
Yudha tidak jadi menuju ruang makan, ia langsung kembali ke kamarnya. Ia membasuh mukanya. Ia melihat ada kantung hitam di kedua kelopak matanya. Ia merasa sangat lelah dan penat akhir-akhir ini. Urusan pekerjaan yang semakin memadat seiring perkembangan Emperor Group yang makin baik, serta masalah pribadi yang tak kunjung usai. Ketika ia merasa jika semuanya sudah membaik, ada saja masalah baru yang datang seolah mengantri untuk diselesaikan.
“Aku tidak tahu jika dulu mereka sedekat itu. Aku tidak tahu jika Melody bisa tersenyum seperti itu. Aku tidak tahu jika kisah mereka berdua sangat panjang. Aku tidak tahu jika Alvin yang aku kenal bisa berekspresi seperti itu. Apa yang sudah aku lewatkan? Apa yang tak aku ketahui? Kenapa aku merasa sangat bodoh?” Gumam Yudha saat ia teringat bagaimana dua ‘temannya’, istri dan kakaknya yang berbagi kisah manis masa lalu dengan cerianya.
Melody kembali ke kamarnya, ia berpasan dengan Yudha yang baru saja mandi. Melody hanya mengangguk untuk menyapa Yudha. Ia tidak ingin berdebat dengan Yudha. Ia hanya mengambil bebrapa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing kecil.
Yudha yang merasa heran dengan tingkah Melody, langsung meraih tangan Melody.
“Hendak kemana kau siang-siang seperti ini?” Tanya Yudha.
“Hmm? Kau tidak membaca pesanku tadi pagi? Aku akan menginap di tempat Mia. Ada banyak hal yang harus kita bahas untuk PKL besok.” Jawab Melody.
“Ponselku mati.”
“Begitu ya? Baiklah, aku pergi dulu. Jaa..”
Yudha kembali meraih tangan Melody. “Biar aku yang mengantarmu.”
Melody melepaskan tangan Yudha darinya. Lembut. Ia sungguh tak ingin berdebat lagi dengan Yudha. Ia akan menjaga nada bicaranya.
“Aku akan ikut Alvin-senpai. Dia bilang mau menjenguk ibunya, mumpung searah, aku akan pergi bersamanya. Irit bensin juga.”
Yudha menggertakan giginya. Alvin-senpai lagi. “...”
Lalu apa Melody pikir ia akan kehabisan uang hanya untuk sekedar membeli bensin? Jangan bercanda! Ia sanggup membeli perusahaan kilang minyak sekalipun!
“Lagipula, kau terlihat begitu kelelahan karena menjaga temanmu yang sangat penting itu semalaman.” Kata Melody datar.
Melody ingin merutuki mulutnya. Bukankah tadi ia tak ingin berdebat dengan Yudha? Kenapa seperti ini? Sial, ia memang tak bisa bersikap biasa saja jika itu menyangkut Yudha dan Yura.
“Bicara apa kau ini Melody? Apa kau marah?” Yudha terlihat kesal.
Dan lagi, Yudha menanggapinya dengan kesal. Ini menambah rasa kesal yang coba Melody tahan menyeruak keluar.
“Yang marah itu kau, Yudha! Kau yang menaikkan nada bicaramu!” Kata Melody makin datar dan dingin. Ia lalu menjinjing kembali tas bajunya dan berjalan meninggalkan Yudha.
“Melody, kapan kau akan kembali? Aku akan menjemputmu!”
“Tidak perlu!”
Braaakkk.
Melody menutup kamar Yudha dengan cukup keras. Yudha hanya bisa memandang pintu kamar yang tertutup. Ia lalu terduduk di ranjangnya. Ia memegangi dadanya. Sesak.
Kenapa sesak sekali rasanya? Ia lantas mengacak-acak rambutnya yang basah. Ia ingin membanting apapun yang ada di situ saat ini.
"Jika kita bersama yang ada yang bertengkar. Sebegitu tidak cocoknya kah kita berdua? Mel, aku tidak tahu bagaimana aku harus menanggapimu lagi. Kau sulit kumengerti. Kinipun semua semakin runyam."
__ADS_1
Yudha melihat ke arah keluar lewat jendela kamarnya. Melody sedang tertawa keras bersama Alvin di halaman rumah. Melody bersikap seolah tidak terjadi apa-apa pada Alvin.
Mereka selalu sama, selalu penuh canda dan tawa. Selalu dengan mudahnya dapat tersenyum bebas dan lepas. Tanpa beban dan tanpa pengganggu. Membuatnya merasanya sangat terganggu. Dadanya semakin terasa sesak. Ia meremas tralis besi jendela kamarnya. Ia lantas mengambil pot kaktus yang ada di dekat jendela, lalu membantingnya asal dan sangat keras.
“Brengsek..”
.
.
.
Sesampainya di RS, Melody bertemu dengan Mia. Mereka rupanya janjian di rumah sakit karena Melody memilih menumpang pada Alvin.
Menjadi tidak enak karena pada akhirnya, Alvin yang harusnya harus beristirahat di rumah malah kembali ke rumah sakit untuk menemaninya periksa kehamilan.
Alvin yang bersedia sendiri. Alvin yang bersi keras ingin mengantarkan dirinya periksa.
Usai berbincang ringan, mereka bertiga menuju ruang periksa khusus kehamilan. Sebelumnya, Melody sudah melakukan reservasi terlebih dahulu, jadi ia tak perlu mengantri.
Melody melakukan prosedur peneriksaan kehamilan. Ia juga melakukan USG seperti yang sudah sangat ia tunggu-tunggu.
"Nonya lihat, di sana ada 2 janin yang artinya Nonya tengah mengandung janin kembar! Selamat Nyonya, janinnya sangat sehat juga." Kata dokter kandungan, sebut saja dr. Aizawa.
"Terima kasih banyak, Dokter!"
Melody, Alvin, dan Mia berbincang riang di kantin rumah sakit. Membahas kehamilan kembar Melody. Rona bahagia jelas tergambar di sana. Bahkan Alvin juga ikutan bahagia. Bahagia yang tulus, meski Melody mengandung bayi kembar dari adiknya.
"Jangan lupa bersyukur pada Tuhan!" Kata Mia
"Iya, aku tahu. Hehe. Ya ampun, benarkah tadi apa kata dokter Aizawa? Aku hamil kembar? Ya ampun, rezekiku yang paling indah di akhir tahun ini." Kata Melody.
"Bulan depan kau bisa mengetahui jenis kelaminnya, Mel." Kata Alvin.
"Ah, biarkan ini menjadi kejutan saat lahiran saja, Senpai. Aku lebih menyukai kejutan daripada sudah tahu duluan." Melody tersenyum menanggapi Alvin.
"Apapun itu, intinya selamat ya Mel, aku turut bahagia untukmu." Kata Mia.
Alvin juga ikut mengucapkan selamat pada Melody.
"Terima kasih kalian semua. Terima kasih. Haruskah aku yang mentraktir kalian berdua?"
Alvin dan Mia saling berpandangan. Jadi ingat jaman dulu, jika Melody gajian atas kerja part timenya, maka Melody akan mengajak mereka makan ramen bersama. Melody yang membayarnya. Meski bukan traktiran makanan mahal, tapi bagi Alvin dan Mia moment seperti itu sangatlah indah dimana mereka bisa tertawa di kedai ramen yang sempit dan panas. Kenangan yang tak terlupakan.
Orang kaya seperti Alvin dan Mia menjadi tahu cara bersyukur setelah mereka bersahabat dengan Melody. Mereka menjadi lebih bisa menghargai uang dan waktu untuk kisah yang indah dalam hidup.
__ADS_1
.
.
.
Usai makan di kantin...
"Melody, malam ini aku harus terbang ke Korea. Aku harus bersiap-siap. Ayo pulang, aku akan mengantarkanmu!" Kata Mia.
"Tidak, aku sama Alvin-Senpai saja. Kau pulang langsung saja dan gunakan sisa waktu untuk berisitirahat!" Kata Melody.
"Tapi.."
"Aku yang akan memastikan keselamatan Nyonya Melody, Mia-san!" Kata Alvin.
"Senpai kau terlalu sopan!" Kata Mia. "Baiklah, tolong jaga Melody untukku, Senpai! Sampai nanti.."
"Hn. Sampai nanti.."
"Hati-hati di jalan Mia! Jangan lupa sampaikan salamku untuk Song Jongki ya.."
"Mentang-mentang duda! Kau sudah menikah woy!"
"Hehe, kali saja dia tertarik padaku nanti."
"Yudha mau dikemanain, hah?"
"Dibuang. 😁"
Mia menggelengkan kepalanya. Jika sudah menyangkut artis Korea, Melody suka berlebihan. Mia dengar jika Melody mengajukan BTS sebagai model iklan jika ada proyek selesai dari Emperor Group pada kakek Wijaya. Melody sungguh berani.
"Melody, kau terlalu berani." Kata Alvin.
Melody hanya terkekeh ria. Bahagia memang paling cocok dengan dirinya.
Usai berpamitan. Melody memilih stay di rumah sakit untuk menunggu Alvin melaporkan tesis pasiennya pada dokter senior. Beruntung ia memiliki ruangan pribadi di rumah sakit lengkap dengan ranjang dan almari pakaiannya.
"Apa Yudha tidur di sini? Bukankah yang memiliki kunci ruangan ini hanya aku dan Yudha? Dan lagi, ranjang cukup berantakkan. Seseorang pasti singgah di sini."
Melody memutuskan untuk merapikan kamar itu. Ada mantel Yudha yang ia ingat mantel itu Yudha pakai semalam saat belanja bersamanya.
Entah apa, Melody memeluk erat mantel milik Yudha itu. Ia menyesap baunya. Ia ingin bilang pada Yudha jika ia hamil janin kembar.
"Bau Yudha.."
Dan seketika itu ia menangis.
__ADS_1