
“Bagaimana?” Tanya Melody.
“Lumayan, teruslah stabil seperti ini. Mengerti?” Jawab Yudha.
“Iya Yudha, e-eehhh.”
“Ba-baka, pelan-pelan! Letakkan tanganmu seperti ini!”
“Seperti ini?”
“Hn. Bergeraklah dengan rileks!”
“Ri-rileks?”
“Selembut mungkin, Melody.”
“Se-seperti ini?”
“Jangan kaku!”
“Y-ya.”
.
.
.
“Kau kenapa tegang seperti itu, Melody?”
“A-aku hanya gugup.”
“Tenanglah!”
“Hm.”
“Ayo kita lanjutkan!”
“Iya, Yudha.”
.
.
.
“Yudha, ba-bagaimana? Apa ini enak?”
“Ah, hm. Lumayan. Kau bisa memasukkannya lagi agar semakin enak.”
“Tapi aku takut.”
“Tidak apa-apa, ada aku.”
“Baiklah, aku akan memasukkannya lagi.”
.
.
.
“Bagaimana menurutmu Melody? Kau baik-baik saja, kan?”
“Iya Yudha, ini tidak terlalu sulit. Aku bisa mempelajarinya.”
“Jika kau memasukkannya lagi, maka akan semakin enak. Gerakkan tanganmu perlahan dan lembut. Ingat, jangan kaku!”
"I-iya."
"Jangan kasar seperti itu! Kau ingin membunuhku ya?"
"Ma-maaf, oke, aku akan pelan-pelan."
.
.
.
“Kenapa tiba-tiba berhenti, Melody? Ini masih enak. Nanggung.”
“Ano, ada sesuatu di depan sana.”
“Kita hanya berdua, Melody!”
“Tapi aku melihatnya. Aku harus memastikannya. Ayo turun, Yudha! Sebentar saja.”
“Haaah, baiklah.”
.
.
.
“Tidak ada apa-apa kan, Mel? Hee, kau menangis?”
“Hikss. lihatlah, dia terluka, Yudha! Gara-gara aku.”
“Sttt. Coba aku lihat!”
“Ini..”
“Bukan karena kau, dia sudah terluka sebelum ini. Lihatlah, ini adalah luka yang berbeda!”
“Be-benar. Biarkan aku mengobatinya.”
.
.
.
“Dia terlihat bahagia, Melody.”
“Kupikir aku akan mengadopsinya, tapi ternyata dia memiliki family.”
__ADS_1
“Kau gemetaran, Melody. Kau baik-baik saja?”
Melody menggeleng. “Maaf Yudha. Aku tidak bisa melanjutkannya.”
“Baiklah, aku yang akan menyetir. Kau istirahat saja!”
“Arigatou.”
.
.
.
MELODI CINTA
.
.
.
“Akhirnya. YOKOHAMAA..” Teriak Melody dengan sangat kerasnya sampai-sampai membuat Yudha menutup kedua telinganya.
“Berisik, Melody!”
“Aduh Yudha, kalau tidak berisik mana cocok. Ini pantai Yokohama, aku belum pernah kesini sebelumnya.”
“Sesenang itukah dirimu?”
“Hn, tentu saja! Ini pertama kalinya.”
“Kupikir kau senang karena ada aku di sini.” Gumam Yudha.
“He apa, Yudha?”
“Bukan apa-apa.”
“Apa? Apa yang kau gumamkan? Aku tidak bisa mendengarnya.
“Bukan apa-apa, Melody. Ayo kita jalan-jalan menyusuri pantai!”
Yudha dan Melody berjalan beriringan menyusuri pantai Yokohama. Pasir putih nampak tak berujung. Seperti karpet panjang nan indah. Ombak menari kesana kemari. Gemercik pelan menyapu pasir. Membelai dingin jemari di kaki.
Mungkin ini tidaklah tepat, ayolah, ke pantai di musim gugur? Sungguh, airnya begitu dingin terasa di kulit. Udaranyapun tak jauh berbeda. Mungkin lain dalam pemikiran Yudha, bukanlah ini saat yang tepat? Pantai akan sepi pengunjung. Ia benar-benar benci keramaian.
Bagaimana dengan Melody? Melody mah gampang, ia itu sangat penurut pada Yudha. Lagipula, bukankah ini seperti liburan?
Selain itu..
Mungkin saat inilah waktu yang tepat untuk berbicara.
Setelah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, hanya saling diam dan menahan diri rasanya bukanlah hal yang tepat. Bukankah itu sama artinya dengan melarikan diri? Masalah akan selesai jika dihadapi. Apapun itu, hanya menunggu bukanlah jawaban yang tepat.
“Yudha, lihat. itu kepiting!"
"..."
"Wah ada rumput laut juga. Apa ini bisa dimakan?"
"..."
"..."
"Sugoi, ini kan landak laut?"
"..."
"Yudha, ini apa yang seperti sirip hiu? Loh, tapi mirip lidah. Kau tahu apa ini?”
“Tulang ikan sotong, Melody.”
“Hee, masak? Aku baru tahu.”
“Hah, sekarang kau jadi tahu, kan?”
“Iya. Hebat. Boleh aku bawa pulang?”
“Hah? Yang benar saja Melody!”
“Ini sangat artistik, Yudha! Lihat! Tulangnya putih cantik, bahkan kalau dilihat-lihat seperti replika papan sky air!”
“Itu jorok, Melody! Buang!”
“Jangan.”
“Buang!"
"Ini langka! Kita ini beruntung bisa mendapatkannya secara alami di alam!”
Yudha menarik tangan Melody. “Lihat, itu apa? Itu, itu, itu, dan itu!”
“Tu-tulang ikan sotong?”
“Itu bukan barang langka!”
“Benar juga. Haah, kupikir aku bisa menjualnya. jadi aku harus membuangnya?” Melody membuang tulang ikan sotong itu. Ia bahkan terlihat kecewa.
“Pulang nanti, kita akan membeli ikan sotong untuk oleh-oleh.” Yudha mencoba melegakan hati Melody.
Benar saja, wajah Melody langsung berseri. Ia kembali bersemangat. Saking bersemangatnya ia sampai refleks memeluk Yudha.
“Arigatou.”
Mungkin ini biasa saja, tapi bagi Yudha ini sedikit berbeda. Tapi syukurlah, Melody terlihat senang.
“Bagaimana kalau kita bermain game?”
Usul Yudha.
“Aku ingin, tapi aku enggan kalah. Kenapa aku sering kalah darimu?”
“Karna kau terlalu sibuk memikirkan cara licik buat mengalahkanku, Melody.”
“Huh, kau ini. Lalu dengan cara apa lagi aku harus mengalahkanmu? Aku sportif saja masih tetap kalah.”
“Berarti kau tidak cocok menjadi gamer.”
__ADS_1
“Jadi, maksudnya yang cocok hanya kau saja?”
“Maa ne.”
Maa ne: ya begitulah
“Memang kau bermain game dengan siapa saja selain denganku? Apa kau pernah kalah sebelumnya?”
“Menurutmu?”
“Aku yakin seorang Yudha tidak akan pernah kalah.”
“Aku sedang menghadapi orang sulit, sudah hampir sembilan bulan aku bahkan belum bisa mengalahkannya.”
Baca: Mbah Wijaya.
“Mungkin itu yang dinamakan seri?”
“Sayangnya permainan masih belum usai, Melody. Mungkin aku sudah kalah karena mengorbankan banyak hal untuk mencapai kemenanganku.”
“Hmm, meski begitu, tapi Yudha belum kalah, kan?”
“...”
“Aku ingin melihat Yudha menang.” Melody tersenyum manis.
"..." Yudha menaikkan sebelah alisnya.
"Karena saat Yudha menang itu sangat keren!"
Apa Melody terlihat semakin cantik saja? “Aku hanya perlu berjuang, kan?” Bolehkah ia menganggapnya sebagai dorongan semangat?
“Tentu saja!”
Bisakah ia mengalahkan kakeknya? Untuk saat ini meski ia sudah berjuang keras dan mengorbankan banyak hal, bahkan hampir segalanya, nyatanya menumbangkan sang kakek adalah hal yang sangat sulit ia lakukan.
Bukan hanya ia saja, tapi Melodypun perlahan ikut masuk. Melody memang tak menyadarinya, Melody tidak tahu apa-apa.
.
.
.
Melody menoleh ke arah Yudha. Suaminya itu baginya adalah sosok yang misterius. Yudha sangat tertutup. Yudha menyimpan banyak misteri. Yudha tak banyak bicara soal masalah pribadinya. Sesungguhnya ia merasa penasaran dengan lawan main Yudha saat ini sampai membuat Yudha kewalahan, bahkan dengan melihat wajahnya saja, ia yakin jika saat ini Yudha tengah merasa lelah.
Yudha tidak pernah memberitahunya apa yang Yudha pikirkan. Ya mungkin itu memang hak asasi Yudha mau bagaimana. Tapi, jika Yudha masih belum bisa menerimanya sebagai istrinya, setidaknya menjadi teman curhat tidak masalah, kan?
Hanya saja, sepertinya ia harus sedikit lebih bersabar, bagi Yudha ia hanyalah sosok baru yang hadir dalam hidupnya. Dibandingkan dengan Nao dkk, rasanya itu tidak mungkin. Apalagi dengan Yura. Hah, entahlah, nafas panjang menghela begitu saja.
“Yudha..“
“Hn?”
“Jika aku menggendongmu sampai ke batu itu, kau akan semangat menghadapi lawan mainmu, kan?”
“Haah? Apa-apaan kau ini, Melody?”
“Aku tidak tahu siapa lawanmu, tapi aku mohon, jangan sampai kalah sebelum aku mengalahkanmu, OK?”
Yudha tertawa. “Hahaha, kau ini. Kau tidak akan kuat menggendongku! Aku ini laki-laki yang jelas jauh lebih berat darimu!”
Melody menunjukkan otot lengannya. “Lihat! Aku memiliki otot!”
Memang, Melody itu tomboy, ia memiliki tubuh yang lebih maskulin dari kebanyakan cewek. Paham kok, lagian ia sudah pernah melihat semuanya. Semua yang ada pada Melody sudah pernah Yudha lihat. Eh, cihh, memikirkan hal itu membuat sosok iblis muncul saja.
Melody menunjukkan punggungnya, menawarkan agar Yudha segera naik. Awalnya Yudha ragu, tapi Melody terus saja menyuruhnya. Akhirnya Yudhapun naik ke punggung Melody. Ia sedikit menahan diri, tapi nyatanya, Melody sungguh menggendongnya.
Sedikit khawatir dengan berat badanya, meski bertubuh kecil, Melody mampu menggendong Yudha selangkah demi selangkah.
“Ini... tak hanya.. soal kau wajib menang, tapi.. aku.. sedang menepati janjiku, dulu kau menggendongku, sekarang.. aku wajib membalasnya. Kau ingat, kan?” Nafas Melody terasa berat karena sedang mengangkat beban lebih dari 60 kg.
“Ah, yang di Okinawa itu?”
“Hm.. a—arigatou buat semuanya?”
“Hoo. Kau berterima kasih juga karena aku menyetubuhimu waktu itu?”
😖😖
Tuuuttttt. Tenaga Melody seketika hilang.
Melody terkulai lemas ke pasir, sementara Yudha bisa mengendalikan dirinya tanpa terjatuh.
Yudha memang harus memilih kata rupanya. Tapi menggoda Melody dengan cara ini sepertinya sangat menarik. Haruskah lain kali ia melakukannya lagi?
“Yudha, kau ini..”
“Hahhaha. Gomen na.”
Sudah hampir sepuluh meter Melody menggendongnya. Melihat Melody yang terkulai lemas di pasir, Yudha merasa iba. Memang membahas hal seperti ini cukup sensitive bagi Melody. Yudhapun akhirnya berjongkok dan menawarkan diri untuk menggendong Melody.
Melody terlihat senang, iapun digendong oleh Yudha. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai Yokohama itu. Menikmati matahari musim gugur yang kian meredup.
“Sepertinya kita memang harus bicara, Melody.”
“Kau benar. Kau mulailah dulu!”
“...”
“...”
“Melody..”
“Ya?”
"..."
"Yudh?"
“Apa kau bertambah berat?”
“...”
“...”
Plaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk
__ADS_1