
Melody merasa lega ketika Alvin mengatakan jika ibunya tidak apa-apa, hanya kelelahan yang berlebihan. Ia merasa sangat berterima kasih karena pagi-pagi buta seperti ini, Alvin mau datang ke rumahnya untuk memeriksa keadaan ibunya.
Jam dua dini hari tadi, sang ibu tiba-tiba kedinginan, badanya melemas. Karena ketakutan dan tahu harus bagaimana, ia langsung saja menelpon Alvin. Bersyukur Alvin adalah calon dokter. Setidaknya ia cukup tahu hal dasar seperti ini.
Untuk membuat Melody jauh lebih tenang, Alvin memanggil dokter pribadi keluarganya. Dokter pribadinya juga memastikan jika ibu Tsuchiya tidak apa-apa. Dokter pribadi itu memberikan resep obat yang harus ia tebus di apotek.
Jika sakitnya berlanjut, sang dokter menganjurkan untuk di bawa ke rumah sakit. Sang dokter juga memberikan infus kepada ibu Tsuchiya. Biasanya dengan cairan infus, maka pasien akan lekas lebih baik.
.
.
.
Ruang makan rumah ibu Melody..
Di sini mereka berdua, mereka menikmati sarapan bersama yang dibuat oleh Melody sendiri. Hidangannya sangat sederhana. Sang ibu sudah dua hari tidak belanja karena sakit. Hanya ada telur dan makanan beku yang ada di kulkas rumahnya.
"Maaf senpai, hanya ini yang bisa aku sajikan. Aku belum bisa belanja."
"Tak apa Melody, ini sangat enak. Kau sudah semakin pandai memasak rupanya."
"Aku belajar masak darimu, baka Senpai. Ingat tidak dulu kita pernah belajar masak bersama di SMA? Makanan kita gosong."
"Itu makananmu, buatanmu. Milikku baik-baik saja."
"Ye, Senpai mah begitu, tapi aku kan hanya mengikuti intruksi darimu."
"Jika kau mengikutinya dengan benar, maka makananmu tidak akan berakhir hitam legam seperti itu, Melody."
"Tapi pada akhirnya kita makan juga. Hahahahha."
"Rasanya sangat pahit
Hahaha. Nostalgia jaman SMA."
Dan mereka tertawa bersama. Mereka masih berlanjut membahas kebersamaan mereka dulu. Mereka berdua tergabung dalam klub memasak sekolah sebagai ekstrakurikuler wajib yang harus diikuti.
Waktu mereka banyak dihabiskan di dapur praktik sekolah. Mereka banyak membuat berbagai jenis makanan. Mungkin ini menjadi salah satu alasan Alvin menemukan bakatnya dan pada akhirnya berhasil membuka sebuah cafe dan restoran cukup besar usai lulus SMA.
"Senpai bahkan sampai membuka cafe. Apapun yang Senpai lakukan pasti bisa menghasilkan uang. Tidak seperti diriku, aku tidak menguasai apapun dalam satu bidang. Aku sama sekali tidak memiliki bakat seperti Senpai. Jadi iri deh.." Kata Melody.
"Aku membuka cafe bukan karena bakat bisa menghasilkan uang, tapi usaha agar aku bisa menghasilkan uang, Melody. Dan satu hal lagi, jangan samakan dirimu dengan orang lain! Setiap orang diciptakan dengan segala kemampuannya masing-masing. Aku adalah aku, kau adalah kau. Kau tak perlu iri kepada siapapun. Kau tak perlu menjadi seperti mereka. Jadilah seperti dirimu sendiri. Berdirilah dengan bangga akan segala yang sudah Tuhan takdirkan untukmu. Ini hidupmu, ini jalan hidupmu. Bukankah harusnya kau merasa lebih baik?"
"Astaga, Senpai kau sudah mirip dengan Kakek! Kakek kalau sudah ngomong itu sangat panjang, sama sepertimu. Persis!"
__ADS_1
Alvin tertawa pelan. Benarkah ia mirip dengan kakeknya? Kazehaya Wijaya yang angkuh itu?
"Tapi kau mengerti, kan?"
"Iya paham. Tapi aku iri dengan orang-orang jenius dan ingin menjadi seperti mereka. Aku tidak mungkin kan membiarkan diriku berkubang dalam kebodohan?"
"Melody itu lain kasus!"
Mereka tertawa untuk kesekian kalinya. Frekuensi energi mereka sama, muda bagi mereka untuk menghasilkan energi bahagia. Meski hanya dengan beberapa kata saja.
.
.
.
Mereka juga membahas festival budaya jaman SMA. Alvin mengatakan jika Melody berteriak sangat keras dan mencubit lengannya sampai memerah karena ketakutan saat memasuki rumah hantu yang diadakan oleh kelasnya Alvin. Beruntung Alvin tidak menjadi hantu.
Festival budaya/ bunkasai: Biasanya kalo sekolah-sekolah di Jepang tuh adain festival budaya dengan cara menjadikan kelas-kelasnya tempat seperti cafe, arena pertunjukkan, pameran, rumah hantu dimana nanti akan banyak orang berkunjung ke sana meski dari luar sekolah.
"Aku tidak takut waktu itu, hanya kaget saja!" Ngeles Melody padahal jujur saja, ia takut setengah mati saat itu.
"Senpaaiii tolong akuuu..." Alvin menirukan suara ketakutan Melody waktu itu dengan nada suara cewek.
Melody kesal langsung manyun.
"Senpai, jangan bahas itu!"
Melody pernah kena bola basket di kepalanya. Membuatnya pingsan dan ditonton seisi lapangan sekolah. Sehari setelahnya Melody menjadi topik pembicaraan yang langsung membuatnya terkenal.
Pembicaraan kembali berlanjut tentang Alvin yang cidera saat lomba kelas. Melody yang dihukum karena tidak bawa topi saat upacara atau lika-liku perjuangan Alvin yang menjadi ketua OSIS.
Waktu tiga tahun di SMA dulu sangatlah indah. meski Melody hanya dua tahun bersama Alvin, tapi ia memiliki kisah yang indah dengan Alvin. Bahkan sekarang kuliahpun masih satu kampus. Kisah masih akan terus berlanjut.
"Haha, ternyata kisah jaman sekolah dulu banyak memalukannya. Ya ampun, boleh tidak aku mengedit yang memalukan itu?" Kata Melody. Ia menutupi wajahnya.
"Kalau semua kisah baik-baik saja, kau dan aku saat ini tidak akan duduk bersama dan membahasnya."
"Ah benar juga. Intinya kisah akan semakin menarik untuk diceritakan kembali." Melody tersenyum.
Meski mereka saling nostalgia jaman dulu, tapi tak ada satupun diantara mereka berdua yang membahas kisah asmara yang sudah usai itu. Alvin dan Melody pernah menjalin hubungan cinta adalah fakta. Alvin adalah mantan kekasih Melody itu benar adanya.
"Melody.."
"Ya?"
__ADS_1
"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?"
"Se-senpai? Ke-kenapa bertanya seperti itu lagi?"
Lagi. Lagi-lagi Alvin bertanya soal rumah tangganya. Melody tahu jika Alvin itu menghawatirkannya.
"Aku tahu, kau tidak buta akan berita skandal itu. Tapi selama ini kau hanya diam saja, katakan padaku, apa kau bahagia dengan pernikahanmu itu? Apa kau membohongiku saat dulu aku bertanya padaku setelah kau menikah dengan Yudha?"
"Senpai, aku.." Melody meneteskan air matanya.
"Sudah aku duga. Mau sampai kapan kau seperti ini, hah? Kenapa kau selalu saja memutuskan sendiri setiap ada keputusan yang besar itu? Kau memilikiku dan Mia. Kami akan selalu ada untukmu."
"Senpai tidak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja. Lagipula aku menikah dengan adikmu, kalau Senpai itu baik hati, aku yakin Yudha juga tak jauh beda dari kakaknya."
Melody tidak boleh membuka celah. Kisahnya dengan Alvin itu sudah usai. Alvin sangat baik, ia tidak mau memanfaatkan kebaikan dari Alvin itu.
"Aku tak sebaik itu.." Gumam Alvin.
Melody menganggapnya orang baik. Begitu juga dengan Yudha. Apa Melody selalu sepolos ini dalam menilai orang? Ini yang selalu ia khawatirkan, ia lengah sedikit saja sudah membuat Melody berurusan dengan kelurga Kazehaya.
Alvin tau betul bagaimana keluarga Kazehaya itu. Penuh intrik dan licik. Ibunya yang menjadi korban adalah contohnya. Ia juga pernah mendengar kolega ibunya yang mengeluh karena perusahaannya dicaplok Emperor Group. Entah apa yang dilakukan Emperor Group sehingga bisa menghancurkan perusahaan-perusahaan saingannya.
"Tabiat orang itu lain-lain, Melody."
"Memang benar, tapi aku yakin jika Yudha bukan orang yang jahat."
Melody lalu tersenyum. Ia ingin yakin, meski rasanya dirinya tengah tersakiti, tapi ia menganggap jika itu bukanlah kejahatan dari Yudha.
.
.
.
Melodi Cinta.
.
.
.
Ketika sedang asyik berbincang dengan Alvin di ruang makan, suara bel pintu terdengar pagi itu. Melody yang merasa menjadi tuan rumah langsung bergegas membuka pintu.
"..."
__ADS_1
"..."
Tak ia duga, tak ia sangka. Tak ada hujan, tak ada angin, Yudha berdiri di hadapannya. Apa yang harus ia lakukan?