MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Flashback Versi Alvin 2


__ADS_3

Aku mau mendramatisir adegan kecelakaan itu, tapi keknya chapter sebelumnya sudah sangat panjang. Jadi ah ya susah mentok segitu. Walau maunya aku ingin membuat lebih bisa ngena feelnya. Gerak tangan, anggota tubuh, suasana, aku ingin menceritakannya, tapi ya itu.. kalau aku hanyut, bisa menjadi super panjang. 😅 Kalian tahulah gaya nulisku, ke WC aja mampir dulu ke alpamart buat beli pembersih kuman trus pulangnua mampir beli kebab.


Terima kasih sudah setia mengikiti sinetron Melodi Cinta... 😇😇


________________________________________


Kecelakaan mobil yang pada akhirnya merenggut nyawa dari Kazehaya Yoga itu terjadi di bulak hutan Miyagi kilometer 99. Meski siang menjelang sore langit Tokyo meggelap, namun ketika sampai di wilayah Miyagi, langit malam justru lebih indah dimana bulan purnama terlihat jelas di atas langi. Bulat sempurna dan perkasa. Sedikit memerah dan bercahaya tak seperti biasanya. Layaknya super blood solar moon.


"Setelah aku pingsan, bangun-bangun aku sudah di rumah sakit. Dokter bilang aku koma dan tak sadarkan diri selma 20 hari. Lalu aku menderita hilang ingatan disosiatif." Batin Alvin.


Amnesia disosiatif merupakan salah satu bagian dari kondisi yang bernama gangguan disosiatif. Gangguan disosiatif adalah penyakit mental yang melibatkan gangguan pada ingatan, kesadaran, identitas, dan/atau persepsi.


Amnesia ini berkaitan dengan stres yang luar biasa, yang mungkin merupakan akibat dari sebuah peristiwa traumatis. Contohnya, perang, pelecehan seksual, kecelakaan, atau bencana alam yang dilialami.


"Amnesia disosiatif dapat terjadi saat orang memblokir informasi tertentu, biasanya kejadian yang berhubungan dengan trauma atau stres. Hal ini akan membuat diriku tidak mampu mengingat informasi-informasi pribadi yang penting. Kasus pada diriku adalah karena trauma otak akibat kecelakaan yang terjadi padaku ketika masih kecil. Kecelakaan mengerikan dengan kisah ibuku yang ingin aku hapus dari ingatanku."


Sebelum kecelakaan, Alvin mendengar percakapan ayah dan ibunya. Ia mendengar jika Kurenai yang sangat ia sayangi hanya menginginkan harta ayahnya saja. Baginya, ibunya itu sangat baik, maka ia tak ingin mempercayainya. Ia ingin menghapus ingatan itu.


Amnesia disosiatif tidak sama dengan bentuk amnesia biasa, yang melibatkan hilangnya informasi dari ingatan, biasanya akibat dari penyakit atau cedera pada otak. Pada amnesia disosiatif, ingatan masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran seseorang dan tidak dapat diingat. Namun memori tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar orang tersebut.


"Awal aku menderita hilang ingatan sebagian ini, pikiranku terasa kosong waktu itu. Yang aku ingat, ibuku menangis dengan sangat kerasnya ketika aku sadar dari koma."


Gejala utama penyakit ini adalah ketidakmampuan secara tiba-tiba untuk mengingat kejadian masa lalu atau informasi personal. Penderita biasanya akan terlihat kebingungan dan mengalami depresi atau rasa cemas.


"°Aku bingung, cemas, dan sempat depresi dalam tahun pertamaku. Aku menjalani terapi psikologis setelahnya dan berhasil keluar dari semua rasa yang membuatku tak tenang. Namun, ingatan masa lalu itu tetap terkubur dalam sampai dua bulan yang lalu. Salah satu aku tertarik pada bidang kesehatan karena hal ini. Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. Aku merasa ada yang kosong, ada yang terlewatkan dan itu sangat penting... Pada akhirnya setelah dibantu beberapa jenis obat dan kuasa Tuhan, aku pun bisa mengingatnya."


Alvin meminum kopi buatan Daisuke. Daisuke menepati janjinya. Sebagai seorang dokter tentulah ia tidak bodoh. Obat dan kopi itu tidak bisa berteman. Perlu jeda lama untuk dikomsumsi.


Sembari menunggu Daisuke mempersiapkan berkas untuk rapat dengan para Komisaris Emperor Group, Alvin berjalan menuju jendela kaca besar ruang kantornya. Ia menikmati panorama bangunan kota dengan langit cerah musim semi menjadi latar belakangnya.


Alvin meminum kopi yang ada di tangannya. Tangannya sedikit gemetar. Ia sadar jika tubuhnya melemah akhir-akhir ini. Ia terlalu menforsir tubuhnya dan bekerja melebihi batas mampunya.


"Setelah aku sadar, aku tak hanya melihat ibuku yang menangis, tapi juga kakek."


.


.


.


FLASHBACK ON


ALVIN'S POV


Uhh..


Aku berusaha membuka kedua mataku yang terasa super berat ini. Sebisa mungkin aku harus berusaha. Rasanya aku sedang bermimpi, tapi tak ingat apa mimpi itu.


Aku mendengar suara-suara aneh di luar sana. Apakah ini suara mobil-mobilan?


Aku ingin segera membuka mata! Ada seseorang yang mencengkram erat tanganku. Rasanya sangat hangat. Aku ingin melihatnya! Aku tak mau berada di dalam kegelapan ini!


Aku berusaha sangat keras untuk membuka mataku. Dan aku pun berhasil.


Aku mengernyitkan kedua mataku. Silau. Silai sekali. Semua berwarna putih seperti hamparan cahaya di depan mataku. Sangat bertolak belakang dari kegelapan yang aku rasakan.

__ADS_1


Ah.. berat..


Tubuhku terasa sangat berat. Ada beban yang menimpa tubuhku. Ada suara yang berteriak sangat keras.


Alvin?


Siapa Alvin itu?


Ah, suara itu berteriak lagi.


Dokter?


Apa suara itu memanggil seorang dokter?


Entahlah..


Kini aku mulai merasakan mataku bisa beradaptasi dengan kemilau cahaya putih di depan mataku.


Uhh...


Cahaya kuning apa lagi ini?


Mataku dipegang-pegang oleh seorang berbaju putih dan memakai masker. Dia juga memakai kaca mata.


Rupanya seorang dokter. Seorang wanita menyebut gelarnya.


"Bagaimana keadaan anak saya, pak Dokter?"


Seperti itu. Anak?


Aku merasakan tubuhku sangat lemas. Aku tidak peduli apa yang suster suntikkan ke dalam tubuhku. Aku tidak peduli alat-alat apa yang ada sekitarku. Rasanya aku hanya ingin segera pergi dari ruangan ini.


Kosong..


Sangat kosong.


Rasanya sangat tidak nyaman. Aku seperti hidup tapi tidak tahu kenapa aku hidup. Kenapa aku terlahir ke dunia ini. Kenapa aku di sini. Kenapa aku seperti ini.


Kenapa aku seperti ini?


Apa yang terjadi? Aku mencoba mengingatnya tapi aku merasakan sakit luar biasa di kepala. Rasanya SANGAT SAKIT SAMPAI TIDAK BISA DIJELASKAN BETAPA SAKITNYA ITU!


Aku tak mau merasakannya. Aku harus melupakan rasa penasaranku. Aku.. aku..


.


.


.


Setelah aku tenang. Wanita yang mengaku sebagai ibuku ini terus berada di sampingku. Ia becerita banyak hal menyenangkan tentang diriku. Rasanya menenangkan. Rasanya ia tidak berbohong karena dalam ingatanku aku bisa mengingatnya samar-samar.


Ibu bilang, aku pernah terjatuh saat naik sepeda. Dalam ingatanku, ada sosok laki-laki yang memegangiku dari belakang. Ibu bilang itu adalah ayahku.


Ayah ya?

__ADS_1


Kenapa hanya dada ke bawah? Kenapa mukanya hitam tertutup kabut?


"Alvin, ayah akan memegangimu jika kau jatuh! Kau tidak akan bisa naik sepeda sebelum merasakan jatuh. Alvin ganbatte!"


Aku ingin tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat menyuruhku untuk bersemangat.


Lalu, tak lama setelah itu, ada seorang laki-laki tua masuk ke dalam ruanganku. Ah ibu gemetar hebat tubuhnya. Apa ibu takut? Apa orang tua ini menyakiti ibuku? Kenapa ibu bisa setakut ini?


Apa yang dibicarakan?


Ibu jangan menangis!"


END OF ALVIN'S POV


.


.


.


"Ini check 10 milyar, kau beresi semua barang-barangmu! Akan ada orang yang membantumu pergi." Kata Kakek Wijaya.


"Tu-Tuan Be-Besar, kemana Anda akan membawa saya pergi? Anak saya sedang sakit.." Tanya Kurenai.


"Kalian menetaplah di London dan gunakan uang itu untuk biaya hidup kalian. Jangan pernah bilang pada dunia jika Alvin adalah anaknya Yoga Kazehaya! Jangan pernah bilang jika Alvin memiliki darah Kazehaya jika kau tak ingin Alvin menyusul Yoga!" Kata Kakek Wijaya.


Kurenai melemas. Kakinya tak bertenaga. Ia bersimpuh di atas dinginnya lantai rumah sakit. Ia menjatuhkan check senilai 10 milyar itu. Ia menangis.


"Kenapa Anda tega kepada saya dan cucu Anda sendiri, Tuan Besar? Kenapa Anda sangat membenci Alvin?" Tangis Kurenai.


"Jika kau tak memperalat Yoga, dia tidak akan mati. Kau tidak sadar jika kematiannya disebabkan olehmu juga?"


Kurenai terdiam.


"Dan lagi, aku tidak bisa menerima darah keluarga Kazehaya lahir dari rahim wanita seperti dirimu!"


Kurenai yang tak berdaya dan tak memiliki apa-apa saat itu hanya bisa menuruti perintah kakek Wijaya.


Setelah kakek Wijaya pergi dari kamar inap Alvin, orang-orang yang dimaksud kakek Wijaya datang. Mereka berpakaian hitam dengan badan kekar layaknya brimob. Ada dokter dan dua suster perempuan. Mereka membantu membawa Alvin dengan ranjang pasien dorongnya. Mereka keluar dari rumah sakit dan dibawa dengan ambulan menuju bandara.


Sebuah jet mewah, yang Kurenai ketahui jika jet itu adalah jet pribadi milik keluarga Kazehaya sedang menunggu. Ia dan 'rombongan' itu masuk kedalam jet itu dan setelah semuanya oke, jet itu terbang menuju Inggris.


FLASHBACK OFF


.


.


.


"Alvin-sama.. Anda memikirkan sesuatu?" Tanya Daisuke.


Daisuke sudah memanggil berkali-kali nama Alvin, namun Alvin diam saja. Ia justru setia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


Alvin menoleh ke arah Daisuke. Pandangannya mengabur. Rasanya kepalanya sangat pusing saat ini.

__ADS_1


Masa lalu sungguh menguras energi otaknya.


__ADS_2