MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kisah


__ADS_3

Mendengar kabar kehamilan Melody, ibu Tsuchiya, ibu Mikan, dan nenek Chiyo langsung menyerbu rumah sakit. Menyerbu kamar Melody. Saking bahagianya, Mikan bahkan sampai memberi hadiah pakaian bayi pada Melody. Membuat Melody speachless saja.


Bayangkan saja, Ibunya dan Ibu mertuanya saling adu argumen soal anak Melody nanti. Ibu Melody pro anak cowok, sedangkan mertuanya pro anak cewek. Karena tidak sependapat, merekapun saling membandingkan keunggulan anak harapan mereka. Mereka bahkan sudah membahas masa depan si anak. Mau kemana, sekolah dimana, jadi apa.


Melody hanya diam saja, ia enggan menanggapinya. Terang saja, anaknya saja belum lahir, masak sudah memikirkannya sampai sejauh itu? Dirinya sendiri bahkan sulit menerima jika ia tengah berbadan dua.


Perutnya masih cukup rata, bisa saja Yudha membohonginya, kan? Bisa saja hasil tes yang Yudha tunjukkan kemarin itu juga bohong.


"Ibu bayinya belum lahir." Kata Melody.


"Aku yakin itu cowok, Mikan-san!" Kata Ibu Tsuchiya.


"Itu cewek, Tsuchiya-san. Anak cewek itu menggemaskan!" Ibu Mikan masih kekeuh dengan pendapatnya.


Cukup alot sih. Melody benar-benar dipusingkan karenanya.


"USG saja biar kita tahu." Nenek Chiyo menyela.


"Benar!"


"Mel, ayo kita USG! Kita buktikan siapa yang paling benar! Aku yakin itu cowok!"


"Itu pas cewek!"


Melody menghela nafas. Kenapa kedua orang tuanya ini menjadi 'bodoh' sih? USG sekarang belum bisa dilakukan untuk mengetahui jenis kelaminnya! Mereka sudah pernah hamil apa dulu tidak memahaminya? Melody menggelengkan kepalanya.


"Ibu-ibu dan nenek tersayang, tunggu dua bulan lagi ya.." Kata Melody.


Ibu Tsuchiya, ibu Mikan, dan nenek Chiyo langsung menyadari kesalahan mereka. Saking bahagianya ingin segera memiliki penerus baru memnuat mereka antusias berlebihan. Hanya tawa malu penuh keceriaan mewarnai kamar inap Melody setelahnya.


.


.


.


Pukul satu siang, Melody mulai terbebas dari keluarganya. Lega. Bukan apa, tapi sungguh, tadi itu sangat berisik. Ia ingin istirahat saat keadaan sepi seperti ini.


Jika ada Yudha, ia sungguh tak bisa istirahat dengan tenang. Yang jelas, ia hanya tidak tahu bagaimana memasang wajah di depan Yudha.


Setelah hari kemarin, ia memilih untuk menghindari Yudha, menghindari berbicara dengan suaminya itu. Ia tidak memiliki stok kosa kata untuk berbicara dengan Yudha. Maka dari itu, meski Yudha menemaninya di rumah sakit, ia memilih untuk sok pura-pura tidur. Yudha pasti tahu apa yang ia lakukan, tapi sepertinya Yudha memilih untuk membiarkannya.


Haruskah ia berterima kasih?


"Sayang, apa benar kau ada di situ?"


Melody mengelus lembut perutnya yang masih rata.


"Maaf, mama menyakitimu. Harusnya mama tidak minum alkhohol. Harusnya mama makan makanan yang bergizi. Harusnya mama bisa menjaga diri mama. Harusnya mama... Maaf, mama belum bisa berbaikan dengan papamu. Sekarang atau di masa depan, mama belum bisa memberimu kisah yang indah. Maaf..."

__ADS_1


Melody meneteskan air matanya. Ia kaget saat Alvin datang menyapanya. Ia buru-buru menghapus air matanya.


"Waktunya pemeriksaan!" Sapa Alvin ramah.


Melody tersenyum dan mengangguk. Kemudiab Alvin melakukan prosedur pemeriksaan pada Melody. Ia kembali mengambil sampel darah Melody untuk diperiksa. Sebelumnya hemoglobin Melody turun cukup banyak.


"Aku akan sembuh kan dalam beberapa hari? Aku ingin pulang, dr. Alvin! Aku bosan di rumah sakit."


"Sabar ya, Nyonya Melody. Demi kebaikanmu dan janinmu."


Alvin jelas terdengar pilu saat mengucapkan kata janin kepadanya. Melody menunduk. Terlalu sulit baginya untuk menatap Alvin. Ia yakin, ia tak memiliki perasaan romantis pada Alvin, tapi kenapa saat ini ia merasa berat?


Alvin tak ingin membuat beban untuk Melody. Ia tak ingin melihat Melody kesulitan karena dirinya.


Alvinpun menyentuh pucuk kepala Melody. Sentuhan itu sangat hangat dan menenangkan.


"Jaga baik-baik keponakanku ya!" Ucap Alvin penuh dengan ketulusan.


Melody langsung melebarkan kedua matanya. Ia tak lagi menunduk, ia menatap Alvin lekat-lekat. Senyuman manis Alvin menembus jiwanya. Membawa angin sejuk, membelai jiwanya yang kalut.


"Se-Senpai?"


Perasaan lain mulai datang, kenapa ia merasa sangat nyaman jika Alvin berada di dekatnya? Rasanya seperti dulu, seperti saat masa indah di SMA. Masa dimana dengan mudahnya untuk tertawa.


Sebenarnya ada rasa yang sulit dijelaskan. Awalnya terasa mengganjal. Seperti, bagaimana ekspresi Alvin saat mengetahui dirinya sedang hamil? Alvin adalah mantan kekasih loh. Hmm, bodoh jika ia masih terlalu percaya diri, saat Alvin menyapanya dengan senyuman hangat, sudah pasti Alvin baik-baik saja, kan?


.


.


.


“Masih marah? Sudah empat hari, Melody..”


Kata Yudha.


“Pulanglah sana! Aku tak masalah sendirian di rumah sakit.”


“Bisakah kau menjawab dengan senyuman seperti yang kau lakukan saat dengan Alvin tadi?”


“Alvin-senpai itu orang baik, Yudha, tentu saja aku bisa tersenyum saat berbincang dengannya. Maaf saja, aku tak bisa melakukannya dengan orang jahat sepertimu.” Melody mencoba menyindir.


Yudha menghela nafas. Ia hanya mencoba menyabari sikap Melody yang berubah-ubah akhir-akhir ini.


“Baiklah, aku memang orang jahat dan Alvin-senpai-mu itu orang yang paling baik. Luapkan saja semua asa marahmu padaku, aku akan senang hati menerimanya.”


“Mudah sekali kau mengatakannya! Aku memang sangat ingin melakukannya, Yudha. Sangat! Tapi, aku sudah lelah dan aku ingin segera menyudahinya.”


“Kau tak bosan ingin membahasnya lagi?”

__ADS_1


“Aku tak akan bosan sampai kau menyetujuinya.”


Ini akan kolot seperti yang sudah-sudah.


“Kehidupan ekonomimu akan sulit jika kita bercerai.”


Itu memang fakta. Yudha benar adanya.


“Tak bisakah kau memilih kata-kata yang pantas, hei Tuan? Secara ekonomi memang akan seperti itu, tapi aku akan melaluinya!”


“Terlalu berat jika anak itu sudah lahir.”


Yudha mencoba dewasa, tapi Melody masih ngeyel. Ngeyel ingin tetap bercerai.


"Apa susahnya tetap bersamaku? Kau hanya perlu berdiri di sampingku!"


"Berdiri di sampingmu itu berat. Aku tak bisa. Aku tak bisa membuat kisah denganmu lagi."


"Mel.."


"Kumohon, jangan mencoba baik padaku!"


"Aku akan terus seperti ini sampai kau mengubah keputusanmu!"


"Kau egois!"


"Ya, aku memang sangat egois!"


Tiap hari mereka berdua membahas perceraian yang ujung-ujungnya akan di akhiri debat tak berujung kecuali diam. Hingga akhirnya sang Tuan Besar Kazehaya datang menjenguk. Ekslusif dari Australia-Korea langsung ke rumah sakit di Tokyo Jepang tanpa mampir rumah.


Secara teknis, kakek Wijaya sudah tahu seluk-beluk masalah yang dialami kedua cucunya itu. Shuhei dan Aron adalah data basenya. Ia adalah sosok orang tua yang sudah cukup berpengalaman di kehidupan dunia.


Sebagai orang tua, ia akan memberikan ilmu dari semua pengalaman yang ia sudah jalani.


Melihat kedua cucunya saling bertengkar serius seperti ini, membuatnya harus melakukan sesuatu. Ini penting, tak hanya untuk kebaikan Melody dan Yudha, tapi juga untuk dirinya sendiri, ia memiliki motif lebih besar dari sekedar menjaga hubungan baik Melody dan Yudha.


Apakah itu?


Kakek Wijaya sendiri sudah lama menyimpannya di dalam pintu rahasia hidupnya.


.


.


.


Usai menyuruh Yudha keluar, kakek Wijaya berniat mengobrol empat mata dengan Melody. Ada hal yang perlu ia sampaikan kepada cucu menantunya itu. Dan hal itu sangat besar. Sudah lama ia ingin mengatakannya,tapi belum memiliki waktu yang tepat. Kali ini adalah waktunya.


“Kau ingin mendengarkan sebuah kisah?” Tanya kakek Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2