MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chapter Special 2


__ADS_3

Ya sudah lanjutin saja. Untuk memberi jeda agar tidak tegang melulu.


Perhatikan gambar bibir pada judul yang seperti sudah aku katakan, ini isinya konten dewasa. Jadi bagi yang di bawah umur, silahkan bijaklah dalam memutuskan untuk membaca atau tidak ya..


Thank you so much sebelumnya dan Arezt tidak ingin perkataannya malah membuat Sifa semakin menjaga jarak dengannya. Nyasar novel? Haha, baca NYAMAR JADI COWOK YA!


Aku apreciate banget kepada kalian karena sudah setia sampai chapter sebanyak ini. Say ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha dan bilang ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha lagi agar duniamu indah. Mari tertawa! Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha dan ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!


Author kau menyebalkan!


Aku tahu, gomen ne! He he he he he.


Jangan mulai lagi deh! Cepat! Kami butuh adegan hot Melody dan Yudha yang wow buat obat Chapter membosankanmu, thor!


Iya-iya, ini sudah dibuat kok! Selamat membaca!


.


.


.


"Aku tak mau saat kita mau berhubungan intim, kau memasang wajah seperti itu. Maaf sudah membuatmu kesal." Yudha tersenyum sangat manis dan membuat level ketampanan Yudha meningkat drastis.


Melody menggeleng. "Maaf juga karena sudah tidak nurut padamu sehingga membuatmu merasa kesal. Sejujurnya aku hanya sedang gugup karena sudah lama tidak disentuh olehmu. Aku takut jika nanti tidak berjalan dengan lancar." Kata Melody.


"Aku pun juga sama. Namun ini bukan sex pertama kita. Kita sudah melakukannya beberapa kali sebelum ini. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Aku akan gentle. Kau percaya padaku, kan?" Yudha ingin membuat Melody merasa jauh lebih baik dan mengurangi rasa kegugupan akibat sebulan tidak berhubungan badan.


Melody tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Aku percaya pada Yudha, selalu. Tolong perlakukan aku dengan baik! Jangan kasar-kasar! Be gentle, my hubby!" Kata Melody.


"As your wish, my wife!"


Yudha membopong Melody dan menidurkan tubuh istrinya itu ke ranjang mereka. Ranjang ukuran king size kelas hotel bintang tujuh. Eh, itu puyer, bintang lima kelas VVIP saja yang semalam sewanya enam puluh juta.


Yudha merangkak menindih Melody. Pose kelon dalam bahasa Jawa. Njir, hujan dan kelon sama pasangan terutama suami itu adalah hal yang sangat mantap. Bisa menyalurkan kehangatan di udara yang mendingin karena air hujan. Emosi jiwa juga akan tersalurkan. Apa lagi hasrat. Sumpah, itu bagian paling ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri yang sudah sah menikah ini.


“Suki dayo, Yudha-kun!” Ucap Melody. Ia memang sangat menyukai Yudha. Saking menyukainya sampai tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.


"..." Sangat susah membuat Melody bilang cinta padanya.


"Daisuki, Yudha-kun!" Melody kembali mengucapkan kata yang artinya sama. Hanya saja yang akhir artinya sangat menyukai, Yudha!


Di Jepang sendiri, asishiteru: aku cinta padamu jarang dipakai. Kata suki atau daisuki lebih umum dipakai ketika mengungkapkan perasaan suka bahkan sampai ungkapan cinta juga memakai kata-kata ini.


"Mel?"


"Daisuki, Yudha-kun!" Melody mengulangi kata-katanya.


Kata-kata Melody membuat mata onyx itu terperangah tak percaya mendengarnya. Pengulangan kata bermakna sama dari Melody itu sangat berarti bagi Yudha. Ia tak akan bosan mendengar kata-kata seperti itu dari Yudha.


"Tottemo daisuki, Melody!" Kata Yudha.


"Arigato, Yudha-kun. Ureshikata yo. Aku sangat bahagia."


Melody melebarkan kedua matanya. Ia merasakan sebuah benda bertekstur lembut tengah menempel di bibirnya.


Yudha memberikan apa yang terbaik dari sebuah ciuman kasih sayang. Membuat Melody merasakan bagaimana dirinya dicintai penuh kasih oleh orang yang sudah menikahinya ini.


"Yudha adalah anugerah yang sudah Tuhan berikan kepadaku. Mendapatkan sebuah ciuman darinya membuatku merasa bahagia."


Ia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Yudha lewat ciuman itu. Ini bukan ciuman pertama, kedua, atau ke sebelas. Ini adalah ciuman bibir yang sering ia lakukan dengan Yudha selama kehidupan pernikahannya dengan Yudha.


Namun, setiap ciuman yang Yudha lakukan dengannya bernilai magis dan memberi efek sengatan luar biasa pada tubuh dan jiwanya.


"Yudha adalah rajanya ciuman. Dia sangat ahli dalam ini. Ughh, dia bermain dengan lidahku. Aku menggila karena alur yang dia kendalikan. Yudh**a, aku sungguh sangat tergila-gila padamu..." Batin Melody.


Mereka berdua berciuman sangat intens. Sangat bergelora sampai terdengar suara-sura khas yang menandakan betapa diri mulai terbuai dalam alunan melodi cinta.


"Berciuman dengannya selalu membangunkan hasrat yang membelenggu. Aku kesulitan mengendalikan diriku. Aku ingin dia menjadi milikku selamanya. Rasa ingin memiliki itu seutuhnya sudah sangat jelas dari caraku menatapnya. You are mine and only be mine, my wife Melody!" Batin Yudha.


Melody maupun Yudha sama-sama tidak dapat membohongi perasaannya. Mereka benar-benar saling menyukai, saling mencintai! Cinta yang murni dari dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.


“...” Melody melengguh pelan, ketika Yudha membalas ciumannya jauh lebih intens dari yang tadi.


Ini adalah ciuman penuh kerinduan dari dua orang insan manusia yang dilanda cinta. Tak mudah bagi mereka bedua untuk sampai ke tahap ini. Sungguh, ini memang sangat tidak mudah. Penuh lika-liku dan sandiwara kehidupan yang banyak tak berpihak kepada mereka.


Mereka melepaskan ciuman mereka untuk mengambil nafas. Kembang kempis dengan semburat merah di pipi nampak manis dan semakin menggoda untuk melakukan lagi dan lagi. Untuk melakukan ciuman lebih lama dari sebelumnya.


Apa ciumanan memberikan efek sampai seperti ini? Iya, asal semua dilandasi akan cinta yang tulus. Bukan cinta yang penuh nafsu. Dan kisah cinta yang Yudha dan Melody bangun adalah kisah cinta yang tulus dimana semua dilakukan atas dasar cinta.


Semua karena cinta.


"Kau cantik.." Bisik Yudha di telinga Melody.


"Yudha juga tampan" Kata Meldoy malu-malu.


Yudha tersenyum dan mengecup cepat bibir Melody. Ia lalu menciumi leher Meldoy setelahnya.


"Jangan membuat tanda! Aku tak mau ditanya-tanya yang aneh-aneh oleh ibu!" Pinta Melody.


"Mana seru. Itu kan jadinya tidak lengkap, Mel!" Kata Yudha.


"Yudh.. Aku bisa kesal deh kalau kau seperti itu." Kata Melody pura-pura cemberut.


Yudha manyun.


Sumpah, Yudha lucu dan manis sekali saat ini. Melody sampai ingin membungkusnya ke dalam karung dan segera menculiknya, memasukkannya ke dalam almari dan melarang semua wanita di bumi ini melihat Yudha!


Oke, itu sangat posesif! Itu sangat mengerikan!


Hal ini membuat Melody ingin tertawa geli. Yudha kadang bisa di luar akal pikirannya.


"Malah ketawa, kau tahu Mel? Saat ini kita ini sedang sangat romantis-romantisnya loh!" Rajuk Yudha. Bagaimana bisa Melody malah menertawakannya?


"Iya tahu, maaf, habisnya Yudha sangat menggemaskan. Aku kan jadi tidak tahan untuk ketawa. Aku buka menertawaimu dalam arti negatif. Aku hanya sedang sangat bahagia bisa melihat sisi lain dari dirimu, Yudh." Jelas Melody.


Yudha memerah. Tipis. Sangat tipis. "Hm, begitukah?"


Sayang sekali, Melody menyadarinya. "Yudha kalau malu-malu kucing lucu juga." Ia malah kembali tertawa.


"Mel..." Geram Yudha.


Yudha menarik tengkuk belakang kepala Melody dan kembali membungkam istrinya itu dengan mulutnya. Baginya Melody itu sangat cerewet.


"Kau mau membunuhku ya? Suka sekali sih seperti ini?" Kesal Melody usai dilepaskan oleh Yudha.


"Menurutlah, maka semuanya akan lembut." Seringai Yudha.


"Dasar!"


Mereka berpelukkan. Saling merasakan degupan jantung masing-masing. Degupan jantung yang tak beraturan. Saat itu keduanya tahu jika mereka sama-sama sedang gugup.


Yudha kembali mencium Melody. Kali ini tak hanya menciumi, Yudha juga berbisik manis telinganya Melody. Mengucapkan kata penuh cinta yang menurutnya sangat romantis.


Perasaan campur aduk mulai terasa. Membuat Melody semakin gugup. Yudha seperti agak teburu-buru. Karena tiba-tiba saja Yudha sedikit berbuat kasar.


"Kau melupakan paket ciumanku?" Tanya Melody. Ia ingin dicium dengan kasih sayang telrebih dahulu sebelum dicium penuh nafsu.


Yudha tersenyum. "Tentu saja tidak! Aku tadi terlalu senang karena kau tiba-tiba bilang suka, jadi aku buru-buru menjamah bibir dan lehermu." Kata Yudha tanpa dosa.


Bahasa yang vulgar bukan? Yudha memang seperti itu.


"Kau ini, mudah sekali tergoda oleh pesonaku."


"Bagaimana tidak tergoda, dicium sedikit saja kau kesenangan. Suara anehmu terdengar sexy di telingaku. Tubuhku jadi memanas. Tidak nyaman juga." Jelas Yudha.


Melody malu. Yudha ini terlampau jujur. "Lalu, apa aku boleh mendapatkan ciuman paketku, Yudh?"


"Tentu saja!"


Yudha memberikan ciuman paket untuk Melody. Ciuman paket yang selalu ia lakukan setiap malam dengan Melody ketika mau beranjak tidur.


Melody menunjuk keningnya. Yudha mencium kening Melody.


Melody menunjuk pelupuk mata kirinya. Yudha mencium pelupuk mata kiri Melody.

__ADS_1


Melody menunjuk pelupuk mata kanannya. Yudha mencium peluk kanan Melody.


Melody menunjuk pipi kirinya. Yudha mencium pipi kiri Melody.


Melody menunjuk pipi kanannya. Yudha mencium pipi kanan Melody.


Melody menunjuk hidungnya. Yudha mencium hidung Melody.


Melody tersenyum pada Yudha lalu mengedipkan sebelah matanya. Ia menunjuk bibirnya. Yudha pun mencium bibirnya.


Jika sudah sampai ke tahap ini, maka siap-siap saja jika malam ini akan menjadi malam yang panjang.


Yudha semakin berani menciumi Melody. Hasratnya susah tak karuan. Ia mengerti ini tak bisa ia kendalikan dengan pola pikirnya.


"Ahh.."


Melody kembali mengerang akibat ulah Yudha. Wanita ayu ini semakin merapatkan tubuhnya pada Yudha. Hingga membuat suhu di ruangan ini kembali menjadi panas.


Tak hanya suhu ruangan saja, suhu tubuh pun ikut meningkat. Gerah dan panas.


“...” Melody memekik pelan di sela-sela ciuman.


Mereka lagi-lagi saling berpelukkan untuk bersandar diri karena perasaan yang tak menentu itu. Setidaknya Melody dengan Yudha, setidaknya Yudja dengan Melody, maka rasanya tak apa-apa jika saat ini mereka terbuai oleh nafsu.


“Hah.. hah..” Nafas Melody tersengggal ketika Ia melepaskan ciumannya dengan Yudha.


Rasa yang sungguh gila!


“Kenapa kau diam saja, Mel? Kau tak menikmati ciuman paket dariku?“ Tanya Yudha sambil menempelkan kembali bibirnya pada bibir Melody. Sekilas saja lalu melepaskannya. Ia melakukan beberapa kali.


"Saking menikmatinya aku sampai rasanya mau mati karena kehabisan oksigen." Jawab Melody.


Menurut Yudha, jawaban Melody itu sangat berani. Psmilihan kata yang tak biasa. Tentu saja ia tak akan membiarkan istri tercintanya itu mati, kan?


Kalau Melody mati, buat apa ia hidup? Hidup tanpa Melody itu seperti tersesat di planet mars. Sepi dan sendiri di raung yang hampa.


"Aku ingin lebih, Mel!" Kata Yudha jujur.


"Jujur sekali kau ini, Yudh." Kata Melody.


Mereka lalu tersenyum bersama.


Jemari Melody kini mengelus pipi Yudha. Ah, Sungguh! Ia sangat mencintai Yudha! Melody tahu jika sudah pasti Yudha akan menyerangnya sekarang.


"Yudha, kau sudah tidak tahan ya? Adu manisnya kalau sedang seperti ini." Kata Melody.


"Mau melakukan hal gila?" Seringai mesum Yudha.


Bagai kepiting rebus. Melody semakin memanas. "A-Apaan sih kau ini, dasar mesum!"


"Tapi kau suka teriak 'lebih cepat, Yudh!'. Kau sangat menikmati waktu saat kumesumi, Mel!"


"Itu.. ano.. itu kan... Arrrghh, Yudha, aku malu, baka!"


"Intinya, kau suka kan aku mesumi?"


Melody mengangguk malu. "Walau awalnya sakit, tapi kalau itu Yudha aku akan baik-baik saja. Yudha membawa terbang, rasanya membuat senang dan membuat ketagihan juga."


"Lah, istriku tsundere juga."


"Biarin deh, Yudha kan juga pangeran tsundere!"


Yudha kembali mencium bibir Melody. Ia lalu melepasnya setelah berapa waktu.


"Aku benar-benar merindukanmu, Mel! Pisah sedetik saja rasanya menggila... Aku sangat mencintaimu. Maka dari itu, kau harus sadar. Kau hanya milikku saja!" Kata Yudha.


Melody ingin berteriak karena Yudha mengucapkan kata-kata yang menurutnya sangat sakral.


Ia sangat suka ketika Yudha mengatakn cinta kepadanya. Rasanya membuat jiwa ini melayang dan terbang ke angkasa dan bertemu bintang-bintang.


"Aku anggap ini bentuk izin darimu untukku menyentuhmu malam ini." Kata Yudha.


"Bahasamu loh, Yudh. Biasanya saja tidak minta izin langsung nyelonong begitu saja!"


Melody mendecih. "Aku bisa melakukan ini!"


Rasanya sakit di sana.


"Kau mau mematahkannya ya? Yang lembut dong! Aku sudah mengajarimu!"


"Salah sendiri mengancam mau memperkosaku. Memang kau pikir rasanya tidak sakit apa? Lecet dan buat buang air kecil sakit sekali! Kau benar-benar jahat kalau sampai melakukan lagi! Cukup yang waktu itu! Huh!"


Yudha tak ingin malam jatahnya terganggu. Ia akan menurunkan ego untuk memperbaiki mood Melody.


"Iya maaf, kan hanya bercanda." Kata Yudha.


Melody tersenyum. Kata maaf dari Yudha itu sudah cukup baginya. Maklum saja, Yudha itu bukan tipe laki-laki yang mudah minta maaf! Apa lagi untuk urusan ranjang!


"Mau melakukan hal yang nakal?" Pertanyaan dari Melody terdengar sangat seduktif.


"Boleh, itu kan tugasmu, Sayang!" Yudha memiringkan badannya. Seperti memeluk Melody dari samping. Lalu menuntun tangan Melody. "Lalukan seperti ini!" Pintanya.


Melody memerah. Ia kembali mendapatkan pengalaman nakal dengan Yudha.


"Se-seperti ini?" Tanya Melody malu-malu.


"Hn... Shh.. se-per... ti.. itu."


Yudha nampak kenikmatan dengan apa yang Melody lakukan. Nafas Yudha memburu di sela pipi bawahnya. Maklum saja, posisi Yudha yang miring ke arahnya dan ia miring menghadap ke arah Yudha membuatnya bisa saling bertukar hembusan nafas menderu nan panas.


"Souka, jadi ini sungguhan? Dimana perlakuan ini bisa membuat laki-laki merasa kenikmatan. Apa ini terjadi pada semua laki-laki karena sudah lama tak berhubungan intim? Bagaimana dengan mereka yang masih remaja dan belum menikah? Apa mereka melakukan hal ini untuk menghilangkan rasa karena tak tersalurkan akibat tak memiliki pasangan? ... Ah, suamiku manis sekali saat kenikmatan seperti ini." Batin Melody.


Ia menyukai ekspresi Yudha yang begitu manis ini.


.


.


.


Lima belas menit kemudian.


"Yudha, kau membuat bajuku kotor!" Gerutu Melody. Ia memukul-mukul punggung Yudha. Ia lalu memeluk Yudha dari belakang.


Yudha sedang duduk sambil membersihkan diri. "Telanjang saja, kan beres!" Katanya asal.


"Jeeeeeh." Kalau tidak vulgar dan mesum, bukan Yudha.


"Mau katai aku mesum lagi?" Tanya Yudha.


"Tak perlu dikatai, faktanya juga sudah mesum!" Melody melirik aktivitas Yudha.


Yudha membuatnya gila.


Yudha balik badan dan menghadap ke Melody. Meldoy duduk di ranjang dan ia berdiri.


"Posisi yang tepat untuk oral bukan?" Tanya Yudha.


"Aku tak mau!"


Yudha tertawa. "Aku juga tak akan membiarkanmu melakukannya meski aku ingin mencobanya sekali-kali. Kau adalah wanita yang aku hargai, aku tak akan memberimu pengalaman sex seperti binatang."


Melody turun dari ranjang. Ia berdiri di hadapan Yudha. "Yudha adalah yang terbaik! Arigato!"


Mereka saling berpelukkan. Yudha memegang kedua pinggang ramping Melody. Melody melingkarkan kedua tangannya di leher Yudha.


Mereka saling mendekatkan wajah.


"Malam ini adalah milik kita.."


Melody kini gantian yang berinisiatif untuk mencium Yudha. Ia lalu ******* kasar bibir Yudha.


Yudha tersenyum senang. Rupanya Melody bisa liar juga. Yudha benar-benar merasakan semua perasaan Melody terhadap dirinya.


"Yudha tidak membalas ciumanku. Apa dia mengetesku? Dia pikir aku tak bisa ciuman, hah? Oke akan aku tunjukkan!" Batin Melody.

__ADS_1


Melody menciumi Yudha dengan cukup berani. Ia tak mau disepelekan oleh Yudha. Namun lama-lama, ia malah kehilangan jayi diri.


Ada apa ini?


Melody menginginkan Yudha!


"Yudh.. aku.." Melody tak tahu harus berkata apa.


"Kau manis dan sangat cantik jika sedang seperti ini, Mel. Kau itu kenapa bisa sangat mempengaruhi hidupku sih? Kau membuatku kehilangan pendirianku. Kau menawarkan arti cinta dengan segala sudut pandang yang baru aku temui di dalam hidupku. Kau hadir dengan kejutan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Melody malu bukan main.


Yudha sadar jika istrinya itu sedang tak nyaman karena ulahnya. Apa lagi kata-kata manisnya ini memang juga begitu menggoda di telinga. Ayolah, siapa yang tak tergoda dengan gombalan maut miliknya yang melegenda itu?


Melody memalingkan wajahnya. Wajah Melody memerah.


"Jangan palingkan wajahmu! Aku ingin menatapmu." Kata Yudha.


Melody balik menata Yudha. Sumpah, pipinya benar-benar sangat panas kali ini.


"Nah... seperti ini kan jauh lebih baik." Senyum Yudha.


"Aku ini sudah menjadi istrimu, kita sering juga bertemu, bertatap muka seperti ini juga bukan hal yang baru. Namun, tetap saja aku malu. Ketampananmu bertambah 100% saat aky mengedipkan mataku. Rasanya semakin tampan dan semakin tampan aura kesempurnaanmu."


Yudha memangkas jarak sehingga membuat Melody tiduran. Ia lalu menindih tubuh mungil Melody.


"Ciuman yang tadi sempat terlepas nampaknya membuatku kecewa, Yudh." Gumam Melody.


"Tak perlu merasa seperti itu, Mel! Kau sudah tahu jika aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Kau percaya padaku, kan?" Tanya Yudha.


Keempat mata itu bertemu. Saling menghipnotis satu sama lain.


"Ya, aku sangat percaya padamu. Aku percaya pada Yudha yang mencintaiku."


Yudha tersenyum. Mendapatkan kepercayaan seperti ini memang membuatnya bahagia, lebih-lebih itu dari Melody-orang yang sangat dicintainya.


“Jangan menyesal Melody karena kali ini aku tak akan pernah melepasmu meski nanti kau merengek kesakitan! Ingat itu baik-baik!” Bisik Yudha pelan. Sebenarnya ia tipe laki-laki yang tak suka didominasi, tapi karena Melody memancingnya, maka ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


“Yudha-kun, a-aku mencintamu sangat.. sangat dalam.” Wajah Melody kini semakin merona ketika mengucapkannya. Apalagi dengan Yudha yang kini menatapnya intens.


“Kau tahu, Melody? Aku lebih mencintaimu!” Dan Yudha kembali mencium bibir plum milik Melody. Sungguh Yudha tidak ingin momen seperti ini cepat berakhir!


Kedua insan ini saling menutup mata mereka. Saling menyampaikan perasaan satu sama lain dalam ciuman tanpa nafsu itu.


"Yudh, rasanya tidak nyaman."


"Aku pun juga."


"Meski sudah sering seperti ini, tapi aku masih malu padamu. Aku malu telanjang di depanmu dan melakukan hal-hal mesum seperti ini."


"Kau tidak sendiri. Meski aku gaya-gayaan kalau aku sudah lihat semuanya, tapi sesungguhnya aku juga sama malunya denganmu. Gomen, egoku sangat tinggi."


Melody menggeleng. "Kita sedang belajar ke tahap-tahap yang lebih tinggi dari kehidupan pernikahan kita. Meski masih malu, tapi aku tak apa karena itu Yudha. Karena Yudha yang menyentuhku, maka aku ikhlas dan bahagia." Melody mengucapkanya dengan semburat merah tapi ketulusan ada di sana dan nampak jelas.


Yudha bersyukur karena memiliki Melody di dunia ini. Ia sudah tak ingin yang lain lagi.


Yudha mengecup kening Melody dan melakukan aksinya sebagai seorang suami yang sudah sah bagi Melody.


"Yudh.."


"Hm?"


"Aku bahagia."


"Aku juga bahagia."


"Arigato.."


"Untuk?"


"Selalu mencintaiku."


"Kau pantas mendapatkannya, Mel. Aku akan memberikan cinta sebanyxk yang kau mau."


Melody memeluk Yudha dengan hati yang berbunga-bunga.


Sungguh, jantungnya kini juga berdetak tak karuan. Wajah Melody semakin merona. Yudha benar-benar membuatnya terbang.


Desitan suara ranjang dan erangan-erangan mendominasi kamar mereka. Peluh dan keringat menandakan betapa dahsyatnya cinta mereka. Cumbuan dan sentuhan ini didasari oleh rasa suka, bukan nafsu belaka. Terserah orang mau bilang apa. Ini mesum atau hal yang wajar dalam hubungan rumah tangga.


Inilah spesial chapter Melody dan Yudha.


Sampai jumpa...


Di chapter yang selanjutnya..


.


.


.


Bonus lagi mumpung Authornya lagi gemblung.


“Tidurlah, aku tak ingin menyakitimu lagi, Melody!” Yudha membelai lembut pipi chubby Melody.


Ini sudah permainan yang ke sekian kalinya.


Empat jam?


Matilah, mana ada!


Tentu saja empat jam itu termasuk pemanasan, inti, dan istirahat, terus melakukan lagi karena belum puas. Sudah tidur lima belas menit, Yudha bangun dan minta lagi. 😂


Yudha kini berbaring disamping Melody, dan membawa Melody ke dalam pelukan hangatnya.


“Yudha-kun?” Melody memanggil Yudha pelan. Wajahnya Ia sembunyikan di dada bidang milik Yudha.


“Hn?” Yudha semakin mempererat pelukannya sambil memeluk Melody. Berharap dengan memeluk Melody bisa merendam hasratnya yang sudah di timbulkan oleh gadis itu.


CUP.


“O-oyasuminasai, Yudha-kun.” Melody mencium cepat pipi Yudha, dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang pemuda itu. Yudha tersenyum melihat tingkah Melody.


“Hn, Oyasumi my Hime Melody-sama ” Yudha mencium puncak kepala Melody lembut, dan pemuda itu kini mulai menutup matanya.


.


.


.


Melody masih terdiam dalam pelukan Yudha. Gadis itu bergerak gelisah. Ia tak bisa tidur setelah beberapa kali melakukan hubungan itu dengan Yudha. Matanya tak bisa menutup dan memasuki alam mimpi.


"Ini bocah kapan lelahnya sih?" Batin Melody.


Melody menengadahkan kepalanya, untuk menatap Yudha. Pemuda itu kini sedang tertidur. Nafas hangatnya yang teratur menerpa wajah Melody. Yudha benar-benar terlihat tampan sekarang! Melody ingin mencium bibir Yudha lagi! Perlahan tangan Melody mulai menyentuh bibir pemuda itu. Tapi belum sampai gadis itu menyentuhnya. Suara baritone yang sangat ia kenal mengagetkannya.


Melody meringis memamerkan gigi-giginya.


“Tidurlah Melody. Jika tidak, aku benar-benar akan menyerangmu lagi!” Yudha berbisik seduktif. Hingga membuat Melody kembali menundukkan wajahnya, dan mencoba menutup matanya. Berharap ia bisa tidur dengan cepat.


"Nambah satu ronde lagi aku juga masih kuat." Kata Melody asal.


Dan Yudha kembali menyerangnya.


"Aku pasti sudah gila!" Batin Melody ngenes karena asal bicara.


.


.


.


Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Sudah ah mesum-mesumnya. Jadi pengen nanti kan payah apa lagi buat yang masih jonez. 😑😑 Sampai nanti

__ADS_1


__ADS_2