MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Frustasi


__ADS_3

Kondisi aula berangsur terkendali. Kacau balau. Kerusakkan terjadi dimana-mana. Terutama kaca-kaca banyak yang pecah. Korban juga lumayan banyak. Yang paling parah adalah ayane dimana luka tusuk itu cuku dalam dan serius mengancam jiwanya. Orion juga mendapatkan luka tembak di lengan kirinya. Pengunjung lain mengalami luka kecil dan beberapa bodyguard tertembak dan terluka mulai dari yang sedang hingga parah, bahkan ada yang meninggal.


Yudha tak kenapa-kenapa. Termasuk teman-temannya, Avlin, Kurenai, dan Azumane. Tidak ada luka berati yang mencederai mereka. Hanya luka goresan kecil yang akan menghilang seiring bergantinya hari meski tidak diobati.


.


.


.


Rumah sakit...


"Yudha-sama, saya sudah menutup kasus ini dari kepolisian kota." Kata Shuhei.


Sehabis memberesi semua kekacauan yang ada, ia kemudian menutuo kasus agar tidak diikut campuri oleh kepolisian. Alasannya yaitu agar pihak polisi tidak menyelidiki penculikkan Melody dan penusukkan pada Ayane yang mana ditakutkan justru akan pembuat penculik malah menyakiti Melody.


Yudha tak mau itu terjadi. Ia harus membuat Melody selamat meski tidak di sampingnya sekalipun saat ini.


"Terima kasih, Shuhei." Kata Yudha yang kini merasa kosong karena hilangnya Melody.


"Tuan Nakamura meminta untuk bertemu Anda sehabis makan siang nanti." Kata Shuhei usai membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya


Nakamura adalah kepala polisian kota Tokyo. Beliau adalah orang yang mengizinkan Melody meminjam mobil patroli sewaktu ngidam dulu. Beliau juga yang memantau Yudha ketika Yufha harus wajib lapor karena menjadi tahanan kota.


Ada yang ingat? Jadi Nakamura ini bukanlah pemain baru. Sebisa mungkin untuk tidak menggunakan pemain baru.


"Hn. Aku akan menemuinya nanti." Yudha menatap kosong tembok bercat putih di depannya. Ia sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit.


Rasa lelahnya tak terkira. Semalaman berjibaku untuk menyelamatkan diri. Memikirkan sang istri hamil-nya yang diculik dan orang-orang di sekitarnya yang terluka. Itu membuat jiwanya tergoncang. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena hal ini.


Kenapa orang-orang yang ada di sekitarnya selalu terluka?


Kenapa orang-orang yang ada di sekitarnya selalu bersimba darah?


Sang kakek, Aron, Melody, Ayane, dan bahkan sang paman yang sangat ia segani, Orion.


Yudha menatap ke dua tangannya. Ia merasa gagal melindungi orang-orang yang dicintainya.


"Shuhei, kau khawatir pada Ayane-san kan? Kau temui saja dia dulu. Mungkin saat ini dia sudah siuman." Kata Yudha.


"Saya akan tetap bersama Anda. Saya sudah meminta orang untuk menjaganya." Kata Shuhei.


Shuhei sangat mengenal tabiat Yudha. Tuan Muda yang mudah menyalahkan diri sendiri. Tuan Muda yang berpikir jika kehadirannya di dunia ini adalah suatu kesalahan. Tuan Muda yang sok kuat padahal aslinya sangat rapuh, kesepian, dan butuh sandaran. Tuan Muda yang ingin dicintai dan ingin disayangi. Tuan Muda yang selalu memikirkan orang lain. Tuan Muda yang tak tahu keinginan spesifiknya. Tuan Muda yang lemah akan kasih sayang.


"Kau bebas tugas hari ini, Shuhei. Kau bisa menjenguk Ayane-san. Aku memberimu izin." Kata Yudha.


"Saya tidak berniat libur hari ini atau bahkan besok dan lusa, Yudha-sama. Saya akan tetap bersama Anda, mengikuti Anda meski Anda mengusir saya sekalipun." Kata Shuhei mantap..


"Kau selalu saja egois."


"Saya memang selalu seperti itu."


Yudha dan Shuhei sudah memastikan keadaan semua korban dalam insiden di ulang tahun pernikahannya. Ia memfasilitasi dan menanggung semua beban biaya rumah sakit sampai semua korban sembuh.


Kamar inap Orion...

__ADS_1


"Yudha, paman minta maaf. Maafkan paman! Gara-gara ide paman untuk mengadakan pesta ulang tahun pernikahanmu dengan Melody, semua menjadi kacau seperti ini. Bahkan membuat Melody diculik." Kata Orion. Ia berbaring di ranjangnya.


Meski luka luar, tapi ia tetap mendapatkan perawatan intensif.


"Sudahlah paman, semua ini sudah terjadi. Aku akan mencari Melody. Aku akan menemukan siapa orang yang berani bermain denganku. Aku pasti akan menemukannya!" Kata Yudha.


"Andai paman tidak besar kepala dengan para bawahan paman untuk melindungi pesta, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Andai saja paman menambah lebih banyak bodyguard, mungkin..." Orion terlihat sangat menyesal apa lagi ketika melihat keponakannya ini. Yudha pasti sangat terpukul akan kejadian ini.


Istrinya di culik dan sedang hamil.


"Paman.." Potong Yudha. "Aku akan mencari Melody. Paman istirahat saja!" Lanjutnya.


Yudha dan Shuhei berpamitan dan berjalan keluar rumah sakit. Mereka menuju parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil milik Yudha.


.


.


.


Seseorang menoleh ke sana ke mari, setelah memastikan jika semua keadaan aman, seseorang itu lalu masuk ke dalam mobil Yudha. Duduk di kursi belakang.


"Kau tidak di awasi kan, Daisuke?" Tanya Yudha.


Ya. Daisuke.


Ada yang ingat?


Daisuke adalah sekretaris atau asisten pribadi Alvin. Alvin tahu Daisuke adalah orang dari kakek Wijaya, meski begitu, nampaknya Alvin tak ambil pusing untuk mencurigai Daisuke sebagai mata-mata.


"Kau mendapatkan sesuatu yang aku minta semalam?" Tanya Shuhei.


"Ya, Yudha-sama. Saya mendapatkan sesuatu yang Anda minta." Daisuke memeberikan sebuah flash disk kepada Yudha.


Yudha mengambil flash disk itu, menggenggamnya sekilas sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam saku kemejanya. Yudha lalu menyeringai.


"Yudha-sama, dari beberapa korban, ada beberapa bodyguard yang menghilang. Mereka tidak ada di dalam catatan korban yang selamat dan terluka." Jelas Daisuke.


"Hmm, jadi ada yang berkhianat rupanya. Mereka menyusup untuk menculik Melody. Pantas saja mudah bagi mereka mendekati Melody."


"Berapa jumlah mereka?" Shuhei ikut bertanya.


Shuhei, Ayane, dan Daisuke adalah orang yang mendapatkan pelatihan militer untuk melindungi keluarga Kazehaya. Loyalitas mereia tidak diragukan lagi. Tidak bisa ditawar-tawar meski nyawa menjadi taruhan. Bersama Yudha, mereka juga mendapatkan pelatihan diri langsung oleh Aron.


"Sekitar delapan orang." Jawab Daisuke.


"Delapan orang dari hampir 200-an bodyguard yang ditugaskan ya? Banyak juga." Gumam Yudha.


Mungkin tidak orang berpikir jika kekacauan itu akan membuat kalang kabut, itu benar. Yudha memang kalang kabut, tapi ingat, Yudha itu jenius. Otaknya masih bisa bekerja cepat meski dalam suasan seperti ini. Keinginannya untuk menemukan kembali jauh lebih besar dari sekedar kata kalang kabut itu sendiri.


"Delapan orang itu adalah anggota yakuza Fajar Keemasan." Kata Daisuke. "Mereka bawahannya paman Anda." Lanjutnya.


Yudha terdiam beberapa saat.


Anggota yakuza Fajar Kememasan? Bawahan sang paman? Bawahannya Kazehaya Orion?

__ADS_1


Hmm, menarik.


Sangat menarik plot yang disuguhkan.


"Yudha-sama, mungkin ini bisa saja jebakkan." Kata Shuhei.


"Saya akan memastikannya lagi." Ucap Daisuke.


"Daisuke..." Panggil Yudha.


"Ya, Yudha-sama..."


"Tolong awasi pergerakkan Azumane-san dan segala aktivitasnya dengan yakuza Macan Selatan! Tolong awasi Alvin juga soal pembelian gedung tua bekas pabrik di kawasan Chiba!" Printah Yudha.


"Baik Yudha-sama!"


"Tolong berhati-hatilah dan jangan... mati!" Kata Yudha.


Yudha serius akan hal ini. Ia tak mau ada korban lagi. Apa lagi sampai harus merenggut nyawa.


"Saya mengerti, Yudha-sama." Daisuke pamit lalu keluar dari mobil Yudha.


Usai keergian Daisuke, Yudha memuluk keras dashboard mobilnya.


"Yudha-sama! Anda bisa melukai tangan Anda sendiri! Jika tangan Anda terluka, Anda tidak bisa menyelamatkan Nona Melody!" Kata Shuhei.


"Shuhei, katakan jika pamanku sendiri tidak terlibat! Kau akan mengatakannya, kan?" Tanya Yudha.


"..."


"Paman Orion tidak mungkin melakukan hal ini padaku! Melody adalah keponakan menantunya! Dia sangat menyayangiku. Dia pasti juga sangat menyayangi Melody juga."


"..." Shuhei tahu betapa frustasinya Yudha saat ini. Pikirannya pasti seperti kembali di sambar petir untuk yang ke sekian kalinya. Ujian datang bertubi-tubi.


"Paman bahkan memberikan kado pulau beserta resort mewah dengan pantai pribadi untuk ulang tahun pernikahanku dengan Melody."


"Yudha-sama, tenang! Dinginkan pikiran Anda!" Pinta Shuhei. "Saya mengerti Anda tak mengharapkan jika Orion-sama ikut terlibat. Saya juga merasakan hal yang sama dengan Anda! Orion-sama adalah orang yang berjasa dalam mendidik kita sejak dulu sama halnya Aron-san."


"Apa yang harus kita lakukan Shuhei? Apa? Kenapa harus ada plot twist seperti ini?"


"Bisa saja ini jebakan untuk membuat hubungan Anda dan Orion-sama renggang. Anda ingat, kan? Sampai hari ini yang berpihak pada Anda hanya Orion-sama. Musuh-musuh Anda itu banyak dan licik. Anda mengerti kan maksud saya?"


"Maaf, aku hanya sedang frustasi."


"Saya tahu Anda sedang banyak pikiran. Saya yakin Tuhan bersama orang-orang yang baik."


"..." Yudha kembali merasa bersalah. Di saat seperti ini, kenapa ia sampai melupakan Tuhan? Bukankah Tuhan itu sebaik-baiknya penolong?


"Sekarang sebaiknya kita temui Nakamura-san dulu dan mendengar saran dari beliau."


"Hn."


Mobil itu melaju cepat menuju tenpat yang sudah disepakati. Dalam hati Yudha dan Shuhei akan mendapatkan informasi yang penting dari seorang Nakamura yang notabene memiliki jabatan sebagai Komisaris kepolisian kota Tokyo. Jabatan dengan otoritas kekuasaan yang luas.


"Meski kepalaku saat ini terasa ingin meledak, tapi aku harus tetap kuat dan berpikir jernih. Hilangnya Melody bukanlah akhir dari semuanya. Melody hanya pergi sebentar, ia pasti akan kembali. Aku dan dia sudah berjanji akan selalu bersama, tertawa bersama dengan anak-anak kami di masa depan. Tunggu Mel, cinta ini akan membawamu kembali!" Batin Yudha.

__ADS_1


__ADS_2