
Ruang keluarga kediaman Kazehaya..
Melody dan Ayane sedang duduk bersama. Melody baru saja menyelesaikan bimbingan belajar dari Ayane. Tentu saja mengenai manner dan beberapa mata kuliah yang menurut Melody sulit ia ikuti.
Melody membereskan buku-buku pelajarannya. Ia memasukkannya ke dalam tas kuliahnya. Ia juga menata rapi pensil, pulpen, dan perlengkapan alat tulisnya ke dalam wadah kotak pensilnya.
Waktu memang cepat berlalu, tahu-tahu ia sudah menyelesaikan ujian semesternya. Ia juga sudah mendapatkan kopian dari hasil nilai ujian semesterannya.
Ujian semesteran terlalui dengan lancar dan tanpa ada gangguan berarti. Ia juga tak mengalami banyak kesulitan dalam menjawab segala soal ujiannya. Ia beruntung karena selama menikah dengan Yudha, ia menjadi memiliki guru les pribadi yang siap membantunya dalam belajar.
"Nona Melody, bagaimana dengan hasil ujiannya?" Tanya Ayane.
"Sugoii, aku tidak menyangka akan mendapatkan nilai B di mata kuliah akuntansi. Ya ampun, semua usahaku tidak sia-sia. Arigato, Ayane-nee." Kata Melody sambil memperlihatkan hasil ujian semesternya pada Ayane.
Sugoii: Hebat.
"Nona sudah berusaha dengan keras selama ini. Nona berhak mendapatkannya."
"Ne Ayane-nee, apa menurutmu hasil ini sudah pantas sebagai anggota keluarga Kazehaya?"
Selama ini Melody berusaha sangat keras demi dianggap pantas sebagai bagian dari keluarga Kazehaya.
"Wijaya-sama tidak pernah menuntut apapun dari Nona Melody, beliau menerima Nona apa adanya. Jangan terlalu berat memikirkannya, Nona."
"Meski begitu, nama baik keluarga Kazehaya tetaplah yang terpenting, ne Ayane-nee?"
"Saya akan membantu Nona mewujudkannya, Nona jangan khawatir."
"Arigato Ayane-nee, aku akan berusaha. Gambarimasu!"
Gambarimasu: Semangat.
"Iya Nona, Tuan Yudha tadi menitipkan pesan, bersiap-siaplah karena lusa Nona diminta untuk menemani Tuan Muda ke Okinawa."
"Okinawa?"
"Ya, Okinawa. Tuan Muda berniat meninjau pembangunan resort di sana dan sekaligus liburan musim panas dengan teman-teman Tuan Muda."
"Nao-kun dan yang lainnya? Apa aku boleh mengajak Mia?"
"Tuan Muda sudah mengizinkannya."
"Wah.. Pengertian juga dia itu."
Ayane membuka tasnya dan memberikan dokumen berupa map kepada Melody. Melody terlihat tak tahu tentang isi map itu.
"Itu adalah tabungan untuk Nona dari Tuan Muda. Ada kartu kredit dan juga kartu ATM."
Melody membuka buku tabungan itu, lembar demi lembar, astaga, matanya yang indah semakin hijau tatkala ia melihat nominal yang tertera di buku tabungan atas namanya itu.
Satu, dua, tiga,.., sembilan. Ada sembilan nol dengan sebelas digit angka!!
"Huwaa, aku bisa membeli sebuah mobil Ferari dengan uang ini." Teriak Melody sangat senang.
"Benarkan ini Yudha yang memberikannya? Untukku? Uang sebanyak ini?"
Ayane tersenyum dan mengangguk. "Itu memang untuk Nona. Tuan Muda merasa berkewajiban memberikan nafkah untuk Nona."
"Yudha memberiku hidup yang sangat layak, tempat tidur yang nyaman, makanan yang enak, tapi dia juga memberiku uang sebanyak ini? Aku senang aku jadi orang kaya, tapi berat juga, apa yang bisa aku berikan kepada Yudha?" Gumam Melody.
__ADS_1
"Nona hanya cukup memberikan kebahagian saja buat Tuan Muda dan keluarga ini."
"Kebahagiaan ya?"
"Tidak usah bingung, Nona. Bahagia itu memiliki banyak cara."
"Hm, begitu ya? Aku akan memikirkannya di liburan kali ini."
Melody terlihat sangat gembira walau sejujurnya ia tak tahu hal apa yang akan menantinya lusa. Satu hal yang Melody percayai, liburan bukankah untuk bersenang-senang? Liburan musim panas di Okinawa, pulau dengan pantai yang indah meski sangat jauh dari Tokyo.
Tunggu, musim panas adalah ulang tahun Yudha. Sebaiknya apa yang harus ia berikan pada Yudha?
Buat kejutan dengan seharian mendiamkan dan mengabaikan Yudha, lalu tiba-bia surprize happy birthday Yudha?
Atau mematikan ruangan lalu pas Yudha masuk, lampu nyalah dan petasan bunyi dor, otanjoubi omedetto, Yudha?
Ah apa sebaiknya ia meminta Nao dkk untuk melempari Yudha dengan tepung dan telur lalu Yudha dilempar ke laut? Jika itu benar, maka Melody akan sangat senang karena berhasil melukai harga diri Yudha.
Tapi setelah itu, Yudha pasti akan membunuhnya. Kok horor ya hanya dengan membayangkannya saja?
"Pertanyaannya, habis itu aku akan dibunuh olehnya, kan?" Melody bergidik ngeri hanya dengan membayangkannya.
"Apanya yang dibunuh, Melody?" Tanya Yudha yang masuk ke dalam kamar mereka.
Orangnya datang, Melody membatu.
"Haha, tidak. Oh ya, kau menyukai apa Yudha?"
"Hn?"
"Maksudku, kau menginginkan apa di ulang tahunmu nanti?"
"Setidaknya biarkan aku memberikan sesuatu padamu. Sudah hampir lima bulan kita saling mengenal, tapi aku tak pernah memberikan apapun untukmu."
"Apa aku pernah meminta sesuatu padamu, Melody?" Melody menggeleng. "Kau berusaha keras demi keluarga ini dan mendapat nilai baik saja sudah membuatku senang."
Melody merona, hal seperti itu bisa membuat Yudha senang? "Aku memang sudah berusaha sangat keras, sampai pegal-pegal karena belajar mati-matian, jadi apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Nani ka?"
Otanjoubi omedetto: Selamat ulang tahun.
Nani ka: Apaan?
Melody terdiam, kenapa ia malah berkata seperti itu? Kenapa ia malah jadinya yang meminta sesuatu pada Yudha? Sudahlah, sebaiknya ia memikirkan apa yang ingin ia pinta pada Yudha.
Jujur saja, ia belum memikirkannya. Tapi biasanya otaknya akan merangkai kata untuk membuat Yudha kesal dengan acara bercandanya, tapi rasanya moodnya kali ini sedang sangat baik sampai-sampai ia tidak mau membuat Yudha kesal terhadap dirinya.
"Melody?"
"Hmm, eto, anoo.." Melody terlihat kebingungan.
Yudha mendekati Melody. "Hn?"
Melody menundukkan kepalanya. "Ano.."
Yudha semakin dekat dengan Melody. "Katakan, Melody!"
"Arigato gozaimasu."
__ADS_1
"Untuk?"
Melody mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Yudha yang tepat di hadapannya itu. "Tabungan, ATM, kartu kredit, se-semuanya."
"Sama-sama, itu memang hakmu, lalu apa yang ingin kau pinta dariku?"
"Itu.."
"Melody? Kau tahu kan aku tak suka berbelit-belit?"
"Hm, tahu kok."
"So?"
"β¦"
"β¦"
Mereka saling berdiam, saling bertatapan.
Mata saling tatap, memancar, membuat gaya tarik menarik yang indah, menampilkan pesona yang tak diketahui. Sensasi aneh tapi nyaman mulai muncul. Membuat fatamorgana penuh kilauan dan harapan.
Merengek-rengek, meminta-minta, cukup licik dan nakal, bahkan sedikit, menggoda? Panas? Ah, membuat penasaran. Lagi, rasa itu selalu saja muncul akhir-akhir ini.
Membuat hilang kendali.
Tiba-tibaβ¦
Cupp. π
?
"β¦"
"β¦"
"Me-Melody?"
Wajah Melody memerah, ia bahkan menutup mulutnya. "GOMENASAIIIIIIII." Melody langsung berlari dari hadapan Yudha.
Kabur tepatnya.
Sementara Yudha hanya terdiam melihat kepergian Melody. Ia justru memegang bekas kecupan di pipi kanannya. Melody memberinya kecupan singkat di pipinya? Melody melakukannya? Hal seperti itu? Menciumnya?
Entah apa, Yudha justru menarik sudut bibirnya.
.
.
.
"Bodoh, apa yang sudah kulakukan? HUWAA. Bagaimana aku memasang sikap di hadapannya nanti. Baka, baka, baka! Melody no baka!"
πππ
Gomenasai: Maaf.
Baka: Bodoh.
__ADS_1