
Melody mengurung diri di kamarnya terhitung semenjak ia kembali dari Okinawa tadi siang. Ia tak ingin melakukan hal lain selain duduk di ranjangnya. Ia juga tak berselera makan. Ia melewatkan makan siangnya meski sang ibu mertua sudah mengajaknya makan. Ia menolak dengan halus dan berdalih sudah makan roti jadi perutnya masih kenyang.
Melody merasa bersalah sudah berbohong pasa ibu mertuanya. Kenapa bibir dan lidah manusia begitu mudahnya mengucap kata dusta?
Sebenarnya, demi alasan apapun, kebohongan tidaklah dibenarkan!
Melody tahu itu, tapi sungguh, saat ini ia hanya ingin menyendiri. Menyiksa dirinya sendiri.
Malam usai festival musim panas di penginapan onsen Okinawa, Yudha sudah mengklaim patent dirinya.
Yudha sudah menyentuhnya.
Yudha sudah memiliki tubuhnya
Setelah setengah tahun bertahan menjaga diri, akhirnya kalah juga. Miliknya yang paling berharga sudah Yudha ambil.
Bukankah harusnya ia tak mempermasalahkannya. Bukankah ia sudah mengantisispasi sebelumnya jika hubungan intim dalam sebuah pernikahan akan ia alami di masa depan?
Melody mengingatnya. Ia memang sudah mengantisipasinya jika Yudha akan menyentuhnya suatu saat nanti. Dan terbuktilah, Yudha benar-benar mendapatkan haknya dari kewajiban yang ia harus lakukan. Hanya saja, kenapa harus dengan cara seperti itu?
Obat perangsang?
Lalu, kenapa harus dalam kondisi sepertini? Dimana cinta antara ia dengan Yudha itu belum ada.
Manusia memiliki nafsu dan kebutuhan biologis itu lumrah. Tapi bagi Melody, melampiaskan keinginan nafsunya dengan cara seperti itu adalah yang terburuk.
Kenangan saat ia dan Yudha bercinta malam itu menghantui harinya. Itu sangat berat. Membebani hati dan pikirannya.
Melody menangis.
Dadanya sangat sesak. Rasanya tidak menentu. Banyak rasa sakit berpadu di sana. Mengoyak setiap relung hati dan pikirannya.
Mengingat apa yang terjadi hari ini membuat Melody merasa hatinya begitu sakit. Ia tak tahu betul sakitnya itu darimana. Banyak sumber rasa sakit yang dideritanya.
Apakah karena ia melakukan hubungan intim dalam pengaruh obat perangsang?
Apakah karena ia melakukan hubungan intim dengan orang yang 'tidak' ia cintai?
Apakah karena ia melakukannya dengan orang yang 'tak mencintainya'?
Atau mungkin justru ketiga-tiganya?
Semakin ia mengingatnya, semakin perih rasa di hatinya. Ia bahkan terus saja menangis di dalam kamarnya. Ia ingin bercerita banyak dan menumpahkan segala hal yang ia rasakan saat ini, tapi ia tidak bisa bercerita pada orang lain.
Ia tak bisa bercerita pada ibunya, mertuanya, atau bahkan cerita sama Mia-sahabat dekatnya.
Ia tidak bisa menceritakan hal seperti itu pada mereka.
Tapi perasaan luka itu begitu mengganjal di dalam hatinya.
Ia sungguh tak tahan ingin membaginya.
__ADS_1
Yudha.
Yudha.
Yudha.
Nama itu yang selalu direkomendasikan otaknya. Nama itu yang terus muncul di dalam otaknya.
Nama itu selalu menjadi top searching di otaknya.
Apa artinya ia harus berbicara dengan Yudha?
Tentu saja!
Ia memang harus berbicara banyak dengan Yudha. Masalah ini bukan hal yang ringan. Tidak sepele. Tidak sederhana. Ini lebih dari sekedar rumit. Jika dibiarkan terus yang ada hanya membuat luka di hati yang berkepanjangan.
Namun...
Yudha diam saja.
Yudha memilihi diam sampai detik ini.
Yudha seolah mendiamkannya.
Atau memang Yudha bersikap menghindarinya?
Jika itu yang terjadi, apa daya, ia merasa jika dirinya saat ini tak bisa memaksakan kehendak keinginannya pada Yudha.
Apa Yudha sedang memikirkannya juga?
Melody tidak tahu.
Pikiran suaminya itu selalu tak bisa Melody tebak.
"Yudha no baka.. baka.. baka." Melody menangis sambil memeluk lututnya.
Yudha + No baka: Yudha Bodoh.
.
.
.
MELODI CINTA
.
.
.
__ADS_1
Kantor Yudha...
Yudha tetap berangkat ke kantor meski sesungguhnya hari ini adalah masih hari cutinya. Ia masih memiliki sisa cuti liburannya. Namun, meski begitu, masih ada hal yang ingin ia selesaikan.
Sebenarnya, ia juga sedang ingin memberi waktu Melody untuk sendiri dulu. Setelah apa yang terjadi semalam, rasanya ia ingin meminta maaf pada Melody. Hanya saja ia belum bisa menemukan kata-kata yang pas untuk meminta maaf dengan benar.
Menyentuh Melody dengan cara seperti itu adalah kesalahan yang seharusnya tak ia lakukan. Ia melakukannya dengan cukup kasar mengingat bagaimana hasrat membuncah dari efek obat perangsang itu sangat kuat. Apakah itu terhitung sebagai perbuatan 'memperkosa' Melody? Memperkosa istrinya sendiri itu terdengar sangat konyol.
Tapi Yudha akui, ia salah. Ia ingin minta maaf.
Biasanya Yudha akan meminta saran kepada Shuhei, tapi tidak jadi. Jika itu urusan bisnis, maka akan mudah, tapi untuk masalah rumah tangganya rasanya kurang pas saja jika ia bertanya pada Shuhei.
Sial..
Ia bahkan tak bisa melupakan wajah menggoda Melody tadi malam.
Wajah dimana tergambar jelas hasrat yang memburu, nafsu yang menguasai, wajah penuh tuntutan kenikmatan. Melody terlihat begitu manis, begitu cantik, begitu menggoda.
Rambut berantakkan Melody, wajah memerah Melody, keringat hangat Melody, bau tubuh Melody. Arrghhh... sungguh, ia tak ingin lagi merasakan sensasi aneh itu.Itu membuatnya gila!
Rupanya di kantorpun tak bisa membuat pikirannya jauh lebih baik. Jauh dari Melody justru membuatnya semakin ingat akan Melody, akan kisah semalam, akan sensasi itu, akan wajah menggoda itu, kehangatan itu, sentuhan itu.
Akan kenikmatan itu.
Sial.
Lagi-lagi muncul.
Ia harus kembali ke keadaan normal seperti semestinya seorang Kazehaya Yudha. Bijak dan sempurna dalam segala hal! Jenius dan berpikir logis!
Kerjaannya di kantor sangat menumpuk. Banyak file yang harus ia periksa dan tanda tangani. Belum lagi ia juga harus memikirkan skripsi kuliahnya.
Ia tidak boleh menambah beban otaknya.
Namun lagi-lagi..
Di saat ia berusaha konsentrasi, sedikit saja ia mengingat nama Melody, kejadian semalam langsung menyelimuti seluruh kapasitas ingatannya. Ingin menyingkirkannya, tapi ingatan kisah itu terlalu fresh, menempel erat layaknya getah nangka.
.
.
.
Yudha membuka map yang berisi proposal kerja sama dengan Uchiyama Azumane, ayah tiri Alvin. Proposal ini adalah lanjutan dari kerja sama sebelumnya yang telah sukses. Pembangunan pusat pembelanjaan modern di daerah Akihabara.
Yudha membacanya dengan teliti setiap rincian data di dalam proposal itu. Mulai dari jenis retail yang akan berkontribusi dalam pusat pembelanjaan itu sampai dengan media pengiklanannya.
Yang membuat Yudha memincingkan mata saat ia melihat nama Amamiya Yura sebagai model iklan dalam promosi pusat pembelanjaan itu.
"Uchiyama-san yang merekomendasikannya rupanya. Jika ini murni masalah bisnis, kurasa aku memang harus profesional." Yudha lalu menandatangi proposal itu.
__ADS_1
Profesional itu tidak boleh membawa masalah pribadi ke ranah bisnis. Lagian, ia tidak memiliki masalah dengan Yura, masalah yang genting. Ia dan Yura masih berteman seperti biasa meski saat ini ia mencoba sedikit membatasi karena status pernikahannya dengan Melody.