
Tuan Han dan Saga masuk ke ruang yang saat ini sedang di tempati oleh Alvin dan Kurenai.
Alvin dan Kurenai tidak lagi membahas soal kebohongan Kurenai mengenai status Alvin yang bukan keturunan Tuan Han. Alvin pun tak berniat untuk membocorkan rahasia sang ibu karena hal itu justru akan membahayakan nyawanya dan juga ibunya.
Alvin juga tak sebodoh itu. Tuan Han pastilah orang yang sangat kejam.
"Maaf membuat kalian lama menunggu. Berhubung ini sudah jam 11 siang lebih, mendekati jam makan siang. Mari kita makan siang bersama sebagai satu keluarga!" Ajak Saga.
"Saga benar, kita harus mempererat ikatan kekeluargaan kita! Meski Alvin dan Saga beda ibu, meski ibunya Alvin sudah menikah dengan laki-laki lain, namun, kita ini tetaplah masih satu keluarga." Tambah Tuan Han seramah yang ia bisa.
Tuan Han dan Saga sedang berusaha untuk mengambil hati Alvin agar mereka bisa mendapatkan kepercayaan dari Alvin. Menyadari Alvin yang tumbuh di luar pengawasannya, tentulah hal ini membuat Alvin sulit untuk menerima mereka. Mereka akan melakukan banyak cara untuk menbuat Alvin berada di pihaknya terlebih dahulu.
Jika dengan cara sopan dan ramah ini gagal, maka mereka hanya harus menggunakan cara kasar sesuai dengan yang sudah mereka berdua rencanakan sebelum ini.
"Alvin, mari jangan tolak permintaan dari Tuan Han dan Nak Saga! Mumpung kita bis berkumpul seperti in dalam satu waktu." Kata Kurenai.
"Baiklah, aku tak masalah makan siang bersama dengan kalian semua." Kata Alvin.
Tuan Han dan Saga saling melempar senyuman. Semoga langkah awal ini akan membawa kejayaan bagi mereka dengan mendapatkan Alvin di kubunya.
"Saga sebelum ini sudah meminta sekertarisnya untuk menyiapakan makan siang kita semua. Maaf, akibat cukup riskan jika kita ketahuan makan semeja di luar sana, kita harus makan di ruangan ini." Kata Tuan Han.
"Ah, tidak masalah. Makan dimana pun bagiku juga tak akan menjadi masalah." Kata Alvin.
"Syukurlah.." Senyum Tuan Han.
"Tuan Han bahkan bisa menjadi sangat ramah kepada Alvin. Aku sangat tahu bagaimana waktak asli dari Tuan Han ini. Orang yang sangat kejam seperti dirinya bisa melakukan apapun untuk memperlancar jalannya demi meraih semua impian dan keinginannya. Sikap sangat ramah pada Alvin bisa memiliki dua arti. Pertama, dia percaya jika Alvin adalah putranya. Kedua, dia hanya sedang berpura-pura sok baik agar Alvin mau bediri di pihaknya atau katakanlah mau menjadi sekutunya... Aku harap tentu saha kemungkinan yang pertama adalah arti dari sikap ramahnya pada Alvin. Jika yang kedua terjadi, maka sudah dipastikan, di akhir nanti, aku dan Alvin hanya akan dibuang olehnya. Dibuang masih dalam keadaan hidup itu masih mending, tapi jika dibuang dalam keadaan mati, maka ini adalah rencana besarku yang mengalami kegagalan paling menyakitkan di dalam hidupku! ... Aku masih belum bisa bernafas lega sebelum menyingkirkan orang ini. Aku akan bersabar dan terus bermuka dua agar bisa menjadi pihak yang tertawa di akhir! Aku tak mau hidupku tak berguna sama seperti kehidupan menyedihkan yang aku alami selama ini! Perhatikan saja wahai orang-orang yang dulu meremehkanku dan menghinaku, aku akan membalas dendam pada kalian semua!" Batin Kurenai.
Mereka berempat pun makan bersama di ruangan itu. Menu makanan spesial kelas restoran berbintang lima tersedia di sana.
Menu western yang cukup mendominasi di dalam menu makan siang ini. Memiliki citarasa unik, mereka bisa mencoba beberapa menu seperti wagyu beef burger, sandwich, lobster bique dan lain-lain.
Rasa yang lezat menggoyang lidah. Ini terlihat bagaimana empat orang ini begitu sangat menikmati acara makan siang mereka.
"Alvin, kau tidak memakan salad sayurnya? Tumben sekali kau menyisakan makanan kesukaanmu ini." Tanya Kurenai.
"Ibu, aku memiliki hak untuk tidak menghabiskan makananku, kan?" Alvin justru bertanya balik."
"Iya juga sih.. Tapi lihatlah badanmu saat ini! Kirus kering seperti itu! Kau juga tak makan banyak akhir-akhir ini. Membuat ibu khawatir saja!"
"Bibi Kurenai, Alvin itu tipe pekerja keras. Para pemangku jabatan CEO seperti kami, saat sedang disibukan oleh proyek-proyek suka skip makan. Tak jarang kami akan jatuh sakit karenanya. Aku rasa, Alvin juga mengalami hal yang sama dengan saya." Kata Saga.
"Saga lima hari yang lalu pingsan karena kelelahan dan tak makan dua hari. Dia di rawat di rumah sakit selama 3 hari." Kata Tuan Han. "Anak-anak suka bertindak membahayakan diri mereka sendiri." Tambahnya.
__ADS_1
Masuk akal juga penjelasan dari Tuan Han dan Saga ini. Tunggu, Tuan Han ternyata perhatian juga soal kesehatan anaknya. Sepertinya prosentase Alvin tidak ketahuan bukan anaknya Tuhan Han pun meningkat. Ia berharal banyak akan hal ini.
"Yang dikatakan oleh Tuan Han dan Saga-san itu benar. Seperti itulah yang terjadi pada diriku." Kata Alvin.
"Hei Alvin, kenapa kau berbicara sopan lagi kepada kami sih? Terdengar kurang bersahabat dan nampak kaku. Tolong berbicaralah dengan sanatai! Kita ini adalah keluarga." Kata Saga.
"Baiklah, aku akan belajar untuk membiasakan diri.."
"Nah, itu lebih bagus."
.
.
.
Beberapa saat kemudian..
"Apa ini tidak salah? Hei, aku datang ke sini untuk membahas rencanaku membangun bisnis di kota Kyoto. Kenapa bisa berganti dengan family meeting seperti ini? Kami makan bersama dan bercengkrama layaknya sebuah keluarga yang utuh. Apa-apaan ini? Ini seperti drama sinetron naga terbang yang tidak penting sama sekali! ... Aku tak menyalahkan satu keluarga makan bersama. Yang aku salahkan itu apa yang terjadi pada kami itu palsu. Aku dan ibuku mengetahui kepalsuan ini. Kami tahu, kami hanya sedang berpura-pura. Meski aku tak memiliki dendam secara langsung dengan Tuan Han, tapi melihatnya nampak bahagia dengan penipuan yang aku dan ibuku lakukan, rasanya aku jadi merasa bersalah. Ini bukanlah cara yang baik. Sayangnya, aku tak bisa menyudahi rasa bersalah ini. Aku harus terpaksa melanjutkan kepalsuan ini demi menyekanatkan nyawaku dan nyawa hidupku atas konsekuensi drama yang kami buat." Batin Alvin.
Acara makan bersama itu pun akhirnya selesai juga.
Kini mereka menikmati tea time setelah makan. Menenangkan diri dan merileksasi pikiran atas semua kepenatan hidup yang datang melanda. Sesibuk apapun pekerjaan dalam hidup yang sudag dilalui, tetap saja mereka butuh siraman rohani dan raga. Tea time hanyalah satu dadi sekian banyak cara yang bisa dipilih untuk memperbaiki diri.
"Alvin, karena kini kau sudah tahu siapa dirimu saat ini, maka ayah ingin kau melakukan sesuatu untuk ayah. Tidak, tak hanya unyuk ayah, tapi untuk kita semua di masa depan." Kata Tuan Han.
Saga tak akan menyela ayahnya berbicar dengan Alvin. Ia memilih diam dan menikmati teh miliknya sambil mendengar dan memperhatikan pembicaraan yang bertujuan untuk membahas tujuan utama mereka kepada Alvin.
"Ayah ingin aku melakukan apa?" Tanya Alvin.
Sesungguhnya ia merasa canggung karena harus memanggil Tuan Han dengan sebutan ayah. Kepada Azumane saja ia juga canggung, apa lagi pada Tuan Han? Sosok yang ia kenal sebagai pegawai dan tetua Emperor Group.
"Ayah ingin kau merebut Emperor Group secara keseluruhan!"
"..." Tujuan ini sama seperti yang diinginkan ibunya. Seambisius inikah mereka terhadap Emperor Group sehingga sangat haus ingin memiliki Emperor Group.
"Kau sudah tak suci lagi ketika mengambil keputusan untuk mengirim Yudha kepadaku. Aku akan mengizinkanmu mendirikan bisnis apapun di kota ini. Aku pastikan pula kau akan mendapatkan dukungan yang besar dari orang-orang kota ini. Kau tak akan gagal berbisnis di kota ini karena kau adalah anakku. Aku sendiri yang akan memastikannya. Semua akan mudah bagimu! ... Ayah yakin, saat ini kau sudah membawa prosposal usahanyan, kan?" Kata Tuan Han.
"Ya. Ada proyek yang ingin aku tawarkan kepada Kyoto Contruction. Semua ada di dalam proposal yang sudah aku buat. Proposal itu ada pada sekretarisku." Kata Alvin.
Alvin juga mengakui jika dirinyalah yang mengirim Yudha ke tangan Tuan Han. Ia tidak akan menampiknya. Nyatanya saat ini pun Yudha sedang berbaring penuh luka di salah satu ruangan milik Tuan Han.
"Baguslah, kau berikan saja proposal itu pada kakakmu, Saga! Biar dia yang mengurus selanjutnya." Kata Tuan Han.
__ADS_1
"Aku akan mempelajarinya dan tentu saja menyetujui proposal yang kau ajukan." Kata Saga yang mau tak mau mengimbangi pembicaraan sang ayah.
Bagi Alvin ini sama sekali tidak menarik. Yang ia inginkan itu membuat proposal usaha keren dimana para investor akan mengkritiknya agar proposalnya sempurna sesuai ekspektasi para investor. Namun kalau begini, ini sama sekali tidak memiliki tantangan sedikit pun. Proposalnya akan dengan mudahnya disetujui? Yang benar saja!
Sungguh mengecewakan.
Sayangnya, lagi-lagi ia tak bisa berontak karena saat ini sedang berperan ganda. Ia tak bisa memgambil resiko lebih besar lagi. Akhirnya ia pun menuruti apa yang dikatakan oleh Tuan Han dan Saga. Ia merelakan proposalnya menjadi sebuah sampah yang berguna dan bernilai puluhan milyar.
"Setelah ini, kau fokuslah dengan tujuan kita! Kau harus menguasai penuh Emperor Group! Kau harus menjadi ahli waris Kazehaya Yoga dan menyingkirkan Yudha dari perang perebutan warisan darinya." Kata Tuan Han.
Pesona Emperor Group yang membuat banyak orang tergila-gila.
"Menyingkirkan Yudha?" Kata Alvin.
"Ya, kau harus menyingkirkan Yudha. Kau harus bisa membunuhnya dengan tanganmu sendiri!" Kata Tuan Han mantap dan penuh dengan keseriusan.
Kurenai saja kaget akan hal ini. Alvin anaknya yang amat sangat ia cintai disuruh membunuh saudaranya sendiri? Jujur saja, ia sendiri bahkan tak pernah terpikirkan untuk membunuh Yudha.
Sementara Saga, ini sudah biasa baginya. Ia sama sekali tidak kaget dengan kata bunuh atau saling bunuh. Hidupnya sejak kecil dekat dengan aroma darah dan mesiu. Ini hanyalah tugas kecil.
"Membunuh Yudha ya? Sosok yang diketahui publik sebagai adikku..." Gumam Alvin.
Bagi Tuan Han, ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Alvin terhadap perintahnya itu. Ia hanya ingin tahu bagaimana Alvin membuat keputusan.
"Aku akan berusaha merebut Emperor Group secara keseluruhan, tapi untuk urusan Yudha, itu kan tugas ayah sebagai orang tua untuk melindungi anak-anaknya. Ayah bisa melakukan apapun yang ayah inginkan karena Yudha saat ini ada di tangan ayah." Kata Alvin.
Tuan Han langsumg tertawa lebar. "Hahahahaha.. Alvin kau laki-laki yang menarik. Ayah menyukai pola pikirmu!"
Saga ikutan tersenyum, senang tapi tidak tertawa seperti sang ayah.
"Ayah pikir, kau akan menolak permintaan ayah. Rupanya cukup mudah bagimu untuk menyetujuinya." Kata Tuan Han.
"Ayah itu yakuzanya wilayah Kyoto, aku memiliki wanita yang sangat aku cintai. Aku yakin, ayah akan mengancamku dengan menyakiti wanita yang aku cintai itu apa bila aku tidak menyetujui keinginan ayah." Kata Alvin.
Alvin sudah menduga sampai sejauh ini karena ini memang juga sudah ia bahas dengan ibunya, Kurenai.
"Baguslah kalau kau mengerti, Vin. Ayah memang akan dengan senang hati menyandra wanita hamil itu untuk bisa mengendalikanmu."
"Ternyata ayah itu orang kejam."
"Aku jauh lebih kejam dari yang kau kira.
Dua orang ini saling tatap lalu kemudian menyeringai setelahnya.
__ADS_1