MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bisakahkah Kau Merasakan Rasa Ini?


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju rumah Melody. Yudha dan Melody terus beradu argumen. Susah terlalu biasa untuk dua pasangan ini. Mereke seperti tak pernah lelah atau kehabisan stok kata-kata untuk saling membalas debat yang tak ada ujungnya kecuali satu mengalah untuk diam.


Pemandangan beton bangunan di Tokyo menghiasi jalan yang Melody, Yudha, dan Shuhei ambil. Bagunan pencakar langit, rel kereta, beton pembatas jalan, semua berpadu. Beruntung daerah yang Melody tinggalin termasuk kawasan bukan kota sibuk, jadi suasana pagi menjelang siang itu tidaklah rame.


Jalan menjadi begitu luas untuk dilalui mereka bertiga.


"Yudha, jangan banyak gerak! Berat tahu!" Kata Melody.


"Kau berkendaralah dengan baik, jadi aku tak perlu banyak gerak dan menghawatirkan keselamatkanku, baka!" Kata Yudha.


"Jiah, menyelamatkan keselmatanmu sendiri, suami macam apa kau ini? Huft!" Kesal Melody.


"Suami nasional yang diidamkan banyak ceweklah." Kata Yudha asal.


"Narsis!"


Melody ingin bilang, jika Yudha diidamkan banyak cewek, kenapa ajak nikah satu cewek saja gagal? Ditolak? Namun sayang, ia tak cukup berani mengutarakan unek-uneknya itu. Ia tahu, Yudha pasti akan kesal padanya. Parahnya jika Yudha bisa marah dan tiba-tiba ada kecanggungan tercipta.


Sumpah, demi apapun, Melody enggan mengalaminya.


Melody hanya ingin menjalani hidup yang damai bersama Yudha.


"Biar saja narsis! Hei Mel, jangan ugal-ugalan!" Pinta Yudha karena Melody tiba-tiba menambah kecepatannya.


Melody tetap mengowes pedalnya dan malah tertawa senang. Yudha pasti ketakutan saat ini.


Karena Melody semakin ugal-ugalan, alhasil Yudhapun langsung memeluk pinggang Melody untuk mencari pegangan. Melody merinding karena geli.


"Yudha, geli! Lepasin tanganmu dari pinggangku!" Kata Melody.


"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau membenarkan cara berkendaramu!" Kata Yudha.


"Ini tidak berbahaya, Yudh! Tidak perlu takut seperti itu! Ini hitung-hitung untuk olahraga jantung." Goda Melody.


"Olahraga jantung apanya, hah? Kalau sampai jatuh akan sangat berbahaya! Bagaimana jika kau sampai lecet kulitnya?"


Apakah ini artinya Yudha sedang menghawatirkannya? Bolehkan ia mengartikannya seperti itu?


"Kalau lecet kan tinggal diobati. Aku tidak akan menangis hanya karena jatuh dari sepeda!" Kata Melody.


"Iya kau tak akan menangis, tapi kalau sampai membekas lukanya bagaimana? Kau itu kan cewek, biasanya cewek tidak menyukai ada bekas luka di tubuhnya."


Melody tertegun. Yudha memikirkannya sampai sejauh ini?


"Ne Yudha.."


"Hn? Apa?"


"Kalau aku memiliki bekas luka, apa kau tidak akan menerimaku sebagai istrimu?" Tanya Melody. Iapun jadi cukup penasaran akan hal ini.


"Kenapa aku harus memikirkannya sampai sejauh itu? Aku bahkan bisa menikahimu tanpa cinta, kan?" Kata Yudha.


Melody tersenyum. Ia langsung mengowes pedalnya dengan jauh lebih semangat. Lebih cepat dari kecepatan yang Yudha protesi.


Yudha semakin memegang erat pinggang Melody. "Kau sungguh ingin jatuh ya? Woi Mel! Pelan-pelan saja kenapa sih?"


"Kalau aku jatuh, Yudha suami bisnisku akan menyelamatkanku, kan?"


"Cih, kau ini. Masih saja pernikahan bisnis yang kau bahas. Bisakah kau lebih serius lagi? Ini pernikahan, Mel! Tidak boleh macam-macam!" Kata Yudha.


"Haha, iya-iya, aku akan lebih serius lagi!"


Rasa ini akankah terus berlanjut ke tahapan yang lebih dalam? Ada rasa unik dan berbeda di dalam hati masing-masing. Jika dilempar tanya, apakah bisa masing-masing dari diri merasakan rasa ini?

__ADS_1


.


.


.


ALVIN'S POV


Sudah lebih satu bulan berlalu, rasa yang berusaha kukubur kembali menampak ke permukaan. Rasa sakit yang hampir membuatku tak berdaya menerima kenyataannya itu kembali menyeruak. Kembali terasa sakitnya yang amat perih bahkan bisa membuatku tak mengerti.


Seberapa berusahanya aku mencoba melupakan gadis itu, tapi aku belum juga bisa melakukannya.


Melody.. Melody Hwang. Ah, maksudku Kazehaya Melody, gadis yang amat kucintai, gadis yang kini menjadi istri dari saudaraku sendiri, Yudha.


Aku mencoba untuk tidak menghianati Yudha dengan mencoba melupakan Melody untuknya. Aku mencoba menerimanya. Menerima dengan segala kelukaan ini.


Mungkin Yudha dan Melody tak mengerti bagaimana perasaanku, tapi aku berfikir akan lebih baik jika mereka tak mengetahuinya jika rasaku pada Melody masih ada bahkan semakin besar.


Bukankah aku orang yang baik?


Atau, adakah yang menganggapku kasihan?


Menyedihkan.?


Hidoi na. Itu keterlaluan, cukup sudah aku merasakan sakitnya, jangan ditambahi lagi! Kurasa aku bisa mati karena luka abadi ini.


Hidoi: keterlaluan.


Kenapa lukaku kembali muncul?


Pertanyaan yang bagus.


Aku sedang mengendarai mobilku. Biasanya di hari minggu seperti ini aku akan mengendarai mobilku di pinggir kota untuk melihat keindahan pinggir kota yang penuh dengan pemandangan pepohonan dan beberapa persawahan kecil di sela bangunan tinggi menjulang.


Gadis yang seharusnya aku lupakan.. seharusnya tak harus aku masukkan ke dalam kisah romantisku.


Gadis yang selalu memenuhi otakku.


Membuat begitu sesak dan gembira di saat yang sama.


Senyumnya.


Matanya..


Rambut panjangnya..


Wajah ayunya…


Semua sangat kurindukan.


Gadis itu.


Terlihat begitu gembira mengayuh sepedanya.


Tunggu..


Dia tak sendiri.


Dia sedang terlihat bersama dengan suaminya.


Suaminya ya?


Benar, dia sudah menikah, masih cocokkah jika aku menyebutnya sebagai seorang gadis?

__ADS_1


Melody.


.


.


.


Haah, aku hanya bisa menghela nafas sesak ini. apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada!


Aku ingin berlari dan menghampirinya. Atau mungkin memelukknya seperti dulu?


Aku bahkan tidak bisa untuk beregois diri karena perasaan dan keinginan semuku. Semuanya terasa mustahil bagiku. Terlalu sulit dan semakin menyakitkan.


Kenyataan memang tak selalu menyenangkan, kan?


Hidupku memang sudah sulit dari awalnya, mungkin dari semenjak aku belum dilahirkan ke dunia ini.


Tuhan, aku tidak akan mengeluh.


.


.


.


Sepertinya sudah tak ada lagi jalannya.


Tak akan ada jalan terang untukku membuatnya berada di sampingku.


Aku sudah meyakinkan hal itu sesaat setelah ia menerima Yudha sebagai suaminya.


Awalnya aku mencoba, berusaha sekuat tenaga.


Nyatanya aku tak bisa melupakannya begitu saja. Rasa ini terlalu besar dan membingungkan.


Melody, apa kau tak merasakannya walau hanya sedikit saja?


Kau selalu baik padaku, tapi tak pernah sekalipun aku bisa membaca bagaimana isi hatimu.


Jika yang aku lihat saat ini benar, senyumanmu, tawamu. Apa Yudha bisa dengan cepatnya menjadi sumber kebahagiaanmu?


Aku tak memiliki hak untuk bersedih, tapi ini benar-benar menyakitkan.


Mau apa?


Sudahlah, aku hanya berusaha menerima sesulit apapun itu.


Kurasa ini demi kebaikan untuk semuanya.


Aku terluka kehilangan Melody, tapi aku cukup bahagia karena nenek dan ibu Mikan begitu menyayangiku. Mereka memang sudah seperti itu sedari dulu, tapi mudahnya aku berkunjung ke kediaman Kazehaya kuharap awal yang baik untuk memperbaiki hubunganku dengan kakek.


Bukankah itu yang terpenting?


Bukankah itu yang selama ini aku inginkan?


END OF ALVIN'S POV.


_______________________________________


Ojo pelit like ma komenannnya ya; biar semangat akunya. 😉😉😉


Pokoke aku tunggu like mbi komene. 😎 Tak tunggu karo nyawang mas Eun Woo sing kalah ganteng seko mas Yudha-ku. 😅😅

__ADS_1


__ADS_2