MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Hanya Yudha


__ADS_3

Ringakasan dari apa yang di simpan di bank Swiss yang membutuhkan stample yang kini ada di tangan Yudha untuk membukanya:


Versi barang yang disimpan oleh kakek Wijaya:


- Sebuah stemple yang memiliki kekuatan bak dewa. Stemple ini juga yang dijadikan Yoga untuk membuat surat wasiatnya. Stemple ini yang banyak diincar oleh musuh yang pada akhirnya membunuh Yoga.


- Surat wasiat serah terima saham 20% milik kakek Wijaya untuk anak-anak Yudha dan Melody.


- Dokumen rahasia dari misteri Emperor Group. Tentang pemilik 30% saham Anonim.


Versi barang yang disimpan oleh Yoga:


- Akta Kepemilikkan atas nama Kazehaya Yoga.


- Surat wasiat untuk menggantikannya dalam Akta Kepemilikan Emperor Group atau pewaris tahtanya.


Jadi, ada dua stemple. Yang pertama stample untuk membuka akun bank. Yang kedua, stample dewa yang bisa menjadikan seseorang menjadi raja Emperor Group. Raja di sini bisa pemilik, bisa juga CEO.


Kalau pemilik, maka membutuhkan surat wasiat Yoga Kazehaya.


Kalau CEO, kuasai saham Emperor Group dan bangun fraksi pendukung. Saat ini saham tertinggi masih milik kakek Wijaya. Meski sudah diwariskan, tapi berhubung ia belum meninggal, masih miliknya. Hanya saja bersifat netral tanpa bisa mempengaruhi pendapat mengingat dirinya masih koma.


Daftar pemilik saham Emperor Group:


- Anonim 30%


- Kakek Wijaya 20%


- Yudha 10%


- Alvin 17%


- Azumane 5%


- Sisa 18% dibagi banyak pemilik di antaranya Kurenai, Mikan, nenek Chiyo, Nao, Neil, Sai, dan juga Yura. Belum Pemilik saham yang tak mencapai 0 komah sekian % yang memiliki jumlah tak sedikit.


Orion meski ia bagian dari keluarga Kazehaya, tapi ia sama sekali tidak memiliki saham di Emperor Group. Dulu ia memilikinya, tapi ia jual untuk ambisinya menguasai Jepang sebagai Yakuza.


Mengenai sistem kartu Bridge yang dipakai dalam tatanan kisah ini sudah sejak awal dipakai. Istilah permainan-permainan yang selalu dimainkan oleh kakek Wijaya.


Sampai hari ini yang sudah terbongkar indetitasnya yaitu:


- Joker Merah itu Alvin.


- As Yudha.


- Perwakilan lambang kartu mulai dari Spade; Heart, Diamond, dan Club, dipegang oleh para Komisaris Emperor Group.


Yang lain menyusul. Ada King, Queen, Jack, dan Joker Hitam.


.


.


.


Alasan kakek Wijaya tidak bisa membubarkan Komisaris Emperor Group adalah otoritasnya melemah karena pemilik sah Emperor Group adalah Kazehaya Yoga, bukan lagi dirinya.

__ADS_1


Sebenarnya ia sangat kuat ketika menjabat sebagi koordinat Komisaris Emperor Group, namun terpaksa keluar untuk mengisis kekosongan tahta CEO ditinggal setelah kematian Yoga.


Posisi koordinat pun diserahkan kepada Yudha yang merangkap sebagai wakil CEO pada saat itu. Tidak ada yang tahu jabatan rangkap Yudha kecuali kakek Wijaya dan 4 para Komisaris yang lain. Seorang CEO tidak boleh merangkap menjadi koordinat Komisaris.


Pertanyaannya, siapa pemegang 4 posisi Komisaris itu? Apa kakek Wijaya mengenalnya? Bukankah kakek Wijaya yang mendirikan adanya jabatan itu? Jika kecurigaan Yudha dan Aron benar, 1 dari 4 orang itu, atau bahkan semuanya, bisa saja terlibat dalam upaya pembunuhan keluarga Kazehaya.


Jika iya, apa tujuannya? Apakah murni hanya sekedar untuk menguasai bisnis Emperor Group yang kini menguasai daratan Asia? Yang hotel, mall, dan resortnya tersebar di seluruh negara di dunia? Ini memang menggoda, tapi tidak sesederhana itu.


Akankah boomerang ini berakibat fatal sampai ketingkat yang menakutkan?


.


.


.


Tempat Melody...


"Mel, makanlah! Aku membawakan makanan kesukaanmu. Udon sapi! Kau tidak bisa memakannya setiap hari. Hanya kali ini saja aku menurutimu." Kata Alvin.


"Sebenarnya aku hanya sedang rindu dengan ayah. Jika dengan ibu, aku akan memilih Miso Ramen." Kata Melody.


"Jadi, apa besok kau akan meminta Miso Ramen?"


"Ya, besoknya sup tomat, ice cream tomat, jus tomat, lalu buah tomat 1 kg. Harus 1 kg tidak boleh kurang! Aku bisa marah kalau kurang!".


"Merindukan Yudha?"


"Memang ada orang lain semaniak tomat seperti Yudha? Yang di meja kamarnya ada keranjang buah isinya buah tomat semuanya? Anak-anakku saja sampai mengidam buah tomat. Haha, kekuatan gen itu luar biasa ya?" Melody tertawa sumringah.


Hari usai Melody berhasil menebak jati diri sang Tuan Penculik, ia kini sudah tidak ditutup lagi kedua matanya. Bahkan Alvin juga melepaskan ikatan Melody karena ia memilih mempercayai Alvin.


Melody nyengir. "Aku merindukan Yudha di setiap hembusan nafasku. Aku menghawatirkannya di setiap kedipan mataku. Aku minta maaf soal rasa sakit hatimu, tapi aku tak kuasa akan perasaanku pada Yudha."


"Dasar budak cinta!"


"Memangnya kau tidak? Sudah tahu aku ini istri orang, masih saja dikejar. Hei, wanita lain yang lebih dari diriku itu banyak."


"Sayangnya kau paling lebih di mataku."


"Kau perlu memeriksakan mataku ke dokter!"


"Aku ini susah seorang dokter, Melody!"


"Tapi kau kan dokter umum, bukan spesialis mata!"


"Jika kau mau, aku bisa mengambil study spesialis mata."


Melody terkikik. "Dari dulu yang kau inginkan itu spesialis kanker atau tidak ahli bedah. Tiba-tiba brubah menjadi spesialis mata hanya karena aku yang nyuruh, omae.. baka desu ka?"


Oame baka desu ka?: Kau bodoh ya? Bahasa santai. Kalau sopan pake Anata, Anta bukan Omae.


"Kau sekarang bisa berbicara dengan nada seperti ini padaku ya? Jika Yudha tahu, dia akan cemburu. Haruskah aku merekam semua percakapan kita dan memberitahukannya pada Yudha? Aku akan dengan senang hati melihatnya kesal dan uring-uringan."


"Jangan, nanti dia bisa membunuhmu. Aku akan menjadi sangat bersalah jika itu terjadi."


"Aku kira kau bakal diceraikan olehnya. Tenang saja, andai kemungkinan itu ada, aku siap menjagamu."

__ADS_1


"Haha, terima kasih kalau begitu. Tapi aku akan menolak bercerai dengannya meski Yudha sendiri yang meminta. Enak saja dia mau kabur dari tanggung jawab setelah menghamiliku. Aku tak akan membiarkannya!"


Alvin geleng-geleng kepala. "Apa kalian biasa semesum ini?"


Melody menggeleng. "Yang mesum Yudha, bukan aku." Cengirnya tanpa dosa.


"Apa Yudha selalu seperti itu?" Sejujurnya Alvin tidak terlalu yakin mengingat yang dibucarakan itu Yudha. Yudha itu loh yang terkenal kaku.


"Kau masih tertipu sama tampang polos sok kaku macam dirinya?" Tanya Melody. "Hei, Yudha itu sangat mesum! Suka minta ini-itu. Huh, hamil pun dia tak peduli. Sampai kena omel dokter Aizawa karena sempat pendarahan ringan gara-gara berhubungan intim terus-terusan."


Alvin cengo. Melody cerita seperti ini kepada dirinya? "Kau melukai perasaanku lagi, Mel. Kau ini memang villain ya.. jahat sekali kau ini."


"Aku minta maaf lagi kalau begitu. Hehe." Melody nyengir lagi. Maaf tapi jangan ditambahi nyengir kuda, meski rada mirip suaranya.


Oh iya, jangan menertawakannya juga!


Alvin mendesah pasrah. Melody selalu memenangkan hatinya. Senyuman Melody selalu berhasil mengobati lukanya.


"Kenapa membahas kemesuman kau dengannya padaku sih? Kau tidak malu? Aku ini kakak iparmu loh!" Kata Alvin.


"Aku tahu kau kakak iparku, tapi hanya membahas Yudha saja yang bisa membuatku bahagia. Selain Yudha, aku tak mau membahasnya! Apa lagi membahas hal lain denganmu, aku juga tidak mau!" Melody menatap ke samping, kerah pandangan lain.


Alvin tahu itu. Ia tak buta. Ia mengawasi Melody dengan baik selama Melody dalam pengawasannya. Melody akan menjadi sangat mendiam dan mendung tanpa mendengar nama Yudha di telinganya. Namun, ketika ia datang dan membahas soal Yudha, semangat Melody kembali. Melody menjadi sehat dan kuat. Seperti punya semangat baru.


"Hal yang membuatmu bahagia tidak hanya doal Yudha." Kata Alvin. Bosan juga tiap hari isinya Yudha dan Yudha.


"Tapi yang bisa membuatku bahagia, hanya Yudha."


"Begitukah?"


"Uhumm... Kakak Ipar, aku sangat merindukan Yudha, boleh mendengar suaranya sebentar saja, tidak?" Melody menujukkan jurus andalah mata kittennya.


"Tidak boleh."


"Cih. Selalu saja tidak boleh. Semenit pun?"


"Hn. Semenitpun."


"..." Melody terdiam. "Kalau begitu, aku tidak mau makan lagi!" Ancamnya.


"Jangan mengancamku, Mel!"


"AKU SANGAT MERINDUKAN YUDHA.. HUWAAAA..." Teriak Melody. Ia lalu mewek alay. Meski kesannya seperti hanya main-main, tapi ia sungguh menangis. Rindunya pada Yudha tak bisa tersalurkan.


Alvin mencoba menghapus air mata Melody. Namun Melody menepis tangannya.


"Aku ingin Yudha! Aku ingin mendengar suara Yudha! Aku ingin melihat Yudha! Aku ingib memeluk Yudha! Aku ingin mencium Yudha!"


"Apa harus mencium juga? Haaah..." Alvin tak habis pikir dengan pola pikir Melody. "Jika kau sayang pada Yudha, kau harus tetap di sini!"


"..." Melody terdiam.


"Malam pesta ulang tahun pernikahanmu adalah incaran musuh-musuh untuk membunuh salah satu di antara kalian. Pelemahan berupa serangan mental ketika salah satu dari kalian meninggal adalah tujuan mereka. Jika kau sampai meninggal, apa yang akan terjadi pada Yudha? Apa kau pikir bocah seperti dia akan kuat hidup tanpamu? Kalau tidak gila, dia pasti memilih mati bersamamu!" Jelas Alvin.


"Yu-Yudha.." Melody tahu betapa Yudha sangat mencintainya. "Sebaiknya kau tidak memanfaatkan keadaan ini untuk meluluhan hatiku atau membuat rencana lain! Karena aku akan selalu mencintai Yudha. Jika Yudha meninggal, aku juga akan mengikutinya."


"Nilailah sesukamu, Mel! Aku hanya ingin kau selamat. Saat ini situasi sangat kacau. Yudha mungkin sedang sibuk mencari masa lalu. Dia akan terluka karena itu. Dia juga dalam bahaya ketika mengetahui semuanya."

__ADS_1


"A-Avin-senpai.. ap-apa yang kau ketahui dari masa lalu itu? A-apa ini ada hu-hubungannya dengan pembunuhan ayah mertua?"


"Ya."


__ADS_2