MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Berbicara Tentang Sebuah Kutukan


__ADS_3

Pukul satu siang, Melody baru saja selesai mandi. Ia memakai piyama handuknya dan mengaca di depan cermin almari besar yang ada di kamarnya.


Ia mengamati tibuhnya dari atas rambut sampai ujung kakinya.


Perubahan yang sangat ketara dari bentuk tubuhnya. Orang yang sedang hamil itu hm.. mirip kura-kura. Kura-kura ninja? Ayolah, saat ini perutnya yang membesar sudah mirip dengan tempurung kura-kura.


Ini ulah Yudha yang memasukkan cairan putih lengket itu ke dalam tubuhnya sehingga membuatnya menjadi seperti ini! Meski tak ia pungkiri jika rasanya nikmat juga tapi kan tetao saja waktu memasukkannya sakit juga!


Jika sedang bermain mesum, Yudha juga sering tidak kira-kira. Hamil pun juga sering berlebihan melakukannya. Uuh, jadi panas kalau mengingat betapa mantapnya adegan ranjang yang ia lalui dengan Yudha.


Tuh kan, jadi ingat Yudha.


"Aku sudah seperti orang asing saja. Perutku super besar, aku sudah lama tak bisa berlari. Jalan pun kini harus sambil memegangi pinggang belakangku. Mudah pegal dan mudah lelah. Sial, ini gara-gara perbuatan Yudha! Aku harus membuat perhitungan padanya saat aku sudah melahirkan nanti. Gara-gara dia aku menjadi susah seperti ini!" Kata Melody kepada dirinya sendiri di depan cermin. "Yudha mah enak, tinggal masukin, keluarin, lalu aku yang nanggung susahnya. Mana madih 7 bulan lagi. Huh, aku masih akan menderita sampai melahirkan nanti! Yudha vangkek!" Tambah Melody.


Seketika itu ia menggelengkan kepala. Ia sadar, ia sama sekali tak pantas untuk berbicara seperti ini. Dengan tulus ia akui, jika ia sangat menikmati waktunya selama masa kehamilannya. Ini sangat indah meski ada perjuangan yang tak mudah di sana.


Ia menarik ikatan piyama mandinya dan nampaklah tubuh hamilnya yang tanpa benang.


"Bentuknya tidak bulat. Agak lonjong dan tidak beraturan. Kurasa ini aneh... Maafan Mama, anak-anakku sudah mengatai kalian berdua aneh. Tapi memang bentuk kalian dilihat dari luar memang aneh. Apa kalian itu cowok? Mama pernah membaca sebuah artikel di internet jika ciri-ciri hamil anak laki-laki itu adalah salah satunya bentuk perut lonjong dan tidak bulat. Mama tidak mau mengetahui jenis kelamin kalian lewat USG, karena ingin merasakan mendapatkan kejutan dari Tuhan saat lahiran nanti. Jadi, selama kalian belum lahir, kalian harus baik-baik di sana ya? Mama di sini sedang berusaha sangat keras untuk menjaga diri mama dan kalian. Meski mama tahu jika papa kalian belum ada kabar, tapi demi kalian, mama rela menahan perasaan tak menentu mama akibat berpisah dari papa kalian." Kata Melody.


Melody mengusap perutnya dan kembali membenarkan letak piyama mandinya.


Ia lalu duduk di kursi meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan pengering rambut.


Suara bising dari alat pengering rambut itu mendominasi ruangan. Rasa hangat menyapu rambut dan permukaan kulit kepalanya.


Hingga akhirnya sang ibu mertua, Mikan, datang bertamu sambil membawakan makanan untuk Melody. Makanan yang sesuai rekomendasi dr. Aizawa.


"Mel, lagi mengeringkan rambut? Sini, biar ibu yang membantumu!" Kata Mikan. Ia mencoba mengambil pengering rambut itu dari Melody.


Melody sedikit menahannya. "Tidak apa-apa, Ibu. Aku bisa melakukannya sendiri kok. Ibu duduk saja di ranjang. Ibu pasti sudah sangat lelah mengingat banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Jika ibu kelelahan, Yudha bisa sedih." Kata Melody.


"Ibu bahagia melakukannya, Mel. Meski ibu memang sudah sangat lelah, tapi ibu ingin melakan hal baik untuk ibu calon cucu-cucuku nanti." Jelae Mikan. Senyumannya selalu meneduhkan.


Melody pun akhirnya menyerah dan membiarkan Mikan membantu mengeringkan rambutnya.


Sangat hati-hati dan terampil. Melody tak menyangka jika keturunan Old Money seperti ibu mertuanya ini bisa juga melakukan pekerjaan yang menurutnya kasar itu. Setahu dirinya, orang kaya biasanya akan menyerahkan semua perawatan diri ke salon, termasuk soal mengeringkan rambut dengan alat pengering atau hair dryer.


"Nah, sudah kering semuanya. Rambutmu indah sekali, Mel. Padahal ibu yakin, kau sangat jarang ke salon semenjak menikah dengan Yudha. Apa sepertinya juga sebelum menikah dengan Yudha pun, kau juga tidak begitu tertarik dengan dunia salon menyalon dan perawatan diri." Ucap Mikan.


"Ibu kan tahu bagaimana kondisi ekonomi keluargaku. Ke salon itu seharga makanku selama seminggu atau bahkan lebih. Namun meski jarang ke salon, tapi aku menyempatkan untuk creambath sebulan atau dua bulan sekali." Kata Melody.


"Minta uang yang banyak pada suamimu! Kau bisa menggunakannya untuk ke salon sepuasmu!" Suruh Mikan dengan tawa khas ramahnya.


"Ibu, sebenarnya aku mendapatkan banyak voucer ke salon gratis milik keluarganya Mia, tapi jarang aku gunakan dan Yudha melarang menerima jasa atau barang gratisan." Melody ikutan tertsenyum.


Meski ada kesedihan mendalam soal Yudha, tapi ia tidak boleh stress yang mana justru akan membuat tubuhnya memburuk dan mempengaruhi kehamilannya.


"Anak itu memang selalu seperti itu. Tidak suka merepotkan orang lain. Tapi jika denganmu, ibu lihat dia sangat suka menjadi sok sibuk hanya karena memikirkanmu."


"Eh? Masak? Apa selama aku diculik, Yudha sungguh memikirkanku? Bagaimana dia selama aku tak ada? Apa dia menangis guling-guling? Apa dia tidak makan?" Tanya Melody sangat penasaran.


"Kau antusias sekali ingin tahu Yudha bagaimana. Kau sungguh penasaran rupanya."


"Iya Ibu, aku sangat penasaran. Aku ingin tahu semuanya!"

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita duduk di ranjang sambil cerita!" Ajak Mikan.


Melody mengangguk dan mereka berdua duduk di ranjang tempat tidur milik Melody dan Yudha.


"Langsung saja, yang jelas selama kau tak ada, bocah itu seperti mayat hidup. Tidak makan, sulit tidur, dan jika kau bertanya apa dia menangis atau tidak, maka jawabannya adalah iya dia menangis." Kata Mikan.


"Sungguh?" Tanya Melody. Ia tahu, sebelum ia dan Yudha berpisah saat di motep tadi pagi pun, Yudha juga menangis, Yudha meneteskan air matanya.


Mikan menganggukan kepala. "Sungguh, ibu tak akan membohongimu. Waktu itu, ibu datang ke kamar ini untuk memberikannya kopi, ibu sudah mengetuk kamar ini beberapa kali, tapi Yudha tidak menjawab atau membukanya. Alhasil, ibu masuk tanpa izin karena ibu pikir, Yudha sedang di kamar mandi. Namun ibu salah, ketika ibu masuk ke kamar ini, ibu melihat suamimu sedang berdiri di dekat jendela. Membelakangi ibu." Mikan menunjukkan jendela kamar dimana Yudha berdiri waktu itu. "Ketika ibu memanggil namanya, Yudha menoleh dan terlihat tangannya mengusap area mata. Ibu menatap Yudha dan bertanya apa dia baik-baik saja, dia memjawabnya iya, tapi ibu tahu, dua mata merahnya sama sekali tidak bisa membohongi ibu. Dia menangis karena khawatir dan sedang merindukanmu." Tambahnya.


Melody tertegun. Ia juga sama seperti Yudha. Tiap hari menangis karena ingin bertemu Yudha. Tapi dirinya ini adalah wanita, menangis itu sudah seperti jati dirinya. Namun Yudha yang notabene seorang laki-laki? Yudha bisa menangis seperti itu karena dirinya membuatnya yakin jika Yudha itu sangat mencintai dirinya. Memang sudah tak perlu banyak bukti lagi. Semua sudah nyata. Yudha memang sangat, sangat, sangat mencintainya.


"Ibu, aku berjanji akan menjaga perasaan Yudha sampai akhir!" Kata Melody.


Mikan tersenyum bahagia. "Ibu senang, ibu bahagia karena anak ibu mendapatkan sosok wanita seperti dirimu yang tak menuntut materi padanya. Terima kasih banyak, Mel. Terima kasih sudah setia pada Yudha meski selama seminggu lebih kau bersama Alvin. Ibu tahu, dari sorot mata kakaknya Yudha itu, dia sangat mencintaimu dan rela menjadi sosok lain demi dirimu."


"Soal Alvin yang menculikku itu benar adanya. Aku memang dibawa oleh Alvin. Namun, seingatku ada pihak lain yang juga menginginkanku. Hanya saja, aku diselamatkan oleh orang-orang Alvin. Ya bukan berati diselamatkan juga, tapi dibawa oleh Alvin. Jika malam itu aku berhasil dibawa oleh orang-orang itu, entah apa yang akan terjadi padaku, Bu. Aku hanya bisa menerka jika mungkin saja andai kata itu terjadi, maka aku mungkin sudah tak bernyawa." Jelas Melody. Ia gemetaran ketika harus mengatakan hal ini.


Tidak ada pengalaman yang indah ketika menjadi korban penculikkan. Yang ada hanya trauma dan rasa ketakutan meski Alvin memperlakukannya dengan baik juga.


"Katakan pada ibu, Sayang! Apa kau mengenali salah satu dari mereka?" Tanya Mikan penasaran.


Melody menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, Ibu! Maaf, mereka sangat sulit aku kenali mengingat mataku ditutup sebelum aku melihat mereka. Ah, oh iya, bagaimana kabar Ayane-nee? Aku ingat, dia melindungiku karena salah seorang menodongkan pisau kepadaku." Melody berubah memucat. Ia kepikiran soal Ayane, namun saat bertemu Yudha dan keluarganya sesaat ingatan tentan Ayane terlupakan.


"Tenanglah, Mel! Ayane memang mendapatkan luka cukup serius, tapi Tuhan masih membetikan kesempatan baginya untuk melanjutkan hidup. Dia masih dirawat di rumah sakit ini untuk penyembuhan." Jelas Mikan.


"Ah begitu ya? Aku bisa lega kalau begitu. Aku senang mendengarnya, Bu. Syukurlah jika Ayane-nee baik-baik saja. Dia mengorbankan dirinya untuk melindungiku. Lalu, dimana Shuhei-san? Semalam dia tidak bersama Yudha. Apa dia tidak ikut Yudha?" Tanya Melody.


"Sama seperti Yudha, kami kehilangan komunikasi dengannya semenjak semalam jauh sebelum kehilangan Yudha." Jawab Mikan.


"Apa? Ba-bagaimana bi-bisa? Bukankah harusnya Shuhei-san itu selalu bersama dengan Yudha?"


"Mereka memang suka seenaknya saja! Ini benar-benar membuatku sangat marah ketika mereka semua mempermainkan nyawa seenak jidat mereka tanpa memikirkan orang-orang di sini yang kalut memikirkan kondisi mereka!" Melody mulai kesal.


"Mereka selalu seperti itu. Ibu ingat, mereka bilang ada kunjungan study banding ketika SMA, padahal mereka dirawat 4 hari di rumah sakit karena kecelakaan. Mereka bilang itu hanya kecelakaan, tapi setelah ayah mertua, kakekmu melakukan penyelidikan, itu adalah upaya pembunuhan. Sebagai seorang ibu, rasanya jika ibu tak mengikuti kelas senam yoga dengan rajin, ibu akan mudah terkena serangan jantung!" Mikan juga ikutan kesal.


"Ibu sabar! Mereka hanya menyayangi ibu." Senyum Melody.


"Kau benar.. Nah Mel, sehabis kau makan siang, mau kah kau mendengarkan sebuah kisah?" Tanya Mikan.


Melody menaikan sebelah alisnya karena penasaran. "Sebuah kisah?" Tanyanya.


"Ya, sebuah kisah."


"Kisah tentang?"


"Kisah tentang masa lalu."


Melody menatap ibu mertuanya penuh tanya. Kisah tentang masa lalu? "Ibu, kenapa tiba-tiba?" Tanyanya.


"Ini sudah saatnya kau tahu masa lalu kelurga ini dan segala karma yang mengikutinya. Ah, kau bisa menyebutnya ini sebagai kutukan." Jawab Mikan.


"Ku-kutukan bagaimana?" Tanya Melody tak mengerti.


Baginya, pemilihan kata yang digunakan Mikan, mertuanya itu sangat mengerikan. Ayolah? Kutukan? Bukankah karma buruk jauh lebih cocok dan tak terdengar horor?

__ADS_1


"Kutukkan yang membuat keluarga Kazehaya mengalami mimpi buruk berkepanjangan dan tak seolah tak memiliki ujung. Membuat ketakutan setiap harinya dan perlu pengawasan ekstra ketika hendak pergi keluar rumah. Kau dan Yudha mungkin tidak tahu, atau mungkin juga tidak menyadarinya ketika ayah mertua selalu mengirimkan orang-orang untuk melindungi kalian dalam diam, dalam ketidak sepengetahuan kalian. Terakhir aku mendengar, jika kau diincar ketika sedang PKL di Miyagi. Namun mereka berhasil menggagalkannya." Kata Mikan panjang lebar.


"Miyagi? Sewaktu PKL? Ibu tidak bohong, kan? Masalahnya rasanya tidak terjadi apapun saat aku PKL di Miyagi."


"Alasan Yudha melarangmu PKL keluar kota ini salah satunya. Ibu juga yakin jika Yudha pasti juga diam-diam melindungimu dalam bayangan karena khawatir akan terjadi apa-apa padamu."


"Kisah seperti ini rupanya nyata terjadi. Aku seperti memiliki Guardian Angel dari orang-orang yang menyayangiku. Aku harus berterima kasih pada kakek dan Yudha. Mereka sudah menyelamatku beberapa kali. Jika saat itu aku tak keras kepala, mungkin saja semua tidak akan serumit ini. Mungkin saja kakek Wijaya juga tidak akan mengalami kecelakaan mengerikan itu."


"Menantuku Melody, hei, dengar, kau PKL di Miyagi ataupun tidak, ayah mertua pasti tetap akan mengalami kecelakaan itu. Masa beruntungnya sudah habis, ini hanya takdir yang akhitnya terjadi setelah tertunda beberapa kali." Mikan mencoba menenangkan menantunya, Melody.


"Itu cukup kejam ibu! Padahal Tuhan bisa menyelamatkan kakek!"


"Tapi Tuhan memang masih menyayangi kakek mertuamu! Beliau masih hidup meski lumpuh total." Kata Mikan.


Hidup tapi tak hidup. Mati tapi tak mati. Itu juga sangat kejam. Namun, ada sisi dimana sepertinya itu adalah keberuntungan terbaik setelah kecelakaan yang mengerikan itu terjadi.


"Ibu, aku ingin melakukan sesuatu untuk menyelamatkan keluarga ini! Tolong ceritakan apapun itu, Bu. Kisah masa lalu atau apa saja, aku ingin mendengarkannya dari ibu!"


"Ibu pasti akan menceritakannya padamu. Tapi habiskan dahulu makan siangmu! Ibu tak ingin si kembar underweight karena ibunya tidak perhatian pada kehamilannya!" Kata Mikan menaikan intonasi suaranya.


Membuat Melodu merinding mendengarnya. Ibu ini wujud kemarahan dari ibunya yang sedang marah?


Anak-anaknya kelak pastilah akan sangat dicintai oleh neneknya.


Syukurlah.


"Iya Ibu, aku akan menghabiskan makananku!" Kata Melody.


Mikan tersenyum, ia mengambil makanan yang ia bawa tadi yang ia letakkan di meja kamar Melody. Ia membawa beserta nampannya untuk menopang di permukaan ranjang yang lembut.


"Nah, makanlah!" Pinta Mikan.


Melody mengangguk. "Selamat makan, Ibu!"


"Selamat makan, menantuku!"


.


.


.


Next chapter akan fokus ke masa lalu dari sudut pandang Mikan. Haha, tahu kok ini benar-benar sangat bertele-tele, tapi aku sudah berusaha untuk memangkasnya sebisa yang aku bisa. Tapi, yah begitulah, aku memang sangat kesulitan untuk membuat cerita pendek. Mau menuju ke A menjadi B butuh proses agar perpindahannya halus. Memang jadinya memakan waktu sih. Aku yang nulis saja merasa lelah, apa lagi yang baca. 😅 GAMBARIMASU!


.


.


.


Shuhei's Side...


"Uhh, kepalaku pusing sekali. Air masuk ke dalam hidungku. Rasanya sangat sakit. Air pun juga masuk ke dalam lubang telingaku, aku menjadi sulit mendengar dengan baik. Ya Tuhan, kenapa gelap sekali? Aku tak bisa melihat apa-apa! Aku juga tak bisa merasakan sekelabatan benda yang melintas di hadapanku. Apa ini adalah kehidupan setelah kematian?"


Gelap yang tak ada ujungnya. Ia bahkan tak bisa mendengar suara apapun dari balik telinganya. Apa yang terjadi padanya menjadi sulit dimengerti. Apakah saat ini ia sedang mati atau masih hidup juga belum bisa ia pahami.

__ADS_1


Biarkan sejenak diri ini beradaptasi dengan suasana asing nan gelap dan gulita. Sedikit berdoa kepada Tuhan untuk mengharapkan setitik cahaya di depan sana.


"Yudha-sama, saya harap Anda tidak mengalami hal buruk seperti yang saya alami saat ini."


__ADS_2