
Usai makan selesai, Yudha mengajak Melody untuk beristirahat. Yudha tiduran sambil memeluk Melody dari arah belakang. Ia memeluk sambil mengusap-usap perut Melody.
Melody bilang jika calon anak-anak mereka bergerak aktif, menendang-nendang dan membuat dirinya sakit. Sebagai suami tentulah Yudha kasihan melihat Melody seperti itu. Memasuki bulan-bulan ini, nikmat tidur sudah dikurangi oleh Tuhan.
"Tiap hari seperti ini terus ya?" Tanya Yudha yang masih memeluk Melody dari arah belakang sambil mengusap-usap perut Melody.
"Hn. Seperti ini terus bahkan semakin sering. Mereka sangat aktif." Kata Melody lemah. Ia sudah sangat lelah, tapi kandungannya sulit diajak kompromi.
Ia juga kasihan dengan Yudha yang sepertinya sudah sangat lelah tapi harus tetap terjaga demi membuatnya nyaman.
"Aku tak akan memaksamu untuk bersabar. Jika kau ingin mengeluh, maka mengeluhlah! Bagi semua rasa yang kau rasakan padaku! Jika aku tak bisa ikut merasakan apa yang kau rasakan, maka aku akan menjadi pekuatmu dengan sebisa yang aku mampu." Kata Yudha.
Melody tersenyum. Setahun lebih mengenal Yudha membuatnya merasa jika Yudha itu memiliki begitu banyak kejutan. Selalu ada sisi yang baru ia temui dari Yudha. Sisi baik maupun buruk tak masalah, seperti bisa menerima Yudha dengan segala apa yang ada pada Yudha.
"Kau bermulut manis juga ya?" Gumam Melody.
"Aku belajar banyak hal setelah menikah denganmu. Ketika aku menyadari jika diriku ini sudah menikah, maka aku menjadi memiliki teman tidur. Jika aku tak bisa berkembang dalam bertutur kata, maka bisa saja kau bosan denganku dan meninggalkanku."
"Astaga. Hei Yudh, menurutmu aku ini mudah ya menggangi laki-laki hanya karena bosan?" Sungut Melody.
"Ya bukan seperti itu, Mel. Maksudnya jika aku tak belajar untuk membuat topik baru, maka hubungan kita hanya akan jalan di tempat saja. Aku tak mau menjalani pernikahan yang seperti itu. Apalagi dengan sifatmu yang sangat bertolak belakang denganku. Aku harus berusaha lebih keras setiap harinya." Yudha mencona menjelaskan.
"Di luar dugaan. Suamiku ternyata orangnya sangat pemikir. Aku terharu, Yudh. Terima kasih sudah berusaha membuatku nyaman. Terima kasih sudah memperlakukanku dengan baik selama ini. Ya meski kita sering berdebat dan pernah bertengkar hebat, namun, kau adalah laki-laki istimewa di mataku. Aku bahagia menikah denganmu." Kata Melody tulus.
Yudha tersenyum. Ia lalu mencium bahu belakang Melody. "Terima kasih banyak, Mel. Aku juga merasa bahagia menikah denganmu. Sangat bahagia."
"Syukurlah jika kau sungguh merasa seperti itu. Namun sepertinya, suamiku dini hari ini sama sekali belum juga memgantuk ya?" Melody paham. Yudha nampak kuat, tapi sebenarnya ada rasa takut di sana.
"Aku hanya ingin menemanimu sampai kau memejamkan matamu. Hari-hari yang berlalu tanpamu membuatku sangat merindukanmu." Kata Yudha.
Melody tahu jika saat ini Yudha sedang berusaha mengelak. Ia menimpa tangan Yudha yang ada di perutnya.
"Aku juga merindukanmu, Yudha. Namun, apa ini? Tanganmu gemetaran! Kau bisa melakukan apapun untuk melepaskan segala rasa rindu yang memenjarakan hatimu padaku, Yudh! Lakukan apapun jika itu bisa mengobati rindumu! Lakukan seperti yang sudah-sudah! Lakukan seperti biasa yang seorang Yudha lakukan! Jangan seperti ini, Yudh! Pura-pura kuat padahal sangat takur." Kata Melody.
Melody berusaha balik badan untuk memeluk Yudha dari arah depan, tapi Yudha menahan tubuhnya.
"Jangan melihat ke arahku, Mel! Aku tak mau memperlihatkan sisi terlemahku padamu saat ini!" Pinta Yudha. Ia sangat serius soal hal ini.
"Jika kau berpikir aku melihatmu hanya pada saat kau kuat saja, maka kau membuatku sangat kecewa, Yudh! Aku mencintai lebihmu, tapi aku juga mencintai segala kelemahanmu bahkan saat kau sangat lemah sekalipun!"
"Aku berterima kasih padamu dan menerima dengan bahagia caramu mencintaiku, Mel. Namun, maafkan aku! Maaf, tapi ini harga diriku sebagai laki-laki."
"Aku tidak paham. Padahal aku bilang, aku selalu siap berbagi apapun denganmu." Melody cukup kecewa saat ini.
Seperti tidak bisa sepenuhnya mendapatkan kepercayaan dari Yudha.
"Aku tak akan lelah meminta maaf padamu, maafkan aku yang selalu membuatmu kecewa. Namun ketahuilah, Mel! Aku ini laki-laki, sosok yang mengemban tugas untuk menjadi sandatan wanitanya. Namun, aku ini tak sekuat itu. Saat ini aku sangat ketakutan. Aku merasa begitu tak berdaya dimana aku tak bisa berpikir cepat dan tangkas seperti selayaknya diriku yang biasanya. Aku frustasi dalam ketakutan ini. Aku semakin tenggelam ketika mengetahui banyak nyawa yang harus aku lindungi. Kau dan si kembar anak-anak kita. Aku takut, Mel! Aku sangat takut jika nanti terjadi apa-apa pada kalian. Ketakutan ini berada di titik terendah dalam hidupku, aku tak mau kau melihat sosokku yang seperti ini. Lemah dan tak berdaya." Kata Yudha panjang lebar.
Melody tertegun mendengar penjelasan super panjang dari Yudha. Yudha ternyata bisa seperti ini. Laki-laki yang kaku ternyata juga bisa berada di titik yang tak biasa. Harga diri laki-laki yang tak ingin terlihat lemah di hadapam wanitanya karena mengemban tugas sebagai pelindung dan tempat sandaran. Itu kata yang menurutnya bukan hanya sekedar romantis, tapi juga memiliki makna yang mendalam.
Ah, itu karena Yudha sangat mencintainya.
Ah, itu karena Yudha sangat menyayanginya.
__ADS_1
Ah, itu karena Yudha ingin selalu membuat dirinya tidak terlalu takut dan khawatir berlebihan meski harus bersandar pada suami yang saat ini sedang ketakutan.
"Baiklah, aku tak akan melihatmu saat kau selemah ini, Yudh. Aku akan tetap pada posisiku seperti ini. Jadi, peluklah aku seerat yang kau bisa dan carilah rasa nyaman untuk mengurangi rasa takutmu akan semua masalah yang menimpamu! Aku selalu percaya jika Yudha-suamiku, akan selalu bisa menjadi sosok Yudha yang istimewa dengan tangan-tangan magisnya." Kata Melody memberi pekuat pada Yudha.
Yudha bersyukur memiliki istri seperti Melody. Tak banyak yang bisa diharapkan dari penikahan usia muda, dijodohkan, dan tanpa cinta. Di saat kebanyakan orang akan meragukannya, bahkan dulu termasuk dirinya sendiri, kini pernikahan yang ia jalani dengan Melody berada pada tingkatan yang tak semua orang bisa mencapainya. Butuh kepercayaan yang kuat dan mampu menekan sisi keegoisan dalam hatinya, dan Melody, mampu melakukannya dengan baik.
Yudha menutupi kedua mata Melody dengan tangan kirinya. Ia lalu membuat Melody tiduran lurus tidak lagi menyamping.
Yudha bergerak untuk berada di atas Melody. Tanpa menindih istri hamilnya itu, Yudha mencium bibir Melody dengan penuh perasaan.
Ia mencium Melody dengan menutup mata Melody.
"Ini bukan ciuman pertamaku. Ini lebih dari ciuman yang ke puluhan kali atau bahkan ratusan kali, atau mungkin saja malahan ciuman ke ribuan kali yang pernah aku lakukan dengan Yudha. Yudha selalu memberikanku banyak kejutan. Aku tak pernah berpikir jika aku akan mendapatkan ciuman dengan cara yang seperti ini darinya. Dia tak ingin aku melihat sisi terlemahnya, tapi dia masih ingin aku merasakan kehadirannya meski seolah-olah dia tak bisa berbuat apa-apa karena kefrustasian yang ia alami... Apa ini? Rasanya memang romantis, aku mengakuinya, namun, dadaku terasa sangat sesak. Tuhkan, aku jadi menangis. Ada rasa yang membuatku merasa jika suamiku ini sedang mengajak untuk berpisah." Batin Melody.
"Kenapa menangis, Mel? Aku tidak menyakitimu atau perutmu, kan? Aku yakin aku tidak menindihmu." Tanya Yudha khawatir. Yudha merasakan telapak tangannya basah karena air mata Melody.
Masih dalam mata yang tertutup tangan Yudha, Melody menggeleng cepat. Yudha sama sekali tidak menyakitinya maupun perut hamilnya secara fisik. Yang terluka hatinya. Hatinya yang tiba-tiba sakit dan membuatnya tak kuasa menahan air mata.
"Jangan tinggalkan aku sendiri!" Kata Melody. Ia menangis histeris. "Jangan tinggalkan aku sendiri lagi, Yudh!" Ulangnya.
Yudha mencolos. Melody menangis sampai seperti ini. Sangat jarang ia temui.
"Bicara apa kau ini, Mel?" Tanya Yudha.
"Kita ini baru saja bertemu, tolong jangan tinggalkan aku! Tolong jangan berpisah lagi denganku! Aku tak mau berpisah lagi denganmu! Aku hanya mau denganmu! Aku hanya mau terus bersamamu. Saat ini, detik ini, nanti, semenit kemudian, sejam kemudian, sehari kemudian, besok, lusa, dan seterusnya, aku hanya ingin terus bersamamu! Aku maunya terus bersama Kazehaya Yudha! Aku maunya hanya terus denganmu, suamiku!" Rancau Melody di sela-sela tangisannya.
Merasa pilu dan tidak tega pada Melody, Yudha membuka tangannya dari mata Melody. Ia meraih kedua pipi Melody dengan kedua tangannya.
"Mel, Melody, hei..." Panggil Yudha mencoba 'menyadarkan' rancauan Melody.
Yudha beralih dengan membuat Melody duduk. Menangis sambil tiduran membuat Melody sulit bernafas dan terbatuk-batuk beberapa kali.
Yudha lalu memeluk Melody dengan sangat erat. Kehamilan Melody dan mental Melody setelah beberapa kali mengalami hal-hal traumatik membuat Melody insecure.
"Menikah denganku bukanlah impian para wanita di dunia ini. Hanya kau yang berani melakukannya. Hanya kau yang berani mencintaiku selama ini meski tahu jika hidupku sangat mengerikan. Kau tetap bertahan. Kau tetap berada di sisiku, setia padaku, dan selalu menguatkanku. Arigatou na, Melody. Aku mencintaimu." Batin Yudha.
Melody sesegukkan. "Jangan tinggalkan aku!" Kata-kata yang bermakna sama masih Melody ucapakan tanpa lelah.
Yudha merasa jika bahunya kini sudah basah penuh air mata Melody. Ia hanya bisa berdiam diri dan mengelus punggung Melody.
"Aku bilang, jangan tinggalkan aku! Kenapa kau tidak menjawabnya, hah?" Tanya Melody. Ia melepaskan pelukkan Yudha. Ia menatap kedua mata Yudha. Ia lalu gantian menyentuh kedua pipi Yudha.
Mata kelam memghanyutkan suaminya itu banjir air mata.
Yudha sedang menangis.
Melody berusaha tidak mengeluarkan suara tangisannya. Ia berkedip dan air matanya terjatuh. Ia tahu arti dari tatapan dan tangisan Yudha.
Melody menggeleng tak percaya. Ia lalu memukul-mukul dada Yudha tanpa tenaga.
"Kau laki-laki paling jahat di dunia ini!" Kata Melody.
Melody menyandarkan jidatnya di dada sebelah kiri Yudha. Ia masih memukul-mukul dada Yudha.
__ADS_1
"Kau tega! Kau kejam! Kau keterlaluan! Aku sedang hamil, Yudh! Aku mengandung anakmu! Aku ini sangat membutuhkanmu! Tapi kenapa? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau ingin meninggalkanku? Yudha brengsek!!" Kata Melody frustasi.
"Dengar Mel, setelah ini, aku akan mengalihkan mereka. Ketika aku pergi mengendarai mobil dengan sangat cepat, kau segera hubungi Nakamura-san, komisaris kepolisian yang nomornya ada di dalam ponselku! Kau tidak boleh pergi dari motel ini sendirian! Ingat, apapun yang terjadi, jangan buka pintu kamar ini sampai Nakamura-san datang! Aku sudah membicarakan hal ini kemarin malam." Kata Yudha.
"..." Melody terdiam. Ia medengar jelas perkataan Yudha, tapi ia masih sibuk dengan tangisannya.
Yudha sebenarnya juga tak mau seperti ini. Berpisah dengan Melody itu mengerikan dan sangat sulit untuk dijalani. Namun, mengingat situasinya seperti ini, ini akan jauh lebih mengerikan jika ia harus kehilangan Melody dalam artian pisah fisik karena kematian.
Yudha mengambil jaket miliknya. Ia kemudia memakaikannya pada Melody.
"Jaket ini akan menghangatkanmu." Kata Yudha.
"..." Melody masih diam. Ia pasrah saat Yudha memakaikan jaket yang sangat besar itu kepadanya. Ia juga pasrah saja ketika Yudha memakaikan sarung tangan pada kedua tangannya.
"Meski ini bukan musim dingin, tapi udara pagi cukup membuat badan menggigil. Ramalan cuaca bilang jika pagi ini, Chiba dan Tokyo akan hujan deras. Kau tidak boleh sakit!" Kata Yudha.
Yudha membopong Melody agar duduk di tepi ranjang, dengan begitu ia bisa memakaikan sepatu di kaki Melody.
Yudha mengingat tali sepatu Melody yang terakhir. Sepatu pemberian dari Alvin. Itu yang dapat ia simpulkan.
Yudha masih berjongkok di depan Melody yang duduk di tepi ranjang. Ia memberikan ponsel miliknya pada Melody. Melody enggan menerimanya, tapi Yudha memaksa Melody untuk menerimanya.
"Harusnya Nakamura-san akan datang sebelum jam 6 pagi nanti. Namun agar kau tenang, hubungilah dirinya beberapa kali!" Kata Yudha.
Melody masih menunduk mengamati ponsel yang ada di takupan tangannya. Air matanya jatuh mengenai ponsel milik Yudha itu.
Yudha bangun dari jongkoknya. Ia menunduk dan membuat Melody menatapnya. Ia juga menghapus air mata Melody meski tak berhasil karena air mata itu terus saja keluar.
"Aku tak menjanjikan apa-apa padamu, tapi aku akan berusaha selamat." Kata Yudha.
"Kau egois!" Kata ini yang keluar dari bibir Melody setelah cukup lama ia berdiam diri.
"Hn. Aku tahu, aku memang sangat egois. Mel, tolong ingat perkataanku tadi! Kau harus selamat! ... Ingat, satu bulan kemudian jika tiba-tiba ada rapat pemegang saham dadakan, kau jadilah wakilku jika aku tak kembali! Kau paham ilmu ekonomi, aku mempercayakan semua keputusan di tanganmu!" Kata Yudha.
"Kau akan kembali! Masa bodoh dengan rapat pemegang saham! Bulan depan kemungkinan aku lahiran! Kau tidak lupa kan jika kehamilan kembar biasanya lahir lebih cepat?" Kata Melody.
Melody lahiran dan ia menemani adalah impian yang sangat Yudha dambakan. Namun jika diterapkan dengan kondisi dan situadi saat ini, rasanya hal itu menjadi sangat semu.
"Kau terdiam? Kalau kau tidak percaya diri dengan keselamatanmu, maka aku juga tak akan bisa bertahan sampai bulan depan. Aku bisa saja menenggak racun besok pagi jika aku mendengar kabar kematianmu! ... Aku butuh pekuat, aku butuh alasan untuk membuatku bertahan! Tolong beri diriku harapan dengan lantang dan penuh kepercayaan diri jika kau, suamiku, Kazehaya Yudha, akan tetap apapun yang terjadi nanti!" Kata Melody.
"Kau egois!" Kata Yudha.
"Kau pun sama, kan?"
Yudha tertawa. "Kita memang pasangan yang cocok. Aku menerima keegoisanmu, Mel."
Melody menunjukkan jari kelingkingnya. "Janji?"
Yudha membalas tautan jeri kelingking Melody. "Janji!" Kata Yudha mantap.
Mereka pun saling tersenyum bersama.
Mereka berciuman penuh gairah sebelum akhirnya kembali berpisah.
__ADS_1
"Ini bukan selamat tinggal, sayang. Aku dan anak-anak akan menunggumu pulang." Gumam Melody yang melihat Yudha masuk ke dalam mobil darj jendela kamar inapnya.