
Kurenai melangkahkan kakinya memasuki lift dan menekan tombol angka 12. Lantai 12 adalah tujuannya. Lantai dimana sang pemilik gedung bertahta.
Lantai dimana singgasana megah itu berada.
Kurenai nampak sangat anggun dengan gaun tiga per empat berwarna crem dan tas senada bermerk terkenal. Rambut panjangnya ia cepol ke atas menampilkan wajah ayunya yang tak memudar meski sudah termakan usia. Kulitnya yang putih terlihat sangat mulus tanpa cacat sedikitpun.
Ting.
Lift berhenti dan terbuka otomatis di lantai 12.
Kaki indah Kurenai berjalan perlahan menyusuri lantai 12 itu. Menengok, meneliti, dan bertanya pada resepsionis di lantai 12 tentang keberadaan sang pemilik gedung. Setelah mendapatkan izin, Kurenaipun berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan oleh seorang pegawai yang bertugas mengantarkan tamu.
Dalam hati ia berfikir jika prosedur bertamu perusahaan yang sedang ia kunjungi memanglah sangat ribet. Ya, wajar saja karena ini bukanlah perusahaan kecil, tapi sangat besar. Keamanan adalah yang utama.
"Silahkan masuk, Nyonya! Presdir ada di dalam." Kata petugas pengantar, Tao.
"Aigataou gozaimasu." Kurenai memasuki ruangan itu.
Ruangan yang sangat megah hanya untuk sekedar tempat kerja. Interior super indah dengan ornament kuno khas Jepang klasik. Sangat epic. Bukan hal aneh, memang itulah gaya sang pemilik ruangan itu dan Kurenai tak perlu banyak tanya ataupun kaget. Kesamaan itu ia ketahui dari orang yang sangat dicintainya di masa lalu.
"Selamat siang, Wijaya-sama. Bagaimana kabar Anda?" Sapa Kurenai. Tak lupa senyuman menghiasi bibir tipisnya.
Kakek Wijaya yang sedang sibuk menandatangani dokumen penting langsung menoleh ke sumber suara yang lumayan mengganggu konsentrasinya. Bohong jika ia tidak kaget melihat wanita separuh baya di depannya saat ini, tapi ia bisa dengan baik menyembunyikan rasa kagetnya itu.
"Ho, Uchiyama Kurenai, rupanya kau yang dinikahi Uchiyama Azumane." Kata Kakek Wijaya.
"Apa berita itu mengejutkan Anda, Wijaya-sama? Hmm, bukankah perusahaan Uchiyama dan Emperor Group saling bersahabat? Ah lebih tepatnya bekerja sama?"
"Tidak begitu mengejutkan karena saya tahu jika ular akan bertindak cepat."
"Tidakkah Anda berfikir jika Anda terlalu kejam untuk laki-laki seusia Anda? Ular memang akan bergerak cepat, Tuan Besar Kazehaya yang terhormat, tapi tak hanya itu. Ular juga akan menggigit, setelah itu, ular juga akan menancapkan taringnya dan menyuntikkan racun yang mematikan mangsanya. Anda membuat perumpamaan yang benar, Wijaya-sama. Saya benar-benr menyukai ular." Kurenai kembali tersenyum.
"Ternyata kau bernyali juga rupanya menunjukkan batang hidungmu itu. Dulu kau sangat penurut, sekarang kau berbisa."
"Manusia bisa berubah, Tuan Besar, termasuk saya. Luka masa lalu membuat saya bangkit dan semakin kuat, bahkan membuat saya ingin luka lama itu terbayarkan."
__ADS_1
Ya manusia akan selalu berubah setiap harinya. Ada tahapan yang memaksa manusia untuk mencapai perubahan dalam hidupnya. Menjadi semakin baik ataukah membiarkan diri semakin buruk. Semua tergantung pada pribadi masing-masing. Tapi, sebagai manusia bijak, tentulah tahapan yang baik dalam hidup yang ingin dicapai, dan Kurenai sedang berada di jalar ini.
"Oh, jadi kau berniat balas dendam atas semua yang kau alami selama ini?" Tanya Kakek Wijaya.
Kurenai menatap ke jendela luar ruangan itu, ia melihat matahari yang memancarkan sinar terangnya.
Balas dendam ya?
Apakah ini termasuk dalam tahapan yang sedang ia jalani?
Balas dendam itu sangat buruk, tidak baik. Hanya saja banyak orang yang menjadikannya alasan untuk bertahan di dalam alur hidup yang kejam.
Ada yang membabi buta untuk ngotot tetap balas dendam demi kehidupan ke tahap yang lebih baik. Apakah Kurenai salah satunya?
"Anda sendiri yang membuat kesimpulan itu. Memang bisa jadi." Kata Kurenai.
"Aku akan meladeni permainanmu, Kurenai." Kata Kakek Wijaya mantap.
Kurena tersenyum meremehkan. "Anda memang seorang Kazehaya sejati, seusia Anda seharusnya sudah tak perlu bermain hal-hal seperti ini. Bukankah sebaiknya Anda tidur di rumah dan beristirahat saja?"
Sosok Kazehaya Wijaya yang angkuh dan selalu ingin menang memang tak akan mudah ditumbangkan. Kurenai tahu itu. Ia harus selalu memiliki banyak ide agar terus bisa melanjutkan permainannya.
"Luar biasa seperti yang diharapkan sebagaimana mestinya seorang Kazehaya, Wijaya-sama. Anda sekali! Sangat Anda! Dan benar-benar sangat mirip dengannya."
Kurenai ingat bagaimana mendiang ayah Alvin. Memang sangat mirip kakek Wijaya. Hanya saja, mendianh ayahnya Alvin itu memiliki mata yang lebih lembut. Lebih teduh dan bisa mengesampingkan keangkuyannya.
"Begitukah?"
"Mari bermain Wijaya-sama!" Ajak kurenai.
"Bermain denganmu?"
"Ya, bermainlah dengan wanita yang sangat dicintai oleh anak Anda ini!" Kurenai tersenyum.
Kakek Wijaya tetap mempertahankan emosinya agar tak goyah. Berbicara mengenai ayahnya Alvin dan Yudha memang selalu mengoyak hatinya.
__ADS_1
Masa lalu yang tak bisa dilupakan begitu saja. Masa lalu yang begitu menduri di permukaan kulit keriputnya.
"Aku tidak akan bermain jika permainan itu tidak menarik." Kata Kakek Wijaya.
"Anda akan menyukainya, Wijaya-sama. Suka-suka Anda! Ah, tidak ada batasan aturanpun, semua cara diizinkan. Sangat menarik, bukan?" Kata Kurenai.
Kakek Wijaya tertawa, ia hanya tak menyangka jika wanita yang dulu sangat lemah dan rapuh itu berani menantangnya secara langsung.
"Haha, aku menyukai idemu. Sangat menarik. Ini benar-benar akan sangat menarik."
"Kalau begitu, persiapkan diri Anda, Tuan Besar Kazehaya! Saya akan bertaruh besar dalam permainan ini. Sebaiknya Anda juga melakukannya."
"Tentu saja, aku akan meladenimu, wanita yang tak dipilih oleh anakku."
Kurenai menahan nafas sekilas. Tak dipilih di sini maksudnya adalah tak dipilih dinikahi oleh anaknya kakek Wijaya, Kazehaya Yoga. Kurenai sangat paham akan hal itu.
"Saya menantikan kejutan dari Anda, Wijaya-sama yang agung. Matta ashita."
"Matta ashita."
Matta ashita: sampai jumpa besok.
Kurenai berbalik badan dan berjalan meninggalkan ruangan Kakek Wijaya. Ia memegang gagang pintu ruangan itu dan membukanya. Sebelum ia keluar ia berhenti sejenak.
"Oh ya, hanya sekedar mengingatkan saja Tuan Besar yang agung, saham 5% Emperor Group milik Uchiyama Corp, bukan? Rasanya akan semakin bertambah jika seluruh pemegang saham berkenan berpihak dan bergabung dengan Uchiyama Corp." Kata Kurenai yang langsung pergi dari ruangan Kakek Wijaya.
.
.
.
Sepeninggal Kurenai dari dalam ruangannya, Kakek Wijaya meregangkan simpul dasinya. Ia lantas menyandarkan dirinya ke kursi panas, singgasana kekuasaannya. Ia bahkan tersenyum penuh arti.
"Tak kusangka jika wanita itu berani menyulet api di depanku. Permainan ini menjadi semakin menarik, tak hanya aku dengan Wanita Ular itu, tapi Yudha juga bisa saja menjadi pionku. Mungkin juga Melody? Bahkan Alvin sekalipun. Semakin banyak pion yang dikorbankan, maka akan semakin menyenangkan. Mari kita liat siapa yang akan menangis dan tertawa di akhir nanti."
__ADS_1