
Normal Time...
Apa daya, meski sesungguhnya enggan menggunakan kata kaget, terkejut, tapi kembali lagi, hanya kata-kata itu yang paling tepat untuk mengekspresikan perasaan ketika mendengar kisah masa lalu yang baru saja diketahui.
Kurenai seorang pelacurr?
Ibunya Alvin yang ia ketahui sebagai wanita anggun dan berkelas ternyata seorang pelacurr? Apakah Yudha dan Alvin mengetahuinya? Baginya mungkin mereka sudah mengetahuinya. Namun karena ini masalah kehormatan keluarga, mungkin juga mereka memilih merahasiakan hal ini kepadanya.
Melody mencoba memahaminya. Tak semua harus ia ketahui. Kadang perlu rahasia juga untuk kebaikan bersama.
"Bagaimana pandanganmu setelah mendengar fakta ini, Mel? Kakak ipar sekaligus temanmu adalah putra dari seorang pelacurr yang mana dia juga meranggap sebagai simpanannya mending ayah mertuamu." Tanya Mikan.
"Jika aku mengatakan yang sesungguhnya, apa ibu akan marah?"
"Kenapa ibu harus marah? Kau hanya mengungkapkan pendapat dari sudut pandangmu saja. Tidak ada yang salah akan hal itu. Kau berhak berkomentar apapun. Lagi pula ini hanyalah pembicaraan yang bersifat pribadi, kan?"
"Baiklah. Aku akan mengatakannya. Kalau dibilang tidak menyukai pelacurr, maka aku sama sekali tidak menyukainya. Ini bukan ditujukan kepada pribadi orangnya, ini lebih ke pekerjaannya. Aku pikir jika wanita itu wajib menjaga kehormatannya. Selain buruk moral, pekerjaan pelacurr itu juga beresiko buruk pada kesehatan. Jika ditanya pendapat soal ibunya Alvin, maka aku merasa apapun yang ditakdirkan kepada kakak iparku itu adalah yang terbaik untuknya. Tuhan pasti sudah mempertimbangkannya. Aku tak akan menjauhinya hanya karena ibunya adalah seorang pelacurr. Namun, aku akan menasehati apabila pekerjaan itu berdampak buruk terhadapnya." Jelas Melody.
"Kau sungguh menantuku yang bijaksana, Mel! Terima kasih sudah menjauhi sikap benci di dalam hidupmu. Dengan begitu, ibu bisa berharap banyak jika karma buruk keluarga Kazehaya tidaklah berlanjut ke generasimu. Cukup ibu dan generasi ibu saja yang melakukan kesalahan." Kata Mikan.
"Kesalahan yang bagaimana, Bu? Jujur saja inti dari kesalahan masa lalu itu sulit aku pahami." Tanya Melody yang sedang bingung. Menurutnya, masalah-masalah masa lalu itu sangat banyak dan perlu diperbaiki. Yang ia dengar dari cerita ibu mertuanya, hanya permohonan maaf saja penyelesaian yang ada.
Bukankah hanya dengan meminta maaf itu tidak akan cukup?
Kesalahannya banyak sekali.
"Kesalahan ibu yang turut membunuh ayah mertuamu." Kata Mikan. Ia mulai menangis.
Melody tercengang. Apa yang sebenarnya sedang ibunya ini bicarakan sih?
Ibu mertuanya ikut terlibat dalam pembunugan ayah mertua?
Tunggu, apa ia sudah menggunakan pertanyaan yang benar?
Ia perlu klarifikasi dari ibu mertuanya. Ia perlu jawaban yang jelas. Pernyataan sang ibu mertua itu ambigu dan bisa memiliki banyak penafsiran.
Ayolah, masak iya ibu mertunya itu seorang pembunuh?
"Dan kisah masih ini berlanjut..." Mikan kembali menceritakan kisah masa lalunya lagi.
.
.
.
FLASHBACK ON
Mikan masih sangat kaget dengan perkataan dari Yoga mengenai Kurenai yang memiliki profesi sebagai pelacurr.
Oke, ia belajar untuk berpikir rasional. Dirinya adalah putri keluarga Yamaguchi yang sejak dulu dihormati banyak orang. Hidup lebih dari sekedar berkecukupan. Makan tak mikir, baju tak mikir, rumah pun juga tak mikir. Semua sudah tersedia sejak kecil.
Kasih sayang orang tua, pendidikan yang bagus, lingkungan sosial yang mendukung, ia juga mendapatkannya dengan baik. Ia bahkan memiliki calon suami sejak kecil yang mana, kasarnya ketika dewasa nanti ia tak perlu bersusah payah untuk mencarinya karena sudah 'tersedia'.
Bagaimana ia harus bersikap, bermoral, dan beretika juga ia dapatkan sejak kecil. Harga dirinya menjadi sangat berharga. Maka dari itu, kata pertama yang terlintas dari benaknya ketika mendengar kata pelacurr maka itu adalah menjijikkan.
"Ekspresimu mewakili jawabanmu meski kau tak mengungkapkannya." Kata Yoga.
"Terbaca dengan jelas ya?" Tanya Mikan.
"Ya, terbaca dengan sangat jelas. Pelacurr memang menjijikkan." Jawab Yoga.
"Apa karena aku terlahur di keluarga kaya yang menjunjung etika dan harga diri tinggi makanya aku memiliki pemikiran seperti ini? Padahal aku harusnya tahu, mereka yang bekerja sebagai pelacurr juga membutuhkan uang untuk bertahan hidup di kota Tokyo yang ganas ini. Kota ini dikenal sebagai kota yang kurang bersahabat dengan orang berekonomi kurang. Ini seperti tinggal di nerakanya kehidupan. Kerasnya hidup memaksa harus bertahan meski harus mengorbankan semuanya." Kata Mikan.
"Kurenai adalah salah satu yang tidak beruntung dalam hal ini. Aku kasihan dengannya." Kata Yoga.
__ADS_1
"Kau terlalu baik jadi orang. Kalau kau seperti itu terus, maka kau akan banyak memiliki simpanan. Pelacurr di kota ini kan banyak sekali. Cantik-cantik lagi." Gumam Mikan.
Yoga tertawa. "Marah ya?"
"Malah tertawa? Apaan coba? Fakta, kan? Lihatlah dirimu saat ini! Menghamili pelacurr tidak jelas seperti itu!"
"Namanya Kurenai, Mikan. Jangan seperti ini, aku tidak enak dengannya karena dia mengandung anakku."
"Terserah kau sajalah. Bodo amat." Mikan sudah terlanjur kesal. Menurutnya, Yoga itu selalu membela Kurenai. Ia sama sekali tidak menyukainya.
"Mikan.. aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku. Aku mohon, berikan aku kemurahan hatimu!" Pinta Yoga.
"Kenapa berubah? Bukankah tempo hari kau dengan lantangnya bilang ingin menikahi Kurenai? Bukankah kau juga bilang jika kau akan bertanggung jawab akan anak yang dia kandung? Lalu tiba-tiba ingin buru-buru mendapatkan maaf dariku. Kau terlalu mencurigakan, Kak Yoga! Sesuatu pasti sedang terjadi denganmu. Kau tidak memiliki pilihan lain kecuali balikan denganku ya? Ah, atau dengan kata lain, kau sama sekali tak punya pilihan selain menikahiku ya?" Tanya Kurenai bertubi-tubi. Ia bahkan menyeringai mrlihat sorot mata Yoga yang sefrustasi ini.
"Ya. Apapun yang baru saja kau tuduhkan itu benar adanya. Aku tak memiliki pilihan lain selain menikah denganmu. Dengan menikah denganmu, maka banyak keuntungan yang bisa aku dapatkan." Kata Yoga.
Mikan tertawa. "Aku tak tahu kau bisa tak punya malu seperti ini. Kau sungguh menjijikkan!"
"Kau tahu aku tak punya malu dan sangat menjijikkan. Tapi aku harus meyakinkanmu untuk menikahiku. Jika aku bicara soal cinta, itu tak akan cukup, kan?"
"Sepertinya kau terlalu percaya diri, Kak Yoga! Kau pikir aku akan menikah denganmu setelah apa yang terjadi? Hei, sebodoh-bodohnya aku, aku masih tahu mana mobil, mana sepeda! Aku tak sebuta itu soal cinta. Apa lagi denganmu yang sudah tidur dengan seorang pelacurr. Aku tak mau tidur denganmu yang bekas seorang pelacurr!"
Yoga menunduk. Rupanya meluluhkan hati Mikan sangat sulit. Padahal tadi seolah nampak sudah luluh. Mikan belum bisa mempercayainya. Cintanya pada Mikan itu tulus, tapi tekanan untuk menikahi Mikan tetap harus ia katakan di awal. Ia hanya ingin tak jadi permasalahan di kemudian hari. Namun, soal Kurenai, Mikan masih mempermasalahkannya. Ia perlu berusaha lagi.
"Ada kelompok orang yang ingin menghapus dominasi keluarga Kazehaya dan Emperor Group dari bumi Jepang. Bersaing di dunia bisnis itu tak akan cukup, incaran target pembunuhan pun mulai sering terjadi. Selama tiga tahun terakhir, ayah setidaknya mengalami percobaan pembunuhan sekitar 6 kali dan aku 2 kali. Orion aman karena tak banyak yang tahu soal dirinya. Dia beruntung karena tinggal di luar negeri."
Mikan menutup mulutnya untuk mengekspresikan betapa kagetnya ia. Pembunuhan itu horor! Kenapa ia yang menjadi tunangan Yoga sejak lama malah tak pernah mendengar ada kisah seperti ini terjadi di keluarga Kazehaya. Banyak hal yang sudah ia lewatkan rupanya.
"Percobaan pembunuhan yang kau alami, apa itu terjadi selama kita tak berkomunikasi?" Tanya Mikan.
"Ya. Terhitung semenjak aku diangkat menjadi CEO Emperor Group menggantikan ayah. Belum lengkap setengah tahun, aku sudah 2 kali diincar ingin dibunuh. Pertama aku hampir mati karena racun ketika sedang menghadiri pesta. Beruntung asistenku menyadari ada yang aneh dengan minumanku. Dia yang curiga menghentikanku sesaat sebelum aku meminumnya. Kedua, aku mengalami baru-baru ini." Yoga mengangkat baju kemejanya sedikit ke atas. Ada luka jahitan baru di perut sebelah kirinya. "Aku ditusuk oleh orang tak dikenal. Masih sakit kalau buat aktivitas." Kata Yoga.
Mikan tanpa pikir panjang lantas menyentuh bekas luka jahitan itu. Itu buka luka yang kecil. Itu luka yang tak sembarangan bisa ditahan rasa sakitya.
"Kenapa kau merahasiakannya? Jika sudah begini, tanpa kau jelaskan kepadaku, aku hanya akan selalu mendugamu jika kau itu mengabaikanku. Menurutku alasan soal perasaan Orion kepadaku itu masih kurang bisa aku terima. Jadi ini? Kau mengalami banyak kesulitan rupanya." Kata Mikan.
"..." Dunia bisnis itu kejam. Itu yang Mikan pikirkan.
"Orang tua kita menginginkan kita untuk menikah itu untuk keuntungan kedua belah pihak keluarga. Emperor Group butuh sokongan keluarga kuat dan berpengaruh seperti keluargamu, keluarga Yamaguchi. Saat ini pun aku sedang membutuhkanmu, tentu saja karena aku juga mencintaimu. Soal Orion, aku menyayanginya dan merasa bersalah padanya, tapi aku bisa mengatasinya. Aku yakin jika diberi pengertian, dia akan paham. Dia hanyalah anak remaja yang masih labil. Dia pasti bisa belajar. Ingat, Orion itu masih mau jalan 18 tahun. Aku yakin, setelah dia memiliki mimpinya, dia akan fokus untuk mengejar mimpi itu dan melupakan perasaanya terhadapmu."
"Aku ini sebagai alat ya? Keluargaku juga membutuhkan status menantu keluarga Kazehaya sebagai pemilik Emperor Group untuk mendongkrak bisnis yang dimiliki keluargaku. Kau tahu? Meski aku sudah bilang kepada mereka jika kau sudah memperkosaku, mereka malah senang dan memaksaku untuk minta pertanggung jawaban darimu. Hah, menyedihkan bukan? Mereka ingin membunga si bungsu keluarga Yamaguchi."
Yoga menyentuh pucuk kepala Mikan. Ia mengusap perlahan untuk membuat Mikan merasa lebih baik.
"Kita hanya sedang tidak beruntung terlahir dari keluarga yang kaya dan memiliki kekuasaan. Namun, tak mungkin kita menyerah pada nasib, kan? Setidaknya aku ingin merubahnya. Lalu bagaimana denganmu, Mikan? Maukah kau bersamaku merubah nasib kita?" Kata Yoga sambil memegangi dua bahu Mikan.
Sepertinya Mikan juga tak miliki opsi lain yang lebih baik dari ini. Ia wanita kaya yang manja. Seseorang seperti dirinya hanya akan terhisap di dalam kerasnya kehidupan.
"Aku memiliki syarat. Jika kau bisa melakukannya, maka aku akan setuju menikah denganmu." Kata Mikan.
"Syarat?" Yoga menaikan alisnya. Mikan kini sudah pandai bernegoisasi rupanya.
"Ya syarat."
"Aku akan melakukan sesuai syarat yang kau minta."
"Syaratnya banyak dan berat."
"Aku pasti sanggup melakukannya. Katakan saja apa itu syarat-syaratnya!"
"Baiklah. Aku akan mengatakannya kepadamu, kak Yoga. Pertama, hukum di Jepang itu hanya melegalkan satu istri, jadi setelah aku menikah denganmu, kau harus tinggal denganku. Tentu kau boleh menjenguk anakmu dengan Kurenai selama kau izin padaku. Jika kau melanggar, aku menginginkan jabatan wakil CEO Emperor Group."
"Tak masalah, aku bisa melakukannya." Menurut Yoga, ia lebih memilih bersama Mikan karena Mikan akan menjadi istri sahnya secara hukum.
"Kedua, aku tak mau kau berhubungan intim dengannya. Cukup sekali kau menjadi bekasnya. Jika menginginkan anak dariku, kau harus melakukannya. Jika kau melanggar atau berbohong kepadaku, maka aku akan menceraikanmu dan membongkar pada dunia kelakuan bejatmu, anakmu dengannya. Tentu kau tahu kan apa akibatnya? Ya, saham Emperor Group akan jatuh, kepercayaan masyarakat akan turun, lalu bisa jadi anakmu dengannya juga akan menjadi target pembunuhan juga."
__ADS_1
Apa Mikan bisa menjadi sosok yang berbeda hanya dalam waktu yang singkat? Mikan membuatnya di posisi yang sulit.
"Iya, aku tidak akan pernah berhubungan intim dengannya. Demi anak yang dia kandung, aku hanya akan menghidupi segala kebutuhan mereka saja. Bukan pemenuhan nafsu seperti itu. Aku sudah memikirkan ini baik-baik sebelum berbicara denganmu."
"Baguslah, ketiga, jika kau pada akhirnya memilih untuk hidup dengan mereka berdua, maka anakku yang harus menjadi ahli warismu. Kau harus siap menanggalkan semua kekayaanmu kepada anakku!"
"..." Syarat yang tak bisa Yoga Percaya jika syarat seperti ini akan bisa keluar dari mulut Mikan yang ia kenal sebagai sosok yang lugu.
"Jika kau bisa memenuhi tiga syarat dariku itu, maka aku akan bersedia menikah denganmu dan menjadi istri yang baik untukmu. Ingat, kau yang memulainya lebih dahulu, aku tak bisa melupakan perlakuanmu terhadapku begitu saja. Jika kau sebut ini adalah balas dendam, aku juga tak akan mengelaknya. Aku butuh tameng untuk melindungi diriku sendiri meski itu untuk melindungi diriku dari dirimu, orang yang katanya tulus mencintaiku sejak lama."
"Kau masih saja tidak percaya jika aku sangat mencintaimu. Baiklah, tak mengapa. Sekali buruk memang akan membuat yang lain buruk juga. Aku setuju akan tiga syaratmu. Aku akan menerimanya."
"Ya sudah, baiklah, ayo kita menikah!" Mikan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Yoga menyambut Mikan untuk membalas jabatan tangan dari Mikan. "Hn, ayo kita menikah!"
Dan sesuai dengan persetujuan keduanya. Mereka berdua pun menikah. Menikah dengan sangat mewah di jamannya. Ini seperti ingin mengatakan bahwa dunia bahwa bersatunya keluarga Kazehaya dan Yamaguchi itu sangat kuat dan cukup untuk menghadapi musuh bisnis yang akan datang mengancam.
END OF FLASHBACK.
.
.
.
Normal time.
"Ibu hebat bisa menekan ayah mertua sampai seperti itu. Sumpah, aku pasti tidak akan bisa mengatakannya. Aku tak akan bisa berpikir seperti ibu." Kata Melody.
"Ibu butuh tameng untuk melindungi diri ibu sendiri, Mel. Meski seharusnya menikah itu tak boleh memakai syarat-syarat seperti ini. Ini seperti melawan kehendak Tuhan. Harusnya ibu tak perlu takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Pada dasarnya, Tuhan pasti sudah memiliki rencana terbaik untuk hidup ibu. Namun ibu ini hanya manusia biasa yang takut banyak hal, yang khawatir akan masa depannya. Ibu ingin berusaha menjaminnya." Kata Mikan.
"Ibu hanya lebih kuat dari yang ibu kira. Lalu, bagaimana dengan paman Orion? Apakah ketika dewasa perasaannya terhadap ibu tidak berubah?" Tanya Melody.
"Sebelum menikah, ibu kembali berbicara dengan Orion. Tentulah ibu minta restu darinya. Setelah berbicara cukup panjang, pamanmu itu akhirnya luluh dan mau merelakan ibu menikah dengan mendiang ayah mertuamu. Dia hanya menepuk bahu ibu dan mengucapkan semoga bahagia lalu meninggalkan kediaman Kazehaya saat pesta pernikahan. Dia berkelana Jepang dan mendirikan organisasi yakuza. Yakuza Fajar Keemasan." Jawab Mikan.
"Jujur saja, aku masih merinding jika harus mendengar kata yakuza. Ibu, itu organisasi sangat mengerikan. Mereka bisa mengendalikan pemerintahan loh. Mereka itu ada dimana-mana." Kata Melody.
"Ibu mengenal Orion dengan baik, orang itu tidak akan melukai keluarga kita. Mungkin dia akan bermain kejam dengan dunia bawah, tapi mereka bermain lembut ketika di dunia atas yang mana mereka juga memiliki bisnis legal di Jepang yang diakui negara. Seperti Uchiyama Corp milik ayah tirinya Alvin, Uchiyama Azumane. Kau juga sudah tahu kan jika dia itu juga seorang yakuza? Pemimpin yakuza Macan Selatan, teman sekaligus musuh bebuyutan pamanmu, Orion."
"Iya Ibu, aku tahu hal itu. Hah, setelah menikah dengan keluarga Kazehaya, hidupku semakin berwarna. Seperti naik gunung, turun lembah, hanyut di sungai, terlempar ke luar angkasa, dan nyangkut di planet galaxi Andromeda."
"Kau menggunakan pengumpamaan yang berlebihan, Mel... Maaf ya, Keluarga Kazehaya itu tak seindah orang melihatnya. Banyak musibah yang mengintai keluarga ini."
Melody menggeleng. "Ibu, aku bertahan dan sangat bahagia karena memiliki Yudha. Sekejam apapun musibah yang menimpa keluarga ini, aku masih kuat karena ada Yudha, karena cinta Yudha."
"Apa kalian berdua budak cinta? Kalian ini kalau sudah berbicara soal cinta apapun menjadi coklat."
"Ibu, Yudha bilang aku ini kipas anginnya yang akan selalu menyejukkan hatinya. Uuuhh, Yudha itu romantis sekali, kan? Sumpah, itu salah satu kata termanis dari Yudha untukku.
Mikan cengo.
Apakah cinta buta itu contoh salah satunya adalah seperti ini? Bukankah ada AC yang jauh lebih modern? Yudha membeli serubu AC pun sisa uangnya. Kenapa harus kipas angin? Menyejukkan?
Tunggu...
Ada hal yang teringat di dalam otaknya. Ini adalah kenangan masa lalunya dengan Yoga. Yoga pernah mengatakan hal ini setelah berhubungan intim.
"Mel.."
"Ya?"
"Kau tahu, Yudha itu sungguh mirip ayahnya."
"Maksud, Ibu?"
__ADS_1
"Ayahnya Yudha bilang jika ibu itu menyejukkan seperti sensai dingin dari kulkas yang sedang dibuka."
"Hah?"