
Alvin's side...
Alvin masih berada di tempat yang sama. Masih duduk di sofa empuk yang sama. Bahkan masih dalam posisi menyilangkan kaki yang sama pula. Ia tidak beralih dari posisinya saat seperti Yudha dan Melody masih di dalam rumah yang ia beli sepuluh harian yang lalu itu.
"Apa mereka sudah pergi?" Tanya Alvin.
"Baru saja mereka pergi, Alvin-sama."
"Baru saja?" Alvin heran, bukankah harusnya sudah sejak lama mereka keluar dari dalam rumah? Kenapa mereka belum pergi dari kediamannya? Bukankah mereka membenci tempat ini dan ingin segera keluar dari rumah ini secepat yang mereka bisa?
Ia bahkan tak bisa mempengaruhi Melody untuk tinggal lebih lama lagi, kan?
"Mereka be-bermesraan dahulu di halaman depan, Alvin-sama." Tahu mereka ini adalah laki-laki, tapi sulit sekali menyembunyikan semburat merah di pipi keduanya.
Maklum saja, dua bodyguard ini berada di depan pintu utama dan menjadi saksi bagaimana mesranya Melody dengan Yudha.
"Bermesraan? Aku tak paham bagaimana dua orang ini menyampaikan rasa. Apa mereka tidak berpikir jika saat ini mereka sedang berada di wilayahku yang mereka anggap sebagai musuh?" Batin Alvin. "Kalian kembali berjaga!" Kata Alvin.
"Baik, Alvin-sama..."
Alvin tak habis pikir dengan pola tingkah adik dan adik iparnya ini. Enggan mengakuinya, tapi fakta berbicara jika Yudha dan Melody memang sangat saling mencintai yang membuat mereka bedua bertindak di luar batas kewajaran.
Apa ini yang disebut salah satu wujud cinta buta?
Konyol.
.
.
.
Orion's Side...
Rumah sakit Kazehaya International.
Tokyo, pukul 1.00 malam.
Kamar inap Kakek Wijaya.
Orion duduk di kursi sebelah ayahnya dirawat. Kazehaya Wijaya yang sudah dirawat sejak lebih dari dua bulan yang lalu karena kecelakaan, mengalami koma lama dan ketika sadar mengalami lumpuh total.
"Selamat malam, Ayah." Sapa Orion.
"..." Tentulah tak akan pernah ayahnya, Wijaya menjawabnya. Jangankan bersuara, bergerakpun tidak bisa.
"Sudah lama ya kita tidak mengobrol seperti ini? Hm? Ah, ini tidak akan terhitung sebagai obrolan karena hanya satu pihak yang berbicara. Syarat utama suatu obrolan itu memiliki feed back dari lawan bicaranya. Sementara yang terjadi saat ini, aku berbicara sendiri tanp mendapatkan umpan balik dari ayah. Ini akan terdengar seperti sedang mendongeng."
"..."
"Kau tahu, Ayah? Saat ini, kau sangat menyedihkan. Mati tapi tidak mati, hidup tapi tidak hidup. Sosok Kazehaya Wijaya yang perkasa itu sudah tidak ada. Apa ini adalah akhir dari kekuasaanmu, Ayah?"
"..."
"Lihatlah aku saat ini, Ayah! Aku sedang menghinamu dengan kedurhakaanku padamu! Lihatlah aku saat ini, Ayah! Aku sedang mengejekmu atas keadaanmu yang menyedihkan ini. Lihatlah aku saat ini, Ayah! Aku menertawai ayah kadungku sendiri. Lihatlah aku saat ini, Ayah! Ada rasa bahagia ketika melihat ayah seperti ini."
"..."
Orion tertawa.
"Ne Otou-sama, sepertinya ada yang aneh denganku? Ah, ayah bahkan sudah sangat mengenal diriku ini bagaimana, sudah sejak dulu ayah mengetahuinya, kan? Tapi kenapa? Kenapa aku selalu kau biarkan begitu saja? Bukankah ayah bilang akan menangkapku?"
"..."
"Aku adalah anak yang selalu memberontak pada ayah. Aku jauh berbeda dengan kak Yoga yang selalu mampu menjadi seperti yang ayah inginkan. Aku tidak bisa seperti kak Yoga yang selalu ayah banggakan."
"..."
"Kau selalu saja membersihkan masalah-masalah yang aku perbuat. Hei ayah, aku mengucapkan rasa terima kasihku padamu untuk itu meski ayah tak akan membutuhkannya. Anak yang selalu tak sejalan denganmu ini memang sebaiknya tak perlu menunjukkan mukanya. Ini tidaklah pantas, kan?"
"..."
"Ayah, maaf, untuk masalah wanita ular itu dan anaknya, aku kembali mengambil jalan yang berbeda denganmu. Aku memiliki rencanaku sendiri."
__ADS_1
"..."
"Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Dengar tidak dengar, aku tak berharap banyak padamu. Selamat malam, Ayahku! Tidurlah yang nyenyak!"
Orion berjalan meninggalkan kamar inap ayahnya, Wijaya. Suara langkah kaki berselimut sepatu miliknya mendominasi ruangan. Meninggalkan kakek Wijaya, sang ayah, yang terdiam tak bergeming dari ranjangnya. Tidur atau tidak tidur, tidak ada yang tahu keculai kakek Wijaya sendiri dan Tuhan. Bagi Orion, masa bodoh dengan hal itu. Ia tak perlu menyembunyikan apapun dari ayahnya. Karena ia tahu, ayahnya itu seperti dewa. Tahu banyak hal sebelum hal itu terjadi. Ayahnya bukan peramal, tapi pembaca kemungkinan yang mumpuni. Ayahnya itu, pandai sekali memprediksi dan menafsirkan kira-kira apa yanng terjadi di masa depan dengan tingkat keakuratan yang tinggi.
Termasuk kecelakaannya saat ini, Orion yakin jika ayahnya itu juga sudah memprediksikannya jauh-jauh hari sebelum dirinya mengalami kecelakaan. Itu mengapa Emperor Group tidak mengalami kolap besar meski ditinggal bos utamanya. Kekuatan Kazehaya Wijaya yang terkenal perkasa itu melindungi Emperor Group meski tanpa kehadirannya. Ya walau saat ini Emperor Group berada di bawah kendali Alvin yang 'bukan' merupakan kandidat yang pantas untuk menjadi penggantinya.
.
.
.
Melody and Yudha's side...
Chiba pukul 1.00 malam.
"Yudh..." Panggil Meldoy.
"Hm?" Gumam Yudha tanpa menoleh ke arah Melody. Ia fokus menyetir mobilnya.
"Kau menguap beberapa kali. Ayo mampir motel saja! Mengendarai mobil bolak-balik Tokyo-Chiba itu menguras tenaga. Apa lagi kau melakukannya tanpa istirahat. Badanmu pasti sangat remuk saat ini." Ajak Melody.
"Tadi diajak ke motel tidak mau karena takut aku mesumi di ranjang, eh sekarang berubah pikiran dan malah mengajak mampir ke motel. Jangan bilang kau sekarang sedang tidak tahan dan berusaha menggoda imanku ya?" Ledek Yudha.
Kenapa kalau berbicara dengan Yudha sejak dulu selalu membuat kesal seperti ini sih? Ia tahu jika Yudha itu sangat mesum terhadapnya. Namun menggunakannya untuk bercanda seperti saat ini benar-benar keterlaluan. Boleh tidak memukul wajah tampan Yudha yang tengi ini?
"Yudha mau aku pukul?" Tanya Melody yang sudah siap dengan kepalan tangannya untuk melayangkan bogem mentah pada sang suami.
"Pukulnya nanti saja pas sudah di atas ranjang. Aku fokus nyetir dahulu untuk mencari motel paling dekat dari posisi kita saat ini. Sabar ya, Sayang..." Yudha meledek Melody menjadi-jadi.
Menyebalkan!
Yudha malah meladeni pembicaraannya. Yudha benar-benar menguji batas rasa kesalnya.
"Ah, capek deh melayani debat mulut denganmu. Mending lihat pemandangan malam saja!" Gerutu Melody yang memilih mengalihkan pandangannya ke arah samping kaca jendela mobil.
Tentulah, apa yang bisa diharapkan dari berkendara super cepat ala Yudha, malam hari, dan kaca mobil hitam?
Hanya seperti garis bak benang terulur berwarna hitam kadang bercahaya karena melewati lampu.
"Apa indahnya dari pemandangan gelap di luar sana? Aku jauh lebih indah dari semua pandangan itu, Mel! Lihatlah saja aku yang tampan ini! Aku akan memuaskan gairahmu!" Kata Yudha.
"Narsis!" Kata Melody. Sejak kapan sih Yudha pandai berbicara seperti ini? Sejak dulu, tapi Yudha yang narsis masih terasa baru olehnya.
"Haha. I love you, Mel.." Kata Yudha. Ia tidak menoleh ke arah Melody. Ia menatap lurus ke depan untuk fokus mengendalikan mobilnya.
Mendengar kata yang terucap dari bibir Yudha membuat Melody tidak tahan untuk menarik ke atas sudut bibirnya. Yudha adalah sosok suami romantis dengan gayanya sendiri.
Seperti dipanah oleh peri cupid untuk kesekian kalinya.
"I love you too, Yudha-kun." Balas Melody. Ia menambahkan sufix -kun di belakang nama Yudha.
Yudha sangat suka mendenarnya. Ia merasa bahagia.
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya dua insan manusia yang sudah terikat dalam ikatan suci ini pun sampai di sebuah motel.
Motel adalah kombinasi dari kata "motor" dan "hotel". Istilah ini berasal dari penempatan motel yang biasanya berada di dekat jalan raya, yang sangat menguntungkan bagi para pengendara yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Biasanya motel memberikan penawaran yang berbeda dari hotel, yaitu lebih sedikit fasilitas dengan tarif yang lebih rendah.
Motel adalah tempat penginapan yang jauh lebih kecil dari hotel.
Karena motel adalah subkategori hotel, perbedaan antara keduanya tidak terlalu signifikan. Melody menyadari banyak hal.
Melody dan Yudha kini sudah sampai di sebuah motel yang paling dekat dengan posisi mereka berdua.
Usai memarkirkan mobil, Yudha melakukan reservasi untuk menginap semalaman di motel itu.
"Ukuran notel lebih kecil dari hotel. Layanan motel menawarkan layanan yang juga lebih sedikit daripada hotel." Gumam Melody. Ia mengedarkan pandangannya.
Sebuah motel 24 jam yang memiliki fasilitas lebih sedikit daripada hotel. Lokasinya pun terletak di dekat jalan raya sementara hotel memiliki lokasi sentral di kota.
__ADS_1
"Kenapa, Mel? Tertarik dengan bisnis motel? Motel menggunakan produk dengan kualitas lebih rendah untuk membangun dan merancang serta mempertahankan harga rendah. Layanan penginapan murah dan terjangkau ini banyak dicari oleh pelancong. Harga sewa motel lebih murah daripada hotel." Kata Yudha.
Mereka berjalan beriringan dengan pekerja motel untuk menuju kamar yang mereka sewa.
"Dilihat dari harga memang jauh di bawah hotel. Hotel yang sering kita pakai untuk menginap ketika sedang melakukan perjalanan bisnis harga sewa kamarnya bahkan bisa dipakai untuk menginap di motel ini dalam beberapa hari ke depan. Hah, kenapa dulu kita boros malah menginap di hotel ya? Kenapa tidak di motel saja? Kan kita bisa lebih hemat." Kata Melody.
Melody adalah anak ekonomi yang memikirkan sesuatu hal yang ekonomis pula. Beda dengan Yudha yang meski sama-sama anak ekonomi, tapi ia memiliki penilaian yang tak sama dengan pandangan Melody.
"Jika kau membaca pasar, maka kau akan mengerti nilai lebih dari sebuah hotel sebagai pelaku usaha." Kata Yudha.
"Tapi kan pas kita menginap di hotel, kita bukan pelaku usaha, kita konsumen. Ah maksudku penyewa kamar. Jadi yang lebih penting itu harga sewa."
Yudha mengacak-acak rambut Melody. Istrinya itu memang tak sepintar dirinya, tapi Melody adalah wanita yang selalu berpikir akan sesuatu.
"Kita berbicara soal value atau nilai pada suatu hal. Di sini katakanlah sesuatu hal ini adalah kamar inap. Harga jutaan semalam di hotel tidak bisa nilainya dibandingkan dengan harga ratusan ribu di motel." Jelas Yudha.
Ketika pekerja motel membukakan pintu kmar inap motel yang mereka sewa, kini membuat Melody tahu jika value atas uang yang dikeluarkan untuk menyewa keduanya itu sangat jauh berbeda.
"Ini kamar kalian berdua, selamat istirahat! Jika kalian membutuhkan sesuatu, bisa gunakan telepon yang ada di dalam kamar dan tekan nomor 1." Jelas pekerja motel.
Melody dan Yudha hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu, pekerja motel itu pun kembali ke resepsionist untuk berjaga lagi.
Melody dan Yudha masuk ke dalam kamar. Melody duduk di ranjang, sedangkan Yudha mengunci kamar.
"Sudah paham, kan? Harga nominal dan harga value atau nilai itu sangat berbeda." Tanya Yudha yang kini duduk di sebelah Melody.
Melody mengangguk. "Iya sangat jauh berbeda. Hehe, nambah ilmu."
"Lagi pula, untuk orang seukuran keluarga Kasehaya, menginap di hotel itu bukan apa-apa. Uang bukan masalah." Kata Yudha.
"Holang kaya..."
"Lha kan memang ada uangnya. Ketika pendapatan kita tinggi, pengeluaran juga akan mengikuti, kan?"
"Iya, Yudha-kun. Aku mengerti soal itu, cuma kadang suka sayang uang saja."
Yudha tersenyum. Ia lalu merebahkan dirinya ke ranjang. Ia merentangkan tangannya. "Beruntungnya aku mendapatkan istri yang tidak boros padahal jelas-jelas suaminya itu banyak uang. Diajak naik mobil mahal, tidak mau, marah-marah lagi. Lalu ini, mengajak debat tentang hotel atau motel hanya karena sayang uang." Kata Yudha.
Melody ikutan tiduran di sebelah Yudha. Ia menggunakan lengan Yudha untuk bantal, unyuk menyangga kepalanya.
"Yudha aku hanya mengutarakan pemikiran dari versiku saja. Huh."
Yudha menoleh ke arah Melody. Istrinya ketika merajuk itu membuatnya semakin cinta. Sangat menggemaskan, ia pun kemudian memeluk Melody. Ia menyingkiran rambut Melody yang berantakan, lalu mendaratkan ciuman hangat di jidat Melody.
"Malam ini aku hanya ingin tidur sambil memelukmu. Jika kau tak lelah, katakan semua hal yang ingin kau katakan! Apapun itu, aku akan mendengarkannya." Kata Yudha.
Melody sedikit mendongak untuk melihat Yudha. Dagu dan bibir Yudha begitu mendominasi pandangannya.
"Merindukanku ya?" Tanya Melody.
"Apa itu pertanyaan yang butuh jawaban? Bagaimana jika pertanyaan ini aku kembalikan kepadamu?" Yudha balik tanya.
Melody menunduk dan menyembunyikan diti di dada bidang Yudha. Ia mencari kehangatan di sana.
"Seminggu lebih tidak mendengar suaramu membuatku sangat gila. Saat ini saja aku kira sedang bermimpi bisa bersamamu. Ne Yudha, ini nyata, kan? Ini bukanlah mimpi, kan? Apa lagi halusinasi. Kau nyata sedang bersamaku, kan?" Suara Melody terdengar frustasi di telinga Yudha. Ia bahkan sampai mencengkram baju yang Yudha pakai dengan sangat kencangnya.
Ia juga menangis. Air mata hangat itu menembus kain baju Yudha.
Berat.
Sungguh berat waktu yang berlalu tanpa kehadiran masing-masing. Perasaan yang sangat dalam mendasari semuanya. Hari-hari yang berat juga Yudha jalani. Ia tahu betapa menderitanya menghabiskan hari tanpa Melody.
"Ini kenapa kau memilih membahayakan nyawamu asal tetap bersamaku?" Tanya Yudha.
Melody mengangguk.
Yudha melonggarkan pelukkannya. Ia menatap Melody dan membantu mengusap air mata istrinya itu.
Melody nampak sangat buruk.
Berjauhan dengan cinta memang menyakitkan.
"Jangan menangis, Mel! Kita nyata bertemu." Yudha lalu mencium bibir Melody untuk membuat Melody tenang.
__ADS_1