
“Yudha-kun ada apa?” Tanya Yura.
“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Jawab Yudha.
"Hm, begitukah?"
"Hn." Yudha berbalik badan. “Apa tadi Melody? Apa aku tak salah lihat? Apa yang dia lakukan di rumah sakit? Bukankah ia harusnya di tempat Mia? Apa dia sakit lagi? Kenapa tidak bilang?”
Batin Yudha.
.
.
.
“Melody, untung kau belum naik taksi. Dompetmu tertinggal di meja kerjaku!” Kata Alvin.
Melody menoleh ke arah Alvin. Alvin langsung kaget karena melihat air mata yang mengalir di kedua pipi Melody.
“A-Alvin-senpai?” Gumam Melody.
"Kau menangis?"
Melody langsung menghapus cepat air matanyanya. "Tidak kok.."
Melihat dompet yang ada di tangan Alvin ia langsung tersadar dan mengambil dompetnya itu.
Alvin menatap Melody tajam. Ia yakin dirinya tak salah lihat. Melody sedang menangis!
“Maaf merepotkanmu lagi Senpai, terima kasih ya sudah membawakan dompetku.”
Kata Melody parau.
Suara khas orang yang baru saja menangis.
“Ada apa Melody? Kau bilang padaku sudah baik-baik saja. Kenapa kau menangis seperti ini?”
Alvin tak tahan. Air mata Melody mengiris hatinya.
“Senpai... aku... hiks..”
😢
Alvin langsung menarik Melody ke dalam pelukkannya. Ini pasti karena Yudha lagi. Kenapa selalu seperti ini? Bukankah ia mati-matian berusaha melepas Melody agar Melody bisa bahagia dengan Yudha? Kenapa Melody justru menderita?
“Sttt, jangan menangis! Ayo kita pulang dulu!”
"Iya." Melody menangguk. Ia memang butuh sandaran dan Alvin adalah orang yang cocok untuk hal ini.
Alvin langsung menstop taksi dan pulang ke rumah. Bukan ke mansion Kazehaya, tapi kembali ke apartemen miliknya. Sepertinya kali ini lebih besar dari kepergian Melody yang pertama. Melody benar-benar tak ingin bertemu Yudha.
.
.
.
Yudha mengepalkan kedua tangannya. Darahnya mendesir panas.
Apa yang baru saja ia lihat? Sebuah adegan pelukkan manis di gerbang rumah sakit? Di tempat umum? Istrinya? Kakaknya?
“Brengsek!!”
__ADS_1
.
.
.
Apartemen milik Alvin..
Melody duduk menenangkan diri. Berkali-kali ia menghapus air matanya yang terjatuh begitu banyaknya.
“Minumlah ini!" Alvin memberikan minumab hangat pada Melody. "Tanganmu sangat dingin. Kau baik-baik saja?” Kata Alvin.
Melody menerima minuman hangat buatan Alvin. “Terima kasih banyak, Senpai. Aku baik-baik saja.” Melody meminumnya.
"Aku akan menyalakan penghangat ruangan. Sebentar.."
Alvin berjalan menuju ujung apartemen dan menyalakan penghangat ruangan. Sementara itu, Melody menikmati minuman hangatnya.
Ketika air hangat itu masuk ke dalam tubuhnya, ia merasakan sensasi hangat memeluk tubuh hamilnya. Ada perasaan membaik di sana.
“Merasa baikan?”
Tanya Alvin.
“Iya. Minumannya membuat tubuhku menghangat. Terima kasih, Senpai.”
Alvin memahami apa yang terjadi pada mantan kekasihnya. Ia paham perjalanan kisahnya dengan Melody sudah lama berlalu. Tapi, kisahnya masih berlanjut dengan status baru yang tak terduga. Ia tahu, Melody itu wanita yang sangat baik kepadanya dan iapun juga tahu jika Melody tidak mencintainya. Namun, ia sangat paham bagaimana harus menempatkan dirinya.
Ia juga paham jika ia sudah sampai pada batasnya.
“Melody..”
“Ya?”
Melody terperangah. Bukankah ia bilang akan baik-baik saja jika menikah dengan Yudha? Bukankah ia bilang pada Alvin jika ini adalah keputusannya? Kenapa ia menjadi seperti ini? Kenapa setiap ada masalah, ia selalu saja datang mencari Alvin?
Semua serba Alvin.
Alvin dan Alvin.
Kenapa ia selalu lari menuju Alvin ketika dunia ini terasa begitu sempit untuknya? Kenapa Alvin menjadi tempatnya pulang untuk mencari perlindungan? Harusnya ia tak boleh seperti ini!
Tidak boleh!
Itu tidak boleh!
Ia tahu besarnya perasaan Alvin padanya. Ia tahu betapa baik hati Alvin padanya. Ia tahu Alvin selalu membuka tangan untuk menyambutnya. Ia tahu Alvin selalu bilang ‘ya’ jika ia membutuhkan bantuannya. Lalu kenapa ia seperti ini? Kenapa ia harus bersikap seolah-olah memanfaatkan kebaikan Alvin terhadapnya?
Bukankah ini terlalu kejam untuk Alvin? Terlalu tidak adil untuk Alvin?
Bukankah segala yang ia lakukan saat ini hanya akan menyakiti perasaan Alvin?
“Senpai... Go-gomen.” Melody menutup mulutnya. Ia baru sadar segala tindakannya begitu melukai Alvin. Ia meneteskan air mata.
“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.” Alvin memegangi dadanya.
"..."
“Ini keputusanku untuk menerimamu.” Alvin memegang kedua tangan Melody.
"Se-Senpai?"
“Percayalah, aku sudah memikirkan seberapa besar luka yang akan aku terima.”
__ADS_1
Alvin memeluk Melody. Melody menerimanya. Ia tidak menolak pelukan hangat penuh perlindungan dari Alvin.
Alvin adalah malaikat penjaganya.
“Senpai.. maafkan aku, maafkan aku yang begitu egois tanpa memikirkan perasaanmu. Aku selalu saja datang meminta bantuanmu. Tapi aku.. aku mencintainya. Senpai.. maaf, maafkan aku!” Melody menangis.
Akhirnya ia bisa jujur pada Alvin. Meski cukup terlambat, tapi ia ingin mengakui perasaan yang sejujurnya. Ia mencintai Kazehaya Yudha!
.
.
.
Sakit.
Sudah tahu kok. Alvin sudah tahu itu. Ia hanya bisa membiarkan Melody bersandar di pelukannya. Memeluk Melody begitu erat seperti ini sementara Melody memikirkan orang lain, rasanya seperti memeluk jutaan duri tajam. Tapi ia tak ingin mencabut jutaan duri yang menghujami tubuhnya.
Ia menerima segala luka dari tajamnya duri itu.
Ia menerima segala luka dengan keikhlasan dari sisa pertahanan hatinya yang merapuh.
Tiba-tiba..
Sebuah tangan menarik kasar tangan Melody.
“Pulang!” Kata tajam penuh hak mutlak itu mengintimidasi.
“Yu-Yudha?” Melody kaget setelah acara pelukan ala teletubbiesnya ‘diganggu’ oleh Yudha.
Wajah itu terlihat sangat asing di mata Melody. Mata onyx itu menatap sangat tajam. Cengkraman tangan Yudha begitu sakit di pergelangan tangannya.
“Yudha, kau terlalu kasar padanya!” Kata Alvin yang tak tega melihat bagaimana Yudha memperlakukan Melody.
“Dia istriku, terserah aku mau memperlakukannya seperti apa!”
Kata Yudha. Tidak, ini mengklaim dan membentak.
“Dia sedang hamil” Kata Alvin meninggi.
“Dia hamilpun bukan urusanmu!” Kata Yudha tajam. Ia lalu kembali ‘menyeret’ Melody.
"..."
"..."
Melody dan Alvin terdiam.
“Pulang!”
Bentak Yudha lagi.
Melody hanya mengangguk. Ia sempat menatap sendu Alvin sebentar sebelum akhirnya mengikuti langkah Yudha. Ia ingin menolak pulang, tapi ia terlalu takut melawan perintah Yudha yang entah mengapa begitu memenjara seluruh tubuhnya. Melemahkan segala keberaniannya.
Melemahkan segala otot kuatnya.
"Perlakukan dia dengan baik, Yudh!" Kata Alvin sesaat sebelum Yudha dan Melody menghilang di balik pintu.
Ia tak yakin permintaannya itu didengar oleh Yudha atau tidak.
Sementara hatinya yang gundah tidak menentu, Alvin hanya bisa melihat dua orang yang begitu berati dalam hidupnya meninggalkan langkahnya jauh ke depan.
Meninggalkan dirinya dengan segala sisa perasaan yang merapuh.
__ADS_1
“Melody, aku selalu mendukung apapun keputusanmu asal kau bisa bahagia. Tapi, jika seperti ini, aku sungguh tak bisa menyerah akan dirimu. Aku tak bisa menyerah akan perasaanku juga meski aku tahu kau mencintainya. Maaf Melody, aku tidak bisa menurutimu kali ini..”