
"Shuhei, kau sudah mendapatkan semua data lapangan yang aku minta?" Tanya Yudha.
Shuhei lalu menyerahkan amplop coklat kepada Yudha. "Ini belumlah lengkap, Yudha-sama. Sepertinya masih banyak lagi informasi yang belum tercover."
"Apa luas tanah yang digarap Emperor Group melebihi jatah tanah yang ada dalam perjanjian dengan pemerintah?" Tanya Yudha serius.
"Ya, Yudha-sama. Semua sesuai dengan prediksi Anda. Ketika tadi saya bertanya-tanya kepada mereka, semua tanah yang disita mengatas namakan Emperor Group." Jawab Shuhei.
Yudha membuka isi amplop coklat yang Shuhei berikan kepadanya. Di dalam amplop coklat itu berisi file-file mengenai data lapangan pemilik tanah yang disita oleh Emperor Group.
"Proyek ini jatuh ke tim Paman Kang dan disokong oleh Paman Park. Dua orang itu sangat berpengaruh di jajaran para petinggi Emperor Group. Mencuriagai mereka berdua tidaklah cukup. Kita harus mengumpulkan banyak bukti." Kata Yudha. Ia memasukkan kembali file-file itu ke dalam amplop coklat.
"Meski kita memiliki bukti ini sekalipun, tidaklah mudah menumbangkan mereka. Sudah menjadi rahasia umum jika Tuan Kang dan Tuan Park memiliki ambisi tersendiri. Tidak mudah bagi kita untuk menendang keluar dua orang itu dari Emperor Group." Kata Shuhei.
"Mereka tak hanya bekerja untuk Emperor Group, tapi juga pemegang saham. Loyalitas orang-orang di belakang mereka itu mengerikan. Kakek yang seorang CEO utama Emperor Group saja perlu usaha keras untuk mengendalikan mereka. Menurut analisa Kouki, Zakki, dan Yuuichi, mereka mulai menambah kekuatan dengan memperkuat relasi para pemegang saham." Yudha menatap Shuhei. "Kau paham apa artinya, kan?" Tanyanya.
"Mereka bisa memilih CEO sesuai dengan keinginan mereka." Jawab Shuhei.
"Ya, mereka bisa melakukannya dengan mudah. Untuk saat ini, kakeklah pemegang saham terbanyak, dia masih bisa berkuasa. Sementara itu, aku dan Alvin memiliki jumlah saham yang sama. Sahamku dan Alvin tidaklah sebanyak milik kakek, dan tentu saja apapun yang terjadi aku pasti akan berdiri di belakang kakek. Hanya saja, jika relasi pemegang saham mereka semakin kuat, meski milikku dan Alvin ditambahkan dengan milik kakek, belum tentu bisa mengalahkan mereka." Jelas Yudha.
Ia memikirkan dampak ke depannya bagaimana. Apa lagi mengingat bagaimana situasi perusahaan akhir-akhir ini. Terhitung semenjak skandal yang ia buat dengan Yura. Para pemegang saham memanas dan banyak yang mulai meragukannya sebagai calon pengganti sang kakek.
Jika situasi seperti ini terus berlanjut, maka mereka akan memilih calon CEO baru dari kubu mereka.
"Meski kemungkinan terburuknya, Anda tidak menjadi CEO atas kepercayaan para pemegang saham, tapi Anda tetaplah ahli waris resmi Emperor Group. Anda memiliki aset yang sangat besar jumlahnya." Kata Shuhei.
"Aku sudah meminta kakek membagi rata warisan yang akan aku terima dengan Alvin. Meski kakek belum memutuskan, tapi dia pasti akan melakukannya. Lagi pula, aku juga tidak terlalu peduli dengan warisan kakek. Aku hanya peduli pada pemegang tahta Emperor Group itu siapa. Kejayaan Emperor Group terlalu kuat, hampir tidak memiliki pesaing yang sepadan. Oleh karena tidak memiliki pesain yang sepadan, maka Emperor Group akan dirusak orang-orang yang ada di dalamnya. Emperor Group akan dihancurkan oleh tubuhnya sendiri." Yudha meremas keras amplop coklat yang ia pegang. Membuatnya menjadi lecek.
Ia tidak ingin bisnis yang sang kakek rintis hancur oleh orang-orang tamak
"Jika pemegang tahta Emperor Group orang yang salah, maka kehancuran itu akan semakin nyata." Sambung Shuhei.
Shuhei paham betul arah pembicaraan Yudha. Menemani Yudha sejak kecil, membuatnya tahu bagaimana diri Yudha lebih dari Yudha yang tahu.
"Aku menghawatirkan keselamatan orang-orang terdekatku." Kata Yudha.
Ini bagian dari mimpi buruknya. Mengingat bagaimana usahanya lolos dari upaya pembunuhan, maka ia harus benar-benar berhati-hati ke depannya. Jarak masalah yang terjadi akhir-akhir ini terjadi dalam jeda waktu yang cukup dekat. Masalah itu datang dan pergi dengan berbagai jenis.
Seperti mendapat gempuran dari berbagai sisi. Satu masalah selesai, maka muncul masalah lain. Selalu seperti itu dan intensitasnya meningkat.
"Upaya percobaan penuhunan Tuan Besar dan Anda terjadi dalam waktu kurang dari setahun. Ini sudah keterlaluan, Yudha-sama. Kita harus benar-benar bergerak cepat." Shuhei saja bisa menunjukkan kekhawatiran yang seperti ini.
Kekhawatiran Shuhei memanglah bukan tanpa dasar. Setahun yang lalu, Yudha dan Shuhei mengalami kecelakaan hebat dengan truk barang tanpa awak. Membuat Yudha koma selama tiga hari, sementara Shuhei mengalami patah tulang tangan. Kasus ditutup begitu saja karena hal itu dianggap sebagai kelalaian pemilik truk yang memarkirkan truk barangnya di jalan yang menanjak.
"Ah kasus kakek yang waktu itu ya? Kau benar, sampai saat ini kita tidak tahu siapa pelaku dan dalang di balik upaya percobaan pembunuhan itu. Berbeda denganku, demi kestabilan Emperor Group, kasus percobaan pembunuhan kakek dirahasiakan." Kata Yudha.
Gara-gara upaya percobaan pembunuhan sang kakek itu pula yang mempertemukan dirinya dengan Melody. Terjadi pertemuan takdir yang panjang setelah itu. Yudha yakin sejak awal, ada sesuatu hal yang kakeknya inginkan dari Melody. Tidak mungkin hanya karena Melody adalah cucu dari Hadinata, sahabat kakeknya atau karena Melody sudah menyelamatkan nyawanya. Ada yang lebih besar dari itu. Sayangnya, ia belum mengetahuinya. Semua masih dalam otak sang kakek.
Shuhei melihat Yudha yang nampak begitu lelah. Yudha tidak tidur dalam beberapa hari ini Banyak urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Jujur saja ia juga mulai lelah, fisik manusianya juga memiliki batasan. Namun, kali ini memang harus dipaksa bertahan.
"Saya menghawatirkan keselamatan Nona Melody dan calon anak-anak Anda. Bodyguard yang Anda minta untuk menjaga Nona Melody melaporan banyak orang mencurigakan mengintai Nona setiap harinya." Kata Shuhei.
"Semenjak kasus skandal yang aku buat, wajahnya sering menghiasi media masa. Ia menjadi mudah dikenali. Shuhei, tambah bodyguard untuk menjaganya dalam dua minggu ke depan! Harusnya PKL-nya selesai di awal Februari." Pinta Yudha.
"Ya, saya akan melakukan sesuai perintah Anda, Yudha-sama."
"Arigato na, Shuhei. Kau istirahatlah, aku tahu kau akan segera mencapai batasnya! Hanya di sini kau bisa istirahat meski hanya sebentar."
"Dan membiarkan Anda bekerja sendirian? Tentu saja saya tidak akan bisa melakukannya. Anda tahu betul bagaimana karakter saya."
"Aku masih kuat untuk menghandle semuanya. Kita tidak boleh tumbang semua."
__ADS_1
Tiba-tiba Melody memeluk lengan Yudha. Yudha menoleh ke arah Melody. Wajah kesal Melody terlukis di sana.
"Apa lihat-lihat?" Tanya Melody kesal. "Tidak boleh pegang tanganmu seperti ini?" Lanjutnya.
"Ya tentu saja boleh.." Jawab Yudha.
"Kalau boleh kenapa kaget begitu? Kenapa seperti tidak suka aku datang mengganggu?" Tanya Melody.
Tentu saja Yudha tak ingin diganggu Melody saat sedang membahas pekerjaan yang menyeramkan ini. Lebih tepatnya, ia tak ingin Melody tahu bahaya yang sedang mengintai agar Melody tidak kepikiran dan fokus pada kehamilannya saja.
Yudha membelai rambut poni Melody dan menyingkirkannua ke telinga Melody. "Bukan seperti itu, karena kau datang bak hantu, tentu saja aku kaget, kan Shuhei?"
"Ya, Nona Melody. Tuan Muda saya suruh istirahat tidak mau, apa Anda bersedia menyuruhnya istirahat?" Tanya Shuhei.
Yudha mendelik pada Shuhei karena merasa dikhianati Shuhei. Bagaiman bisa Shuhei melakukannya?
Melody memincingkan mata menatap Yudha. Yudha hanya nyengir tidak jelas. Melody kemudian beralih menatap Shuhei. "Shuhei-san, kau juga harus beristirahat! Serahkan Tuan Muda kita yang agung ini padaku, aku pasti akan membuatnya istirahat nyenyak!" Kata Melody mantap.
"Arigato gozaimasu, Melody-sama." Shuhei tersenyum senang. Di tangan yang cocok, Yudha pasti akan bisa beristirahat.
"Nah sayangku, ayo kita ke kamar!" Ajak Melody, menyeret lengan Yudha.
"Melody, tangan sakit! Pelan-pelan kenapa sih?" Pinta Yudha.
"Kau kalau tidak dipaksa tidak akan nurut. Lingkar hitam matamu itu semakin gelap, kau selalu menyuruhku beristirahat, tapi kau sendiri tidak mau gantian disuruh. Aku harus memaksamu!" Omel Melody.
"Iya-iya, aku akan istirahat. Kau senang?"
Melody tersenyum. "Hn, tentu saja aku senang." 😊
Shuhei memandangi Melody dan Yudha yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar Melody. Ia menyunggingkan senyuman bahagiannya. Ada rasa lega di dalam dada melihat kebersamaan mereka. Akhirnya, Yudha memiliki tempat untuk berlabuh. Yudha memiliki tempat untuk bersandar.
"Saya turut bahagia untuk Anda, Yudha-sama. Saya akan menjadi pedang dan tameng Anda. Jagalah kebahagiaan Anda dan jangan sampai kalah! Meski akan melemah, tapi saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Saya tidak akan membiarkan Anda merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Anda sudah cukup menderita dengan kehilangan ayah Anda. Kini, meski Anda pada akhirnya harus melawan Tuan Muda Alvin, saya mohon, menanglah! Menanglah, Yudha-sama!" Batin Shuhei.
Kamar Melody..
Melody menyuruh Yudha tidur di ranjang, Yudha nurut saja. Melody lalu melepaskan sepatu dan kaos kaki milik Yudha. Setelah itu, Melody ke kamar mandi dan mengambil air dengan ember kecil. Dengan menggunakan handuk kecil, Melody mengelap muka, tangan, dan kaki Yudha.
"Aku sedang tidak sakit, kenapa kau melakukannya sampai sejauh ini, Mel?" Tanya Yudha.
"Sudah deh jangan banyak protes!"
Usai mengelap Yudha, Melody kemudian menyelimuti Yudha.
"Cuma seperti ini saja? Aku kedinginan, Mel! Aku tidak bisa beristirahat jika dingin." Kata Yudha.
Melodypun menyalakan penghangat ruangan. "Harusnya sudah hangat, kan?" Tanyanya.
"Penghangat ruangan memang bisa membantu menghangatkan tubuh, tapi yang aku butuhkan itu tubuhmu, Mel. Kemarilah!" Yudha bergeser tidurannya lalu membuka selimutnya. Mengisyaratkan agar Melody ikutan tidur di sampingnya.
Melodypun masuk ke dalam selimut yang sama dengan Yudha. Iapun memeluk Yudha tanpa canggung.
"Dadamu hangat, Mel.." Gumam Yudha.
"Bisa tidak menggunakan bahasa yang wajar, Yudh?" Tanya Melody menahan rasa kesal.
"Tapi kan memang namanya dada, Mel. Is it impossible for me to say 'oppai', right?"
Oppai\= payudara.
Melody menghela nafas. "Sudahlah! Yang penting kau beristirahat!" Katanya pasrah.
__ADS_1
Yudha mengangguk. Iapun memejamkan matanya mencoba untuk tidur.
Melody mengelus rambut Yudha.
"Seberapa lelah dirimu, Yudh? Kenapa kau tak membaginya denganku? Aku memang tak pandai mengenai pekerjaan kantor, tapi jika kau bercerita keluh kesahmu padaku, aku pasti akan mendengarkannya. Lingkar matamu menghitam, kau semakin kurus, itu sangat membuatku khawatir. Apa masalahmu dengan Alvin-senpai mencapai batas yang sulit diperbaiki? Haruskah saat pulang nanti kita duduk bersama dengannya?" Batin Melody.
Melody menatap sendu Yudha yang sedang memejamkan mata di pelukkannya.
"Yudha, jangan sakit!" Bisik Melody. Ia lalu mendaratkan kecupan di jidat Yudha.
"Ya, aku akan berusaha tidak sakit." Kata Yudha yang tiba-tiba bergerak dan mengunci bibir Melody dengan bibirnya.
Memaksa beradu lebih dalam.
Yudha melepaskan ciumannya ketika oksigen semakin menipis.
Mereka saling bertatapan. Nafas mereka kembang kempis.
"Aku menyuruhmu istirahat bukan malah menciumku!" Omel Melody.
"Aku tiba-tiba menginginkanmu." Kata Yudha.
Melody membatu. "..."
"Berduaan denganmu seperti ini berat, Mel. Di bawah sana rasanya tidak nyaman." Jujur Yudha.
"Kenapa kau sekarang mesum seperti ini sih, Yudh?" Tanya Melody.
"Memangnya kau tidak memiliki rasa itu saat bersamaku?" Yudha tanya balik.
"Ya ada kalanya me-menginginkanmu, ta-tapi kan butuh moment yang pas." Kata Melody memerah karena malu.
Membahas hal seperti ini dengan Yudha masih terasa canggung.
Yudha menyentuh kancing baju hamil Melody. Melody menahan tangan Yudha.
"A-apa yang sedang ka-kau lakukan, Yudh?" Tanya Melody terbata.
"Menelanjangimulah, apa lagi memangnya?" Jawab Yudha asal.
"Ha-hah?"
"Kenapa terkejut seperti itu? Dengar, aku sudah hafal lekuk tubuhmu. Semua tersimpan rapi di sini." Kata Yudha sambil menunjukk kening kepalanya.
"Kau se-seriusan ingin itu?" Tanya Melody.
Karena kesal sedari tadi Melody banyak tanya, Yudhapun menggiring tangan Melody menuju miliknya.
Melody kaget bukan main. Sesuatu yang asing terasa di telapak tangannya.
"Yu-Yudha? I-ini.."
"Hn. Sudah sangat keras."
Yudha memejamkan matanya ketika berhasil memimpin tangan Melody sesuai keinginannya.
Melody blank mind dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini. Ini adalah yang pertama ketika ia harus seintens ini dengan Yudha.
"Berjanjilah kau akan tidur pulas setelah ini, maka aku akan menurutimu!" Gumam Melody.
"Ahh. La-ku-kan terus se-per-ti ini, Mel!" Kata Yudha yang sudah di ambang batas normalnya.
__ADS_1