Mia dan Shuhei hanya diam melihat tiga orang yang sedang saling menguatkan. Saat seperti ini memang membutuhkan sokongan sandaran agar jiwa dan hati semakin bertambah kuat untuk bertahan melewati segala ujian yang datang.
"Menantuku sayang, kau pasti lelah, kan? Kau baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh. Bagaimana dengan kandunganmu? Kau baik-baik saja?" Tanya Mikan.
Mikan memang sangat khawatir mengingat Melody yang sedang hamil. Mengandung saja sudah menguras banyak tenaga, apa lagi baru saja melakukan perjalanan dari Miyagi ke Tokyo yang membutuhkan waktu sekitar lima jam. Ditambah lagi, harus menanggung banyak pikiran karena kabar kecelakaan kakek Wijaya. Melody pasti lelah jiwa dan fisiknya.
__ADS_1
Melody memegang kedua tangan mertuanya itu. Ibu mertuanya masih saja sempat menghawatirkannya. Ibu mertuanya memanglah ibu mertua yang paling baik.
"Ibu, aku baik-baik saja. Kandunganku juga baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir. Aku malah lebih menghawatirkan ibu. Ibu sudah makan?" Tanya Melody.
Mikan menggelengkan kepalanya. "Ibu belum sempat makan. Tadi ibu mendapatkan kabar yang sangat mendadak dari polisi tentang kecelakaan kakek mertuamu." Jawab Mikan.
"Ibu, dimana nenek?" Tanya Yudha.
"Ah, nenekmu ada di dalam menemani kakekmu, Yudh." Jawab Mikan.
"Aku akan menemui nenek di dalam." Kata Yudha. Ia lalu menatap Melody. "Mel, titip ibu ya." Lanjutnya.
"Iya, aku akan menjaga ibu. Kau temuilah nenek! Beliau pasti sedang menangis di dalam." Kata Melody.
Yudha mengangguk dan berjalan masuk menemui sang nenek.
"Ibu, ayo ke kantin! Ibu perlu makan." Ajak Melody.
"..." Mikan masih belum selera makan. Masih kacau pikirannya.
"Bu, aku saat ini sangat lapar. Ibu tidak ingin menemaniku makan dengan cucu-cucu ibu?" Tanya Melody.
"Cucu-cucu? Apa maksudmu itu, Mel?" Tanya Mikan tak paham.
"Aku dan Mia memeriksakan kandunganku, aku hamil kembar ibu. Ibu akan memiliki cucu dua sekaligus nantinya." Jawab Melody. Ia tersenyum lembut menatap ibu mertuanya itu.
Mikan menarik senyumannya dan kembali memeluk Melody.
"Benarkah itu?" Tanya Mikan yang masih tak percaya. Ia harus memastikan kabar bahagia ini sekali lagi.
Melody mengangguk. "Benar, Bu. Tidak mungkin kan dalam situasi ini aku membohongi ibu?"
"Ibu sangat bahagia, Mel. Di saat ada ujian menerpa, Tuhan hadirkan pelipur lara. Arigato, Melody-chan." Kata Mikan.
Bagaimana tidak, ia sendiri saja sebenarnya juga kehilangan selera makannya. Tapi ia tidak bisa membiarkan mertua yang begitu sangat menyayanginya itu tidak makan. Jika sampai sakit, kasihan Yudha. Yudha pasti akan sangat kerepotan.
"Baiklah. Ayo kita makan bersama-sama! Shuhei-kun dan Mia-chan juga sekalian." Kata Mikan.
Mia dan Shuhei hanya mengangguk dan mengekor di belakang Melody dan mertuanya yang beranjak berjalan menuju kantin rumah sakit.
.
.
.
Di dalam kamar inap kakek Wijaya..
Kamar inap yang dipakai untuk merawat kakek Wijaya adalah kamar inap ICU khusus untuk keluarga Kazehaya. Kamar inap terbatas dengan kelas VVIP. Perlengakap fasilitas rumah sakit super lengkap dan juga ditangani dokter-dokter ahli di bidangnya.
Penderita koma memang harus dirawat di ruang ICU, agar kondisinya dapat terpantau secara intensif. Selama dirawat di ruang ICU, penderita koma dapat dipasangkan alat bantu pernapasan untuk menjaga laju pernapasannya.
Penderita koma juga akan dipasangkan selang makan dan infus untuk memasukkan nutrisi dan obat-obatan. Selain itu, dokter juga akan memasang monitor denyut jantung serta kateter urine.
Yudha melihat semua alat-alat itu melekat di tubuh renta sang kakek. Hatinya terasa miris dan teriris melihat kondisi sang kakeknya yang seperti ini. Lemah tak berdaya.
Sosok kakek yang memiliki ambisi besar dan sangat terkenal dengan kekokohannya, kini terbaring diam di atas ranjang pasien. Kakek yang ia kenal sebagai sosok yang kuat, kini nampak tak kuasa untuk sekedar membuka matanya.
Semakin miris ketika Yudha melihat tubuh kurus sang nenek yang duduk terdiam sambil terus memandang ke arah sang kakek.
__ADS_1
Neneknya nampak tak melepaskan genggamannya pada sang kakek. Air mata tak terhapus dari pipi keriputnya. Mata senja neneknya nampak begitu sendu. Mengetahui fakta jika sang nenek sangat mencintai kakeknya, rasanya membuat hati memilu. Tak hanya sedih karena sang kakek koma, tapi neneknya juga pasti sangat ketakutan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada sang kakek.
"Anata, kau harus sadar! Kau harus bangun! Jika seperti ini terus, bagaimana aku bisa menjaga keluarga kita?" Gumam Nenek Chiyo.
Anata: Sayang, sebenarnya artinya itu kamu, tapi kalau dipakai dalam konteks orang yang sudah menikah, maka bisa diartikan sebagai panggilan sayang.
"Kakek akan segera sadar! Selama menunggu kakek sadar, aku yang akan menggantikan menjaga keluarga ini. Nenek tidak perlu khawatir!" Kata Yudha.
Nenek Chiyo menoleh ke arah sumber suara yang cukup mengagetkannya. "Yudha? Cucuku, kapan kau datang? Dimana cucu menantuku?" Tanya Nenek Chio.
Yudha berjalan menedat, lalu ia menyentuh bagu neneknya. "Baru saja, Nek. Melody pergi ke kantin bersama ibu. Nenek pasti juga belum makan, kan?" Kata Yudha.
"Bagaimana bisa nenek menelan makanan jika kakekmu saja seperti ini? Kau saja yang harus makan, Yudh."
"Aku tidak akan bisa makan jika nenek tersayangku tidak mau menemaniku makan."
"Jebakkan yang sama sedari dulu. Kau tidak pernah berniat mengganti caranya?"
"Aku selalu berhasil dengan cara seperti ini, Nek. Aku cukup percaya diri."
"Bocah nakal!"
Yudha tersenyum. "Aku akan mengirim pesan ke Melody untuk membungkus makanan untuk nenek. Nenek menginginkan sesuatu?" Tanya Yudha.
"Kakekmu sangat menyukai onigiri isi tuna. Nenek jadi ingin memakannya." Jawab nenek Chiyo.
"Baiklah, aku akan memesankannya untuk nenek." Kata Yudha.
Yudha mengirim pesan kepada Melody untuk memesankan makanan untuk dirinya dan sang nenek. Sekali lagi, ia tidak bisa membiarkan semua orang tumbang karena kecelakaan yang menimpa sang kakek.
Yudha mengajak sang nenek duduk di kursi tamu yang ada di dalam ruangam inap ICU itu. Banyak hal yang harus ia tanyakan pada neneknya perial kecelakaan kakeknya.
"Jadi tadi pagi kecelakaannya terjadi, Nek?" Simpul Yudha.
"Iya, saat kakekmu dan Aron pergi berangkat ke kantor." Kata Nenek Chiyo.
"Adakah CCTV yang merekam kejadian itu?" Tanya Yudha.
"Nenek belum mendapatkan bagaimana kronologi kecelakaannya dari polisis. Yang nenek tahu, kakekmu sudah masuk suang oprasi dan Aron menghilang. Aron tidak ada dalam mobil yang sama dengan kakekmu. Padahal nenek yakin, mereka berangkat bersama." Jawab Nenek Chiyo.
"Harusnya rumah sakit tidak bisa sembarangan memutusakan oprasi pada pasien. Siapa yang menanggung jawab soal oprasi ini, Nek?" Tanya Yudha.
"Alvin. Alvin yang menanda tangani prosedur oprasi untuk kakekmu. Syukurlah Alvin sedang mendaptkan jadwal jaga UGD tadi pagi, jadi ia bisa mengambil keputusan yang tepat." Kata Nenek Chiyo.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Lalu, dimana Alvin saat ini, Nek? Aku di depan tidak melihatnya. Apa dia sedang berjaga di UGD?" Tanya Yudha.
"Karena berita kecelakaan kakekmu menyebar cepat di media, orang-orang kantor tadi menjemput Alvin. Mereka bilang jika Alvin harus menggantikan kakekmu sementara kau sedang tidak ada. Ada pertemuan penting yang tak bisa ditunda. Karena kakekmu kecelakaan dan tidak bisa hadir, Alvin harus berangkat sebagai perwakilan." Jawab Nenek Chiyo.
Yudha berpikir sejenak. Kenapa ia tidak tahu jika ada pertemuan penting di kantor? Pertemuan bisnis apakah itu? Apa benar dilakukan di kantor? Ataukah di tempat lain? Harusnya jika itu adalah pertemuan bisnis demi kepentingan kantor, ia sebagai wakil CEO paling tidak tahu gambaran umumnya.
Haruskah ia mencari tahu?
Tunggu, apa itu artinya ia meragukan Alvin yang sudah melakukan kerja bagus karena sigap mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa sang kakek?
"Banyak hal yang terjadi mendadak. Sejak dulu seperti itu. Selalu banyak kejutan. Apa Tuhan sedang menguji kesabaranku? Aku harap, aku saja yang mengalami hal buruk seperti ini. Kenapa harus kakek yang mengalaminya? Bukankah aku sudah terlalu sering mendapatkan percobaan pembunuhan. Tak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali. Kakek malah dua kali percobaan pembunuhan tak sampai dalam kurun waktu satu tahun... Namun, misal seumpama aku yang megalami percobaan pembunuhan, atau aku mengalami kecelakaan, sampai koma, lalu apa yang akan terjadi pada Melody? Sial, aku tak bisa main-main lagi dengan kata-kataku. Karena semua ini sudah terjadi, aku hanya harus tegat menjalani ujian yang Tuhan berikan kepadaku dan keluargaku. Aku akan mencari semua orang yang terlibat dalam perencanaan pembunuhan kakek sampai ke sudut terkecil dunia ini! Aku pasti akan menemunkannya!" Batin Yudha.
________________________________________
Ojo lali yo dukungane. Tak enteni jempole. Meski aku mumet sak pol'e. Tapi aku tetep usaha sak mampune.
__ADS_1
Perjuangan Yudha ora mung semene wae. Iseh akeh ke depanne. Iseh akeh masalahe. Karo nyawang bojone, Yudha pingin bahagia selawase.
Typo tolong dimaafke. Aku wes maca ulang, tapi tetep koyo ngene, tetep podho wae. Rasaku wes tak edit, tapi yo panggah koyo kiye. Tulisanku pancen oran sempurno, nanging mbok tulung ojo diece. 😎😎