MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Mengambil Langkah


__ADS_3

"Aku sangat merindukan Yudha, aku ingin tahu seberapa jauh perkembangan pencarian Yudha oleh Nao dan Neil. Tapi aku harus menahan diri. Aku harus percaya pada mereka dengan tidak mengganggu usaha mereka dalam mencari Yudha... Aku harus fokus belajar bisnis dengan Aron-san... Melody, fighting!" Gumam Melody yang kini dihadapkan dengan tumpukkan materi bisnis.


Aron dengan sabar mengajari Melody. Bagi Melody, ini bukanlah bentuk pengajaran yang awam karena di kampus pun ia juga sudah mendapatkannya. Ia hanya perlu lebih memperdalam lagi dan memperbanyak pengaplikasian di dunia kerja, di lapangan.


"Aron-san, apa aku perlu ke kantor untuk mewakili Yudha?" Tanya Melody.


"Sebenarnya perlu, tapi karena situasi sedang kurang kondusif, sebaiknya jangan ke Emperor Group dulu. Kita tunggu pergerakan apa yang sedang mereka lakukan. Saat mereka bergerak nanti, maka kita harus siap untuk segala kemungkinan terburuknya." Jawab Aron.


"Aron-san, publik belum tahu kondisi kakek yang sesungguhnya, kan? Mereka hanya tahu jika kakek saat ini sedang koma, mereka tidak tahu jika kakek sudah sadar dan lumpuh total, kan?"


"Ya, ini memang dirahasiakan. Hanya beberepa orang saja yang tahu."


"Jika fakta itu terbongkar, kira-kira apa yang akan terjadi?" Melody cukup takut untuk bertanya hal ini. Ia sudah memiliki bayangan untuk kemungkinan ini.


"Banyak hal yang akan terjadi. Kelumpuhan, apa lagi total itu bisa diartikan sebagai kematian. Hal ini akan menggiring opini untuk menentukan siapa pewaris tahta setelah Tuan Besar 'tiada'. Tiada di sini maksudnya tidak lagi bisa mengurusi Emperor Group secara fisik. Pewaris tahta di sini bukanlah CEO, tapi ahli waris secara keseluruhan. CEO sekalipun tetap akan kalah dengan pemegang saham tertinggi. Saat ini, saham tertinggi masih milik Tuan Besar dengan 20% kepemilikan saham Emperor Group. Hanya saja, keputusan Beliau untuk mewariskan sementara pada anak yang Anda kandung itu juga memiliki resiko besar. Anda dalam bahaya gampangnya." Jelas Aron.


Melody tahu hal ini. Anak-anak yang ada di dalam rahimnya itu sudah menjadi milyader bahkan sebelum mereka lahir ke dunia ini. Ini bukan hal yang menyenangkan karena seperti kata Aron tadi, ini akan membahayakan dirinya.


Jika sampai rapat pemegang saham berikutnya diadakan dan kakek Wijaya belum bisa hadir, maka sudah dipastikan jika semua akan tahu bahwa anak-anak yang ia kandung itulah yang akan mewarisi saham 20% itu. Semua akan menekannya agar menyerahkan, menjual saham itu.


Bisa saja malah mereka akan mengincar nyawanya. Dengan kematiannya, maka saham itu akan kembali berputar dan diperebutkan.


"Akan banyak hal berat di kemudian hari rupanya." Gumam Melody. Ia memegangi perut buncitnya. "Apapun yang terjadi, mama akan melindungi kalian!"


"Melody-sama, saya tidak ingin memaksa Anda. Namun, peran Anda sangat dibutuhkan saat ini. Ketiadaan Tuan Besar dan Yudha-sama sungguh membuat semuanya menjadi sangat berat." Kata Aron.


Aron saja bisa menunjukkan wajah trustasinya. Melody tahu, kakek Wijaya yang terbaring tak berdaya di ranjang pasien sangat mempengaruhi Aron. Secara tidak langsung jika saat ini, Aron sedang menderita karena ayah angkatnya tak bisa apa-apa. Sebagai anak tentulah Aron ingin melakukan yang terbaik yang mampu untuk dilakukan meskipun hanya sebagai anak angkat.


"Tidak mengapa, Aron-san. Aku mengerti apa yang aku lakukan saat ini. Ini bukan demi siapa-siapa. Ini lebih ke demi diriku sendiri. Aku tak bisa menyelamatkan banyak orang, tapi aku harus menyelamatkan anak-anakku. Aku akan mengamankan saham 20% milik kakek apapun yang terjadi. Aku juga akan berusaha menjadi wali Yudha sampai dia kembali nanti. Untuk itu, tolong bantu aku! Onegaisimasu, Aron-san!"


"Hai, wakarimasu, Melody-sama."


.

__ADS_1


.


.


Tempat lain..


"Sai-kun, tidakkah kau berpikir jika perjalanan ini terasa sangat menyenangkan? Haruskah kita mampir dan mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan?" Tanya Yura.


Sai menatap Yura, teman masa kecilnya ini terlihat sangat senang karena berada di tempat yang tidak pernah dikunjungi sebelum ini.


"Sebenarnya kita sedang berada pada situasi yang sensitif terhadap waktu. Namun pemandangan di hadapan sana sangat menggoda. Mengabadikan moment untuk kenang-kenangan sepertinya tidak masalah." Kata Sai.


"Bagaimana dengan 100 foto?"


"Itu terlalu banyak."


"Jaa, 50 foto?


Yura tertawa. "Aku ini mantan foto model, sekali jepret bisa ratusan."


"Kau harus terbiasa hidup tanpa bayang-bayang masa lalumu."


"Iya-iya. Aku tahu kok. Aku lebih bahagia menjadi penjual bunga... Lihatlah, di depan sana ada penjual bunga! Aku akan sangat berterima kasih jika kau mau membelikan bunga untukku."


"Matamu awas juga kalau soal bunga."


"Hehe, iya dong. Nah, bukankah di foto aku akan bertambah cantik ketika sambil memegang bunga?"


Yura menatap intensi Sai. Karena saking dekatnya membuat Sai harus mengalihkan pandangannya. Ada semburat tipis di pipi putihnya.


"Iya, iya, aku belikan." Kata Sai akhirnya.


"Yey!"

__ADS_1


"Tak masalah kan sedikit bermain-main? Toh tugas sudah selesai... Melihat Yura nampak jauh lebih bisa menikmati hidup, membuatku merasa tenang. Oke, mari ambil beberapa foto kenang-kenangan sebelum pulang!" Batin Sai.


Ia mengikuti langkah Yura yang lebih dahulu sudah mencari spot foto yang diinginkan. Hari ini sangat cerah dimana matahari bersinar tak begitu panas. Pemandangan alam berpadu dengan bangunan gedung sangat mempesona. Paduan karya Tuhan dan campur tangan manusia memang sungguh tak mengecewakan untuk dipandang.


.


.


.


Alvin's side..


Saat ini Alvin sedang dalam perjalanan menuju kota Kyoto. Ia memakai kendaraan pribadi yang disopiri langsung oleh sekretarisnya, Daisuke.


"Alvin-sama, sebentar lagi kita akan sampai di sebuah rest area, sudah waktunya Anda untuk minum obat." Kata Daisuke.


"Bolehkah aku skip saja? Tubuhku baik-baik saja." Kata Alvin.


"Anda itu dokter, Anda yang paling tahu dengan kondisi Anda saat ini dan betapa pentingnya obat untuk Anda. Jika Anda ingin terus hidup dan berumur panjang, maka Anda harus meminum obat Anda!"


"Berani juga kau ya berbicara seperti itu pada bosmu sendiri? Aku tidak akan kalah dengan sakit biasa saja ini."


"Jika itu hanya sakit biasa saja, setidaknya Anda jangan tumbang seperti tadi pagi! Minumlah obat dan kalahkan sakit Anda! Anda harus berjuang keras menembus barier kota Kyoto! Ini masuk salah satu impian Anda, kan?"


"Oke, kau menang, Daisuke." Alvin menyerah.


Daisuke itu pandai bermain kata-kata. Sudah tak terhitung banyaknya proyek yang berhasil ia dapatkan atas bantuan dari Daisuke. Negoisasi-negoisasi bisnis dan presentasi apik juga mampu Daisuke lakukan.


Meski Daisuke orangnya kakek Wijaya, tapi Alvin akui jika Daisuke itu sangat hebat. Daisuke tahu apa yang harus dan tidak dilakukan.


"Aku tidak tahu apa yang Daisuke laporkan kepada kakek. Namun aku akui, aku sangat terbantu olehnya. Dia luar biasa dalam menangani segala kesulitan yang berhubungan dengan bisnis. Meski dia mata-mata, tapi loyalitasnya pada Emperor Group membuatku merinding. Bagaimana dia bisa sekeren itu saat kemarin membungkam mulut para petinggi Emperor Group yang ingin mengadakan rapat pemegang saham?" Batin Alvin.


Mobil yang dikendarainya bersama dengan Daisuke pun melesat menembus jalan aspal yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2