
Pagi hari.
Melody membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pening. Pusing tak terkira. Ia memijat keningnya beberapa saat.
MELODY'S POV
Jika habis melakukan hubungan intim, kepalaku menjadi sangat sakit setelahnya. Mungkin memang karena efek kehamilan juga. Nyatanya, hampir setiap hari meski hanya sebentar, kepalaku terasa cukup nyeri.
Aku meraba-raba ranjang sebelahku. Kosong. Tidak ada orang. Tidak ada suamiku, Yudha.
Aku menoleh ke samping untuk memastikannya, dan benar juga orang itu memang sudah tak ada di sana.
Selalu saja seperti ini.
Rasanya kesal.
Apa ya..
Ya tidak setiap saat dia melakukannya, dia akan pergi. Tapi semalam aku sudah berusaha sangat keras untuk membuatnya cerita. Lalu, setelah dia menikmati tubuhku, dia malah pergi entah kemana tanpa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Hah. Tidak ada harapan. Memang kenapa sih kalau aku tahu apa yang terjadi? Apakah itu akan membahayakan nyawaku?
Cih, aku sangat penasaran.
Yudha kemana sih?
Aku harus tahu apapun masalahnya!
.
.
.
Aku bangun dari tidurku. Ngilu, sakit, dan remuk tubuhku.
Ini bukan yang pertama, sudah berkali-kali aku melakukan hubungan intim dengannya. Namun tetap saja, rasanya perih setelahnya.
Aku hamil saja, dia bisa segila itu. Apa lagi saat sudah tidak hamil lagi nantinya? Dia pasti akan semakin gila.
Aku hanya tak menyangka jika orang setampan dia, yang penuh wibawa dengan sikap sopan-santunnya itu ternyata memiliki sisi mesum yang benar-benar sangat mesum.
Bukan berarti mesum yang berakhir dengan hubungan intim, tapi mesum versi dia itu suka pegang-pegang tubuhku tidak jelas. Itu sangat menyebalkan!
Lama-lama aku jadi ikutan tak bisa mengendalikan diri. 😖
Aku jadi ingin dia.
Aku jadi ingin memeluk dia.
Aku jadi ingi selalu bersama dia.
Aku jadi ingin menghabiskan waktu bersama dia.
Aku jadi ingin di.. sen..tuh.. dia. 😑
Yang jelas, aku jadi mudah rindu dia. Jika tidak melihatnya dalam waktu yang lama, batin ini terasa sangat tersiksa. Aku mudah berteman air mata saat tak ada dia. Pikiranku penuh dengan dia.
Bagaimana cara dia memperlakukanku.
Bagaimana cara dia tersenyum padaku.
Bagaimna cara dia tertawa padaku.
Bagaimana cara dia memelukku.
Bagaimana cara dia mencium diriku.
Bagaimana cara dia menyentuhku.
Bagaimana cara dia membelai lembut jiwa dan ragaku.
Semua! Semuanya ada dalam ingatanku.
Tuhan, aku benar-benar jatuh cinta padanya, kan? Maksudku, ini bukan karena nafsu semata, kan?
Aku yakin aku ini sangat mencintainya. Cinta ini juga sangat tulus kepadanya.
Jika seperti itu, maka sudah sedalam apakah rasa cintaku padanya?
Terukurlah dengan pengandaikan seenak jidat manusia? Misal seperti sedalam lautan?
Apapun itu aku tak mau ambil pusing. Aku mencintainya dan dia mencintaiku, itulah yang paling penting.
__ADS_1
END OF MELODY'S POV
.
.
.
Melody memakai celana dalamnya. Dengan tetatih ia mencoba berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia tak lupa juga menata ranjang yang cukup berantakkan karena ulahnya dengan Yudha semalam. Ia menepuk-nepuk bantal dan mengibas-ibaskan selimutnya.
Setelah itu, ia berjalan ke arah sofa. Ia mengambil kemeja dan pakaian kotor yang ada di sana. Memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor.
"Aw, pinggangku, selangkangku! Itu orang berapa kali sih melakukannya? Sial, sakit sekali rasanya. Mana sangat pegal lagi. Sekali melakukan saja seperti ini rasanya, apa lagi jika dia minta tiap hari? Bisa-bisa aku tak bisa keluar kamar!" Batin Melody kesal.
Melodypun memutuskan untuk mandi dengan air hangat. Ia berharap semoga air hangat itu membuat baik keadaan tubuhnya yang super lelah dan pegal-pegal itu.
Usai mandi ia melihat Yudha sedang duduk di sofa sambil bermain dengan laptopnya. Terlihat sangat serius. Yudha bahkan sangat berbeda karena memakai kaca mata. Bagi Melody, ini kali pertama ia melihat Yudha seperti itu.
Seperti orang tua?
Bukan, lebih berkarisma. Lebih dewasa. Lebih berwibawa.
Jika dipikir, usia Yudha saat ini barulah dua puluh dua tahun. Masih sangat muda untuk memegang peranan penting di dalam perusahan berskala internasional seperti Emperor Group. Namun nyatanya, Yudha mampu melakukannya dengan baik bahkan sudah mulai terlibat langdung sejak sekolah menengah.
Di situ, sebagai seorang istri, Melody merasa sangat bangga.
Ada dorongan hati untuk mendukung Yudha dengan tulus.
"Masih mau merahasiakannya dariku?" Tanya Melody. Ia lalu duduk di sebelah Yudha.
Yudha melepas kaca matanya dan menoleh ke arah Melody. "Ohayou, Melody." Yudha mencium bibir Melody sekilas.
"Hah. Ohayou juga, Yudh." Kata Melody yang tak mempermasalahkan ciuman selamat pagi dari Yudha. "Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana kabar paman Aron? Ada perkembangan? Lalu kantor bagaimana? Kasus di Miyagi ada titik terangannya tidak?" Tanya Melody panjang lebar.
Yudha mengelus rambut Melody. "Tanya satu-satu, Mel! Aku pusing menjawabnya." Keluh Yudha.
"Otak jeniusmu itu akan sangat mudah memahami pertanyaanku! Jangan mengalihkan topik terus kenapa sih, Yudh?" Kesal Melody cemberut.
"Tubuhmu baik-baik saja? Sakit tidak? Anak-anak membuatmu kerepotan tidak? Apa mereka menendang-nendang?" Tanya Yudha yang tak menghiraukan betapa kesalnya Melody saat ini.
"Yudha!" Kata Melody semakin kesal.
"Jawab dulu, itu penting untukku agar besok aku kalau melakukannya lagi bisa memiliki tolak ukur kemampuanmu menerima permainanku." Kata Yudha.
"Jawab saja, sekenanya!"
Melody menghela nafas. Ini bukanlah yang pertama. Yudha selalu memiliki pemikiran yang bagi Melody itu sangat sulit dimengerti. Selalu menggunakan kata-kata yang perlu dipikir dua kali agar dipahami maksudnya. Kadang memakai pengandaian yang tak biasa.
"Sakit, membuat remuk badan, membuat pegal-pegal. Namun tak masalah, aku menikmatinya dengan baik semua permainan darimu." Jawab Melody.
Ia menahan malunya yang luar biasa. Namun, apa saat ini itu penting? Yudha bahkan sudah sering melihat tubuhnya berkali-kali. Dengan kemampuan Yudha yang super jenius itu, Yudha pasti tidak akan melupakan meski semili meter bagian tubuhnya.
Yudha pernah berkata jika Yudha melihat ada tahi lalat super kecil di pantat mendekati pinggang sebelah kanan. Sebagai pemilik tubuh, Melody saja tidak pernah tahu ada tahi lalat di situ.
"Haruskah aku menurunkan tempo permainanku?" Tanya Yudha.
"Tidak usah. Aku akan protes kalau rasa sakitnya keterlaluan." Jawab Melody datar.
"Hm, begitu ya? Lalu, anak-anak bagaiman?" Yudha masih lanjut bertanya.
"Baik-baik saja. Tadi sempat menendang pelan. Tidak apa-apa, tidak sakit." Melody kembali menjawab datar pertanyaan dari Yudha.
"Apa tadi saat aku tinggal menemui ibu dan nenek, kau mual-mual? Apa kau memuntahkan makananmu?"
Sesi tanya jawab masih berlanjut. Ini seperti prosesi interview kerja. Apakah Yudha sedang membuat Melody latihan jika suatu saat Melody akan mendaftar kerja?
Tentu saja tidak! Yudha tidak akan membiarkan istri tercintanya ini bersusah payah mencari uang. Bagi Yudha, istri itu di rumah mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Istri itu menerima uang dari suami. Bukankah Yudha kriteria suami idaman?
"Aku tidak muntah, hanya sempat mual. Dan lagi, mau sampai kapan kau bertanya seperti itu, suami-san? Jika menurutmu aku tak layak bersanding di sampingmu, katakan! Katakanlah yang sesungguhnya!" Kata Melody yang mulai hilang kesabaran.
"Loh kenapa berpikiran sejauh itu, Mel? Aku hanya bertanya. Sudah aku bilang, itu sangat penting untukku."
"Jika seperti itu, ya bagilah semua masalahmu padaku! Aku sudah menurutimu, bisakah kau gantian melakukannya? Aku hanya ingin tahu. Jika kau seperti ini, tidak memberitahuku, maka aku akan semakin kesulitan menentukan sikapku. Alvin-senpai sering menjenguk kakek, sampai saat ini aku tak tahu bagaimana harus menghadapinya. Kalau aku bersikap ramah padanya, yang ada kau akan kesal padaku. Saat aku bersikap ketus atau tak memperdulikan dia, memang apa salah dia padaku? Kau yang memiliki masalah serius dengannya, kenapa aku harus ikut-ikutan canggung?" Jelas Melody.
"Jangan dekat-dekat dengannya! Aku tak mengizinkanmu bertegur sapa dengannya! Meski itu adalah masalahku dengannya, dia mencintaimu, dan kau adalah istriku! Kau harus menuruti suamimu!" Kata Yudha yang terpancing emosi jika membahas Alvin.
"Egois! Kau selalu saja egois! Kau menyuruh ini-itu, tapi kau membiarkanku berdiri seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Terus aku ini kau jadikan sebagai istri pajangan? Maaf saja, Yudha! Aku ini gagal paham! Jika aku gagal paham, aku lebih memilih berontak. Kau paling paham karakterku, kan? Seharusnya kau menyadarinya."
"..."
"..."
"Kenapa jadi bertengkar?" Tanya Yudha.
__ADS_1
"..." Melody terdiam.
Melody bangkit. Ia ingin menemui ibu mertua, nenek Chiyo, dan kakek Wijaya saja. Namun, tangan Yudha menghentikan langkahnya. Yudha memegang pergelangan tangannya dengan lembut.
"Mau kemana?" Tanya Yudha pelan.
"Cari angin." Jawab Melody ketus.
"Aku temani."
"Tidak perlu!"
Melody mencoba menghempaskan tangan Yudha. Namun Yudha menahannya.
"Setidaknya biarkan aku yang mengantarmu, ya?"
"Cih, apaan sih? Aku bisa sendiri! Lepasin, tidak? Kenapa sih pegang-pegang tanganku segala? Kau tak bisa mempercayaiku sampai detik ini, kau setengah-setengah melakukannya. Jadi buat apa aku tetap di sini? Jadi patung bodoh pajangan? Aku sih ogah."
"Mel..." Panggil Yudha.
"Apa?" Jawab Melody yang semakin ketus.
"Kau tahu, apa yang kau katakan itu menyakiti hatiku." Kata Yudha.
"..." Melody terdiam.
"Tapi tak mengapa, aku tak apa-apa karena kau yang menyakitiku. Luka darimu itu indah."
"..."
"Setidaknya aku mendapatkan luka dari orang yang aku cintai. Aku jadi tak akan bisa melupakan bagaimana rasanya."
"..."
"Jika kau memiliki hati untuk sekedar merasa sedikit saja bersalah, aku akan senang hati memaafkanmu dengan memelukku tentunya."
Melody langsung memeluk Yudha. Ia menangis sejadinya. Ia tahu apa yang baru saja ia ucapkan itu sangat melukai perasaan Yudha. Ia memang cukup keterlaluan saat ini.
"Lusa akan diadakan rapat pemegang saham dadakkan. Aku tak memiliki banyak persiapan. Aku terlalu fokus mencari paman Aron dan mengurusi proyek tak masuk akal di Miyagi. Fraksi oposisi kakek mereka mengumpulkan koalisi. Mereka membentuk aliansi solid untuk menumbangkan kakek. Aku hanya memiliki saham tak sampai sepuluh persen, dan milik kakek dua puluh persen. Sementara Alvin, dia memiliki saham lima persen. Saham milik Alvin awalnya itu milikku, tapi aku meminta jatah untuknya, kakek tak memberikannya, akupun membagi milikku untuknya." Yudha mulai bercerita.
Mereka melepaskan pelukkkan.
"Alvin tahu mengenai hal ini?" Tanya Melody.
"Tidak. Dia tidak tahu. Yang ia tahu, saham lima persen itu milik kakek. Pemberian dari kakek. Sementara tim oposisi sebelum membuat aliansi, mereka sudah memiliki saham sebesar lima persen dengan saham ayah tirinya Alvin yang paling besar. Jika Azumane-san, ayah tirinya Alvin dan tim oposisi kakek benar-benar mendukung Alvin, maka saham milik mereka melebihi sepuluh persen. Aku jelas kalah. Belum lagi jika mereka berhasil membujuk para pemang saham lain untuk berkoalisi dengan mereka."
"Kenapa bisa kalah? Kan masih ada kakek yang berada di pihakmu?" Tanya Melody.
"Tanpa dukungan langsung, suara kakek dianggap gugur." Jawab Yudha.
Melody melebarkan matanya. "Jika kakek meninggal, maka semua itu tidak ada artinya lagi?"
Yudha menggeleng. "Bisa dimiliki ahli waris jika kakek meninggalkan warisannya. Jika tidak, ya hanya akan menjadi tambahan modal perusahann."
"Rumit."
"Aku sudah siap dengan kekalahan besok lusa, Mel. Sekali lagi, apa kau siap jika posisiku sebagai salah satu petinggi Emperor Group terancam lengser? Mungkin saja Alvin akan mengeluarkanku dari Emperor Group. Kau siap tidak menjadi istri dari mantan calon ahli waris Emperor Group?"
"Apaan coba, Yudh? Apapun kondisimu, aku tetap akan bersamamu. Akan akan tetap mendukungmu. Jika kita miskin, hei, aku memiliki banyak tabungan. Bodoh akuntansi seperti inipun aku cukup rajin menabung loh. Ya walau itu uang darimu juga sih." Melody tesenyum.
"Coba aku tebak, kau rajin menabung karena berpikir jika suatu saat kita akan bercerai?" Tanya Yudha curiga. Ia berharap ini tak benar. Namun sayang, Melody meringis menatapnya.
"Hehe." Cengir Melody.
"Kau.."
"Ya bagaimana? Jika aku memiliki uang yang aku dapatkan darimu, setidaknya jika kau menceraikanku, aku tak langsung jatuh kembali miskin!"
"Kenapa aku harus menceraikanmu? Aku memang akan menurutimu jika kau meminta cerai dariku. Tapi itu dulu. Jika saat ini kau meminta cerai dariku, meski kau bersimpuh setahun di hadapanku, akan tidak akan pernah menyetujuinya. Meski kau kabur meninggalkanku, aku akan tetap mencarimu sampai ke ujung dunia sekalipun!"
"Kau mengerikan!"
"Mengerikan seperti ini tetap saja suamimu!"
"Iya-iya. Setelah sampai ke tahap ini mana mungkin kan kita bercerai? Nasib anak-anak mau bagaimana? Aku tak yakin aku bisa merawat dua anak sekaligus. Aku butuh bantuan darimu, Yudh."
"Aku akan bekerja sama denganmu untuk membesarkan anak-anak kita. Terima kasih untuk memilihku sebagai teman hidupmu."
"Hanya ucapan terima kasih saja?" Tanya Melody. Ia menunjuk jidatnya.
Yudha tersenyum. Ada bahagia dalam kesederhanaan hubungannya dengan Melody. Ia tak harus mengajak Melody kencan di Paris, makan pasta di Italy, atau membeli gembok cinta di Namsan Tower Korea, cukup hanya bertukar komunikasi dan saling percaya, makan kebahagiaan itu akan ia dapatkan.
Melodypun merasa seperti itu. Jika ingat masalah-masalah sebelum ini, sebenarnya dirinya dan Yudha itu hanya kurang komunikasi. Jadi banyak salah paham. Dalam perniakahan, petengkaran itu seperti bumbu penguat rasa setia dan sayang. Semua masalah bisa diselesaikan. Jika ada jalan yang baik, kenapa mengambil jalan yang buruk? Dengan berkomunikasi dengan Yudha, ia merasa bisa berbagi rasa dengan Yudha. Jika ditanya soal apa ia bahagia menikah dengan Yudha meski banyak lukanya, ya tentu saja ia merasa bahagia.
__ADS_1
Bagi Melody bahagia itu sederhana, cukup memiliki senyum yang sama dengan Yudha.