MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Ingin Melihat


__ADS_3

Kediaman Uchiyama...


Puluhan puntung rokok sisa memenuhi asbak. Beberapa jenis wine ada di atas meja. Makanan penyeimbang minuman alkohol pun juga ada di sana.


Seorang laki-laki paruh baya, sedang asyik menikmati rokok cerutunya. Rokok mahal dengan harga per slok mencapai jutaan. Meski jutaan menurut orang miskin adalah mahal, tapi untuk seukuran orang dengan penghasilan milyaran perbulan itu seperti membeli permen saja.


"Azumane-san, kau nampak gelisah.." Kata Kurenai.


Kurenai sangat menghormati suaminya, ia menambahkan sufix -san untuk memanggil suaminya itu.


"Apa aku terlihat seperti itu?" Tanya Azumane.


"Kau memainkan puntung rokokmu. Kau melakukannya jika sedang tidak tenang." Kurenai cukup hafal tingkah laku Azumane. Sosok yang sudah ia kenal sehak lama.


"Yakuza Fajar Keemasan bermain di wilayahku, mereka membuat banyak masalah." Kata Azumane.


"Orion-san?"


"Ya, siapa lagi? Bukankah laki-laki itu adalah adik dari mendiang Yoga?"


"Ya, dia adik mendiang Yoga. Apa semua berjalan dengan baik?" Tanya Kurenai. Ia tahu bagaimana kehidupan yakuza itu, jika terjadi bentrok, maka akan ada nyawa yang dikorbankan.


"Semua berjalan dengan baik." Jawab Azumane.


Kurenai hanya memperhatikan Azumane. Meski ia sudah menikah cukup lama dengan laki-laki ini, tapi tetap saja, ia sulit membaca bagaimana arah pikir dari suaminya itu.


Yakuza selalu bertindak di luar dugaan.


"Ano Azumane-san..."


"Ya?"


"Apakah kau yang sudah memindah atas namakan saham dari Tuan Park dan Tuan Kang?" Tanya Kurenai hati-hati.


Azumane memincingkan matanya. "Ya, atas namaku, apa kau keberatan?"

__ADS_1


"Tidak, lagipula Alvin sudah memiliki cukup besar saham yang ada. Dia juga sudah menduduki tahta tertinggi Emperor Group."


"Ini simbiosis mutualisme antara kita, Kurenai. Aku membantumu mewujudkan impianmu, dan aku memiliki saham Emperor Group. Kita sama-sama untung." Terang Azumane.


"Iya, kau benar..." Gumam Kurenai.


Mereka berdua lalu minum bersama.


"Tuan Besar Wijaya memiliki saham 20%, Yudha 10%, Alvin mendekati 18%, dan Azumane-san mendekati 10%. Sisa lebih dari 40% dibagi banyak pemegang saham. Beberapa di antaranya dimiliki oleh tiga sahabat Yudha, dimana mereka masing-masing memiliki 2-3% saham Emperor Group. Jika gara-gara insiden penyuapan itu semakin membuat para pemegang saham Emperor Group menjual sahamnya, maka Yudha kemungkinan juga akan ikutan berebut membeli saham-saham itu. Belum lagi, Alvin bilang, Azumane-san menggunakan nama lain untuk membeli saham Emperor Group... Kenapa Azumane-san tidak memberitahuku?" Batin Kurenai.


.


.


.


Lantai 16, kamar Melody..


"Yudha sibuk dengan urusan kantor. Dia bilang, usai keluar dari Emperor Group, maka dia seorang pengangguran. Nyatanya tidak, dia punya bisnis pribadi di luar Emperor Group yang dia dirikan dibantu oleh Nao-kun, Neil-san, dan Sai-san... Sementara Yudha yang sedang berkutik dengan kerjaannya, apa yang aku lakukan saat ini? Jaga kakek, jaga Aron-san, makan, priksa kehamilan, jaga kehamilan, makan, mandi, dan tidur. Hanya itu saja yang bisa aku lakukan. Aku tak benar-benar membantu Yudha secara nyata. Parahnya, bukannya mengeluh, tapi sungguh di kehamilanku yang mendekati tujuh bulan ini, gerakku semakin terbatas. Aku merasa sebah, sakit pinggang, dan juga tubuh terasa berat... Dua hari lagi aku ulang tahun, seminggu setelahnya ulang tahun pernikahanku dengan Yudha. Apa yang bisa aku lakukan? Tidak.. apa yang harus aku lakukan? Tuhan, aku merasa jika otak ini semakin sulit untuk berpikir. Rasanya sangat buntu."


"Jika tak ada masalah seperti ini, mungkin saja aku dan Yudha sedang menikmati masa-masa bahagia menunggu buah hati lahir. Padahal aku dan Yudha baru saja memulai kehidupan cinta kami setelah kesalahpaham antara kami usai, setelah kami saling mengunkapkan cinta. Namun, sepertinya Tuhan memang terlalu sayang pada kami. Tuhan ingin meminta bukti pada kekuatan cinta kami untuk sejauh mana sanggup bertahan... Jika yang datang orang ke tiga, maka aku dan Yudha akan cepat menyudahinya. Namun, saat ini yang datang adalah ujian kehidupan yang sangat berat. Bahkan nyawa saja harus dipertaruhkan... Setiap Yudha berpamitan pergi keluar dari rumah sakit ini, rasanya dia seperti tak akan kembali... Masa bodoh jika mereka semua mengataiku berlebihan karena mengirim pesan pada Yudha hampir tiap saat. Asal aku tahu Yudha baik-baik saja, aku sudah sangat bahagia."


Melody membaca pesan balasan dari Yudha. Yudha bilang akan ada rapat dan akan membalas Melody dalam setengah jam kemudian.


Melody memahaminya.


"Yudha, maafkan aku, aku harus menemui Alvin dan tak izin padamu dulu. Aku tahu ini salah, tapi, jika aku bilang padamu, kau pasti tidak akan mengizinkanku pergi. Tenang saja, aku tak keluar dari rumah sakit, Alvin yang akan ke sini."


Melody merapikan pakaiannya. Ia memakai mantel agar perutnya tertutupi. Kemudian dengan santai ia berjalan menuju lift khusus lantai enam belas. Ia menuju ke atap gedung rumah sakit.


Lantai enam belas itu istimewan tak perlu penjagaan di sana.


Beberapa saat kemudian, Melody sudah sampai di atap gedung rumah sakit yang indah itu.


Melody berjalan menuju bangku taman atap gedung dimana Alvin sedang duduk.

__ADS_1


"Ada apa kau memanggilku?" Tanya Melody tanpa basa-basi.


"Tidak bisakah kita memulai obrolan dengan saling sapa terlebih dahulu? Lihatlah, bunga sakuranya sedang mekar!" Kata Alvin.


"Kakak ipar, aku tak bisa lama-lama karena menghormati Yudha. Tolong berbicaralah dengan cepat apa yang ingin kau bicarakan padaku!" Pinta Melody.


"Ho, jadi Yudha tak tahu aku menemuiku rupanya. Jika Yudha aku kasih tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini denganku, maka apa yang akan dia lakukan ya? Datang kesini dengan helikopternya?"


"Kakak ipar!"


"Kenapa? Apa kau takut Yudha akan memarahimu?"


"Aku tak masalah dimarahi olehnya, dia akan percaya padaku! Dia akan selalu percaya jika perasaanku hanya untuk dirinya!"


Alvin menggigit bibir bawahnya. "Hmm, begitu ya?" Gumamnya.


"..." Ada sorot luka di mata Alvin. Sorot mata yang sama dari cara Alvin memandangnya setahun belakangan ini.


"Kau tak bisa ya walau hanya sedikit saja memikirkan perasaanku?" Tanya Alvin sambil tersenyum.


Senyuman yang getir.


"Maaf, aku hanya ingin setia pada keputusanku. Aku tak akan mengubahnya. Aku mencintai Yudha dan akan selalu seperti itu!" Kata Melody tajam.


Sudah jutaan kali tersayat, remuk ringsek tak berbentuk, tapi Alvin selalu ikhlas menerimanya.


"Aku sudah terbiasa terluka dan rasanya sakit sekali." Kata Alvin.


Wajah pucat, bibir tersenyum, tapi mata penuh kesedihan. Melody tahu Alvin sedang tak baik-baik saja.


"Berhentilah mengancam akan menyingkirkan Yudha! Kau tahu, aku akan semakin membencimu!" Kata Melody. Ia beranjak pergi, tapi tangan Alvin menghentikannya.


"Aku ingin melihatmu. Hanya dengan mengancammu, maka kau bersedia datang. Ureshikata yo..." Kata Alvin.


Melody melepaskan tangan Alvin dan berjalan menjauh. Dalam hati ia merasa tak menentu. Perasaan Alvin memanglah sangat besar untuknya.

__ADS_1


"Senpai bodoh! Kumohon jangan cintai aku sebesar ini. Kau hanya akan semakin terluka!" Tangis Melody.


__ADS_2