
Next day...
“Melody-sama, mohon angkat telepon dari Yudha-sama!” Pinta Ayane.
Ini sudah kesekian kalinya ia meminta nona mudanya ini untuk mengangkat panggilan dari Yudha. Namun lagi-lagi, nona mudanya itu enggan mengangkatnya.
“Ayane-nee saja yang angkat dan berbicara dengannya, aku tidak mau!” Kata Melody.
Ayane memahami permintaan Melody. Ada semingguan lebih ia tak bisa mengawal Melody secara langsung karena kesibukannya untuk mendapatkan gelar S2. Meski ia tak bisa terus mengawasi majikannya ini, tapi ia bisa memahami dengan baik bagaimana Melody saat ini.
Melody sedang kesal setengah mati dengan Yudha. Kesalnya Melody saat ini jauh berbeda dengan kesal-kesal Melody sebelumnya. Saat ini cukup serius, bahkan Ayane harus memutar otak untuk tidak salah berbicara.
Ayane melihat Melody menangis. Matanya sembab, memerah, dan bengkak. Mengingat adanya isu kasus Yudha, rasanya ada masalah lain yang sama beratnya dengan masalah yang Yudha alami.
"Sesuat pasti sedang terjadi pada Nona Melody. Tangisan Nona adalah contoh nyata dari tangisan terluka. Tuan Muda Yudha, apa yang sudah Anda perbuat pada Nona Melody?" Batin Ayane.
Sejauh yang ia pahami, Ayane yakin jika Melody dan Yudha meski menikah karena hasil perjodohan, tapi mereka berdua bisa menjadi teman yang cocok. Dalam delapan bulan ini, sejauh yang bisa ia lihat, Melody dan Yudha berhubungan dengan baik. Mereka berdua sering bercanda ria dan sedikit membuat masalah. Ada pertengkaranpun tak sampai seperti ini. Cukup berakhir dengan debat ringab penuh candaan.
Kembali ke pokok masalah, melihat keadaan Melody yang seperti ini, Yudha sungguh melakukan kesalahan yang besar. Ayane yakin itu.
Kesalahan Yudha tidak sesederhaba itu.
“Melody-sama, Yudha-sama meminta Anda untuk ke butique dan membeli dress untuk menghadiri pesta ulang tahun Nona Amamiya Yura.”
“Bilang padanya, aku tidak akan datang!”
“Tapi Melody-sama.. Yudha-sama bilang, Anda harus datang bersamanya.”
“Tidak mau! aku tidak mau datang dengannya! Aku tidak mau datang dengan orang JAHAT seperti dirinya!”
Orang jahat?
Tuan mudanya adalah orang jahat, begitu kata Melody. Ayane memutar otak. Apa yang sudah Yudha lakukan pada Melody sehingga Melody menjadi begitu kesal karenanya? Begitu marah karenanya, bahkan membuat Melody mengatai Yudha sebagai orang yang jahat. Emosi Melody juga sangat sulit terkontrol. Kadang lagi moody, tiba-tiba berubah menjadi emosian.
“Yudha-sama mendengar sendiri kan bagaimana jawaban Nona Melody?” Tanya Ayane, ia menloud speaker handphonenya.
“Melody, apapun yang terjadi, jam 8 malam kau harus sudah siap dengan dandanan dan pakaianmu!” Tutup telpon Yudha.
Rupanya Yudha sudah tidak mau tahu lagi. Kesabarannya memang selalu diuji.
Lama-lana ia lelah juga menanggapi kekesalan Melody.
“Arggh, brengsek, aku tidak pernah menemui orang seegois dia di bumi ini!” Ucap Melody kesal.
Kenapa Yudha bisa seegois itu? Apa yang Melody harapkan dari mulut Yudha tak ia dapatkan. Yudha bertindak egois lagi, bahkan kata ‘maaf’ dari Yudha saja tidak Yudha ucapkan.
Apa Yudha menganggap jika apa yang sudah Yudha lakukan itu benar? Tidak salah?
__ADS_1
Melody menatap ke arah langit. Hembusan udara musim gugur yang mendingin begitu terasa di permukaan kulitnya. Mantel tebal dan syalnya tak mampu menghalangi hawa dingin yang begitu menusuk.
Melody meremas mantelnya. Ia kembali menangis. Sungguh, ia tidak pernah merasa sesakit ini hanya karena laki-laki. Ada apa dengannya? Kenapa semua terasa begitu frustasi? Kenapa begitu menyesakkan? Ia benci dengan rasa sesak ini. Ia benci dengan kesedihan ini. Ia benci pada dirinya sendiri.
Kenapa, kenapa ia menjadi seperti ini? Kenapa ia tidak bisa seperti dulu lagi? Seperti saat ia menjadi sosok yang begitu tegar dengan segala masalah yang menimpanya. Menjadi sosok yang kebal dengan air mata. Menjadi sosok yang bisa acuh hanya soal perasaan.
Kenapa ia tidak bisa mengacuhkan Yudha?
.
.
.
"Ayane-nee, aku ingin ice cream!" Kata Melody.
"Nona, ini musim gugur tang cukup dingin, jika Anda makan ice cream, Anda bisa sakit." Kata Ayane.
"Aku ingin ice cream, Ayane-nee!" Kata Melody lagi dengan nada memaksa dan harus dituruti.
Ayane menyerah, ia tidak mungkin melawan majikannya terus-terusan. Ia mencoba berpikir pisitif, mungkin saja ini wujud perbaikan mood dari istri tuan mudanya itu.
"Baiklah, saya akan membelikan untuk Anda. Anda tunggulah di sini, jangan kemana-mana!"
"Aku mau rasa coklat dan rasa tomat."
"Baik Nona.."
"Tidak Nona, ini memang sudah tugas saya."
Ayane pergi ke minimarket tak jauh dari tempat ia dan Melody mengobrol untuk membeli ice creampermintaan Melody.
Sepeninggal Ayane, Melody duduk di bangku taman, di bawah pohon yang hanya tinggal batang dan rantingnya saja. Semua daun sudah berguguran. Di depannya ada danau buatan dengan air yang cukup jernih.
Angin berhembus menembus tubuh Melody. Dingin. Rasanya sangat dingin. Ia lalu membenarkan mantelnya. Mengaitkan semua kancingnya. Setelah itu, ia mengusap-usap kedua tangannya. Kadang sesekali juga meniupnya dengan udara karbondioksida dari mulutnya agar terasa lebih hangat.
"Kau sungguh jahat, Yudh. Kau seenaknya saja. Kau bilang A, aku harus A. Itu sungguh egois! Kenapa kau mengabaikan opiniku? Aku ini memiliki opsi B! Kau sangat pemaksa! Kau kejam! Kau gila! Kau tidak waras!"
Melody meghentak-hentakkan sepatunya ke paving taman.
"Dasar bodoh, dasar tol0l, dasar buta! Kau tahu, aku saat ini sedang menertawai kebodohanmu. Aku sedang menyumpah serapah dirimu! Yudha brengsek!"
Selang beberapa saat, Ayane kembali dengan sekresek kecil ice cream pesanan Melody. Melidy terlihat cukup senang akan ice cream yang ia bawa. Melody seperti abak kecil yang baru saja mendapatkan harta karunnya.
"Ne Ayane-nee, kena rasa tomatnya tidak ada?" Tanya Melody.
"Maaf Nona, tidak ada satu pabrikpun yang mengeluarkan ice cream dengan rasa tomat." Jawab Ayane. Itu benar, tadi ua sudah tanya pada penjaga minimarketnya.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Sayapun sudah mengecek di google jika rasa tomat untuk ice cream memang tidak ada."
Melody murung mendengar penuturan dari Ayane. "Hm, begitu ya?"
Kenapa nona mudanya bisa sesedih itu hanya karena ketidak adaannya ice cream rasa tomat? Baru kali ini ia mendapati permintaan nyleneh majikannya.
"Bagaimana jika besok saya membuatkan Anda ice cream rasa tomat di rumah?" Tawar Ayane.
Mata melody membulat senang. "Benarkah? Ayane-nee tahu bagaimana caranya?"
"Setidaknya teori dasarnya saya paham"
"Okelah kalau begitu. Hehe, maaf Ayane-nee aku sering merepotkanmu. Ato, arigato gozaimasu."
Ayane hanya menggeleng lalu membalas dengan senyumannya.
Melody mengambil ice cream coklatnya. Ia lalu membuka bungkusnya. Warna coklat berpadu almond begitu menggoda lidahnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menikmati ice cream coklat miliknya.
Manis.
Dingin.
Dua sensasi itu begitu dominan di lidahnya. Tanpa ragu, ia bahkan sampai menggigit dan mengunyah ice cream itu. Sedikit ngilu di gigi putihnya. Namun tak apa, ia masih bisa menahannya.
Sebungkus.
Dua bungkus.
Tiga bungkus.
Dan tak terasa ini sudah bungkus yang ke delapan! Melody sudah menghabiskan 7 bungkus ice cream, dan ini akan menjadi 8 jika ia berhasil menghabiskannya. Ayane berulang kali menegur dirinya. Tapi ia enggan mengakhiri santapan nikmatnya itu. Hingga akhirnya karena terlalu banyak makan ice cream, Melodypun muntah-muntah karenanya. Kepalanyapun terasa sangat pusing. Rasa dingin itu menusuk-nusik otaknya.
Ayane membantu memijat tengkuk Melody. Semua yang Melody makan, ia muntahkan. Wajahnya memucat. Perutnya menjadi sangat tidak nyaman.
Apapun yang berlebihan memang tidak baik!
"Anda sudah membaik? Ada yang sakit? Haruskah kita ke rumah sakit?" Tanya Ayane khawatir.
"Aku baik-baik saja, Ayane-nee. Sudah muntah, perutku sudah lega. Ne Ayane-nee.."
"Ya?"
"Bisakah kau membiarkanku sendiri untuk sebentar?"
Ayane menatap Melody. Ia lalu menyetujui permintaan Melody. "Bisa Nona.."
__ADS_1
Ayane berjalan menjauh dari Melody, mengawasinya dari arah belakang kursi taman yang Melody duduki. Ayane ingin memberikan waktu luang untuk nona mudanya. Mungkin saja Melody bisa mencari suasana baru dan mendapatkan pikiran yang jernih.
"Memang benar, ceria adalah paling cocok untuk Nona.. Tubuh Nona semakin hari semakin kurus. Noda mudah sakit kepala dan darah rendah. Meski datang dan pergi tapi tak bisa dibiarkan begitu saja.. Aku lalai dalam tugasku, aku harus lebih perhatian lagi pada Nona.. Nona terlalu polos, aku ingin mengajarinya bagaimana menghadapi orang licik.. Maaf Yudha-sama, hidup saya ada pada nona Melody! Saya memilih untuk membela Nona Melody."