
Hari yang melelahkan itu pun terlewati. Melody dan kedua bayi kembarnya sehat meski si kembar perlu bantuan inkubator karena lahir prematur.
"Pengen lihat si kembar." Kata Melody.
"Jangan banyak gerak dulu. Sabar, nanti bisa lihat." Kata Yudha.
"Tapi pengen lihat, Yudh. Aku kan lahiran normal, meski dijahitpun tapi kan aku sudah bisa bergerak. Aku ini sudah kangen mereka!"
"Mel..."
"Kau jahat ya, masak seorang ibu mau lihat anaknya sendiri dilarang? Suami keterlaluan!" Kesal Melody.
Demi apa coba? Apapun yang ia lakukan rasanya salah melulu. Yudha benar-benar harus bersabar.
"Suami jahat, suami tidak pengeritian! Tega!"
"..." Yudha hanya menatap Melody. Ia memilih menunggu Melody sampai selesai merajuk. Kalau ditanggapi pasti tidak akan selesai.
Satu menit, tiga menit, lima menit, dan ya, sesuai dugaan Yudha, Melody akhirnya diam. Istri yang baru saja melahirkan 3 jam yang lalu akhirnya berhenti mengoceh.
"Sudah?" Tanya Yudha.
"Sudah..." Melody legowo. Ia berpikir jika dirinya cukup merepotkan. Harusnya ia tak membuat suaminya khawatir seperti ini.
Yudha dan dirinya belum lama kembali bersama. Yudha terluka parah juga. Belum lagi soal dirinya dan Alvin yang kecelakaan. Dirinya harus melahirkan prematur dan Alvin sempat kritis. Melody ingat bagaimana wajah Yudha saat menatapnya. Menatap ketika dirinya kesakitan dan menangis.
Ia tak pernah melihat Yudha setakut itu. Wajah Yudha pucat pasi dan berkeringat dingin.
"Yudha..." Panggil Melody.
"Hn?"
"Maaf..."
Yudha menyentuh kening Melody. "Tidak apa-apa... Kau ingin makan sesuatu?"
Melody menggeleng. "Banyak hal yang terjadi hari ini. Berbicara soal Alvin, kau tak ingin menjenguknya?"
"..."
"Yudh... dia kakakmu."
"..."
Sama, tetap tak ada respon dari suaminya itu. Yudha pasti sangat kecewa pada Alvin. Termasuk dirinya juga. Bagaimana bisa Alvin menempatkan Yudha di posisi yang berbahaya? Namun, ada sisi yang ingin memaafkan Alvin.
"Ya sudah, aku tak akan membahas dia." Melody memilih tidak memaksa Yudha. "Aku lelah, boleh tidur duluan?"
"Ya." Yudha merapikan selimut Melody. Setelah itu, tak lupa ia juga mengecup kening Melody. "Oyasumi..."
__ADS_1
"Oyasumi..."
Tak lama setelah itu, Yudha melihat Melody sudah memejamkan kedua matanya. Setelah memastikan Melody tidur, ia bangun dari duduknya dan segera keluar dari kamar rawat Melody.
Melody membuka matanya lalu tersenyum. "Dasar tsundere!" Ia pun kembali tidur.
.
.
.
Yudha berjalan menuju kamar inap dimana Alvin dirawat. Ia mendapatkan informasi kamar inap Alvin dari Shuhei.
Sesampainya di depan kamar Alvin, Yudha tidak masuk, ia hanya berdiri di depan pintu kamar dan mengintip lewat kaca kecil aksen pintu kamar inap Alvin. Di dalam sana sudah ada neneknya yang menemani Alvin.
Selain informasi soal kamar inap Alvin, Shuhei juga memberi tahu jika Alvin koma. Kata dokter, jika dalam tiga hari Alvin tidak sadar, maka jatuhnya akan seperti Kakek Wijaya. Koma dalam waktu yang tak bisa ditentukan kapan akan sadar.
Bukankah itu akan sangat mengerikan?
"Dasar bodoh..." Gumamnya.
.
.
.
"Sudah puas?" Tanya Yudha.
"Iya. Hehe, terima kasih sudah mau mengantarku." Senyum Melody senang. Ia kembali duduk di kursi rodanya dan Yudha mendorongnya kembali ke kamar.
"Ayane-nee bilang, jika kita belok ke lorong ini, kita akan sampai ke kamarnya Alvin-senpai loh." Melody membuka pembicaraan di sela perjalanan kembali ke kamar.
"Terus?"
"Terus... kita... men... jeng.. nguk... nya?"
"..."
"Ya sudah, tidak jadi deh." Melody buru-buru menarik diri karena takut mood Yudha memburuk.
Namun, siapa sangka jika Yudha mengubah arah kursi rodanya. Dan benar saja, mereka menuju kamar inap milik Alvin. Melody sangat senang.
Di depan kamar inap Alvin, mereka berdua bertemu dengan Shuhei dan Ayane. Ada hal yang ingin Shuhei bicarakan.
"Nyonya Kurenai dan Tuan Han dirawat di rumah sakit ini. Mereka dalam penjagaan ketat kepolisian." Kata Shuhei.
"Perketat juga penjagaan rumah sakit ini. Kita tak boleh hanya mengandalkan pihak kepolisian saja. Aku tak mau mereka lepas kali ini." Kata Yudha. Cukup sudah, kali ini memang harus segera diakhiri.
__ADS_1
"Baik, Yudha-sama... Oh iya, Miura-san dan Amamiya-san sudah kembali. Mereka akan datang untuk menemui Anda."
"Ya, Sai juga sudah mengabariku semalam."
"Ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui, Yudha-sama... Tadi pagi, pengacara Alvin dan Daisuke datang."
"Pengacara?" Yudha menaikan sebelah alisnya.
"Ya. Beliau membicarakan soal surat wasiat Alvin-sama."
Surat wasiat?
Apa itu artinya Alvin berniat ingin mati?
.
.
.
Time skip...
Kantin rumah sakit...
"Ini... tugasku dan Yura selesai dengan amat sangat baik, kan?" Kata Sai sambil menyerahkan tas berisi dokumen.
Yudha memeriksa kelengkapan isi dokumen itu dan sama sekali tidak ada yang tertinggal, semua lengkap. Akta kepemilikan Emperor Group, akta pemilik saham misterius, dan surat wasiat mendiang Kazehaya Yoga.
"Istrimu jauh lebih pintar dari yang aku duga. Rapat di atap gedung rumah sakit yang keren. Meski aku yakin ini bagian dari rencanamu juga." Puji Sai.
"Melody-san memang sangat keren! Saat Yudha-kun tidak ada, dia bisa menggantikan Yudha-kun." Kata Yura menegaskan. "Tapi aku kasihan dengan Shuhei-san, apa dia baik-baik saja? Dia jadi umpan atas perintahmu!"
"Hanya dia yang paling cocok untuk tugas ini. Jika aku menyuruh yang lain, jika terjadi sesuatu, maka akan ada yang menangis tersedu-sedu setelahnya." Kata Yudha.
"Itu..." Benar juga, Yura pun akan menangis jika Sai kenapa-kenapa. Begitupula dengan Nao dan Neil, Ayumi pasti juga akan sama seperti dirinya. Tugas yang diberikan Yudha itu sangat berat.
"Kau hampir kehilangan Shuhei hanya karena stample dewa palsu itu." Kata Sai.
Yudha hanya tersenyum getir. Ia akan sangat merasa bersalah andai kata Shuhei meninggal karena menjalankan perintah darinya. Beruntung Tuhan masih berpihak kepadanya, semua lancar meski tak baik-baik saja. Semua memang butuh pengorbanan. Tidak murah untuk rencana ini.
Apa yang terjadi sih? Rencana apa?
Jadi, Yudha sudah memprediksi apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Ia meminta Sai ke Swiss untuk mengambil dokumen penting Emperor Group dan misteri legenda Emperor Group bermodal stemple dewa asli. Yura awalnya bukan bagian dari rencana, tapi Yura maksa ikut. Untuk mengalihkan perhatian, Yudha meminta Shuhei mengopi Stemple dewa dan menyimpannya sebagai umpan. Sai dan Yura pun aman di Swiss tanpa ada gangguan. Modal pergi liburan lewat jalur Italy, melipir ke French, dan akhirnya ke Swiss. Tidak ada yang curgia. Dokumen penting itu berhasil diamankan!
"Sepertinya tidak seperti yang kau harapkan akhirnya?" Kata Sai usai melihat Yudha mengernyitkan jidat ketika membaca dokumen akta kepemilikan saham misterius Emperor Group.
Yudha meletakkan lembar akta itu. Memijat keningnya dan tertawa terbahak setelahnya. Hal ini membuat Sai dan Yura menatap heran.
"Rencanaku adalah menggoda mister X alias pemilik saham misterius ini untuk berpihak kepada diriku di rapat pemegang saham selanjutnyanya saat anak-anakku lahir, tapi malah seperti ini... Bagaimana aku harus menjelaskannya? Kakekku yang maha tahu itu mewariskan sahamnya kepada anak-anakku, lalu ini... mister X... malah istriku sendiri... Kau tahu berapa saham misterius mister X di Emperor Group? ... Setara milik kakekku!" Tawa Yudha. Menurutnya ini konyol.
__ADS_1
"Yudha, kau lebih miskin dari istrimu. Kau harus bekerja keras kedepannya!" Kata Yura.
Mereka bertiga pun tertawa.