
Sudah tiga hari sejak Yudha dirawat di rumah sakit. Bukan rumah sakit, tapi ruangan yang disulap bak rumah sakit. Laki-laki itu belum menunjukan tanda untuk siuman. Pertolongan pertama yang terlambat di dapat Yudha sangat berpengaruh pada kondisinya sekarang.
Yudha sangat berhutang budi pada pada dokter hebat yang menanginya ketika ia terluka parah waktu itu. Tanpa bantuan perempuan itu, mungkin ia sudah mati.
Dokter hebat itu bernama Tsubaki Aoi. Ia cantik dan sangat berbakat di bidangnya. Masih muda tapi sudah mendapatkan gelar dokter di usia 19 tahun, saat ini usianya 23 tahun.
Aoi membuka pintu kamar dimana Yudha diruwat. Ia membawa sebungkus bento untuk makan malamnya. Tadi Aoi pulang kerja dari rumah sakit, kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan menyiapkan makan malam, lalu bergegas pergi ke kediaman Tuan Han untuk merawat Yudha.
Bento: bekal makanan.
Aoi meletakkan bento di atas meja. Aoi segera mengambil air hangat dan handuk kecil yang di simpan dalam lemari kecil.
Pagi ini waktunya membersihkan badan Yudha dan mengganti perban.
Meski awalnya kaku mengurus Yudha yang sakit, sekarang Aoi lebih luwes. Kegiatannya beberapa hari belakangan ini berputar pada Yudha. Jadi tidak heran Aoi nampak santai saja membuka baju Yudha untuk menyeka dada bagian atas pria itu. Aoi tidak akan membersihkan punggung Yudha karena luka sayatannya belum terlalu kering. Lagi pula, Yudha juga belum siuman.
Oh iya, ia tak melakukan kegiatan ini sendirian. Ia tetap mendapatkan bantuan dari seorang perawat yang 24 jam menjaga Yudha.
Tangannya bergerak menuju wajah Yudha. Aoi mengusap pelan. Ada beberapa luka di wajah pria itu. Gerakan Aoi terhenti. Mata indah itu menatap wajah Yudha dengan teliti. Meski sudah beberapa kali melihat wajah ini secara dekat. Aoi tak bohong jika Yudha memanglah tampan.
Hidung Yudha kecil namun mancung. Kulitnya putih bersih dan bibir itu merah muda. Tapi Aoi iri dengan bulu mata Yudha yang panjang.
Aoi yakin jika Yudha itu pastilah memiliki banyak wanita yang memujanya. Modal tanoang wajah seperti Yudha itu cukup untuk membuat banyak wanita bertekuk lutut.
"Apaan sih? Tugasku itu merawat orang sakit bukan mengorek kehidupan pribadinya!"
Sudahlah buat apa dipikirkan. Lebih baik Aoi mengobati luka di wajah Yudha.
Aoi meraih kotak P3K yang disodorkan oleh asisten perawat yang membantunya. Diambilnya botol berisi cairan yang biasa Aoi gunakan untuk mengobati luka Yudha. Dia tuangkan pada kasa hingga sebagian besar basah oleh cairan itu.
Perlahan, Aoi menyentuh lukanya dengan kasa tersebut sembari meniupnya pelan. Ia tidak tahu apa Yudha akan merasa perih tapi meniup luka seperti ini sudah jadi kebiasaan Aoi dan diterapkan pada Yudha.
Luka bagian bawah mata Yudha menjadi sasaran selanjutnya. Aoi menekan Kasa sangat pelan mengingat lukanya dekat dengan mata. Aoi siap meniup luka namun terhenti kala melihat pergerakan mata Yudha. Sangat pelan tapi cukup mengembalikan kesadaran Aoi.
"Aku tidak salah lihat, kan?"
Tanya dr. Aoi.
__ADS_1
Jangan-jangan Yudha menyadari tindakannya tadi. Wajah Aoi memerah karena malu.
"Ada apa, dr. Aoi?" Tanya Perawat.
Aoi kembali terjekut kala tangan Yudha bergerak pelan.
"Pasien kita sepertinya sudah siuman!" Jawab dr. Aoi.
.
.
.
Aoi tidak menyangka jika Yudha akan siuman pagi ini setelah mengalami tidur yang cukup panjang dalam beberapa hari ini. Yudha dalam kondisi yang belum stabil. Aoi lega namun juga merasa khawatir. Ia bingung harus bersikap seperti apa jika berhadapan dengan Yudha nanti.
Apa yang harus diucapkan lebih dulu? Terima kasih sudah siuman? Terima kasih sudah membuka mata? Keduanya Aoi rasa sulit untuk diucapkan meski memiliki arti yang sama.
Ayolah bukan saatnya mengkhawatirkan hal sepele itu. Demi kelancaran pertemuan mereka pertama kali setelah perawatan pasien yang lumayan lama, Aoi mati-matian memfokuskan diri pada kondisi Yudha.
Pertanyaannya, kenapa ia bisa seperti ini?
Hari-hari berlalu terlalui dengan banyak rasa. Ada tak rela ketika ingin meninggalkan Yudha untuk pulang ke rumah. Ada rindu ketika jauh dari Yudha.
Apakah ini cinta?
Aoi senderi kurang paham akan hal itu. Ia sampai detik ini belum pernah sekalipun jatuh cinta. Maka dari itu, saat ini belum berani mengambil kesimpulan dengan apa yang tengah ia rasakan.
"Akhirnya pasien ini sadar juga.. yokatta.. syukurlah.. haaah. Aku sedikit lega." Batin dr. Aoi.
Kegugupannya Aoi redam sekuat tenaga kala tubuhnya semakin dekat dengan padien yang dirawat olehnya, Yudha. Aoi mencoba mengatur nafas sebelum memberanikan diri mengintip ke wajag Yudha.
Perempuan ini terdiam melihat Yudha yang membuka kedua matanya dan lalu mengedipkannya periodik sebagaimana manusia normal berkedip. Jemari milik Yudha juga bergerak kecil.
Kepala Aoi menunduk menatap lantai. Jujur, saat ini ia meneteskan air matanya karena bahagia akan siumannya Yudha. Asisten perawat yang menemaninya saat ini pun juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Asisten Perawat itu justru mewek tanpa menyembunyikannya seperti yang sudah ia lakukan.
"Syukurlah.." Kata Perawat.
__ADS_1
"Rasanya seperti tidak percaya. Sulit diterima meski ini adalah harapan kita."
Aoi menyempatkan diri untuk melihat sebentar ke arah Yudha. Memastikan lagi. Sekedar memastikan bahwa lelaki itu sudah benar-benar siuman setelah semingguan tertidur. Katakanlah koma.
"Ah, kau memang sudah siuman rupanya. Syukurlah... Ohayou gozaimasu, Kazehaya-san. Watashi no namae wa Tsubaki Aoi desu! Aku adalah dokter yang merawatmu. Yoroshiku ne." Sapa Aoi dengan sopan dan ramah. Tak lupa ia juga sekalian berkenalan.
"..." Tentu saja Yudha belum bisa merespon langsung menggunakan mulutnya. Kondisinya belum membaik.
"Saya akan memeriksa kondisi tubuh Anda saat ini." Kata dr. Aoi.
Aoi memeriksa keadaan Yudha untuk memastikan bagaimana kondisi Yudha saat ini.
Perempuan bermata bulat itu bertemu pandang dengan Yudha.
Ada yang tak karuan di dalam hatinya. Rasanya kedua pipinya menjadi memanas ketika bertemu pandang sepertu ini.
.
.
.
Sejujurnya, Aoi tak pernah meminta hal aneh atau sesuatu yang muluk-muluk pada Tuhan. Ia hanya ingin bisa menolong banyak orang dengan kemampuan yang dimilikinya. Sesulit apapun itu, ia akan berusaha menolongnya. Ia ingin melihat senyuman menggembang dari setiap pasien dan keluarga pasien yang dirawat olehnya.
Aoi kini juga seorang perempuan dewasa yang ingin dicintai. Ingin merasakan cinta di luar konteks tugasnya sebagai seorang dokter. Ia ingin ada orang yang memberi hatinya dengan tulus padanya. Seperti pasien yanhmg dirawatnya ini, meski pun dalam mata yang terpejam, tapi terus saja memanggil-manggil nama seorang wanita yang Aoi yakini jika pemilik nama yang disebut oleh Yudha adalah orang yang paling penting dalam hidup Yudha.
Melody.
Yudha mengigaukan nama Melody.
Ada ras perih terselip ketika mendapati fakta seperti ini.
Namun ia bisa apa? Namun dirinya ini siapa? Dirinya bukanlah sosok pemilik kisah cinta putri raja dan pangen. Dirinya bukaah sang heroine dari kisahnya Yudha dengan Melody. Dirinyalah hanya sosok yang kebetulan mendapatkan pasien seperti Yudha yang tiba-tiba saja galau dengan perasaannya sendiri.
Ini bukan salah Yudha. Ini pula bukan salahnya. Ini anya di luar kuasanya.
"Aku ini lucu, sok bahagia sendiri, lalu bersedih akan diriku yang bodoh ini, aku memasukkan perasaanku jauh ke dalam dasar hatiku, padahal pasienku ini sama sekali tak tertarik padaku. Aku membuat rumit diriku sendiri." Batin dr. Aoi.
__ADS_1
Ia lalu mengambil ponsel den menepon seseorang.
"Tuan, Kazehaya-san sudah sadar." Kata dr. Aoi.