MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Keterlaluan!


__ADS_3

Jadi tuh pertengkaran level dua Melody vs Yudha untuk mengungkap masa lalu Melody ma Alvin. Kan tidak mungkin tiba-tiba membuat Melody bilang, "Yudh, Alvin-senpai itu mantanku loh.." 😅 Berasa garing gimana gitu.


Kalo pertengkaran level 1 itu untuk menguji kesiapan Melody mempertahankan dirinya dan untuk mengungkap kebenaran mengenai jati diri kakek Melody.


Hehe, pasti pada kesel kan? Biasanya kan manis-manis. Ini puasa isinya full mellow. 😂😂


Oh iya, alur sinetron always on. Tamat belum bisa dipastikan. Melodi ini akan terus mengalun.


Berikut jika kalian merasa ragu karena tanda bibir di judul, maka bacalah sehabis buka puasa. Tidak tahu kenapa, meski udah dialret tetap saja tanda warning +21 nya tidak muncul.


Spoiler: Bukan adegan mesum. Hanya emosian yang berlebihan.


Komen, Like, Share, & Vote.


Tak tunggu karo nyawang dek Jungkook. 😈


________________________________________


Di dekat parkiran mobil..


Yudha mengikuti langkah Melody sampai di dekat parkiran mobil. Ia harus menghentikan Melody apapun yang terjadi.


“MELODY BERHENTI! JIKA KAU TAK BERHENTI, AKU AKAN MEMUKULMU!” Yudha sungguh marah besar.


Melody berhenti. Ia lalu berbalik. “Memukulku? Heh, muncul juga sifat aslimu, Tuan? PUKUL SAJA! PUKUL! Dasar suami pengecut yang beraninya sama istri!” Melody ngece.


Ngece dalam bahasa Jawa tuh ndoyani, disekaliankan saja.


Tentu saja Yudha hanya bercanda, tapi Melody sungguh menantang kesabarannya.


“Kedua kakek kita memang saling menjodohkan kita di masa lalu, tapi kau harus ingat jika keluargaku membelimu dengan banyak uang. Kau... Perhatikan sikapmu!”


Bentak Yudha


Sakit.


Kata-kata ini sungguh menyakitkan walau benar adanya. Melody dibeli keluarga Kazehaya dengan banyak uang. Harga 250 cc darah tak akan semahal itu.


“...” Melody meremas kencang gagang tas bajunya. Ia hanya bisa menunduk.


Yudha berjalan mendekat saat melihat Melody tak berkutik melawan kata-katanya.


“Aku sabar, kau tak tahu jika sedang disabari. Aku memerintahkanmu untuk menuruti, kau abaikan.” Yudha memegang dagu Melody agar Melody membalas tatapannya. “Katakan padaku, kau akan tetap di rumah dan membatalkan PKLmu!”


Melody mengalihkan pandangannya. “...”


“Tidak mau?”


“Aku harus PKL musim dingin ini agar lulus tepat waktu.” Jawab Melody lirih.


“Ho.. jadi ini, hasil didikan Alvin padamu?”


Melody kembali menatap Yudha. “Apa maksudmu?”


“Apa kalian pernah melakukan ini sebelumnya?” Tanya Yudha.


Yudha mencium paksa bibir Melody. Melody berusaha berontak karena perlakuan yang ia terima. Yudha kekeuh tak melepaskannya. Ia bahkan berani menggerayangi tubuh Melody. Menyentuhnya tidak wajar, tidak senonoh, apa lagi di ruang terbuka seperti ini.


Melody tidak suka dengan perlakuan itu, dengan kasar ia mendorong tubuh Yudha menjauh.


Melody mengusap bekas ciuman ‘menjijikan’ dari Yudha. Ia meneteskan air mata. Meski dilakukan oleh suaminya sendiri, tapi entah mengapa ia merasa hina karenanya.


“...” Tanpa kata, Melody membalikkan badannya untuk meninggalkan Yudha.


Ia tidak ingin memperlihatkan air matanya pada Yudha. Ia ingin kuat meski sesungguhnya saat ini merasa sangat rapuh.


“Jadi kau menolakku?” Tanya Yudha yang tak suka jika Melody mengabaikannya.


"..." Melody tetap berjalan menjauh.


“Kau menyembunyikan hubungan masa lalumu dengan Alvin, saat inipun kau bisa saja juga menyembunyikan hubunganmu dengan Alvin yang belum kelar.” Yudha menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"..." Melody berusaha tidak gentar, ia selangkah melangkahkan kakinya. Apa sih maunya Yudha itu?


“Rupanya benar, hubungan kalian masih berlanjut...”


"..." Melody tetap melangkah menuju mobil.


“Dan kalian diam-diam bermesraan di belakangku..."


Melody menghentikan langkahnya. Bermesraan?


“...”


Melody mengernyitkan alis matanya.


“Hmm, jadi kalian bercumbu juga saat aku tidak ada?”


Yudha menduga-duga.


Bercumbu?


Yudha itu terlalu kasar!


Melody memang bersama Alvin, tapi Alvin tidak pernah menginap di apartemennya. Alvin selalu kembali ke mansion Kazehaya! Dan lagi, meski seandainya ia ingin berselingkuh, ia akan memilih laki-laki lain. Alvin itu terlalu baik.


“Senpai sangat menghormatiku, dia tidak akan pernah melakukan hal menjijikan sepertimu!” Kata Melody kasar.


Menjijikkan? Perempatan kembali muncul. Bagaimana bisa Melody mengatai perbuatannya itu menjijikkan? Ia adalah suami sah Melody! Dan apa yang ia lakukan itu wajar! Seperti itulah tafsiran dari olah pikir otak Yudha.


“Jika benar dia tidak melakukan hal menjijikan seperti yang aku lakukan tadi, kenapa kau terus membantahku? Kenapa kau tak mengatakannya sambil menatapku? Kau takut jika aku tahu kebohonganmu? Orang yang berbohong akan selalu takut menatap lawan bicaranya...”


Kata Yudha geram.


“...”


Yudha semakin geram karna Melody mendiamkannya, mengabaikan kata-katanya yang super panjang itu dalam sekali tarikkan nafas.


Kesal.


Lanjut Yudha.


Cukup!


Cukup sudah!


Yudha sungguh keterlaluan.


Suaminya sungguh keterlaluan. Ini melebihi batas mampunya menahan emosi.


Melody berbalik, ia menatap Yudha jauh lebih tajam dari yang sudah-sudah. Jauh lebih dingin dari sebelumnya.


Tidak hanya sakit, tapi sakit sekali. Hatinya kali ini benar-benar sangat hancur.


Ia ingin memukul Yudha sekerasnya.


Menamparnya.


Bahkan membunuhnya sekalipun.


Bagaimana bisa Yudha mengatakan hal seperti itu? Meragukan janin yang ia kandung? Gila, Yudha benar-benar sudah gila!


Ini puncak paling gila dari sosok seorang Yudha.


Kata-katanya memang kasar, tapi berhasil membuat Melody berbalik padanya. Yudha lalu melepaskan silangan tangannya di depan dada. Ia bersiap menyambut Melody kembali ke dalam rumah.


“Ayo kita ke dalam, di luar sangat dingin, tidak baik untuk ibu hamil!” Kata Yudha melembut.


“Tuan Kazehaya, berhubungan Anda meragukan ayah dari janin yang saya kandung, jadi Anda tidak perlu berepot-repot mengurusi saya dan anak saya.” Kata Melody, ia lalu berbalik cepat berjalan menuju mobil.


“MELODY!”


Melody menyalahkan mesin mobilnya, ia lalu ke luar dari garasi mobil. Yudha berusaha menghentikannya. Yudha menggedor-gedor kaca mobilnya, namun ia abaikan. Ia terus melaju keluar dari mansion Kazehaya.

__ADS_1


“MELODY!!” Teriak Yudha saat melihat mobil yang dikendarai Melody melewati gerbang mansion Kazehaya. Ia bahkan menendang udara dengan kasar. “Arrgghh, brengsek! Kenapa sulit sekli memahaminya sih? Aku baik, dia berontak. Aku bersikap kasar, ia justru makin berontak.”


Shuhei dan Mikan datang mendekat.


“Loh? Yudha, mana Melody?” Tanya Mikan.


“Sudah pergi.” Jawab Yudha ketus.


“Bukankah dia minta dibuatkan bekal udon sapi?”


“Biarkan saja! Biarkan dia kelaparan!” Yudha melenggang pergi ke dalam rumah.


“Yudha, kau tak boleh seperti ini!” Mikan mengikuti Yudha. Ia harus mencermai anaknya yang keterlaluan itu.


“Nyonya, biar saya yang berbicara dengan Tuan Muda!” Kata Shuhei.


"Nak Shuhei, mohon bantuannya."


"Ya, Nyonya Mikan.."


Mikanpun menyetujuinya. Memang benar, Yudha itu lebih terbuka dengan Shuhei daripada dengannya. Dan itu mmbuatnya sangat iri.


.


.


.


“Yudha-sama, maafkan saya, jika tadi saya lebih cepat ke parkiran, nona Melody tidak akan pergi sendiri.” Kata Shuhei.


“Tidak apa-apa, dia sendiri yang ingin pergi sendirian, biarkan saja!” Ketus Yudha.


Kekanak-kanakan. Tuan Mudanya sangat kekanak-kanakan.


“Tapi, masalahnya, Nona Melody tidak memiliki SIM dan dia belum lancar mengendarai mobil, itu sangat berbahaya!”


Benar juga, terakhir latihan berkendara Melody hampir menabrak anjing liar. Cih. Sial.


“...”


“Yudha-sama..”


“Dia paling akan berhenti di suatu tempat dan ganti naik kendaraan umum.”


Shuhei yang masih sangat khawatir hanya bisa menghela nafas. “Bolehkah saya menyusul Nona Melody?”


“Tidak!”


“Tuan..”


“Aku bilang tidak ya TIDAK!”


Shuhei terdiam.


.


.


.


1 jam kemudian..


“Ada sebuah badai salju tak biasa bergerak menuju wilayah Miyagi. Badai ini diperkirakan akan sampai di Wilayah Miyagi dalam 2 jam ke depan. Badai ini berasal dari anomali cuaca yang tak terkendali beberapa hari ini. Untuk wilayah Miyagi dan sekitarnya harap untuk tidak melakukan aktifitas di luar rumah. Beberapa stasiun dan angkutan akan berhenti beroprasi untuk beberapa jam sampai cuacanya membaik. Pemerintah meminta maaf atas kejadian ini dan diharap semua warga berhati-hati.Terima kasih... selanjutnya berita lain datang...”


Berita tentang badai itu menggetarkan hati Shuhei. Ia semakin menghawatirnya istri dari Tuan Mudanya yang kekanak-kanakkan ini.


“Yudha-sama..” Shuhei menoleh ke tempat Yudha duduk.


Kosong.


Ia lalu mendengar suara mesin mobil berbunyi.

__ADS_1


Shuhei hanya bisa tersenyum. Rupanya Tuan Mudanya itu juga sangat khawatir sampai-sampai pergi meninggalkan rumah dengan terburu-buru.


__ADS_2