MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 6: Berbicara Part 2


__ADS_3

"Untuk itu, aku minta maaf atas semua kesalahanku kepadamu. Honto ni gomenasai, Melody-san." Kata Yura dengan segala ketulusan hatinya.


Honto ni gomenasai: benar-benar minta maaf.


Minta maaf?


Seorang Amamiya Yura yang elegan di mata orang-orang itu sedang minta maaf?


"Dia minta maaf kepadaku? Aku tak akan berprasangka buruk terhadapnya. Aku mengikuti suara hatiku, rasa benci dalam hati ini juga tak memberontaknya. Apa ini yang dinamakan dengan minta maaf dengan suara yang penuh dengan ketulusan? Semua terasa sejuk dan damain. Rasa bencin dan tidak sukaku terhadapnya melenyap. Tuhan, aku hanya harus menyambut niat baiknya, kan?" Batin Melody.


Merasa tidak kunjung jua mendapatkan jawaban atas perminta maafannya, Yura merasa gelisah. Ia merasa jika dosanya pada Melody sangatlah besar hingga kata maaf saja tak akan cukup untuk menebusnya.


"Aku paham, Melody-san. Semua kesalahanku kepadamu memang sangatlah besar. Aku terlalu percaya diri jika kau akan memaafkanku dengan mudah. Aku paham itu. Aku memang pantas mendapatkannya. Namun, dari semua orang di dunia ini, aku mohon, meski dosaku tak termaafkan olehmu, tolong jangan benci diriku. Semua orang sudah membenciku, aku tak memiliki apa-apa lagi, hidup dan karirku sudah hancur, tapi tolong kali ini saja, tolong turuti permintaan egoisku, tolong jangan benci aku! Melody-san, tolong jangan membenciku!" Yura meneteskan air mata. Tubuhnya gemetar.


"A-ano..." Melody malah jadi bingung sendiri. Ia tak ingin membuat Yura merasa buruk seperti ini. "Aku bisa mengesampingkan rasa benciku terhadapmu dan aku juga memaafkanmu, Amamiya-san. Ja-jadi, tolong jangan menangis! Aku tidak ingin disangka sedang menyakitimu saat ada orang yang lewat." Kata Melody.


Melody memaafkannya?


"Apakah kau sungguh memaafkanku, Melody-san? Apa kau tulus mengatakannya?" Tanya Yura.


"Ya, aku sudah memaafkanmu. Lagipula kalau dipikir-pikir, apa ada untuknya jika aku membencimu dan mengutukmu atasa kesalahanmu terhadapku maupun Yudha? Tidak ada, tidak ada sama sekali. Aku tak mau hati seorang ibu hamil ini akan mempengaruhi buah hatinya nanti. Saat kau memutuskan untuk memberanikan diri minta maaf kepadaku, akupun memaafkanmu. Aku lebih suka hidup damai. Jiwa dan raga ini. Bahkan dengan alam ataupun orang-orang di sekitarku. Damai itu indah." Melody menyunggingkan senyumannya.


Yura tersenyum sambil meneteskan air mata. Ia tak menyangka jika Melody memiliki hati yang baik. Ia memang tak boleh menilai seseorang dari luarnya saja. Ia memang harus mengenal perlahan dahulu sebelum membuat penilaian. Jika waktu itu ia bisa menyingkirkan rasa irinya, mungkin saat ini ia bisa belanja dan jalan-jalan bersama Melody, istri sahabat kecilnya, Yudha.


"Amamiya-san, tolong jangan menangis!" Pinta Melody yang panik dan celingak-celinguk takut ada yang lihat dan terjadi kesalah pahaman.


Ia tak ingin menambah masalah. Saat ini masih banyak masalah yang harus diurus.


Yura menghapus air matanya. "Ureshikatta. Ureshikatayo, Melody-san. Aku sangat bahagia. Maaf darimu membuatku sangat bahagi. Ini kata-kata yang indah untukku. Rasanya seperti rasa engap di dalam dadaku menghilang. Rasa yang mengganjal di hatiku melenyap. Ureshi.."

__ADS_1


Ureshi/katta/katayo: aku bahagia/senang.


Melody menjulurkan tangannya. "Aku sungguh memaafkanmu, Amamiya-san. Untuk ke depan, yoroshiku onegaishimasu."


Yura menyambut baik juluran tangan Melody. Mereka saling berjabat tangan dan membagi senyuman.


"Yoroshiku onegaishimasu, Melody-san. Arigato gozaimasu."


Mereka saling berpelukkan. Saling memaafkan. Saling berdamai dengan masa lalu yang tak indah untuk dikenang.


Masa lalu biarlah masa lalu. Namun, masa lalu adalah guru di masa sekarang. Yang baik lebih dikembangkan, yang buruk diperbaiki. Hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan memang seperti itu. Tak ada yang sempurna, tak ada yang sesuai penilaian di mata orang, akan selalu ada kurangnya, itulah manusia dengan segala penilaiannya. Tak apa. Setiap masia memiliki akal dan cara berpikirnya sendiri-diri. Namun satu hal yang harus digaris bawahi, jika ingin hidup tentram dan bahagia, sebaikan tahu batasan. Jangan memaksakan kehendak pada orang lain! Jangan merasa paling superior dibandingkan orang lain. Hiduplah dengan rukun, damai, dan bahagia!


.


.


.


"Merasa lebih baik?" Tanya Melody.


"Iya, sangat jauh lebih baik. Terima kasih banyak, Melody-san. Aku akan mengembalikannya setelah bersih." Jawab Yura. Ia masih menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.


"Kau boleh mengambilnya. Bukan ada apa-apannya, aku memiliki banyak sapu tangan di kamarku." Cengir Melody.


Yura ikut tersenyum. "Aku tahu kenapa Yudha bisa tergila-gila padamu..."


"Kenapa?" Melody ingin tahu bagaimana penilaian dari sudut pandang Yura atas hubungannya dengan Yudha.


"Karena kau ceria." Jawab Yura.

__ADS_1


"Hah? Ceria?" Melody nampak tak mengerti.


Ceria yang bagaimana? Yang ada tiap hari hanya perang argumen. Harus satu mengalah dulu baru perang itu disudahi.


"Iya ceria. Kau sangat ceria. Dengan kecerianmu, kau memberikan banyak warna dalam kehidupan Yudha. Kau memberikan banyak pengalaman baru dalam hidup Yudha. Kau tahu, kehidupan Yudha sebelum kau datang itu sangat monoton. Sewarna. Hitam dan hitam, atau putih dan putih saja. Datar. Kau pasti kuga sudah tahu kan bagaimana keluarga Kazehaya membesarkannya?"


"..." Melody menangguk.


"Bisnis yang jaya menghasilkan tahta. Itu gambaran pokoknya. Masa kecil dan masa muda Yudha penuh dengan hal itu. Membuatnya kaku dan tak begitu memahami dirinya sendiri. Untung kau hadir ke dalam hidupnya. Syukurlah, saat aku melihat matanya kali ini, aku merasa dia sudah terselamatkan. Terima kasih sudah menyelamatkan Yudha, Melody. Terima kasih sudah menyelamatkan sahabat kecilku."


"Sahabat kecil?" Gumam Melody.


Yura tertawa pelan. "Ya, sahabat kecil. Memang apa lagi? Jangan bilang kau masih mengira jika aku memiliki rasa romantis terhadapnya?"


"Ya kan, waktu itu, kau..." Ya waktu itu Yura bilang jika Yudha hanya mencintai Yura.


Eh, Yudha yang mencintai?


Yura?


Sebentar...


"Aku tak pernah memiliki rasa romantis pada Yudha. Aku mana maulah membina hubungan asmara dengan orang kaku seperti dia. Akan sangat membosankan." Kata Yura.


"Eh?"


"Memang benar, kan? Yudha itu sangat membosankan! Lihat saja apa yang tiap hari ia kerjakan? Bisnis, bisnis, dan bisnis. Jika orang normal akan menghabiskan hari minggunya dengan jalan-jalan atau piknik, maka Yudha akan membaca koran dan main saham. Untuk orang extrovert seperti diriku yang menyukai dunia luar, itu membuat tersiksa." Jelas Yura menggebu-gebu.


"Ta-*** Yudha tidak membosankan kok. Yudha itu, anu...." Melody menutup mulutnya. "Sial, apa aku harus menjelaskannya bagaimana Yudha menghabiskan hari minggu atau liburannya? Yudha akan menghabiskan harisnya untuk menghabisiku di ranjang." Batin Melody.

__ADS_1


Yura menepuk pundak Melody pelan. Ia lalu tersenyum. "Kau pasti sangat mencintainya ya.."


Melody memerah. "Ehm, aku sangat mencintainya."


__ADS_2