MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Berkunjung ke Rumah Mertua 1


__ADS_3

"Ah, aku lelah sekali." Kata Melody yang langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


Yudha tidak berniat menanggapi ocehan Melody. Ia sibuk melepaskan dasi yang rasanya sudah seharian ini mencekek lehernya. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Melody. Lelah, letih, dan rasanya semua tenagannya sudah hampir habis.


Setelah selesai melepaskan dasinya, lalu Yudha duduk di tepi ranjang dan melepaskan sepatu kulitnya beserta kaos kakinya. Ia juga merebahkan tubuh lelahnya di samping Melody.


"Yudha, kau tahu tidak kalau akhir-akhir ini aku sedang bersedih?" Tanya Melody tanpa menoleh ke arah Yudha.


"Tidak."


"Isshh, kau memang tidak peka jadi laki-laki. Kau tidak mirip sama sekali dengan tumbuhan putri malu! Kata-katamu tajam seperti durinya, tapi kepekaanmu sama sekali berbeda. Tidak ada!"


"Akukan manusia yang memang bukan tumbuhan putri malu yang sangat peka akan rangsangan."


"Yudha…" Melody merajut karena lagi-lagi ia kalah berdebat dengan suaminya.


"Ceritakan apa yang mengganggu fikiranmu!" Yudha akhirnya luluh.


"Sudah sebulan lebih aku tidak mengunjungi ibu. Meski setiap hari ngobrol lewat telefon tapi rasanya jika belum memeluk ibu, rasa kangenku belum terobati."


"Lalu?"


"Besokkan kuliah libur, lusa hari minggu, hari seninnya tanggal merah, bagaimana jika kita mengunjungi ibu?"


"…"


Melody menggembungkan pipinya. "Kalau kau sibuk, tidak apa-apa. Tapi, izinkan aku menginap di tempat ibu ya? Bantu aku juga meminta izin pada ibu mertua, nenek, dan kakek!"


"Aku akan menemanimu."


Melody tidak menyangka jika Yudha akan berkata seperti itu. "Benarkah?"


Bukankah jika ia pergi dengan Yudha maka mendapatkan izin adalah hal yang mudah?


"Hn."

__ADS_1


Melody tersenyum senang. "Yudha, terima kasih."


Sesuai janjinya pada Melody, Yudha menuruti apa yang Melody inginkan. Mengunjungi ibu Melody, ibu mertuanya. Setelah mendapatkan izin dari kakek, nenek, dan ibunya, Yudha bersama Melody langsung bergegas menuju rumah ibu Melody yang memang agak jauh dari rumah Yudha. Rumah ibu Melody sekota dengan kampusnya.


.


.


.


Rumah Melody...


Suasana rumah Melody mengalami cukup banyak perubahan terhitung semenjak ia bertunangan dengan Yudha. Uang yang ibunya Melody, Tsuchiya, dapatkan dari kakek Wijaya sangatlah banyak, cukup untuk merenovasi rumah sederhana dan tua itu.


Ganti genting dan cat baru berwarna crem adalah hal yang sangat mencolok dari luar rumah. Di depan rumah juga nampak berbagai macam tanaman bunga dan sayuran yang terawat rapi di potnya.


Sambutan hangat dari Tsuchiya begitu menyejukkan. Wajah Melody terlihat berbinar saat melihat ibunya yang sangat Melody rindukan. Ibunya memang sangat cerewet, tapi juga sangat baik. Melody sangat menyayangi ibunya.


Memasuki ruang tamu di rumah itu, mulai dari sofa, gorden, dan keramik lantai juga nampak baru. TV LED ukuran 32 inch, almari hias, hiasan dinding, bunga di vas juga terlihat baru di mata Melody.


Foto-foto pernikahannya dengan Yudha juga banyak menghiasi setiap penjuru ruangan. Foto ayah dan sang ibu juga tak luput dari pandangannya.


Ini pertama kalinya Yudha berkunujung ke rumah Melody. Pertama kalinya juga baginya masuk ke dalam kamar Melody. Kamar yang rapi dan minimalis. Kamar dengan warna pink soft itu nampak nyaman di mata gelap Yudha.


Melody memang terkadang urak-urakkan dan berisik, tapi ia tahu jika setiap hari Melody selalu merapikan tempat tidur mereka dengan tenaganya sendiri tanpa bantuan para maid atau pelayan lainnya.


"Maaf Yudha, kamarku memang tak seluas kamar kita di rumahmu. Ranjangnya mungkin juga tak seempuk ranjangmu, tapi aku jamin, rumah ini sangat nyaman untuk ditinggali…" Kata Melody.


Ia memasukkan beberapa baju yang ia bawa ke dalam almari pakaian.


Yudha menghentikkan kegiatannya melihat-lihat foto pernikahannya dengan Melody yang ada di meja rias istrinya itu.


"Jangan khawatirkan hal itu. Tempat yang bersih sudah cukup bagiku."


"Hmm, begitu ya?.. Baiklah, kau lelah, kan? Sebaiknya kau istirahat saja. Jika ingin cuci kaki, kamar mandi ada di sebelah kamar ini. Maklum, aku tak memiliki kamar mandi dalam seperti di kamar kita di rumahmu, hehe. Aku akan ke bawah untuk membantu Shuhei-san angkat barang."

__ADS_1


Yudha hanya mengangguk ringan saja. Ia lalu melanjutkan acara melihat-lihat kamar Melody. Ia juga melihat jendela yang cukup luas untuk ukuran sebuah jendela.


Kini ia paham kenapa Melody begitu menyukai bintang, rupanya, Melody bisa melihat bintang dari tempat tidurnya tanpa harus ke luar kamarnya.


Yudha juga melihat beberapa foto Melody saat masih kecil yang nampak sangat imut itu. Melody berfoto dengan mulut berlumuran ice cream vanilla. Tak sadar ia tertawa pelan. Melody memang sering bertindak konyol.


.


.


.


Semenatara itu, Melody tengah sibuk membantu Shuhei memindahkan barang bawaan mereka. Tak banyak memang, tapi lumayan juga. Ada beberapa kardus berisi kue kering, hadiah dari Mikan untuk Tsuchiya. Ada juga teh hijau dan kopi organic pemberian nenek Chiyo dan ada juga obat-obatan herbal yang menurut Melody nampak aneh pemberian dari kakek Wijaya. Selain itu, masih ada beberapa parcel buah yang tadi Melody beli tak jauh dari rumahnya.


Shuhei juga akan menginap di tempat Melody. Hal ini sudah jelas demi keamanan Yudha dan Melody. Meski menurut Melody itu cukup berlebihan mengingat, setahu dirinya jika kompleks pinggir kota rumahnya itu adalah tempat yang damai-damai saja selama ini.


Tidak ada, bahkan tidak pernah terjadi kerusuhan yang berarti di daerahnya. Namun jika ia melihat sosok suaminya, Yudha yang terkenal itu, rasanya membawa Shuhei bersama mereka adalah keputusan yang sangat tepat.


Bahkan ia berharap jika Ayane juga ikut dengannya, hanya saja, sayangnya Ayane sedang ditugaskan untuk ikut kakek Wijaya meeting di Korea selama 3 hari ke depan.


Shuhei adalah teman sekaligus bodyguard Yudha yang tak hanya jenius, tapi juga pandai bela diri. Yudha bilang, Shuhei pernah mengikuti latihan berbasik militer sebelum menjadi bodyguard Yudha. Shuhei bahkan memiliki izin untuk memiliki senjata api dan senjata api itu selalu Shuhei bawa selama bertugas menjaga Yudha.


"Shuhei-san, ini kamarmu. Kamar mandi ada di dekat dapur. Kau tinggal lurus saja lalu belok kanan. Maaf ya, rumahnya biasa saja." Kata Melody.


"Terimakasih, Melody-sama. Rumah ini terlihat sangat nyaman. Saya akan betah." Kata Shuhei.


"Syukurlah."


Melody bergegas membantu sang ibu di dapur yang sepertinya tak menduga jika akhir pekannya itu akan dikunjungi oleh anak dan menantunya.


Sebagai seorang ibu mertua untuk Yudha Tsuchiya pasti akan berusaha sekerasnya agar mendapat kesan yang baik di mata Yudha. Mengingat betapa baiknya keluarga Kazehaya memperlakukan Melody selama ini. Ia memang masih merasa bersalah karena ia sudah tega 'menjual' anaknya sendiri pada orang kaya, tapi rasanya cukup berkurang jika ia melihat untaian senyum di bibir tipis anak semata wayangnya itu.


"Ibu, tomatnya ditambahin, Yudha sangat menyukainya!" Pinta Melody.


"Baiklah." Tsuchiya mengambil beberapa tomat lagi dari kulkasnya.

__ADS_1


Acara memasak pagi menjelang siang itu berjalan lanacar terbukti dengan sup tomat, ikan goreng, nasi, ayam goreng, dan sayuran mentah macam selada dan daun perliria juga ada di meja makan. Menggugah selera.


Melody, Yudha, Tsuchiya, dan Shuhei makan bersama saat itu juga.


__ADS_2